in

15 Properti Tari Reog Lengkap dengan Pemahaman Sejarah dan Makna!

Sindunesia

Properti Tari Reog – Tari Reog atau biasa disebut dengan “Reog” saja, merupakan tarian tradisional asal Jawa Timur, lebih tepatnya Ponorogo. Tak heran, kita kerap mendengar tarian tersebut sebagai “Reog Ponorogo”.

Dalam pementasannya, tarian ini masih sangat lekat dengan berbagai hal mistik dan ilmu kebatinan. Hal ini banyak membuat orang awam penasaran dengan penampilan tari, pemain, dan properti yang digunakan.

Dalam artikel Gramedia ini. Mari kita kenali lebih dalam tentang properti tari Reog, sejarah, dan makna tarinya!

Properti Tari Reog yang Lengkap

Properti Tari Reog
Sekolahnesia

Tari Reog Ponorogo yang asalnya dari cerita rakyat, penampilannya masih eksis hingga era modern ini. Penari Reog dalam pagelarannya akan perlu properti tari untuk menunjang kelengkapan penampilan saat pementasannya.

Properti tari sendiri ialah berbagai alat yang akan selalu dipakai dalam suatu pementasan seni tari. Tak cuma menambah keindahan tarian, properti ini juga bisa menambah makna dan nilai dari gerakan tari. Oleh karena itu, penting untuk mengenal dan mengetahui fungsi dari properti tari Reog Ponorogo.

Dalam melangsungkan tarian Reog Ponorogo, properti yang digunakan akan begitu banyak. Tentunya, penari-penari dalam tarian pembuka perlu menampilkan yang terbaik untuk dilihat para penonton. Properti yang dipakai pun pastinya akan sesuai dengan peran yang dibawa, seperti Warok, Pembarong, Jathilan, Prabu Kelono Sewandono, dan Bujang Ganong.

Berikut daftar dan penjelasan properti tari Reog yang perlu kamu tahu.

1. Dadak Merak

Penari Reog Ponorogo pasti akan menggunakan properti ini. Dadak Merak ialah suatu topeng berbentuk kepala singa yang dipakai oleh penari. Padanya, terdapat hiasan burung merak dengan bulu di atas kepala singa tersebut. Tinggi properti ini ditaksir sekiranya mencapai 2,25 meter dan beratnya hingga 2,30 kilogram.

Dadak merak secara spesifik punya makna tersendiri dalam perannya pada pagelaran tari Reog. Ia menjadi simbol keindahan maupun kekuatan sebagai wujud kepala singa yang buas dan ganas. Adapun keindahannya termuat dalam wujud seekor burung merak yang sedang mengembangkan bulu ekornya dan tampak sangat memukau.

Baik singa atau burung merak, keduanya ialah binatang yang tampak sangat kontras satu sama lain. Jadi, bisa dipetik nilai kehidupan atau pembelajaran bagi masyarakat Ponorogo ataupun siapa saja yang melihatnya, agar selalu berani, berwibawa, tetapi juga tetap sopan dan santun agar tercipta kedamaian antarsesama.

Dadak Merak merupakan properti yang dipakai oleh Pembarong. Sebenarnya, properti ini pun tak hanya digunakan dalam Reog Ponorogo saja. Ia juga dipakai untuk acara unduh mantu dalam adat Jawa.

The Architecture of Love | Di balik Pena

2. Jarit

Jarik atau jarit merupakan properti lainnya yang juga pasti dipakaikan pada penari Reog Ponorogo, khususnya penari-penari yang berperan menjadi Pembarong, Warok, Prabu Kelono Sewandono, dan Jathilan. Properti ini sendiri berupa kain panjang dengan motif batik bermacam corak. Yang sering digunakan, ialah kain motif jarit parang barong.

Properti yang satu ini mesti dipakaikan dengan cara yang baik dan telaten. Grameds harus mewiru selendang menjadi tiga wiruan. Setelahnya, jarit dilipat menjadi dua sama panjang dan wiruannya tampak dari luar. Jarik tersebut digunakan untuk melilit pinggang dengan wiruan yang terletak pada kaki kanan.

3. Udheng

Kelengkapan busana tarian Reog Ponorogo juga dipengaruhi udheng yang diikatkan di kepala penari jathilan. Jenis udheng yang dipakai sendiri bernama udheng tapak dara atau gadhung melati. Pemakaiannya juga tak bisa sembarangan, kita perlu tahu cara memakai udheng dengan benar.

Sebaiknya, udheng dibasahi dengan air terlebih dahulu sebelum dipakai. Jangan lupa pula bahwa kita harus memerasnya agar tidak membuat pusing saat udheng dipakai. Bentuk udheng menjadi segitiga yang diwiru selebar dua sentimeter atau sesuai kebutuhan. Udheng yang telah dibentuk tersebut lalu dipasang pada kepala dengan sudut lancip yang ada pada bagian tengah kedua mata.

4. Celana

Celana kepanjen berwarna hitam sebagai dasarnya akan dipakai oleh seorang penari Reog Ponorogo. Celana ini umumnya dibuat dengan bahan beludru dengan bordir mante emas di bagian bawahnya. Celana ini biasanya hanya mencapai paha atau bahkan lutut saja.

5. Samir dan Bara-Bara

Keduanya, baik samir dan bara-bara, ialah perlengkapan wajib penari Reog Ponorogo yang terbuat dari kain beludru dan bordiran monte emas pada setengah bagiannya. Bentuk samir dan bara-bara ini serupa dengan anak panah dengan segitiga lancip di bagian bawahnya. Namun, desain bagian bawahnya tampak terbelah pada bawa-bara.

Ujung samir ataupun bara-bara bergombyok, dan bagian hiasan monte emasnya terdapat hiasan payet beraneka macam warna, seperti kuning, hijau, dan merah.

Properti Tari Reog

6. Stagen Cinde

Dikenal juga dengan nama cinde merah, stagen cinde merupakan kain sutera merah panjang yang dipakai sebagai selendang pengikat. Panjangnya kurang lebih 4 meter dan lebarnya 10 sentimeter. Umumnya, motif batik terdapat pada stagen cinde dengan kombinasi warna tertentu, seringnya kuning dan hijau.

Stagen cinde dipakai dengan melilitkannya pada penari Reog pada bagian pinggang, setelah memakai jarik. Umumnya, properti ini dipakai oleh penari yang memerankan Pembarong dan Prabu Kelono Sewandono.

7. Epek Timang

Properti lain yang akan dipakai oleh penari Reog ialah epek timang. Bentuknya sabuk dengan bahan dasar beludru yang berhias bordir emas yang timangnya berwarna putih. Epek timang tak hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga sebagai ikat pinggang sekaligus tempat sampur.

8. Sampur

Sampur merupakan properti lainnya dari Reog Ponorogo. Ini berupa kain yang mirip selendang, terdiri dari dua macam warna: merah dan kuning. Masing-masing ujung sampur tampak bergombyok atau punya renda greji berwarna emas.

Pemakaian sampur dilakukan dengan memasukkannya ke epek timang. Sampur berwarna merah akan tampil pada bagian depan, sedangkan sampur warna kuning akan tampil di bagian belakang.

9. Hem

Hem merupakan properti tari Reog Ponorogo lainnya yang dipakai berupa hem lengan panjang berwarna putih yang mengkilap. Warna dan tekstur tersebut tak akan tembus pandang jika pemakainya terkena sorot sinar lampu pentas.

10. Gulon Ter

Gulon ter merupakan properti Reog Ponorogo yang pasti dipakai. Properti ini terbuat dari bahan kain beludru dengan hiasan greji warna kuning emas. Pun, gulon ter dipakai pada bagian pundak penari, sebagai hiasan di sekitar kerah baju yang berfungsi sebagai karakteristik atau simbol seorang prajurit.

11. Kace

Kalung hiasan yang terbuat dari kain beludru dengan hiasan greji warna kuning emas disebut juga sebagai kace. Terdapat beberapa payet juga yang menghiasi properti ini dengan beraneka warna cerah, termasuk hijau, ungu, dan merah.

Terdapat pula gerombyak atau renda yang warna benangnya kuning emas pada kace.

12. Srempang

Srempang juga adalah hiasan yang dipakai di sekitar bahu, seperti kace. Lebih tepatnya, properti ini diletakkan pada pundak bagian kanan penari. Ujungnya dikancingkan pada pinggang sebelah kiri. Srempang punya hiasan greji warna kuning emas, dengan renda yang punya warna senada.

13. Cakep

Bukan cakep yang berarti “cakap”, cakep merupakan hiasan yang diletakkan pada pergelangan tangan penari Reog. Bentuknya serupa dengan gelang yang dikenakan pada tangan kanan dan kiri penari. Properti ini punya pengait warna merah dengan hiasan greji kuning emas pada sisi mukanya.

Cakep juga merupakan gelang dengan bahan dasar kain beludru yang berhiaskan beberapa payet warna cerah, seperti merah, hijau, dan kuning.

14. Binggel

Berbeda dengan cakep, binggel ialah gelang kaki yang dikenakan oleh penari. Ia dipakai dengan sepasang, warnanya kuning emas. Tak hanya itu, binggel ini punya corak berwarna hitam atau cokelat pada bagian tengah gelang yang tampak secara horizontal.

15. Eblek

Eblek adalah properti terakhir yang dipakai oleh penari Reog. Ia berupa kuda lumping dengan warna putih yang dipakai oleh pemeran jathilan dalam tarian Reog Ponorogo tersebut. Properti eblek ini digambarkan sebagai seekor kuda putih bermata merah yang tengah marah.

Sejarah Tari Reog

Properti Tari Reog
Shutterstock

Cukup banyak versi terkait sejarah dan asal usul tarian tradisional Reog Ponorogo yang berkembang di masyarakat. Namun, salah satu versi yang paling populer ialah terkait pemberontakan Ki Ageng Kutu.

Mengutip buku Babad Ponorogo Jilid I-VIII tahun 1984, terdapat kisah tersendiri dalam proses kemunculan tari Reog. Berasal dari cerita rakyat, terdapat lima versi cerita sejarah yang berkembang. Yang paling terkenal, pemberontakan Ki Ageng Kutu, berkisah tentang seorang abdi kerajaan di masa Bhre Kertabumi pada abad ke-15 bernama Ki Ageng Kutu.

Ia memberontak karena murka terhadap pemerintahan raja yang penuh kezaliman dan sangat terpengaruh oleh istri raja majapahit yang berasal dari China. Ki Ageng Kutu pun meninggalkan sang raja dan mulai mendirikan perguruan bela diri. Sayang, ia juga sadar bahwa pasukannya masih terlalu kecil untuk melawan kerajaan.

Jadi, Ki Ageng Kutu beralih membuat pertunjukkan seni Reog sebagai sindiran kepada Raja Kertabumi dengan kerajaannya sekalian. Pasalnya, ia marah pada sikap raja yang melakukan korupsi akibat hasutan istrinya tersebut.

Tari Reog Ponorogo tidaklah sekadar pertunjukkan hiburan, tetapi juga alat sindiran untuk raja dan para pengikutnya. Simbol Raja Kertabumi berupa singo barong pada tarian tersebut juga selaras dengan singa yang dikenal sebagai raja hutan.

Pada bagian atasnya, tertancap bulu-bulu merak yang bentuknya serupa dengan kipas, menggambarkan adanya pengaruh kuat dari rekan-rekan asal China. Sementara itu, simbol kekuatan Kerajaan Majapahit yang kontras dengan kekuatan Warok, ialah Jathilan.

Di balik topeng badut merah yang menopang topeng singo barong yang beratnya lebih dari 50 kilogram menggunakan gigi, di sanalah sosok kuat yang menggambarkan Ki Ageng Kutu.

Asal Usul Reog

Tak cuma kisah penaklukkan, kata “Reog” pun melahirkan cerita lain bahwa Ki Ageng Kutu yang awalnya menciptakan barongan bagi para warok, dikalahkan dan media tari tersebut dialihfungsikan menjadi media dakwah Islam oleh Raden Katong. Raden Katong sendiri merupakan penyebar Islam pertama di Ponorogo. Barongan yang lalu menjadi milik masyarakat Ponorogo dari milik warok, kemudian berganti nama menjadi Reog yang berasal dari kata riyokun, artinya “khusnul khotimah”.

Pementasan

Awalnya, pertunjukkan tari Reog menjadi strategi Ki Ageng menciptakan perlawanan dari masyarakat lokal. Penari, pada pertunjukannya, menggunakan topeng berbentuk kepala singa yang disebut sebagai “singo barong” sebagai simbol Kertabumi. Bagian atasnya pun ditambahkan bulu-bulu merak yang membuatnya serupa dengan kipas ukuran raksasa.

Terdapat pula seorang penari yang menunggangi kuda-kudaan yang berperan sebagai Jathilan dalam pementasan Reog. Properti tersebut punya arti kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit dan kekuatan warok yang sangat berbeda dengan mencolok.

Ada pula penggunaan topeng yang dibaliknya terdapat badut merah sebagai simbol Ki Ageng Kutu yang menopang topeng seberat 50 kilogram sendirian dan hanya mengandalkan giginya.

Pertunjukkan Reog jadi semakin populer, sehingga Bhre Kertabhumi melakukan pemberontakan dan mengambil tindakan dengan menyerang perguruan milik Ki Ageng Kutu. Akhirnya, pemberontakan ini diatasi oleh kesigapan warok yang berhasil melerainya.

Meski sudah ada pemberontakan, tetapi ajaran yang telah diberikan tetap dilanjutkan oleh anggota perguruan, meski secara sembunyi-sembunyi. Pertunjukkan Reog pun tetap dapat dipentaskan karena sudah terlanjur terkenal di seluruh masyarakat yang ada. Lantas, terdapat beberapa perubahan alur cerita dengan tambahan karakter yang telah ada dalam cerita rakyat Ponorogo, yakni Sri Genthayu, Dewi Songgolangit, dan Klono Sewandono.

Hingga zaman ini, kelestarian tari Reog masih terjaga dan mengikuti berbagai hal yang sudah diwariskan oleh budaya dan leluhur sebelumnya.

Makna Tarian

Disebut bahwa riyokun merupakan asal dari kata reyog atau Reog, yang punya arti “khusnul khotimah”. Hal ini diambil dari cerita perjuangan Raden Katong dalam mengalahkan Ki Ageng Kutu. Tak jauh dari makna tari tradisional yang memang mengisahkan peperangan. Meski begitu, terdapat artian bahwa tari Reog ialah sindiran Ki Ageng Kutu kepada Raja Brawijaya V, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Raja digambarkan sebagai macan yang ditunggangi oleh merak, sedangkan pasukan Majapahit dilambangkan oleh penari jathil dengan kuda-kudanya. Selain adanya warok yang ingin melindungi tanpa pamrih, ada pula kisah percintaan yang tergambarkan lewat kemunculan sosok Kelana Sewandana dan patihnya, Bujang Ganong. Kisah percintaan ini pun umum dimainkan bila tari Reog Ponorogo ditampilkan dalam acara pernikahan.

Pemain Tarian

Grameds, berikut merupakan daftar peran dalam penampilan tari Reog Ponorogo. Yuk, kenali:

1. Jathil

Jathil ialah tokoh yang memiliki peran sebagai prajurit berkuda dalam tarian Reog Ponorogo.

2. Wewarah atau Warok

Wewarah atau Warok adalah tokoh yang berperan memberi tuntunan, perlindungan, dengan sikap tekad suci dan ikhlas tanpa pamrih.

3. Dadak Merak atau Barongan

Dadak Merak atau Barongan ialah topeng kepala harimau yang beratnya mencapai 50-60 kilogram yang terbuat dari kerangka kayu, rotan, sampai bambu yang kemudian dilapisi kulit harimau gembong. Properti ini dilengkapi oleh hiasan bulu merak dan untaikan manik-manik atau tasbih.

4. Klono Sewandono

Klono Sewandono ialah suatu tokoh raja yang sangat sakti mandraguna dan tampan. Ia punya pusaka andalan bernama Cemeti Klono Sewandono atau Raja Kelono, yang dikenal dengan sebutan Pecut Samandiman dan sangat ampuh serta dibawa ke mana pun sang raja pergi.

5. Bujang Ganong atau Ganongan

Bujang Ganong atau Ganongan yang merupakan tokoh patih muda yang cerdik, cekatan, berkemauan keras, sakti, enerjik, mahir seni bela diri, dan jenaka.

Properti Tari Reog

Penutup

Seperti itulah kisah dan asal-usul tari Reog Ponorogo dan properti yang akan selalu dipakai oleh penarinya. Grameds, tari-tari tradisional memang memiliki makna dan ajarannya tersendiri untuk disampaikan kepada para masyarakat. Kita juga harus mengenal tari tradisional lebih dalam untuk membantu melestarikan warisan yang telah dibawa oleh leluhur agar tak hilang ditelan waktu.

Kamu bisa membaca banyak buku untuk lebih mengenal berbagai kesenian Nusantara, dengan cara mudah dengan membeli lewat Gramedia. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Sevilla Nouval Evanda

BACA JUGA:

  1. 25 Nama Tarian Daerah dan Asalnya
  2. Budaya, Sejarah, dan Asal Tari Jaipong
  3. Tari Saman: Pengertian, Sejarah, Makna Gerakan
  4. 7 Tari Tradisional Masyarakat Papua dan Papua Barat
  5. Menelisik Sejarah, Fungsi, dan Ciri Tari Gambyong
  6. Yuk Kenalan dengan Tari yang Berasal dari Bali dan Kisahnya
  7. Sejarah & Asal Tari Kipas Pakarena


ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Evanda

Karya saya di bidang ini mencakup berbagai artikel, e-novel, cerpen, hingga beberapa puisi yang mulai saya pelajari. Tak ketinggalan, saya juga tentunya (dan semestinya) gemar membaca, termasuk membaca berbagai sumber untuk karya tulis saya, maupun karya-karya orang lain yang menginspirasi. Saya juga sangat senang dengan dunia seni.