Tekad – Halo, Grameds! Di tengah banyaknya novel remaja modern, Tekad hadir membawa nuansa berbeda lewat kisah tentang selawatan, dakwah, dan perjalanan memperbaiki diri.
Novel karya Gus Azmi dan Wahyudi Pratama ini nggak hanya menawarkan cerita religi, tetapi juga menggambarkan bagaimana anak muda menghadapi popularitas, tekanan hidup, dan pencarian makna dalam kehidupan.
Buat Grameds yang menyukai bacaan dengan nuansa Islam, Tekad bisa menjadi salah satu novel yang menarik untuk dibaca. Berikut adalah resensi novel Tekad yang bisa kamu simak sebelum membaca bukunya!
Table of Contents
Sinopsis Buku Tekad
Semua berawal dari hobiku melantunkan ayat-ayat Allah, berselawat kepada Baginda Rasulullah, hingga bergabung dalam kelompok peselawat tersohor seantero tanah jawa. Baik aku ataupun keluarga, tak ada yang pernah menyangka kehadiranku sebagai santri milenial yang cinta selawat bisa menarik perhatian banyak umat.
Niatku sangat sederhana ketika mulai tertarik untuk lebih mendalami dunia selawatan; ingin mendekatkan diri dengan para ulama, serta jiwa dan raga tercium wangi surga.
Namun, seiring berjalannya waktu, aku semakin teguh pendirian dalam menekuni jalan dakwah yang kupilih, berdiri kokoh di atas kehendak hati, bukan atas kehendak orang lain; sebuah tekad bulat untuk berdakwah di jalan Allah sampai akhir hayat.
“Aku bukan siapa-siapa. Hanya manusia biasa, yang memuja nama Allah dan mencintai Baginda Rasulullah. Jika ibadahku belum sempurna, paling tidak jalan dakwah yang kutempuh bisa bermanfaat bagi seluruh umat.” – Azmi Askandar
Tentang Penulis Buku Tekad
Gus Azmi atau Muhammad Ulul Azmi Askandar Al-Abshor lahir di Probolinggo pada 23 April 2004. Ia dikenal sebagai vokalis grup sholawat Syubbanul Muslimin dari Pondok Pesantren Nurul Qodim Kalikajar, Probolinggo. Di kalangan generasi muda, Gus Azmi cukup populer karena membawakan musik religi Islami dengan gaya yang modern dan mudah diterima remaja.
Lewat suara merdunya dan cara membawakan lagu yang penuh penghayatan, Gus Azmi berhasil menarik perhatian banyak pendengar, khususnya pecinta musik sholawat dan hadroh. Kehadirannya juga membuat musik religi semakin dekat dengan generasi milenial dan Gen Z.
Sementara itu, Wahyudi Pratama merupakan penulis produktif lulusan Sarjana Hukum dari Universitas Hasanuddin. Selain aktif menulis, ia juga fokus mendirikan pondok pesantren bertaraf internasional bernama Akademi Bahasa dan Tahfidz Al-Qur’an di Tulungagung, Jawa Timur.
Beberapa karya lain dari Wahyudi Pratama yang telah terbit antara lain Antara Kita dan Jurnal Rasa.
Popularitas dan Tekanan Menjadi Sorotan
Salah satu hal menarik dari novel Tekad adalah bagaimana buku ini menunjukkan sisi lain dari popularitas yang sering kali terlihat indah dari luar. Lewat tokohnya, pembaca diajak memahami bahwa dikenal banyak orang ternyata juga bisa membawa tekanan mental dan rasa lelah yang nggak semua orang pahami.
“Jika disuruh memilih antara dikenal banyak orang atau biasa-biasa saja, maka aku pasti akan memilih jadi orang biasa.”
Kutipan ini menggambarkan perasaan seseorang yang sebenarnya nggak pernah benar-benar mengejar popularitas. Tokoh dalam novel merasa bahwa perhatian berlebihan dari banyak orang justru membuat hidupnya terasa diawasi dan kehilangan ketenangan.
Melalui bagian ini, Grameds bisa melihat bahwa dunia selawatan dan dakwah ternyata nggak selalu tentang pujian dan kekaguman. Ada tanggung jawab besar, tekanan batin, hingga rasa takut mengecewakan banyak orang yang juga harus dihadapi.
Keikhlasan dalam Dunia Selawatan
Grameds, novel Tekad juga memperlihatkan bahwa perjalanan spiritual seseorang sering kali dimulai dari niat sederhana. Tokoh dalam cerita nggak masuk ke dunia selawatan demi terkenal atau dipuji banyak orang, tetapi karena ingin lebih dekat kepada Allah dan lingkungan yang baik.
“Niatku sangat sederhana ketika aku mulai tertarik untuk lebih mendalami dunia selawatan; ingin mendekatkan diri dengan para ulama, serta jiwa dan raga tercium wangi surga.”
Kutipan tersebut menjadi salah satu bagian yang paling menyentuh karena menggambarkan ketulusan hati seseorang dalam mencari jalan kebaikan. Dunia selawatan dalam novel ini bukan hanya tentang musik religi atau lantunan pujian kepada Nabi, tetapi juga tentang proses memperbaiki diri dan memperkuat iman.
Lewat cerita ini, pembaca diajak memahami bahwa lingkungan yang baik bisa membawa perubahan besar dalam hidup seseorang.
Kerinduan Spiritual kepada Rasulullah
Salah satu kekuatan utama novel Tekad adalah nuansa spiritualnya yang terasa hangat dan menyentuh hati. Buku ini banyak menghadirkan kutipan penuh makna tentang cinta kepada Rasulullah SAW dan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
“Wahai tuanku, yaa Rasulullah. Raih tanganku. Hanya engkau yang kumiliki, dan aku tak menoleh kepada siapa pun selain engkau.”
Kutipan tersebut menggambarkan rasa cinta, harapan, dan ketergantungan seorang manusia kepada Rasulullah sebagai teladan hidup. Kalimatnya sederhana, tetapi mampu memberikan nuansa emosional yang kuat bagi pembaca.
Grameds juga bisa merasakan bagaimana novel ini mencoba menghadirkan ketenangan lewat doa dan selawat. Pembahasan spiritualnya terasa nggak menggurui sehingga membuat pembaca lebih mudah memahami pesan yang ingin disampaikan.
Dunia Selawatan yang Dekat dengan Anak Muda
Buku ini menunjukkan bahwa dakwah nggak harus selalu formal dan terkesan kaku, tetapi bisa disampaikan lewat cara yang lebih dekat dengan generasi sekarang, seperti hadroh dan musik religi.
Melalui kisah perjuangan tokohnya, pembaca diperlihatkan bagaimana anak muda tetap bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai agama. Kehadiran dunia selawatan dalam novel ini juga membuat cerita terasa lebih hangat dan penuh energi positif.
Selain itu, novel ini berhasil memperlihatkan bahwa komunitas yang baik dapat membantu seseorang tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah.
Pesan tentang Keteguhan Hati dan Istiqomah
Selain membahas dunia dakwah dan selawatan, novel Tekad juga membawa pesan tentang pentingnya memiliki tekad kuat dalam menjalani kehidupan. Tokoh dalam cerita digambarkan menghadapi banyak tantangan, keraguan, dan tekanan, tetapi tetap berusaha mempertahankan niat baiknya.
Lewat perjalanan tersebut, pembaca diajak memahami bahwa hidup nggak selalu berjalan mudah. Akan ada banyak ujian yang membuat seseorang ingin menyerah. Namun, novel ini mengingatkan bahwa ketulusan, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah menjadi hal penting agar seseorang tetap mampu bertahan.
Karena itu, Tekad terasa bukan hanya sebagai novel religi biasa, tetapi juga sebagai bacaan motivasi yang mampu memberi semangat dan membuat pembacanya lebih merenungkan tujuan hidup mereka sendiri, Grameds.
Kelebihan dan Kekurangan Buku Tekad
Berikut adalah kelebihan dan kekurangan buku:
Kelebihan Novel Tekad
1. Mengangkat Dunia Selawatan dengan Menarik
Novel ini berhasil memperlihatkan dunia selawatan dan hadroh dengan cara yang hangat serta dekat dengan kehidupan anak muda. Pembaca diajak melihat bagaimana selawat bukan hanya lantunan lagu religi semata, tetapi juga menjadi jalan seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menemukan lingkungan yang positif.
2. Banyak Kutipan yang Menyentuh
Buku Tekad memiliki banyak kutipan penuh makna yang mampu membuat pembaca lebih merenungkan kehidupan. Kutipan-kutipannya nggak hanya bernuansa religi, tetapi juga berisi motivasi tentang perjuangan, ketulusan, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
3. Pesan Islami yang Ringan dan Nggak Menggurui
Salah satu daya tarik novel ini adalah cara penyampaian pesan dakwahnya yang terasa ringan. Penulis menyampaikan nilai-nilai Islam melalui perjalanan tokoh dan cerita sehari-hari sehingga pembaca bisa memahami pesan moral tanpa merasa sedang diceramahi.
4. Memberikan Motivasi tentang Tekad dan Keikhlasan
Cerita dalam novel ini mengajarkan pentingnya memiliki tekad kuat, niat yang tulus, dan semangat untuk terus berjuang di jalan kebaikan. Pembaca diajak memahami bahwa proses menjadi pribadi yang lebih baik membutuhkan kesabaran dan istiqomah.
5. Bahasa Mudah Dipahami
Gaya bahasa yang digunakan terasa sederhana dan mengalir sehingga nyaman dibaca oleh berbagai kalangan, terutama remaja. Hal ini membuat pesan-pesan dalam novel lebih mudah diterima dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kekurangan Novel Tekad
1. Beberapa Pesan Dakwah Terasa Berulang
Karena novel ini cukup fokus pada penyampaian nilai spiritual dan dakwah, ada beberapa bagian yang terasa mengulang pesan yang sama. Hal tersebut mungkin membuat sebagian pembaca merasa pembahasannya sedikit terlalu panjang.
2. Konflik Cerita Cenderung Sederhana
Novel ini lebih menonjolkan perjalanan spiritual dan proses pencarian makna hidup dibanding konflik besar yang dramatis. Karena itu, pembaca yang menyukai cerita penuh plot twist mungkin akan merasa alurnya cukup ringan.
3. Tempo Cerita Agak Pelan
Beberapa bagian dalam novel terasa berjalan lambat karena banyak berisi renungan, dialog spiritual, dan proses perjalanan batin tokohnya.
Kesimpulan
Pada akhirnya, Tekad bukan hanya bercerita tentang dunia selawatan, tetapi juga tentang perjalanan hati seseorang dalam menemukan tujuan hidupnya. Novel ini memperlihatkan bahwa ketulusan, lingkungan yang baik, dan keyakinan kepada Allah dapat membantu seseorang tetap kuat menghadapi berbagai ujian hidup.
Kehadiran kutipan-kutipan spiritual serta pembahasan tentang dakwah membuat novel ini terasa lebih emosional dan penuh renungan, Grameds. Meskipun dengan alur yang sederhana, pesan yang dibawa Azmi Askandar dan Wahyudi Pratama mampu meninggalkan kesan hangat bagi pembaca.
Penulis: Yulian Dwi Nugroho
Rekomendasi Buku Terkait
Laiqa: Runway to Heaven – Hengki Kumayandi
Dari waktu ke waktu, aku tak pernah menemukan arti kebahagiaan. Selalu berlari secepat angin dari masalah satu ke masalah lainnya. Namaku Tama Janowitz. Karena konflik di tanah kelahiran, aku dan adikku Alicia harus pergi ke sebuah negeri yang tak pernah kami tahu sebelumnya. Petualangan demi petualangan kami dapatkan. Bahkan, aku sampai masuk ke penjara dan terpisah dari adikku tersayang, Alicia. Semua yang kulakukan hanya satu. Menemukan Alicia, meyakinkannya bahwa aku kakaknya, dan menjaganya seumur hidup. Sehingga, suatu saat nanti, aku, Alicia, dan Mama bisa berkumpul di surga-Nya.
Laiqa: Hijrah Kayra – Fiatuzzahro
“Karena cinta yang sebenarnya cinta, hanya yang mendekatkan kita kepada Yang Mahacinta.”
Menurutku, hidup tak lebih dari melakukan apa yang kita suka tanpa harus memikirkan omongan nyinyir orang di luar sana. Tetapi, sebuah kasih sayang lembut mampu mengeluarkanku dari prinsip itu. Tadinya hanya berupa hal-hal pahit yang menyakitkan. Hal-hal rumit yang menyesakkan. Dan baru kusadari, kasih sayang tak selalu tentang hal manis. Inilah perjalanan hijrahku yang tak mudah…. Kupersembahkan kepada kalian yang sedang mencoba istiqomah….
Laiqa: Kresek Hitam – Honey Dee
Maera pikir, masuk asrama rehabilitasi merupakan hukuman terbaik atas penebusan dosa-dosa masa lalunya. Ternyata, hukuman yang sesungguhnya didapat setelah dia keluar dari sana. Dia kehilangan saudara dan teman, di-DO dari kampus, dan yang jauh lebih buruk, tak lagi dipercaya kedua orangtuanya. Ketika Maera berusaha menata ulang kehidupannya, orang-orang yang dia harap bisa menolong malah berbalik menghancurkannya. Apakah beban yang terlampau berat ini mampu dihadapi Maera di usianya yang baru sembilan belas? Haruskah hidupnya berakhir bagaikan kresek hitam yang akan disingkirkan oleh keluarganya?
Laiqa: The Special Boy – Husain Suitaatmadja
Terlahir sebagai anak spesial, Aubin berusaha maksimal terhadap semua potensi yang dia punya. Berbisnis sedari muda, hingga ia menemukan passion-nya; berkarier sebagai pekerja sosial. Bagaimana Aubin meyakinkan lingkungan sekitarnya bahwa ketidaknormalannya justru membuat ia spesial?
Laiqa: Lari Dari Pesantren – Andri Saptono
Apa kalian tidak jenuh terus-terusan dikurung di Pondok Al-Ikhlas ini? Mau begini tidak boleh! Mau begitu tidak boleh! Ustaznya galak! Pelajarannya bikin ngantuk. Sudah begitu makanannya itu-itu saja! Menunya membosankan semua! Kalian harus cari pengalaman di luar. Lihat kehidupan di luar tembok pondok! Kalian masih muda! Lihat tuh di luar anak-anak bermain sebebas-bebasnya. Pergi ke mana mereka suka. Apa kalian tidak iri? Albar dan Ilyas lari dari tempat mereka menimba ilmu. Rencananya hanya satu hari. Tapi, tak disangka menjadi hampir satu bulan! Banyak peristiwa di luar dugaan yang mereka temukan. Seperti apa Albar dan Ilyas menghadapi kenyataan di luar sana?
- 7 Sayap Kehidupan
- 7 Sayap Pendosa
- Contagious
- Hijab for Sisters
- Kasus-kasus 7 Sayap Pendosa
- Kenang-kenanganku di Malaya
- Kisah-kisah Tengah Malam (Tales of Mystery and Terror)
- Kresek Hitam
- Maya
- Niken Saya Bukan Dokter
- Profit Konsisten dengan Market Structure
- Project Hail Mary
- Putih: Girl in The Dark
- Semilir
- Seri Melindungi Bumi - Bebas Sampah
- Tekad
- The Book You Wish Your Parents Had Read
- The Escape Room
- The Glory Story of Two Umars
- Your Story







