in ,

Review Buku I`ll Go To You When The Weather Is Nice

i’ll go to you when the weather is nice – Halo, Grameds! Pernahkah kamu berpikir untuk mulai menata kembali hidup setelah merasa lelah dan terpuruk?

I’ll Go To You When The Weather Is Nice karya Lee Do-woo bukan sekadar kisah cinta biasa, tetapi sarat akan makna kehidupan. Kamu akan diajak mengikuti perjalanan Hae-won yang kembali ke kampung halamannya di Korea. Di sana, ia bertemu kembali dengan Eun-seob, teman lamanya yang kini memiliki toko buku indie bernama Good Night.

Yuk, Grameds, simak ulasan lengkap buku I`ll Go To You When The Weather Is Nice di bawah ini, untuk mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangannya, serta mengapa novel ini layak masuk daftar bacaan wajib kamu selanjutnya!

button cek gramedia com

 

Sinopsis Buku I`ll Go To You When The Weather Is Nice

Hae-won kembali ke kampung halamannya pada suatu musim dingin. Gadis itu terkejut melihat sebuah rumah tua di desa tersebut sekarang berubah menjadi sebuah toko buku independen baru bernama Good Night. Ternyata, pemiliknya adalah Eun-seob, teman sekolahnya. Berawal dari toko buku itu, Hae-won menjalin hubungan baru dengan orang-orang di kota itu, termasuk dengan Eun-seob. Ada banyak hal yang terjadi, bahkan sebuah rahasia yang selama ini tersimpan rapat akhirnya terbongkar. Akankah desa itu membuat Haewon tetap tinggal? Dan bagaimana hubungan Hae-won dan Eun-seob akan berakhir?

Novel ini bercerita tentang tokoh wanita utama bernama Mok Hae-won dalam perjalanannya untuk mengatasi masalah di masa lalu dan masa kini. Hae Won kembali ke kampung halamannya, Desa Bukhyeon di Kota Hyecheon, Provinsi Gangwon, Korea Selatan. Hae Won yang biasanya selalu kembali ke kampung halaman setiap musim dingin selama beberapa hari sekedar untuk melepas penat dan berkumpul dengan keluarga, berencana untuk menetap selama musim dingin di sana.

Selain mengisahkan cinta dua sejoli, buku ini juga menceritakan bagaimana setiap tokoh di dalam novel mengatasi masa lalu mereka yang terus menghantui. Berbagai macam rahasia, kisah masa lalu, kehidupan pribadi seseorang diungkap di dalam novel ini. Setiap tokoh memiliki cara mereka sendiri dalam mengatasinya.

Tentang Penulis Buku I`ll Go To You When The Weather Is Nice

Lee Do-woo lahir pada tahun 1969 dan dikenal sebagai novelis asal Korea Selatan. Ia kuliah di jurusan penulisan kreatif, lalu sempat bekerja sebagai penulis naskah radio dan juga copywriter. Pengalaman menulis ini membuat gaya tulisannya memiliki ciri khas tersendiri yang disukai oleh banyak pembaca lokal maupun mancanegara.

Novel pertama Lee Do-woo yang berjudul Sarangseureon byeoljangjigi (???? ???? / The Lovely Country House Caretaker) berhasil memenangkan hati banyak pembaca Korea dan membuatnya menjadi salah satu penulis yang dicintai oleh banyak orang.

Sejak saat itu, Lee Do-woo terus menulis dan menerbitkan banyak karya, di antaranya:

  • Saseoham 110houi upyeonmul (??? 110?? ??? / The Mail in Post Office Box 110) yang diterbitakan pada tahun 2004.
  • Jamoseul ibeuryeom (??? ??? / Please Put on Your Pyjamas) diterbitkan tahun 2012.
  • I’ll Go To You When The Weather Is Nice – novel ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan telah diadaptasi menjadi drama Korea berjudul When The Weather Is Nice yang dibintangi oleh Seo Kang-joon dan Park Min-young.

Makna Rumah di Tengah Dunia yang Serba Cepat

Buku I’ll Go To You When The Weather is Nice menekankan bahwa “rumah” bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan.

“??Bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak ditemui akan memaksa kita untuk menyentuh kenangan lama. Ingatan yang terlupakan, tapi sesungguhnya kenangan itu terus tersimpan di dalam ingatan sepanjang waktu.” (Hal. 40)

Di tengah dunia modern yang serba cepat dan menuntut banyak hal, buku ini memberikan pencerahan bahwa rumah bukan hanya tempat singgah sejenak melainkan lebih daripada itu. Berikut adalah makna rumah yang disampaikan Lee Do-Woo lewat penggambaran karakter Hae-Won dan Eun-seon memberi arti penting:

  • Tempat untuk Pulang dan Beristirahat

Rumah digambarkan sebagai tempat di mana seseorang bisa melepas lelah, menenangkan diri, dan menemukan kembali ketenangan batin.

  • Sumber Kehangatan dan Kenyamanan

Hubungan dengan orang-orang di rumah atau kampung halaman menghadirkan rasa hangat, berbeda dengan dunia luar yang sering keras dan penuh tekanan.

  • Ruang untuk Menyembuhkan Luka

Bagi Hae-won, kembali ke kampung halaman berarti menemukan kembali dirinya, menghadapi masa lalu, dan perlahan menyembuhkan luka lama.

  • Lawan dari Kehidupan yang Terburu-buru

Di kota, kehidupan berjalan cepat dan sering membuat manusia kehilangan arah. Desa Bukhyeon sebagai “rumah” justru menghadirkan ritme yang lebih tenang, memberi kesempatan untuk benar-benar merasakan hidup.

Penyembuhan Luka Masa Lalu

Grameds, setiap orang pasti punya luka masa lalu, entah dari keluarga, pertemanan, atau cinta yang pernah gagal. Dalam buku ini, Hae-won digambarkan sebagai sosok yang masih terbebani masa lalunya. Kepulangannya ke kampung halaman bukan hanya soal melepas penat, tapi juga upaya untuk menghadapi rasa sakit yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

“Orang-orang yang hidup bersama di bawah satu atap dalam bentuk apa pun mungkin keluarga yang menetap ataupun yang berpindah-pindah tempat, saya tidak berpikir bahwa mereka wajib saling mencintai. Cukup dengan adanya perasaan bersalah, berterima kasih, dan saling pengertian, saya pikir semua itu sudah cukup.” (Hal. 324)

Melalui interaksi dengan Eun-seob dan orang-orang di desa, Hae Won perlahan belajar bahwa menyembuhkan diri butuh keberanian untuk membuka hati. Pesannya sederhana: luka tidak akan benar-benar hilang jika terus disembunyikan, tapi bisa perlahan sembuh kalau kita berani menghadapinya.

Kekuatan Hubungan Antar Manusia

Grameds, pernah nggak merasa lebih ringan setelah curhat atau sekadar ngobrol dengan orang terdekat? Itulah yang juga terjadi di buku ini.

Hubungan Hae-won dengan Eun-seob, serta interaksinya dengan warga desa, menunjukkan bahwa manusia nggak bisa hidup sendirian. Kehangatan yang lahir dari hubungan dengan orang lain sering kali menjadi kunci untuk pulih dari rasa sakit.

??“Aku berpikir bahwa hidup adalah proses mencari pekerjaan. Sebuah titik di dunia yang bisa memberikanku ketenangan dan kedamaian. Aku ingin menemukan tempat yang tepat untukku. Tempat yang bisa menerima keberadaanku, di mana tidak ada yang mengganggu atau terganggu, tempat yang tidak akan menolak keberadaanku. Aku anggap ini adalah proses untuk menemukannya.” (Hal. 369)

Buku ini menekankan bahwa dukungan sederhana, seperti mendengarkan tanpa menghakimi, bisa memberi kekuatan luar biasa. Dengan kata lain, keberadaan orang-orang yang tulus peduli bisa jadi “obat” yang nggak ternilai harganya.

Musim Dingin sebagai Simbol

Grameds, kalau dengar kata “musim dingin” apa yang terlintas? Mungkin dingin, sepi, bahkan rasa kesepian. Nah, dalam buku ini, musim dingin bukan hanya latar tempat, tapi juga simbol emosi para tokohnya.

“Tampaknya tidak akan ada penyesalan di masa depan ketika saat ini mereka semua merencanakan untuk membuat sebuah kenangan di musim dingin, dan bukanlah lebih baik melakukan sesuatu daripada tidak melakukan apa pun.” (Hal. 205)

Hae-won datang di musim dingin, saat hatinya sedang dingin dan membeku karena masa lalu. Namun, justru di musim dingin itu, ia menemukan kehangatan—baik dari Eun-seob maupun dari suasana desa. Artinya, musim dingin tidak hanya bicara soal kesepian, tapi juga memberi ruang bagi harapan baru. Dari situ, kita belajar bahwa masa-masa sulit dalam hidup bisa menjadi awal bagi sesuatu yang hangat dan indah.

Kelebihan dan Kekurangan Buku I`ll Go To You When The Weather Is Nice

Pros & Cons

Pros & Cons

Pros
  • Judul & cover buku yang menjanjikan
  • Bukan sekadar kisah cinta biasa
  • Setting yang memanjakan mata
  • Banyak rekomendasi buku menarik
  • Banyak menyisipkan budaya-budaya Korea
  • Ending yang hangat
Cons
  • Alur yang kadang membingungkan
  • Setting yang kurang realistis
  • Konflik yang repetitif dan melelahkan
  • Antiklimaks

 

Berikut adalah kekurangan dan kelebihan dari buku I`ll Go To You When The Weather Is Nice karya Lee Do-woo yang perlu Grameds ketahui.

 

  1. Kelebihan Buku I`ll Go To You When The Weather Is Nice

  • Judul dan Cover yang Puitis dan Memikat

Grameds, hal pertama yang bikin buku ini menonjol tentu ada pada judul dan cover yang digunakan. Judulnya terasa puitis dan langsung memunculkan rasa penasaran pembaca, sementara sampulnya sederhana sesuai dengan nuansa hangat dan potret musim dingin yang dibawakan ke dalam cerita cerita.

Dari sinilah pembaca langsung mendapat kesan pertama yang kuat dan tertarik untuk membuka halaman demi halaman yang ditawarkan buku ini.

  • Kedalaman Karakter dan Tema yang Menyentuh

Ketika masuk ke dalam ceritanya, kamu akan menemukan bahwa buku ini bukan hanya sekadar kisah cinta biasa. Justru yang membuatnya istimewa adalah kedalaman karakter dan tema yang diangkat Lee Do-woo dalam buku setebal 394 halaman ini.

Hae-won, Eun-seob, dan tokoh lainnya digambarkan dengan berbagai lapisan emosi yang kompleks mulai dari trauma masa kecil, luka batin yang terpendam hingga dewasa, serta usaha yang mereka untuk berdamai dengan masa lalu. Tema tentang memaafkan, menerima, dan menyembuhkan diri menjadikan buku ini lebih dari sekadar hiburan, melainkan bacaan yang meninggalkan kesan mendalam bagi siapapun yang membaca.

  • Latar Toko Buku yang Hangat dan Hidup

Latar tempat juga jadi bagian yang membuat buku ini begitu memikat. Grameds pasti akan jatuh cinta dengan toko buku indie bernama Good Night.

Bukan hanya sekadar latar, toko itu terasa hidup dengan detail unik sperti “Rak Buku Keeping” untuk menyimpan bacaan yang belum selesai, atau “Good Night Club,” klub baca untuk para “makhluk malam” atau orang-orang yang masih terjaga di malam hari untuk berdiskusi soal buku. Semua detail ini bikin pembaca merasa seolah ikut hadir di sana, bahkan ingin merasakan langsung suasana toko buku yang hangat tersebut.

  • Alur yang Rapi dan Unsur Budaya yang Menguatkan

Selain itu, meski menggunakan alur maju-mundur, cerita tetap mudah untuk diikuti, Grameds. Buku ini juga menyisipkan unsur budaya Korea seperti perayaan Chuseok, yang menambah keaslian cerita sekaligus memperkaya wawasan pembaca tentang tradisi setempat.

Ending cerita pun dinilai lebih memuaskan dibanding versi dramanya. Penutupnya hangat, realistis, dan tetap setia dengan pesan utama buku.

  • Pesan Moral yang Menghangatkan

Yang tak kalah penting, buku ini penuh dengan pesan moral—tentang arti persahabatan, kepercayaan, pentingnya keluarga, serta pilihan untuk tetap menjadi pribadi baik meski berasal dari masa lalu yang sulit.

 

    2. Kekurangan Buku I`ll Go To You When The Weather Is Nice

  • Alur Maju-Mundur yang Bisa Membingungkan

Tapi tentu saja, buku I`ll Go To You When The Weather Is Nice juga tidak luput dari kekurangan, Grameds. Alur maju-mundur yang jadi kekuatannya kadang-kadang terasa membingungkan bagi sebagian pembaca.

Selain itu, setting yang terlalu ideal—seperti toko buku indie yang nyaman dan komunitas kecil yang hangat—mungkin terasa kurang relatable bagi pembaca yang tidak begitu dekat dengan dunia literasi atau kehidupan pedesaan yang tenang.

  • Konflik Keluarga yang Terasa Repetitif

Satu hal lagi yang mungkin menjadi kekurangan buku ini adalah eksplorasi konflik keluarga yang bertele-tele dan antiklimaks. Baik Hae-won maupun Eun-seob sama-sama punya luka batin dalam keluarga, dan bagian ini terus muncul sepanjang cerita.

Penulisan konflik ini terasa repetitif dan kadang melelahkan untuk diikuti. Banyak adegan-adegan yang terasa berulang dan tak jarang menimbulkan rasa bosan.

 

Kesimpulan

I’ll Go To You When The Weather Is Nice adalah buku yang bukan hanya menyuguhkan kisah romansa, tapi juga perjalanan emosional tentang luka, pengampunan, dan penyembuhan diri, Grameds. Dengan latar musim dingin dan toko buku yang hangat, Lee Do-woo berhasil meramu cerita yang sederhana namun penuh dengan makna kehidupan.

Dengan segala kekuatannya, I’ll Go To You When The Weather Is Nice sangat layak dibaca, khususnya buat kamu yang mencari bacaan hangat, puitis, sekaligus penuh dengan renungan kehidupan.

Buku ini bukan sekadar kisah cinta biasa, Grameds, melainkan pengingat bahwa setiap orang selalu punya kesempatan untuk menata kembali hidup yang dikira akan berhenti.

Rekomendasi Buku Terkait

Berikut rekomendasi buku-buku yang bisa kamu baca setelah menyelesaikan I’ll Go To You When The Weather Is Nice.

  1. Pasta Kacang MerahPasta Kacang Merah (An Sweet Bean Paste)

button cek gramedia com

Pasta Kacang Merah adalah sebuah cerita yang mengharmonisasikan kudapan manis dengan persahabatan, menggambarkan bagaimana harapan dapat membantu manusia menghadapi kelamnya masa lalu.

Cerita dalam novel ini berkisah tentang Sentaro yang gagal menjalani kehidupan. Ia memiliki catatan kriminal, sulit meninggalkan kebiasaan minum alkohol, dan impiannya menjadi penulis semakin lama semakin pudar. Ia menghabiskan hari-hari monoton di sebuah kedai dorayaki yang berada di bawah pohon sakura yang berubah seiring perubahan musim.

Suatu ketika segalanya mulai berubah. Seorang wanita tua bernama Tokue, dengan jemari yang aneh bentuknya, datang ke kehidupan Sentaro. Dengan metode pengajaran yang sama anehnya, Tokue mewariskan pengalaman lima puluh tahunnya membuat pasta kacang merah kepada Sentaro.

Namun, seiring persahabatan di antara keduanya mulai terjalin, tekanan dari masyarakat terhadap kondisi Tokue mulai mengungkap rahasia gelap yang wanita itu simpan rapat-rapat. Rahasia itu kemudian menuntut harga yang sangat mahal.

      2. Funiculi Funicula

Funiculi Funicula (K?h? Ga Samenai Uchi Ni---Before the Coffee Gets Cold)

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Kafe tua yang berada di gang kecil Tokyo terletak di bawah gedung lain, tidak butuh pendingin untuk mendinginkan Kafe tersebut. Tidak begitu ramai, namun terkenal karena bisa membawa pengunjungnya menjelajahi waktu. Keajaiban kafe itu menarik seorang wanita yang ingin memutar waktu untuk berbaikan dengan kekasihnya, seorang peawat yang ingin membaca surat yang tak sempat diberikan suaminya yang sakit, seorang kakak yang ingin menemui adiknya untuk terakhir kali, dan seorang ibu yang ingin bertemu dengan anak yang mungkin takkan pernah dikenalnya.

Namun ada banyak peraturan yang harus diingat. Satu, mereka harus tetap duduk di kursi yang telah ditentukan. Dua, apapun yang mereka lakukan di masa yang didatangi takkan mengubah kenyataan di masa kini. Tiga, mereka harus menghabiskan kopi khusus yang disajikan sebelum kopi itu dingin. Rentetan peraturan lainnya tak menghentikan orang-orang itu untuk menjelajahi waktu. Akan tetapi, jika kepergian mereka tak mengubah satu hal pun di masa kini, layakkah semua itu dijalani?

 

 

Written by Laura Saraswati