in

Review Buku Cerita dari Digul

Cerita dari Digul – Pernah nggak sih kamu membaca sesuatu yang rasanya bukan hanya cerita, tapi seperti membuka luka sejarah yang selama ini sengaja dilupakan?

Kalau membicarakan sastra Indonesia, nama Pramoedya Ananta Toer rasanya nggak mukin dilewatkan. Sosok legendaris ini bukan hanya dikenal karena kekuatan ceritanya, tapi juga karena keberaniannya merekam sejarah lewat tulisan, bahkan ketika sejarah itu sendiri terasa pahit.

Salah satu karyanya, Cerita dari Digul, jadi pintu masuk untuk melihat sisi lain dari masa lalu Indonesia. Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek tentang kamp interniran Boven Digul, sebuah tempat yang dulu jadi lokasi pembuangan para tahanan politik di era kolonial.

Di dalamnya ada lima karya yang mengangkat kisah Digul, masing-masing ditulis oleh penulis dengan latar dan pengalaman berbeda:

  1. D.E. Manu Turoe dengan karya Rustam Digulist, diterbitkan oleh Penerbit Tjerdas, Medan, tanpa tahun.
  2. Oen Bo Tik dengan Darah dan Air-Mata di Boven Digul, diterbitkan oleh Penerbit Bulan Purnama, Bandung, tanpa tahun.
  3. Abdoe’l Xarim M.S. dengan Pandu Anak Buangan, diterbitkan oleh Uitgevers Genootschap “Aneka”, Medan, tahun 1933.
  4. Wiranta (eks-Digulis) dengan Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul, diterbitkan oleh Penerbit Bulan Purnama, Bandung, tahun 1931.
  5. Serta karya Tanpa Nama (TN) berjudul Minggat dari Digul dalam empat jilid.

Kumpulan cerita ini kemudian disunting langsung oleh Pramoedya, seolah merangkai potongan-potongan suara yang dulu nyaris hilang menjadi satu narasi yang utuh.

Kini, Cerita dari Digul kini dapat ditemukan dalam edisi cetak terbaru yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 25 Oktober 2022. Sebelum masuk ke sinopsis serta membahas kelebihan dan kekurangannya, yuk kenalan dulu lebih dekat dengan sosok di balik penyusunan buku ini.

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Profil Pramoedya Ananta Toer – Penulis Buku Cerita dari Digul

Pramoedya Ananta Toer, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pram, lahir pada 6 Februari 1925 dan wafat pada 30 April 2006. Ia merupakan salah satu pengarang dan novelis paling berpengaruh dalam sejarah sastra Indonesia. Melalui karya-karyanya, Pramoedya berhasil merekam berbagai periode penting dalam sejarah bangsa, mulai dari masa penjajahan Belanda, perjuangan rakyat Indonesia menuju kemerdekaan, masa pendudukan Jepang selama Perang Dunia II, hingga era pemerintahan otoriter pascakolonial di bawah kepemimpinan Sukarno dan Suharto. Dalam setiap tulisannya, Pram tidak hanya menyajikan latar sejarah nasional, tetapi juga menggabungkannya dengan kisah-kisah pribadi yang menggugah, sehingga memberikan pandangan yang mendalam dan manusiawi terhadap kompleksitas sejarah Indonesia.

Namun, karya-karya Pramoedya sering kali mendapat tekanan dan penolakan dari pemerintah, baik pada masa penjajahan maupun ketika Indonesia berada di bawah pemerintahan otoriter. Meskipun namanya harum di kancah internasional dan mendapat pengakuan luas dari dunia sastra global, di dalam negeri tulisannya kerap kali disensor, terutama sebelum masa Reformasi. Ia pernah ditahan oleh pemerintah kolonial Belanda antara tahun 1947 hingga 1949, saat Perang Kemerdekaan Indonesia tengah berlangsung. Ketika kekuasaan berganti ke rezim Suharto, Pramoedya kembali menjadi korban politik. Ia ditahan tanpa proses pengadilan sejak tahun 1969 hingga 1979 di Pulau Buru, Maluku, karena dituduh terlibat dalam gerakan Komunis. Selama masa penahanannya yang penuh pembatasan, ia tetap menulis dan justru menciptakan karya besar yang kemudian dikenal sebagai Kuartet Buru. Dengan segala keterbatasan, ia menyampaikan cerita-cerita tersebut secara lisan kepada rekan-rekan sesama tahanan sebelum akhirnya berhasil menuliskannya dan menyelundupkannya keluar.

Pramoedya secara konsisten menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap berbagai kebijakan pemerintah, baik pada masa Presiden Sukarno maupun di era Orde Baru di bawah Suharto. Kritiknya terhadap kolonialisme, rasisme, serta korupsi disampaikan dengan gaya yang tajam namun halus dalam narasi-narasi fiksinya. Ia tidak gentar menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan, bahkan setelah menjalani berbagai bentuk penahanan, termasuk tahanan rumah di Jakarta pasca pembebasannya dari Pulau Buru. Hingga kini, Pramoedya dikenang sebagai simbol perjuangan bagi kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia di Indonesia. Sosoknya tetap menjadi inspirasi bagi banyak pihak yang memperjuangkan kebebasan berpikir dan bersuara dalam masyarakat yang demokratis.

Sinopsis Buku Cerita dari Digul

Cerita dari Digul adalah kumpulan tulisan yang lahir dari pengalaman para eka-Digulis. Mereka pernah diasingkan sebagai tahanan politik pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Setiap kisah yang benar-benar terjadi ini menggambarkan suka-duka perjuangan mereka untuk tetap bertahan hidup di tanah pembuangan Digul, Papua Barat. Pahit, menyayat, sekaligus mengharukan.

Digul merupakan wilayah di Papua yang pada masa itu ditetapkan pemerintah kolonial Hindia Belanda sebagai tempat pengasingan bagi para tahanan politik. Dalam buku ini, sosok-sosok yang diasingkan adalah mereka yang dikaitkan dengan gerakan PKI, terutama setelah pemberontakan tahun 1926. Pengasingan dilakukan untuk memutus mereka dari akar kehidupan, budaya, dan pengaruh sosial yang dimiliki.

Kehidupan di tempat pembuangan tentu sangat berat, melelahkan, penuh rasa sakit, dan mudah menjerumuskan pada keputusasaan. Lingkungan yang asing dan masih tergolong “liar”, tuntutan untuk bertahan dengan sumber daya terbatas di bawah pengawasan ketat aparat, tanah yang sulit diolah untuk bercocok tanam, ancaman malaria, serta rasa terasing dari lingkungan alam maupun penduduk setempat, semuanya berpadu menjadi pengalaman yang begitu mengguncang.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Cerita dari Digul

Pros & Cons

Pros
  • Membuat nostalgia.
  • Menghadirkan kisah perjuangan kemanusiaan.
  • Pengingat sejarah.
  • Terdapat sentuhan romansa.
Cons
  • Gaya bahasa yang berbeda-beda.
  • Beberapa bagian membingungkan.

Kelebihan Buku Cerita dari Digul

Sebagai salah satu karya dari Pramoedya Ananta Toer, kualitas buku Cerita dari Digul tak perlu diragukan lagi. Pastinya buku ini menyajikan banyak kelebihan dengan sentuhan khas sang penulis dan isinya yang menakjubkan.

  • Membuat nostalgia

Sebagai karya Pramoedya Ananta Toer, kualitas Cerita dari Digul tidak perlu dipertanyakan. Buku ini menghadirkan kekuatan nostalgia yang terasa begitu hidup. Penggunaan bahasa Melayu yang khas mampu membangkitkan semangat membaca dengan penuh perhatian, membuat pembaca ingin terus mengikuti setiap kalimat agar tidak kehilangan makna. Selain itu, interaksi para Digulis dengan penduduk Kayakaya turut menghadirkan kerinduan akan Papua, dengan kehidupan yang sederhana tetapi menyimpan begitu banyak dinamika dan cerita manusia.

  • Menghadirkan kisah perjuangan kemanusiaan

Buku ini membawa pembaca memasuki perjalanan panjang kemanusiaan. Setiap cerita menggambarkan usaha keras para tahanan untuk melepaskan diri dari hukuman pengasingan yang mereka jalani. Semua itu lahir karena keyakinan pada satu gagasan, satu kepercayaan, dan satu ideologi yang pada masanya dianggap tidak dapat diterima oleh banyak orang.

  • Pengingat sejarah

Kumpulan kisah dalam buku ini memiliki nilai sejarah yang sangat penting. Dari penderitaan, pengasingan, dan tekanan yang dialami para tahanan politik, perlahan-lahan tumbuh kesadaran kebangsaan. Dari upaya pemberontakan yang coba dipadamkan penjajah, justru muncul semangat untuk membebaskan diri dari kolonialisme dan berujung pada lahirnya Indonesia modern.

  • Terdapat sentuhan romansa

Beberapa cerita dalam buku ini juga menyelipkan unsur romansa dan tragedi yang memberi warna berbeda. Kehadiran elemen ini membuat pengalaman membaca tidak monoton dan tetap terasa menyenangkan.

Kekurangan Buku Cerita dari Digul

Meskipun buku ini menawarkan kekayaan sejarah dan narasi yang kuat, masih terdapat beberapa kekurangan yang bisa ditemukan di dalamnya.

  • Gaya bahasa yang berbeda-beda

Salah satu tantangan saat membaca buku ini adalah perbedaan gaya bahasa yang digunakan oleh masing-masing penulis. Nuansa bahasa Melayu yang tidak seragam membuat pembaca perlu ekstra teliti agar tetap dapat mengikuti alur cerita dan menangkap makna yang ingin disampaikan.

  • Beberapa bagian membingungkan

Beberapa kisah menggunakan nama samaran sehingga sekilas tampak seperti fiksi, padahal cerita tersebut diakui sebagai kisah nyata yang dituturkan secara sastrawi. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan, terutama bagi pembaca yang tidak memiliki pengalaman atau gambaran tentang kerasnya kehidupan hutan dan wilayah terasing. Namun seiring membaca, perlahan pembaca akan terbawa hanyut dalam perjuangan para tahanan, baik yang memilih bertahan maupun yang berusaha melarikan diri dari Digul.

Tentang Kamp interniran Boven Digul

Kamp interniran Boven Digul merupakan tempat pengasingan yang sangat terpencil, dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda di hulu Sungai Digul, Papua Selatan, setelah terjadinya pemberontakan Partai Komunis Indonesia pada tahun 1926. Tempat ini dikenal luas sebagai penjara alam karena dijadikan lokasi untuk membuang para tokoh pergerakan nasional dan aktivis politik yang dianggap membahayakan stabilitas kolonial.

Kamp ini dirancang sebagai lokasi pembuangan paling jauh dari pusat pergerakan di Jawa dan wilayah Nusantara lainnya, dengan tujuan memutus hubungan para tahanan politik dari jaringan dan pengaruh mereka. Pada awalnya, tempat ini hanya diperuntukkan bagi tokoh-tokoh utama komunis, tetapi seiring waktu kriteria penahanan semakin meluas.

Boven Digul digambarkan sebagai wilayah yang sangat terisolasi, dikelilingi hutan lebat, rawa luas, dan sungai yang dipenuhi buaya. Ditambah lagi ancaman malaria yang mematikan, menjadikan tempat ini sebagai neraka pengasingan. Meski demikian, di pusat administrasi kamp tersedia beberapa fasilitas dasar, seperti rumah sakit, sekolah, pasar, serta tempat tinggal bagi interniran yang dianggap patuh. Di sisi lain, terdapat lokasi pengasingan yang lebih keras bernama Tanah Merah yang ditempati mereka yang menolak bekerja sama.

Sejumlah tokoh penting pergerakan nasional yang pernah mengalami pembuangan di Boven Digul antara lain Muhammad Hatta, Sutan Syahrir, Sayuti Melik, Mas Marco Kartodikromo, dan Muhammad Bondan. Kini, kawasan bekas kamp interniran tersebut dijadikan situs sejarah dan cagar budaya yang dikelola untuk kepentingan edukasi dan pariwisata di Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan. Saat ini, Grameds dapat memandang Boven Digul bukan hanya sebagai kisah kelam masa lalu, tetapi juga sebagai pengingat perjalanan panjang bangsa menuju kemerdekaan. 

Penutup

Cerita dari Digul menghadirkan beragam kisah yang berbeda, namun semuanya berpusat pada pengalaman para ex-Digulis, sebutan bagi para pejuang kemerdekaan Indonesia yang pernah dibuang ke Digul, Papua. Melalui kisah-kisah ini, Grameds akan diajak untuk menyelami bagaimana mereka berjuang mempertahankan hidup di tengah keadaan yang begitu keras dan menyakitkan, sambil tetap menggenggam keyakinan pada kemerdekaan. Tidak hanya membuka kembali ingatan tentang sejarah bangsa, Grameds juga bisa lebih mengenal para pahlawan yang sudah berjuang demi memerdekakan bangsa Indonesia.

Grameds, itu dia sinopsis, ulasan, dan pesan moral dari buku Cerita dari Digul karya Pramoedya Ananta Toer. Yuk kita pelajari dan selami lebih dalam tentang sejarah bangsa ini dengan membaca buku ini yang bisa kamu dapatkan hanya di Gramedia.com! Sebagai teman untuk menemanimu #TumbuhBermakna, kami selalu siap menyediakan informasi terbaik dan terlengkap untuk kamu. Selamat membaca!

 

Rekomendasi Buku

1. Mangir 

Mangir    

button cek gramedia com

Setelah Majapahit runtuh pada 1527. Jawa kacau balau dan bermandi darah. Kekuasaan tak berpusat, tersebar praktis di seluruh kadipaten, kabupaten, bahkan desa. Perang terus-menerus menjadi untuk memperebutkan penguasa tunggal. Permata-permata kesenian, baik di bidang sastra, musik, dan arsitektur tidak lagi ditemukan. Selama hampir satu abad jawa dikungkung oleh pemerintah teror, yang berpolakan tujuan menghalalkan cara.

Latar belakang kisah Mangir karya Pramoedya Ananta Toer ini adalah keruntuhan Majapahit pada tahun 1527, akibat dari keruntuhan Majapahit, kekuasaan tak berpusat tersebar di seluruh daerah Jawa yang menyebabkan keadaan kacau balau. Perang terus terjadi untuk merebut kekuasaan tunggal, perang tersebut tentu saja menjadikan Pulau Jawa bermandikan darah. Sehingga yang muncul di Jawa adalah daerah-daerah kecil (desa) yang berbentuk Perdikan (desa yang tidak mempunyai kewajiban membayar pajak kepada pemerintah penguasa) dan menjalankan sistem demokrasi desa, dengan penguasanya yang bergelar Ki Ageng.

2. Anak Semua Bangsa (Lentera Dipantara)

 

Anak Semua Bangsa (Lentera Dipantara)

 

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Roman bagian kedua Tetralogi Buru; Anak Semua Bangsa, adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah Pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Di titik ini Minke diperhadapkan antara kekaguman yang melimpah-limpah pada peradaban Eropa dan kenyataan di selingkungan bangsanya yang kerdil. Sepotong perjalanannya ke Tulangan Sidoarjo dan pertemuannya dengan Khouw Ah Soe, seorang aktivis pergerakan Tionghoa, korespondensinya dengan keluarga De la Croix (Sarah, Miriam, Herbert), teman Eropanya yang liberal, dan petuah-petuah Nyai Ontosoroh, mertua sekaligus guru agungnya, kesadaran Minke tergugat, tergurah, dan tergugah, bahwa ia adalah bayi semua bangsa dari segala jaman yang harus menulis dalam bahasa bangsanya (Melayu) dan berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.

3. Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer

Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer              

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Tahun 1943, Pemerintahan Pendudukan Balatentara Dai Nippon di Jawa mengeluarkan perintah kepada para remaja perempuan untuk melanjutkan sekolah di Tokyo dan Shonanto. Perintah ini tidak pernah diumumkan secara resmi juga tidak masuk dalam Osamu Serei (Lembaran Negara).

Jepang sengaja melakukannya untuk menghilangkan jejak dan para perawan remaja yang telah diberangkatkan meninggalkan kampung halaman serta keluarga mereka untuk menempuh perjalanan yang berbahaya. Bukan untuk disekolahkan, tetapi mereka dipaksa untuk memenuhi impian seks serdadu Jepang. Kajian kiwari menyebut mereka sebagai Jugun Ianfu atau comfort woman. Kenyataannya, para Jugun Ianfu bukan hanya sekadar perempuan penghibur, tetapi juga budak seks secara brutal, terencana, dan kita bisa menganggapnya sebagai kejahatan perang.

 

Written by Laura Saraswati