in , ,

Review Buku Kuda Terbang Maria Pinto

Kuda Terbang Maria Pinto –  Bagaimana jika kenyataan politik yang getir bertemu dengan dunia imajinasi yang surealis dan puitis? Kuda Terbang Maria Pinto menjawab rasa penasaran itu dengan cara yang tak biasa. Kumpulan cerpen ini menjadi salah satu karya paling penting dalam perjalanan kepengarangan Linda Christanty dan mengantarkannya meraih Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa kategori Fiksi Terbaik pada tahun 2004.

Para juri menilai buku ini istimewa karena keberhasilannya merangkai realitas politik yang keras, seperti tragedi di Timor Timur dan Aceh, ke dalam lanskap cerita yang dipenuhi dengan imajinasi dan simbolisme.

Sastrawan senior Sutardji Calzoum Bachri bahkan turut menyoroti kelebihan buku ini. Menurutnya, Linda Christanty mampu mengangkat tema-tema kemanusiaan tanpa menjadikan sastra sekadar alat penyampai pesan yang tunduk pada tekanan.

Pertama kali terbit pada tahun 2004, Kuda Terbang Maria Pinto segera menempati posisi istimewa di hati para pembaca dan pengamat sastra. Kini, buku yang banyak menuai apresiasi ini kembali hadir dalam cetakan terbaru yang diterbitkan oleh Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia. Edisi ini dijadwalkan rilis pada 18 Februari 2026 dengan ketebalan 125 halaman.Ingin tahu bagaimana Linda Christanty meramu luka sejarah, kemanusiaan, dan keindahan bahasa dalam satu napas cerita? Simak ulasan lengkapnya dan temukan daya magis Kuda Terbang Maria Pinto di pembahasan bawah ini ya, Grameds.

 

Profil Linda Christanty – Penulis Buku Kuda Terbang Maria Pinto

Linda Christanty, lahir pada 18 Maret 1970, dikenal sebagai sastrawan sekaligus wartawan Indonesia yang konsisten mengolah isu-isu kemanusiaan dan politik dalam karya-karyanya. Baik melalui tulisan fiksi maupun nonfiksi, ia telah meraih berbagai penghargaan yang bergengsi. Sejumlah karya Linda juga melampaui batas bahasa dan negara, dengan terjemahan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Jepang, Thai, Arab, Jerman, hingga Finlandia. Namanya tercatat sebagai salah satu penerima Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, sebuah pengakuan penting dalam dunia sastra Indonesia.

Linda Christanty berasal dari Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ketertarikannya pada sastra tumbuh sejak usia dini. Ia memulai perjalanan ke penulisannya melalui catatan harian, puisi, dan cerita pendek. Memasuki masa remaja, kegemaran menulisnya semakin intens. Tema-tema yang diangkat dalam karyanya kerap berkaitan dengan persoalan politik dan kemanusiaan di Indonesia serta Asia Tenggara.

Selama kariernya, Linda telah menerbitkan berbagai buku dalam genre fiksi dan non-fiksi. Karya-karyanya tidak hanya dipublikasikan di dalam negeri saja, tetapi juga diterbitkan di berbagai negara lain. Konsistensinya dalam menulis mengantarkannya pada sejumlah penghargaan, antara lain Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kategori buku prosa terbaik melalui Kuda Terbang Maria Pinto pada tahun 2004 dan 2010. Ia juga menerima Penghargaan Prosa dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia untuk Dari Jawa Menuju Atjeh pada tahun 2010 serta Seekor Anjing Mati di Bala Murghab pada tahun 2013. Pengakuan internasional datang melalui SEA Write Award dari Kerajaan Thailand pada tahun 2013 dan Ishtar Award pada tahun 2020 yang diberikan oleh International Organization of Creativity for Peace, sebuah lembaga pendidikan dan kebudayaan yang berbasis di London, Inggris.

Adapun karya-karya Linda Christanty yang telah diterbitkan adalah, Kuda Terbang Maria Pinto (2004), Dari Jawa Menuju Atjeh (2009), Rahasia Selma (2010), Jangan Tulis Kami Teroris (2011), Seekor Anjing Mati di Bala Murghab (2013), Seekor Burung Kecil Biru di Naha: Konflik, Tragedi, Rekonsiliasi (2015), Para Raja dan Revolusi (2016), Adakah Air Mata untuk Orang-Orang Tak Bersalah (2021), serta Jangan Percaya Surat Palsu: Laporan Jurnalistik tentang Konflik di Maluku Utara, Bahasa dan Kura-Kura (2024).

 

Sinopsis Buku Kuda Terbang Maria Pinto

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

“Perang memaksa manusia menentukan peran hidupnya, menjadi apa pun tanpa banyak pilihan. Entah sebagai pelacur atau sebagai nyonya. Bagi saya, keduanya bisa sama-sama bermartabat atau sama-sama bernasib buruk. Gagasan tentang kehormatan justru kerap melahirkan kegilaan.”

Melalui dua belas cerita pendek, buku ini mengangkat pergulatan manusia berhadapan dengan sisi kelam kekuasaan. Kisah-kisahnya bergerak dari wilayah konflik bersenjata, tekanan psikologis yang dialami keluarga eksil, hingga praktik penghilangan aktivis yang meninggalkan luka panjang.

Dengan kekuatan narasi dan kedalaman perspektif kemanusiaan, Kuda Terbang Maria Pinto dianugerahi Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2004 sebagai Buku Prosa Terbaik.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Kuda Terbang Maria Pinto

Pros & Cons

Pros
  • Kumpulan cerpen dengan sikap ideologis yang jelas.
  • Bahasa yang indah dan bernuansa puitis.
  • Cerita yang kaya metafora.
  • Gaya bahasa sederhana dan segar.
  • Narasi detail dan tepat sasaran.
Cons
  • Tragedi di balik wacana liberalisme.

Kelebihan Buku Kuda Terbang Maria Pinto

Buku Kuda Terbang Maria Pinto karya Linda Christanty menjadi karya yang luar biasa hebat dan membuat kagum banyak orang meskipun hanya dengan tulisan singkat. Kepiawaian Linda Christianty dalam menulis berhasil menyampaikan berbagai macam pesan kepada para pembaca.

  • Kumpulan cerpen dengan sikap ideologis yang jelas

Buku ini tidak hadir sebagai kumpulan cerita netral. Linda memasukkan berbagai isu penting, mulai dari trauma pasca peristiwa politik, nasib orang-orang yang dilabeli komunis, hingga tragedi di Timor Timur.

Cerita-cerita ini dibangun dengan posisi ideologis yang tegas dan konsisten, menjadikannya sekumpulan cerpen yang matang secara gagasan sekaligus berani.

  • Bahasa yang indah dan bernuansa puitis

Salah satu kelebihan buku ini terletak pada bahasanya. Linda Christanty menunjukkan kemampuannya mengolah sastra politik dengan bahasa yang tetap lirih dan memikat. Keindahan diksi dan ritme kalimat membuat tema-tema berat terasa lebih halus, namun justru semakin mengena.

  • Cerita yang kaya metafora

Linda kerap menghadirkan kisah melalui metafora yang samar, bahkan terkadang terasa tidak rasional, seperti yang tercermin dari judul Kuda Terbang Maria Pinto. Pendekatan ini tidak hanya mencerminkan strategi estetik, tetapi juga jejak tradisi pengarang Indonesia yang pernah hidup di bawah bayang-bayang sensor. Hasilnya, cerita-cerita menjadi lebih berlapis dan membuka ruang tafsir yang luas bagi pembaca.

  • Gaya bahasa sederhana dan segar

Meski sarat isu berat, gaya bahasa yang digunakan tetap terasa renyah dan mudah diikuti. Kesederhanaan ini justru memberi kesegaran pada cerita. Tema-tema yang diangkat terasa hidup dan eksekusinya rapi, sehingga pembaca tidak mudah merasa jenuh atau menemukan ketimpangan antar cerita.

  • Narasi detail dan tepat sasaran

Linda mampu menghadirkan detail-detail yang tajam tanpa terjebak pada uraian berlebihan. Deskripsinya puitis, akurat, dan efektif dalam membangun suasana.

Tanpa disadari, pembaca digiring masuk ke konteks politik tertentu yang berkelindan dengan kehidupan tokoh. Di beberapa cerita, kejutan alur yang tak terduga juga menambah kekuatan naratif buku ini.

 

Kekurangan Buku Kuda Terbang Maria Pinto

Meskipun Buku Kuda Terbang Maria Pinto karya Linda Christanty memiliki banyak kelebihan, Buku ini tetap tidak luput dari kekurangan. Ada beberapa kritik dari pembaca.

  • Tragedi di balik wacana liberalisme

Meski menampilkan semangat perlawanan terhadap patriarki dan menawarkan pandangan yang cenderung liberal, posisi tersebut terasa belum sepenuhnya mantap.

Di balik wacana kebebasan yang dihadirkan, banyak tokoh perempuan justru digambarkan tenggelam dalam tragedi. Kekalahan, keputusasaan, dan bayangan bunuh diri mendominasi hampir seluruh cerpen.

Bagi sebagian pembaca, hal ini menimbulkan kesan bahwa penderitaan perempuan lebih sering ditekankan dibanding kemungkinan pemulihan atau perlawanan yang utuh.

 

Kilas Balik Konflik Timor Timur

Sejarah konflik Timor Timur merupakan rangkaian peristiwa panjang yang dipenuhi ketegangan politik, kekerasan, dan pergulatan identitas bangsa. Dari masa kolonial hingga lahirnya sebuah negara merdeka, konflik ini meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah kawasan Asia Tenggara. Berikut ringkasan tahapan utamanya.

  1. Era Kolonial dan Awal Perpecahan (Abad ke-16 – 1974) 

Sejak abad ke-16, wilayah timur Pulau Timor berada di bawah kekuasaan Portugis, sementara bagian barat dikuasai oleh Belanda. Perpecahan kolonial ini membentuk batas politik yang bertahan lama. Situasi berubah drastis setelah Revolusi Anyelir di Portugal pada tahun 1974. Kudeta tersebut mendorong Portugal menarik diri dari seluruh wilayah jajahannya, termasuk Timor Timur, dan membuka ruang kekosongan kekuasaan.

  1. Perang Saudara dan Invasi Indonesia (1974 – 1975) 

Pasca penarikan Portugal, muncul tiga kekuatan politik utama di Timor Timur, yakni UDT yang cenderung mempertahankan hubungan dengan Portugal, Fretilin yang mengusung kemerdekaan, serta Apodeti yang mendukung integrasi dengan Indonesia.

Ketegangan antar faksi berkembang menjadi perang saudara singkat. Fretilin berhasil menguasai situasi dan memproklamasikan kemerdekaan pada 28 November 1975. Tidak lama kemudian, pada 7 Desember 1975, Indonesia melancarkan Operasi Seroja dengan alasan kekhawatiran terhadap pengaruh komunisme. Pada Juli 1976, Timor Timur secara resmi ditetapkan sebagai provinsi ke-27 Indonesia.

  1. Masa Pendudukan dan Resistensi (1976 – 1998)

Selama masa pendudukan, perlawanan bersenjata terus berlangsung. Falintil, sayap militer Fretilin, melakukan perjuangan gerilya dari wilayah pedalaman dan hutan. Salah satu peristiwa paling mengguncang adalah Tragedi Santa Cruz pada tahun 1991, ketika penembakan terhadap demonstran di pemakaman Santa Cruz, Dili, terekam kamera dan menyebar luas ke dunia internasional. Tekanan global semakin kuat setelah Carlos Belo dan Jose Ramos Horta dianugerahi Nobel Perdamaian pada tahun 1996, yang membawa perhatian dunia pada situasi Timor Timur.

  1. Referendum dan Jalan Menuju Kemerdekaan (1998 – 2002)

Setelah runtuhnya pemerintahan Soeharto pada tahun 1998, Presiden B.J. Habibie menawarkan referendum bagi rakyat Timor Timur untuk memilih antara otonomi khusus atau kemerdekaan. Referendum yang digelar pada 30 Agustus 1999 menunjukkan hasil tegas, dengan 78,5 persen pemilih memilih berpisah dari Indonesia. Setelah melalui masa transisi di bawah administrasi PBB melalui UNTAET, Timor Timur akhirnya memperoleh pengakuan internasional sebagai negara merdeka pada 20 Mei 2002 dengan nama Timor Leste.

Konflik panjang ini diperkirakan menelan korban jiwa antara 100.000 hingga 200.000 orang akibat kekerasan, kelaparan, dan penyakit selama masa pendudukan, menjadikannya salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern kawasan tersebut.

 

Penutup

Kuda Terbang Maria Pinto menutup pembaca dengan kesan yang kuat sebagai karya sastra yang berani bersuara tanpa kehilangan keindahan bahasanya. Di dalam cerpen-cerpennya, Linda Christanty merajut isu militerisme dan kekerasan negara, menghadirkan bentuk-bentuk perlawanan yang sunyi namun tegas, serta menempatkan pengalaman dan suara perempuan sebagai pusat narasi.

Ingatan, luka, dan pencarian jati diri hadir bukan sekadar sebagai tema, melainkan sebagai denyut yang menghidupkan keseluruhan buku dan membuatnya terus relevan untuk dibaca dan direnungkan.

Buku yang satu ini ditulis dengan pendekatan yang humanis berdasarkan data dan menyentuh ranah psikologis. Buku Kuda Terbang Maria Pinto karya Linda Christanty ini di Gramedia.com. Sebagai teman untuk menemani perjalananmu #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.

 

Rekomendasi Buku

Seekor Anjing Mati di Bala Murghab dan Cerita-Cerita Lain

Seekor Anjing Mati di Bala Murghab dan Cerita-Cerita Lain

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

“Laki-laki bebas keluyuran, tetapi perempuan yang ingin mengobati patah hati dengan bersenang-senang malah disalahkan. Tidak adil.”

Empat belas cerita dalam buku ini merupakan gabungan dari sejumlah cerita dalam Seekor Anjing Mati di Bala Murghab yang memperoleh Penghargaan Prosa dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 2013 dan beberapa cerita lain yang ditulis kemudian. Cerita-cerita itu bergerak di antara bentuk laporan antropologi dan rajutan fiksi, yang membentang dari sisi terdekat pembaca hingga belahan dunia yang jauh, karena beragam “aku” penuturnya.

 

Rahasia Selma

Rahasia Selma

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

“Kamu tidak tahu bertapa berbahaya tulisan di mata penguasa. Di beberapa negara orang diancam hukuman mati gara-gara menulis, bahkan wartawan digantung atau dibunuh. Kadang kala hukuman untuk tulisan lebih berat ketimbang hukuman untuk pelempar granat atau pejabat korup.”

Sebelas cerita dalam buku ini mengisahkan tragedi kemanusiaan dan upaya manusia bertahan hidup. Sebatang pohon menjadi saksi kekerasan dan hubungan lintas kelas, sebuah keluarga menghadapi masa-masa rawan, dan seseorang merancang pembebasan dari belahan dunia lain. Kumpulan cerita pendek Kuda Terbang Maria Pinto memperoleh Kusala Sastra Khatulistiwa 2010 untuk kategori Buku Prosa Terbaik.

 

Dari Dewantara Hingga Anak Rumput Tak Tahu Adat : Sehimpun Laporan tentang Bantuan Pemerintah untuk Desa

Dari Dewantara Hingga Anak Rumput Tak Tahu Adat

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Para penulis pergi ke desa untuk melakukan observasi dan mewawancarai berbagai sosok yang terhubung dengan pusaran bantuan pemerintah, seperti ibu-ibu, para lansia, nelayan, petani, buruh, transmigran, pegawai pemerintah, kepala kampung adat, perintis dan pengurus perpustakaan.

Tujuh belas tulisan mereka dalam buku ini mengungkap pelaksanaan dan penggunaan dana bantuan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi yang dikenal sebagai dana. desa di sejumlah desa di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, dan Papua, juga menunjukkan berbagai aspek yang turut menentukan dampak dan efektivitasnya, seperti hubungan antarmanusia, hubungan manusia dengan alam dan lingkungan, adat-istiadat, pemahaman terhadap kelompok rentan, budaya, dan sejarah di suatu desa. Dikemas dalam narasi yang menarik, buku ini ditujukan untuk pembaca umum.

 

Penulis: Gabriel