in , , ,

Review Buku Aku (AADC) Karya Sjuman Djaya

Aku (AADC) – Grameds pastinya sudah pada familiar dengan film Ada Apa Dengan Cinta (AADC), yang film remake-nya baru saja diluncurkan pada 2025 kemarin. Kisah romansa Rangga dan Cinta yang manis dan khas anak SMA meninggalkan kesan yang membekas dalam benak masa remaja banyak orang.

Kamu juga mungkin familiar dengan scene Rangga yang memperkenalkan buku favoritnya “Aku”. Nah, pada artikel ini, Gramin akan mengulas buku kesukaan Rangga, lho!

Tapi sebelum itu, mari kita intip dulu profil sekilas tentang Suman Djaya, yang merupakan penulis bukunya!

Profil Sjuman Djaya – Penulis Buku Aku (AADC)

Selama empat belas tahun berkarya di dunia film, ia hanya menghasilkan sekitar enam belas judul, jumlah yang terbilang sedikit. Meski demikian, kualitas karyanya membuatnya hampir selalu meraih Piala Citra dalam ajang Festival Film Indonesia. Dari deretan film yang ia lahirkan, Sjuman menjelma menjadi satu dari sedikit sutradara Indonesia yang memiliki kebebasan penuh dalam berkarya dan tidak mudah dipengaruhi keputusan produser. Sikap teguh itu muncul karena Sjuman selalu berusaha menjadikan film sebagai media ekspresi pribadi yang tetap terhubung dengan kehidupan sosial masyarakat. Menurut D. Djajakusuma, budayawan sekaligus sutradara senior, tidak banyak sutradara yang mampu mengikuti jejaknya.

Film-film garapan Bung Sjuman begitu dikenal karena kedekatannya dengan isu sosial. Beberapa di antaranya adalah Si Doel Anak Betawi dan Si Mamad tahun 1973, Laila Majenun tahun 1975, Si Doel Anak Modern tahun 1976, Kabut Sutra Ungu tahun 1979, Bukan Sandiwara tahun 1980, Kartini tahun 1982, Budak Nafsu tahun 1983, serta Kerikil Kerikil Tajam tahun 1984.

Karya terakhirnya berjudul Opera Jakarta, yang dibintangi istrinya, Zoraya Perucha, bahkan belum rampung ketika Sjuman berpulang pada 19 Juli 1985. Warisan karya dan dedikasi seninya tetap menjadi bagian penting dalam sejarah perfilman Indonesia hingga kini.

Sinopsis Buku Aku (AADC)

Bom atom pertama menggelegar di Hiroshima. Langit dipenuhi awan berbentuk jamur yang mematikan. Saat awan itu mulai luruh, bumi seperti diguyur badai salju yang mengamuk. Gedung gedung kokoh ikut tumbang, jalanan beraspal terbakar dan menyala, tanah merekah dan berdebu ke segala arah. Ribuan manusia kehilangan nyawa atau tersungkur dengan tubuh yang meleleh. Di tengah kehancuran gambaran itu, muncul seekor kuda putih paling liar dengan surai terurai, berlari di pusat Kota Jakarta. Ia tidak memedulikan apa pun di sekitarnya, termasuk manusia yang ada di jalannya. Ia meringkik seolah merayakan dahsyatnya kebebasan yang dimilikinya, melangkah dan menendang seakan dunia hanya berada dalam genggamannya. Dalam langkahnya yang menggema, terasa seakan ia menyuarakan kata kata:

kalau sampai waktuku
kumau tak seorang kan merayu
tidak juga kau
tak perlu sedu sedan itu
aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang

Gaung suara itu seakan membelah langit dan memecah bumi.

Rangkaian adegan yang tergambar dalam skenario ini sengaja dibentuk untuk menghadirkan kembali semangat Chairil Anwar, penyair besar yang begitu dikagumi Sjuman Djaya. Karya ini menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan kreatif Sjuman, yang meneguhkan posisinya di antara para seniman terkemuka Indonesia.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Aku (AADC)

Pros & Cons

Pros
  • Memperkenalkan sosok penyair terkenal dalam sudut pandang berbeda.
  • Detail yang jelas.
  • Gaya bahasa zaman dulu.
  • Format dialog.
Cons
  • Mengubah pandangan pembaca.

Kelebihan Buku Aku (AADC)

Buku Aku (AADC) karya Sjuman Djaya memiliki banyak sekali kelebihan yang membuatnya menjadi buku best seller dan disebut legendaris.

  • Memperkenalkan sosok penyair terkenal dalam sudut pandang berbeda

Dalam buku ini, Sjuman Djaya menghadirkan Chairil Anwar dengan gambaran yang lebih manusiawi. Sikap sikap buruk Chairil tidak ditutupi, mulai dari gaya hidup bohemian sampai kebiasaannya mengklaim puisi terjemahan sebagai karya sendiri. Penulis tidak bermaksud menjatuhkan, melainkan menunjukkan Chairil secara utuh agar pembaca mengenalnya apa adanya.

  • Detail yang jelas

Meskipun jumlah halamannya tidak banyak, penulis menghadirkan setiap deskripsi dan narasi dengan sangat teliti. Alurnya terasa padat, lengkap, dan memberi kesan bahwa setiap halaman memiliki bobot yang penting untuk dipahami.

  • Gaya bahasa zaman dulu

Gaya bahasa dalam buku ini mengikuti nuansa bahasa Indonesia sekitar tahun empat puluh lima. Penjelasan mungkin tidak cukup menggambarkannya, karena pembaca akan lebih merasakan keunikannya ketika langsung membaca. Gaya lama ini bukan hambatan, justru menjadi daya tarik tersendiri yang membuat pengalaman membaca terasa berbeda.

  • Format dialog

Buku ini menyisipkan puisi puisi Chairil Anwar melalui dialog yang disusun dengan rapi. Susunan tersebut memberi gambaran mengenai proses, suasana batin, serta latar belakang yang mendorong lahirnya setiap puisi sehingga pembaca bisa memahami lebih dalam konteks penciptaannya.

 

Kekurangan Buku Aku (AADC)

Walaupun memiliki banyak hal yang menonjol, buku ini tidak terlepas dari beberapa kekurangan yang mungkin memengaruhi pengalaman pembaca.

  • Mengubah pandangan pembaca 

Sebagai karya seni, buku ini sangat baik. Namun, karena menggambarkan kehidupan Chairil Anwar secara gamblang, sebagian pembaca dapat memperoleh kesan yang berbeda dari sosoknya.

Penggambaran Chairil yang apa adanya membuatnya tampak seperti figur pemberontak yang memandang perempuan hanya sebagai pelengkap, lebih suka menghabiskan waktu nongkrong dibanding kuliah, bahkan digambarkan sebagai sosok yang keras dan manipulatif meski memiliki bakat besar dalam merangkai kata.

Bagi sebagian orang, hal ini bisa menggeser pandangan mereka terhadap sang penyair.

 

Chairil Anwar dan Karya-Karyanya

Chairil Anwar yang lahir pada 26 Juli 1922 dan wafat pada 28 April 1949 dikenal luas sebagai salah satu penyair terbesar Indonesia. Julukan Si Binatang Jalang yang diambil dari puisinya berjudul Aku Ini Binatang Jalang melekat kuat pada dirinya dan menjadi ciri khas yang menggambarkan sikap dan semangatnya.

Sepanjang hidupnya, ia diperkirakan menghasilkan sekitar 96 karya dengan 70 di antaranya berupa puisi. Bersama Asrul Sani, Rivai Apin, dan H. B. Jassin, ia turut menempatkan namanya sebagai pelopor Angkatan Empat Lima sekaligus tokoh penting dalam perkembangan puisi modern Indonesia.

Chairil lahir dan tumbuh di Medan sebelum akhirnya pindah ke Batavia yang kini dikenal sebagai Jakarta bersama ibunya pada tahun 1940. Di kota inilah ia mulai menekuni dunia sastra dengan lebih serius. Setelah puisinya pertama kali diterbitkan pada tahun 1942, ia terus berkarya tanpa henti. Tema yang diangkat dalam setiap puisinya sangat beragam, mulai dari semangat pemberontakan, renungan tentang kematian, pencarian jati diri, percintaan, hingga makna eksistensi yang sering kali dapat ditafsirkan dengan berbagai cara.

Karya-karya Chairil Anwar dan rangkuman isinya adalah sebagai berikut.

  • “Aku Ini Binatang Jalang”: Puisi paling terkenal yang menekankan individualisme, keberanian, dan semangat hidup bebas. Kata-kata seperti “binatang jalang” menunjukkan pemberontakan terhadap norma dan aturan yang mengungkung.
  • “Diponegoro”: Puisi ini menggambarkan semangat perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah untuk mencapai kemerdekaan.
  • “Doa”: Karya yang sarat makna religius dan filosofis, sering dianggap sebagai bentuk ekspresi spiritual dan ketuhanan.
  • “Karawang-Bekasi”: Menggambarkan perasaan kehilangan dan mengenang para pejuang yang gugur dalam perang, serta seruan untuk tidak melupakan mereka.
  • Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus: Kumpulan puisi yang berisi tema patah hati dan kesedihan, seperti yang terdapat dalam koleksi Deru Campur Debu.
  • Derai-Derai Cemara: Kumpulan puisi yang menunjukkan kepekaan Chairil terhadap kondisi sosial-politik pada masanya.
  • Tiga Menguak Takdir: Kumpulan cerpen yang menunjukkan kemampuannya dalam menulis prosa, berisi tentang kehidupan sehari-hari.
  • Drama “Gadis”: Cerpen yang menceritakan tentang kesedihan seorang gadis yang kehilangan kekasihnya.
  • “Jakarta”: Puisi yang menggambarkan suasana kota Jakarta yang penuh gejolak dan menjadi kritik sosial terhadap keadaan kota pada masa itu.

 

Penutup

Buku Aku AADC menghadirkan potret batin seorang manusia yang terus dirundung gelisah saat harus menjalani hidup di bawah tekanan penjajahan. Karya ini adalah biografi yang merekam kenyataan, bukan cerita rekaan semata. Ia lebih menyerupai catatan perjalanan yang jujur, bukan drama yang memancing air mata atau kisah kepahlawanan yang membahana.

Di dalamnya, tersimpan perjalanan seorang individu yang mendamba kemerdekaan, yang mencari ruang untuk bernapas dengan bebas. Baginya, kebebasan adalah kemampuan mengikuti suara hati tanpa belenggu aturan, bahkan ketika risiko terbesar yang dipertaruhkan adalah hidupnya sendiri.

Bagi Grameds yang penasaran akan buku favorit Rangga, kamu bisa langsung dapatkan buku Aku (AADC) karya Sjuman Djaya hanya di Gramedia.com! Kamu juga bisa mendapatkan buku best seller lainnya di Gramedia.com. Sebagai teman perjalananmu untuk #TumbuhBersama, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.

 

Rekomendasi Buku

Aku Ini Binatang Jalang

Aku Ini Binatang Jalang

 

 

Koleksi Sajak 1942-1949

Selama ini kita tidak bisa menemukan sajak-sajak Chairil Anwar dalam satu buku. sebagian kita temukan dalam Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus, sedangkan sebagian lagi kita jumpai dalam Tiga Menguak Takdir dan Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45. Akan tetapi, sajak-sajak yang terdapat dalam pelbagai buku itu sekarang disatukan dalam Aku Ini Binatang Jalang.

Selain keseluruhan sajak-asli, dalam koleksi ini juga dimuat untuk pertama kali surat-surat Chairil – yang menggambarkan “keadaan jiwa”nya – kepada karibnya, HB Jassin.

 

The Snatched and The Snapped

The Snatched and The Snapped

button cek gramedia com

DERAI-DERAI CEMARA cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam ada beberapa dahan di tingkap merapuh dipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahan sudah berapa waktu bukan kanak lagi tapi dulu memang ada suatu bahan yang bukan dasar perhitungan kini hidup hanya menunda kekalahan tambah terasing dari cinta sekolah rendah dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah

 

Mengenal Chairil Anwar

Mengenal Chairil Anwar

Siapa harus mengatakan apa tentang Chairil Anwar? Tokoh Chairil Anwar selalu menarik untuk dikaji tokoh-tokoh sastra. H.B.Jassin, yang kritikus sastra, hingga Sutan Takdir Alisjahbana tampil dengan interpretasinya sendiri-sendiri coba meneropongi karya-karya sastra Chain! Anwar yang kuat melekat dengan pengalaman hidup pribadinya.

Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa karya sastra Chairil Anwar adalah sejarah batinnya. Sebagaimana setiap karya seni selalu mengandung pemaknaan berlipat-ganda, demikianlah tentang karya sastra dan tokoh penulis, Chairil Anwar sendiri selalu tidak habis ditafsirkan. Pamusuk Eneste mencoba mengantar peminat-pemerhati karya sastra Chairil Anwar dengan mengangkat sejarah hidupnya sebagai cara memahami karya-karyanya.

 

Penulis: Gabriel