in , ,

Review Buku Ranah 3 Warna Karya A Fuadi

Ranah 3 Warna – Alif baru saja menamatkan pendidikannya di Pondok Madani. Ia bahkan sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan Inggris, dan cita citanya melambung tinggi. Ia ingin belajar teknologi di Bandung seperti Habibie lalu merantau sampai Amerika. Namun, setibanya di Maninjau, semangatnya terhenti oleh kenyataan yang pahit. Dia belum memiliki ijazah SMA. Bagaimana mungkin semua impian itu terwujud tanpa syarat paling dasar ini?

Dari kegamangan hingga badai masalah yang datang bertubi tubi, Alif hampir saja menyerah. Namun ia kembali teringat dua mantra yang membentuk fondasi hidupnya. Man jadda wajada dan man shabara zhafira. Dengan keduanya, ia melangkah menghadapi setiap rintangan.

Apa yang menanti Alif di perjalanan penuh warna ini? Siapa saja tokoh yang mewarnai hidupnya, dan pelajaran besar apa yang ia temukan?

Jika Grameds penasaran dengan kisah perjuangan dan keteguhan hati Alif dalam Ranah 3 Warna, Gramin sudah menyiapkan ulasan lengkapnya untuk kalian. Buku dengan ketebalan 162 halaman ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 14 Juni 2017.

Sebelum membaca ulasan ini lebih lanjut, yuk kita mulai dengan mengenal penulisnya terlebih dahulu, Grameds!

Profil A Fuadi – Penulis Buku Ranah 3 Warna

Ahmad Fuadi berasal dari nagari Bayur, sebuah kampung tenang di tepi Danau Maninjau, tidak jauh dari tanah kelahiran Buya Hamka. Ia tumbuh bersama keluarga pendidik, ibunya seorang guru SD dan ayahnya guru madrasah.

Mengikuti pesan sang ibu, ia merantau ke Jawa dan masuk sekolah agama. Di Pondok Modern Gontor, ia bertemu para kiai dan ustaz yang mengajarinya ketulusan, ilmu hidup, dan pelajaran akhirat.

Dari tempat inilah ia menemukan rumus sederhana yang mengubah jalan hidupnya, man jadda wajada, siapa yang bersungguh sungguh akan berhasil.

Di Gontor pula ia belajar bahwa ilmu dan bahasa asing adalah kunci untuk membuka jendela dunia. Dengan bekal doa dan prinsip itu, ia mencoba UMPTN dan lulus di jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran.

Semasa kuliah, ia mewakili Indonesia dalam Youth Exchange Program di Quebec, Kanada, lalu mendapat kesempatan belajar satu semester di National University of Singapore melalui SIF Fellowship. Setelah lulus, mimpinya kembali terbuka ketika majalah Tempo terbit lagi. Ia diterima sebagai wartawan dan belajar langsung dari para jurnalis terbaik negeri ini.

Kesempatan belajar ke luar negeri datang silih berganti. Ia meraih beasiswa Fulbright untuk studi S2 di George Washington University dan tinggal di Washington DC bersama istrinya Yayi yang juga wartawan Tempo.

Di sana mereka menjadi koresponden Tempo dan wartawan VOA, bahkan meliput peristiwa bersejarah seperti tragedi 11 September dari Pentagon, White House, dan Capitol Hill. Beberapa tahun kemudian, ia menerima beasiswa Chevening untuk mendalami film dokumenter di Royal Holloway, University of London.

Kini pecinta fotografi ini menjabat sebagai Direktur Komunikasi di organisasi konservasi The Nature Conservancy.

Fuadi dan istrinya tinggal di Bintaro dan gemar membaca serta bepergian. Karyanya Negeri 5 Menara menjadi buku pertama dari sebuah trilogi yang merayakan pengalaman belajar yang penuh inspirasi. Ia berharap karya ini mampu membuka mata dan hati banyak orang. Sebagian royalti buku tersebut ia dedikasikan untuk membangun Komunitas Menara, organisasi sosial berbasis relawan yang menyediakan pendidikan dan layanan dasar secara gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.

Sinopsis Buku Ranah 3 Warna

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Aku hanya terdiam sambil menggigit bibir. Aneh, sejak tadi pelambung dari sandal jepit merahku tidak bergerak sedikit pun. Hanya ikan supareh kecil yang terus sibuk mengerubungi kakiku.

Kalau aku kalah memancing, apakah benar aku harus mentraktir Randai dengan pensi, kerang mungil khas Danau Maninjau itu? Pensi rebus yang dibungkus daun pisang dan diberi kuah bambu memang selalu berhasil membuat siapa pun ketagihan.

Eh, Alif, jadi setelah selesai dari pesantren ini, kamu masih berkeinginan jadi seperti Habibie? tanya Randai sambil menepuk betisnya yang diganggu agas.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Ranah 3 Warna

Pros & Cons

Pros
  • Memberikan semangat.
  • Penggunaan bahasa yang mengalir.
  • Bahan refleksi.
  • Penuh dengan pesan moral.
  • Relevansi dengan kehidupan nyata.
  • Penokohan yang kuat. 
Cons
  • Ending yang terkesan terburu-buru.

Kelebihan Buku Ranah 3 Warna

Buku Ranah 3 Warna karya A Fuadi ini memiliki banyak sekali kelebihan yang membuat buku ini menarik untuk Grameds telusuri!

  • Memberikan semangat

Ranah 3 Warna menghadirkan kisah yang penuh dengan energi tentang perjalanan Alif Fikri setelah lulus dari Pondok Madani. Ia pulang ke Maninjau dengan bekal ilmu agama sekaligus tekad bulat untuk mengejar mimpi menjadi Habibie berikutnya. Hasratnya untuk mencetak prestasi di dunia teknologi tidak pernah surut.

Dalam cerita ini, perjuangan, keyakinan, cinta, dan keluarga berhasil dirangkai menjadi satu sehingga memberikan dorongan kuat bagi pembaca untuk terus mengejar cita cita.

  • Penggunaan bahasa yang mengalir

Gaya bahasa A Fuadi terasa sangat natural dan mudah untuk diikuti. Setiap emosi, kegelisahan, dan pikiran Alif disajikan dengan jernih dan jelas sehingga pembaca larut tanpa sadar bahwa buku ini sebenarnya cukup tebal.

Dengan narasi yang runtut dan jumlah halaman yang tidak berlebihan, petualangan jatuh bangun Alif menjadi pengalaman membaca yang nyaman dan mengalir begitu saja.

  • Bahan refleksi

Buku ini juga punya kekuatan untuk mengajak pembaca berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri.

Sebelum sibuk memikirkan cara mewujudkan mimpi, buku ini mengingatkan bahwa langkah pertama adalah benar benar memahami apa mimpi itu.

Bacaan yang sederhana namun mampu mengundang renungan mendalam.

  • Penuh dengan pesan moral

Kisah Alif diperkaya dengan nilai nilai kehidupan yang kuat. Prinsip man jadda wajada menegaskan bahwa kesungguhan akan membuahkan hasil. Man shabara zhafira mengajarkan pentingnya kesabaran dalam menghadapi hari hari yang berat.

Ada juga ajakan untuk selalu berusaha lebih dari yang diminta melalui konsep i’malu fauqa ma amilu yang menanamkan kebiasaan bekerja melampaui batas minimal.

  • Relevansi dengan kehidupan nyata

Tema yang diangkat terasa sangat dekat dengan realitas kehidupan. Perjalanan Alif yang mengejar mimpi sekaligus menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan membuat pembaca mudah terhubung secara emosional, terutama bagi mereka yang sedang berada di fase perjuangan yang sama. Nilai spiritual dan pengalaman personal Alif menjadi cermin bagi banyak orang.

  • Penokohan yang kuat

Setiap karakter dalam buku ini hadir dengan nyawa yang jelas. Alif sebagai tokoh utama memberikan gambaran tentang tekad dan kesabaran dalam mewujudkan mimpi. Tokoh pendamping seperti Rusdi juga menambah warna dalam cerita lewat kepribadiannya yang jenaka, penuh nasionalisme, dan memiliki jiwa seni.

Selain itu, semua karakter dalam cerita ini juga digambarkan dengan mendetail dan terasa hidup, kehadiran karakter-karakter ini membuat cerita semakin hidup dan berkesan.

Kekurangan Buku Ranah 3 Warna

Buku Ranah 3 Warna karya A Fuadi memiliki banyak sekali kelebihan, akan tetapi bukan berarti buku ini tidak memiliki kekurangan sama sekali. Adapun, hal yang masih dirasa mengganjal dari buku ini adalah:

  • Ending yang terkesan terburu-buru

Salah satu hal yang terasa kurang adalah bagian akhir cerita yang ditampilkan dengan cepat.

Ranah pertama digambarkan dengan panjang dan detail, sementara dua ranah berikutnya terasa lebih singkat sehingga beberapa bagian tampak kurang tergarap dengan mendalam.

 

Apa itu Pondok Pesantren? 

Alif dalam cerita ini merupakan lulusan pondok. Akan tetapi, apakah Grameds sudah tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan pondok pesantren?

Jika belum, Gramin akan menjelaskannya secara singkat dan mudah untuk dipahami.

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam berbasis masyarakat yang mengajarkan ilmu agama, baik secara penuh maupun dipadukan dengan pendidikan umum. Mereka yang belajar dan tinggal di lingkungan pesantren disebut santri atau santriwati.

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah berapa lama proses belajar di pesantren berlangsung. Jawabannya bervariasi. Ada santri yang mondok selama satu hingga tiga tahun, ada juga yang menetap enam sampai sembilan tahun, bahkan lebih, tergantung tujuan pendidikan, jenis pesantren, serta jenjang yang diambil.

Apa saja manfaat mondok

  1. Pembentukan Karakter dan Akhlak Mulia

Pesantren dikenal sebagai tempat yang menanamkan disiplin, kemandirian, dan rasa tanggung jawab. Santri terbiasa hidup sederhana dan menjaga kebersamaan. Kebiasaan ini menjadi pondasi penting dalam kehidupan sosial dan profesional mereka ketika dewasa.

  1. Pendalaman Ilmu Agama dan Dunia

Banyak pesantren modern kini menggabungkan pelajaran agama dengan mata pelajaran umum. Santri belajar Al Qur an dan hadits, sekaligus matematika, bahasa Inggris, sampai komputer.

Dengan durasi mondok enam tahun atau lebih, mereka memiliki bekal ilmu yang lengkap untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

  1. Hafalan dan Penguasaan Kitab Kuning

Untuk program tahfidz atau pengkajian kitab salaf, waktu belajar yang panjang sangat dibutuhkan. Makin lama santri mondok, makin kuat hafalan dan pemahaman kitab yang dimiliki. Bahkan kini beberapa pesantren sudah memakai sistem digital untuk memantau perkembangan santri secara lebih akurat.

Jenjang Pendidikan di Pesantren dan Lama Belajarnya

  1. Pesantren Salafiyah (Tradisional)

Jenis pesantren ini memusatkan pelajaran pada kitab kuning atau kitab klasik. Jangka waktu mondok bisa mencapai lima hingga sepuluh tahun, tergantung kemampuan santri menguasai materi.

Di beberapa tempat, tidak ada batas waktu tertentu, sehingga santri bisa belajar hingga dianggap matang dalam ilmu dan akhlak.

  1. Pesantren Khalaf (Modern)

Pesantren modern menggabungkan kurikulum nasional dengan pendidikan agama. Sistemnya lebih teratur, dengan jenjang seperti berikut :

  1. MTs atau SMP Pesantren selama tiga tahun.
  2. MA atau SMA Pesantren selama tiga tahun.
  3. Program Takhasus atau pendalaman ilmu selama satu sampai tiga tahun.

Jika digabungkan, total waktu mondok bisa mencapai enam sampai sembilan tahun, tergantung apakah santri meneruskan ke program lanjutan.

  1. Pesantren Kilat atau Program Khusus

Ada juga program mondok jangka pendek seperti pesantren kilat atau tahfidz intensif. Durasi belajarnya bisa mulai dari satu bulan hingga satu tahun. Program ini cocok untuk liburan sekolah atau untuk santri yang ingin fokus menghafal.

Penutup

Melalui perjalanan Alif yang penuh dengan lika-liku, Ranah 3 Warna menghadirkan kisah tentang mimpi, perjuangan, dan kesabaran yang begitu dekat dengan kehidupan banyak orang. Setiap halaman akan mengajak Grameds untuk menyelami semangat agar terus melangkah meski badai datang silih berganti. Bagi Grameds yang sedang mencari cerita inspiratif yang membangkitkan harapan dan keberanian, kisah Alif dalam Ranah 3 Warna layak menemani hari hari kalian.

Nah Grameds, itu dia sinopsis dan ulasan dari Buku Ranah 3 Warna Karya A Fuadi. Yuk langsung saja dapatkan buku ini hanya di Gramedia.com!

Sebagai teman untuk mendukung perjalananmu #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.

 

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

Buku Ayo, Berlatih Silat!:Let’s Practice Silat! (Bilingual) Room to Read

Ayo Berlatih Silat

Saat libur sekolah, Salman mengunjungi Agam di Sumatera Barat. Dia ingin mengenal budaya Minangkabau. Agam mengajaknya melihat silat. Yuk, Ikut Salman dan Agam mengenal bela diri khas Indonesia!

 

Buya Hamka Edisi Poster Film

Buya Hamka

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Membaca kisah hidup Hamka bagai menonton aneka film sekaligus. Film petualangan penuh adegan mendebarkan, film religi yang menyentuh sanubari, dan film romantis yang terasa manis di hati.

Hidupnya memang kerap berayun ekstrem dari satu kutub ke kutub lain. Mulai dari penulis roman sampai jadi ulama besar penulis tafsir, dari gerilyawan melawan Belanda sampai dituduh makar dan ditangkap oleh Orde Lama. Tapi di kemudian hari, dia malah diangkat jadi pahlawan nasional.

Kronika dunia Hamka yang dirangkum di buku ini bagai buket dari taman bunga yang luas. Bunga itu wangi, indah warna-warni karena dipelihara secara kolektif oleh banyak hati. Taman bunga yang terhampar itulah hikayat Hamka yang menginspirasi, melintas banyak generasi.

 

Buya Hamka

Buya Hamka

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo, populer dengan nama penanya Hamka (17 Februari 1908–24 Juli 1981) adalah seorang ulama, filsuf, dan sastrawan Indonesia.

Ia berkarier sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia sempat berkecimpung di politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.

Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo mengukuhkan Hamka sebagai guru besar.

 

Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.