in ,

Review Buku Malam Terakhir

Malam Terakhir – Bagaimana kalau satu malam saja cukup untuk mengubah cara kamu memandang hidup…bahkan setelah bukunya ditutup?

Malam Terakhir adalah kumpulan cerpen yang pertama kali terbit pada tahun 1989, namun anehnya terasa seperti tidak pernah benar-benar “menua”. Dalam edisi Januari 2017, terdapat sembilan cerita pendek yang masing-masing masih relevan hingga hari ini, tanpa satu pun terasa usang atau tertinggal oleh zaman.

Sembilan cerpen tersebut meliputi  Paris, Adila, Air Suci Sita, Sehelai Pakaian Hitam, Untuk Bapak, Keats, Ilona, Sepasang Mata Menatap Rain, dan Malam Terakhir. Kritikus H B Jassin menilai bahwa Malam Terakhir menghadirkan banyak idiom dan metafora yang segar, ditambah pandangan falsafi yang terasa baru berkat gaya penyampainnya yang khas. Meski dipenuhi imajinasi, setiap gambaran tetap terasa jelas dan mudah dibayangkan. Menariknya lagi, kumpulan cerpen ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul Die Letzte Nacht oleh Horlemann Verlag.

Buku ini kemudian diterbitkan ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 12 Februari 2018 dengan ketebalan 119 halaman. Sebelum lanjut ke ulasan yang lebih dalam, yuk kita kenalan dulu dengan sosok penulis di balik cerita-cerita yang diam-diam bisa menetap lama di kepala ini.

Profil Leila S. Chudori – Penulis Buku Malam Terakhir

Leila Salikha Chudori adalah penulis Indonesia yang dikenal melalui karya cerpen, novel, dan skenario untuk drama televisi. Tulisan-tulisannya banyak berbicara tentang kejujuran, keyakinan, tekad, serta berbagai prinsip hidup dan pengorbanan. Ia tumbuh bersama bacaan yang kuat pengaruhnya, seperti karya Kafka, Dostoyevsky, D H Lawrence, James Joyce, hingga pemikiran Freud dan Erich Fromm. Pengaruh ini tampak dalam tokoh-tokoh ceritanya yang memiliki kesadaran mendalam dan jiwa yang merdeka. Leila juga tidak ragu memadukan imajinasi, mitologi, serta pengalaman pribadi dalam cerita untuk menciptakan alur yang kaya, pararel, dan penuh dengan lapisan makna. Gaya bertuturnya dikenal intelektual sekaligus puitis dengan banyak metafora dan sudut pandang baru.

Leila pernah mewakili Indonesia untuk menempuh pendidikan di Lester B Pearson College of the Pacific di Kanada, lalu meraih gelar sarjana Political Science dan Comparative Development Studies dari Universitas Trent. Sejak 1989 ia bergabung dengan majalah Tempo dan telah mewawancarai banyak tokoh internasional. Kini ia menjabat sebagai Redaktur Senior Tempo sekaligus tetap aktif menulis resensi film.

Karya-karya awalnya sudah dimuat sejak usia dua belas tahun. Di masa dewasa, cerpennya tampil di berbagai majalah dan jurnal sastra dalam dan luar negeri. Kumpulan cerpennya Malam Terakhir bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Karya Leila juga telah dikaji oleh para kritikus sastra dan namanya tercantum dalam kamus sastra Dictionnaire des Creatrices di Prancis.

button cek gramedia com

Sinopsis Buku Malam Terakhir

Paris, pada sebuah siang yang terik.

Sudah tiga puluh menit gadis itu berdiri di depan sebuah pintu kayu, namun tak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka. Panas musim panas membuat kulitnya terasa perih. Ia mulai tergoda untuk menerobos pintu kayu yang tampak begitu keras dan tak bersahabat itu. Ia membatin, akan ku ketuk sekali lagi, dan jika tetap tidak ada jawaban, pintu ini akan kuakali paksa.

Kali ini sang gadis mengetuk dan memukul pintu itu sekuat yang ia bisa. Hanya beberapa detik kemudian terdengar langkah berat yang terseret disertai suara batuk parau dari balik pintu. Lalu muncul wajah seorang perempuan tua berkulit kusut, berambut seputih salju, dengan bibir tebal yang memancarkan kesan garang. Gadis itu terperanjat ketika melihat ada tetes ludah yang muncul di ujung bibir perempuan renta tersebut.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Malam Terakhir

Pros & Cons

Pros
  • Gaya penulisan yang khas.
  • Meluapkan emosi pembaca.
  • Kumpulan cerita pendek yang unik.
  • Mengandung nilai moral yang tinggi.
  • Tokoh yang hidup.
Cons
  • Pemilihan tema dan resolusi yang kurang pas

Kelebihan Buku Malam Terakhir

Buku Malam Terakhir karya Leila S. Chudori ini memiliki banyak sekali kelebihan yang membuat buku ini wajib sekali untuk Grameds miliki dan baca.

  • Gaya penulisan yang khas

Leila S Chudori memiliki cara bercerita yang begitu lembut dan memikat. Pilihan katanya membuat pembaca merasa seakan diajak menari mengikuti aliran metafora yang indah dan penuh dengan kilau makna. Setiap kalimat dalam buku ini juga terasa terjaga dan menyentuh hati.

  • Meluapkan emosi pembaca

Kumpulan cerpen ini mampu mengguncang perasaan pembacanya. Emosi dibawa naik turun oleh rangkaian kata yang kuat dan intens. Ada bagian yang membuat dada sesak, ada pula bagian yang membuat air mata menetes. Beragam rasa seperti kegelisahan, keraguan, dan kewaspadaan disajikan dengan sangat hidup dalam buku ini.

  • Kumpulan cerita pendek yang unik

Buku ini berisi sembilan cerita yang mayoritas menyoroti tokoh-tokoh dengan imajinasi yang begitu kuat. Banyak karakter yang hidup berdampingan dengan sosok dari buku, wayang, atau tokoh khayalan yang seolah menjadi bagian nyata dari keseharian mereka. Hal ini membuat setiap cerita terasa segar dan berbeda.

  • Mengandung nilai moral yang tinggi.

Melalui cerpen-cerpennya, Leila menghadirkan banyak isu penting. Ada kritik sosial terhadap politik, psikologi, pendidikan, hingga nilai konservatif yang kerap merugikan perempuan. Cerpen Air Suci Sita misalnya, menyoroti bagaimana kesetiaan perempuan terus diuji sementara laki-laki tidak dikenai beban yang sama. Latar belakang Leila sebagai jurnalis terasa memperkuat kedalaman pesan yang ia sampaikan.

  • Tokoh yang hidup.

Para tokoh dalam buku ini terasa begitu nyata. Cara Leila menggambarkan karakter membuat pembaca seolah mengenal mereka secara pribadi. Gestur, pikiran, dan pergulatan batin mereka tergambar kuat sehingga mudah membuat pembaca ikut hanyut dalam kehidupan tokoh-tokohnya.

Kekurangan Buku Malam Terakhir

Buku Malam Terakhir karya Leila S. Chudori memang bacaan yang sangat menarik dengan segala kelebihannya, akan tetapi buku ini masih memiliki kekurangan yaitu,

  • Pemilihan tema dan resolusi yang kurang pas.

Meskipun memikat dari segi gaya bercerita, beberapa cerpen dalam buku ini berakhir terlalu cepat. Ada cerita yang tidak memberikan resolusi yang memuaskan sehingga membuat pembaca merasa masih menggantung. Selain itu, beberapa tema terasa kurang selaras satu sama lain sehingga kesannya sedikit kurang padu dalam satu kumpulan.

Sejarah Cerpen

Cerpen atau yang biasa disebut dengan cerita pendek, mungkin Grameds sudah sering mendengar kata tersebut akan tetapi apakah Grameds tau sejarah cerpen di Indonesia? Kalau belum jangan lewatkan informasi yang satu ini ya! Gramin sudah rangkumkan secara khusus sejarah cerpen di Indonesia. 

Sejarah cerpen di Indonesia bermula pada awal 1910-an melalui karya para penulis seperti M Kasim yang mulai memperkenalkan bentuk cerita pendek kepada pembaca. Genre ini kemudian bertumbuh pesat pada masa Pujangga Baru tahun 1930-an lewat nama-nama seperti Armijn Pane, dan semakin dikenal pada periode setelah kemerdekaan antara tahun 1945 hingga 1965.

Periode kelahiran sekitar 1910-an hingga 1928

Pada masa ini, karya M Kasim dan Suman Hs menjadi penanda awal lahirnya cerpen di Indonesia. Bentuk tulisan pendek mulai banyak muncul meskipun istilahnya masih sering bercampur dengan penyebutan lain seperti hikayat atau sketsa.

Periode pertumbuhan tahun 1928 hingga 1945

Cerpen mulai memiliki bentuk yang lebih jelas dan konsisten. Karya seperti Kisah Antara Manusia oleh Armijn Pane menjadi contoh penting perkembangan cerpen pada era Pujangga Baru. Pada masa pendudukan Jepang, tema yang diangkat banyak berkisar pada kehidupan sehari-hari, meski tidak jarang diberi sentuhan sentimen tertentu.

Periode perkembangan tahun 1945 hingga 1965

Setelah kemerdekaan, cerpen mengalami peningkatan besar dalam jumlah maupun popularitas. Bentuk tulisan ini mulai diakui sebagai bagian penting dari sastra Indonesia yang terus berkembang.

Periode kebangkitan tahun 1965 hingga 1980 dan kesemarakan 1980 hingga sekarang

Pada masa ini posisi penulis cerpen semakin kuat. Cerpen memiliki ruangnya sendiri dalam dunia kesusastraan. Banyak penulis cerpen baru bermunculan dan karya-karya mereka semakin mendapat perhatian luas hingga hari ini.

Dengan perjalanan panjang tersebut, cerpen menjadi salah satu bentuk karya sastra yang paling digemari dan terus berkembang di Indonesia.

Penutup

Dengan pilihan kata yang memukau dan metafora yang berkilau, Leila S Chudori berhasil membawa pembaca Malam Terakhir masuk ke dalam arus emosi yang terus berubah. Setiap cerita bagaikan ombak yang datang silih berganti, mengajak pembacanya merasakan detik demi detik perjalanan batin para tokohnya. Sembilan cerpen yang dirangkum dalam satu buku ini benar-benar layak menjadi bagian dari koleksi Grameds.

Tidak hanya menawarkan keindahan cerita, buku ini juga memberi pengingat yang lembut namun kuat bahwa di luar sana ada begitu banyak realitas yang harus kita hadapi dengan keberanian dan keteguhan hati. Malam Terakhir bukan sekadar bacaan, tetapi pengalaman yang akan menetap dalam ingatan.

Nah Grameds, itu dia sinopsis dan ulasan dari Buku Malam Terakhir Karya Leila S. Chudori. Yuk langsung saja dapatkan buku ini hanya di Gramedia.com! Sebagai #SahabatTanpaBatas, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.

Rekomendasi Buku

1. Laut Bercerita

Laut Bercerita

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Laut Bercerita, novel terbaru Leila S. Chudori, bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan makam anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur.

2. Pulang (2023)

Pulang (2023)

 

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Novel Pulang adalah kisah dua generasi—Dimas Suryo dan putrinya, Lintang Utara—yang bersama-sama menetap di Paris, Prancis. Seperti ribuan warga Indonesia lain yang terjebak di berbagai negara dengan status stateless, keluarga Dimas Suryo tak pernah bisa pulang ke Indonesia karena paspor mereka dicabut dan kehidupan mereka terancam. Pada tahun 1998, Lintang Utara akhirnya berhasil menyentuh tanah air. Dia datang untuk mereka pengalaman keluarga korban Tragedi 1965 sebagai tugas akhir kuliahnya. Apa yang terkuak oleh Lintang bukan sekadar masa lalu ayahnya, tetapi juga bagaimana sejarah paling berdarah di Indonesia berkaitan dengan Dimas Suryo dan kawan-kawannya.

Pulang adalah novel pertama dalam trilogi kisah 1965, yang bercerita tentang drama keluarga, persahabatan, cinta, dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998.

3. Novel Nadira

Novel Nadira

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

DI SEBUAH pagi yang murung, Nadira Suwandi menemukan ibunya tewas bunuh diri. Kematian sang ibu, Kemala Yunus, seorang perempuan yang dikenal sangat ekspresif, berpikiran bebas, dan selalu bertarung mencari diri itu, sungguh mengejutkan. 

Tewasnya Kemala kemudian mempengaruhi kehidupan Nadira sebagai seorang anak (“Melukis Langit”); seorang wartawan (“Tasbih”); seorang kekasih (“Ciuman Terpanjang”); seorang istri, hingga akhirnya membawa Nadira kepada sebuah penjelajahan ke dunia baru, dunia seksualitas yang tak pernah disentuhnya (“Kirana”).

Dalam dua cerita baru kumpulan ini, “Sebelum Matahari Mengetuk Pagi” dan “Dari New York ke Legian”, kita semakin masuk ke dalam dunia batin Nadira.

 

 

Written by Laura Saraswati