Kesenian Sosial Budaya

Tembikar : Cara Pembuatan, dan Bedanya dengan Gerabah

tembikar
Written by Rifda Arum

Tembikar – Grameds pasti sudah tidak asing akan keberadaan tembikar? Atau mungkin saja Grameds pernah melihat bagaimana bentuk rupa dari tembikar tetapi tidak mengetahui jika benda tersebut dinamakan demikian. Pada dasarnya merupakan kerajinan tradisional yang diciptakan dari tanah liat. Meskipun disebut sebagai tradisional atau berasal dari zaman dahulu, tetapi hingga saat ini keberadaannya masih eksis apalagi proses pembuatannya juga turut menjadi mata pencaharian masyarakat.

Keberadaan tembikar ini tidak hanya berasal dari daerah Indonesia saja lho tetapi dari banyak negara juga, beberapa di antaranya adalah negara Cina dan Malaysia. Untuk negara Malaysia ini, biasanya hampir sama dengan yang ada di negara kita, mulai dari segi motif hias, bentuk, hingga filosofinya karena sama-sama bersumber dari kebudayaan Melayu. Lalu, apa sih tembikar itu? Bagaimana pula bentuknya di Cina dan Malaysia beserta dengan filosofinya? Apakah benar jika tembikar dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah? Apa pula perbedaan tembikar dengan gerabah yang mana banyak orang belum dapat membedakan antara keduanya?

Nah, supaya Grameds dapat memahami akan apa itu tembikar, yuk simak ulasan berikut!

pengrajin tembikar

https://www.pexels.com/

Pengertian Tembikar

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), tembikar adalah barang dari tanah liat yang dibakar dan berlapis gilap atau porselen. Untuk masyarakat Jawa, biasanya menyebut ini sebagai “gerabah”, padahal sebenarnya tembikar dan gerabah itu ada perbedaannya meskipun bentuknya hampir sama.

Maka dari itu, tembikar dapat disebut sebagai produk hasil kombinasi dari pasir kuarsa, batu mineral, dan tanah liat murni yang dibentuk sedemikian rupa kemudian dipanaskan dengan kisaran suhu sekitar 1.100 hingga 1.250 derajat Celcius. Biasanya, tembikar akan dilapisi dengan porselen supaya tampilannya tampak lebih halus dan sedap dipandang mata. Tak jarang pula tembikar akan ditambahi ukiran-ukiran yang memiliki filosofi tersendiri.

Pada dasarnya, kerajinan tradisional ini merupakan suatu bentuk karya manusia yang bernilai estetis dan fungsional, sehingga menjadi bagian atas aktivitas kebudayaan manusia yang sudah ada sejak zaman dahulu hingga masa sekarang ini. Menurut Koentjaraningrat (1990), mengungkapkan bahwa tembikar termasuk pada teknologi tradisional kebudayaan fisik yang berbentuk wadah.

Asal Mula Tembikar

Keberadaan kerajinan tradisional ini diperkirakan sudah ada sejak zaman prasejarah, tepatnya setelah manusia sudah dapat hidup secara menetap (non-nomaden) dan mulai bercocok tanam. Banyak situs arkeologi di Indonesia yang menemukan tembikar pada zaman tersebut dan kebanyakan fungsinya adalah sebagai perkakas rumah tangga, keperluan upacara religius, hingga upacara penguburan mayat. Dibandingkan dengan hasil budaya manusia lainnya, benda-benda seperti tembikar yang mana terbuat dari tanah liat dan mengalami proses pembakaran, maka menjadikannya sebagai artefak yang dapat bertahan lama, baik di dalam ruangan maupun terkubur di dalam tanah.

Pada kala itu, kerajinan tradisional ini diolah menggunakan tangan, sehingga adonannya masih kasar dan penuh dengan jejak sidik jari pembuatnya, serta bentuknya sering tidak simetris. Kemudian, semakin berkembang zaman maka berkembang pula alat pembuatnya, yakni tidak lagi dibuat dengan tangan tetapi dengan tatap batu dan roda putar. Perkembangan kerajinan tradisional ini juga tidak hanya terletak pada alat pembuatannya, tetapi juga pada bentuk, motif, hingga warna yang digunakan.

Di Indonesia, kerajinan tradisional ini disinyalir dibawa melalui kebudayaan Sa Huynh, yakni sebuah kebudayaan kuno yang berasal dari Vietnam Selatan atau Champa, yang mana memang terkenal akan seni tembikar dan gerabah kunonya.

Teknik Dasar Pembuatan Tembikar

Teknik pembuatan tembikar tidak mudah lho, Grameds! Harus menggunakan setidaknya 4 teknik dasar, yakni:

  • Lining Technique, yakni pembuatan tembikar dengan cetakan khusus dan kemudian dirusak atau dihancurkan.
  • Coiling Technique, yakni menyusun gumpalan-gumpalan lempung (tanah liat) yang telah dirusak tadi dengan menumpuknya.
  • Modelling Technique, yakni membentuk satu gumpalan lempung dalam ukuran besar.
  • Wheel-Technique, yakni membuat segumpal lempung dengan alat yang diputar-putar dengan roda.

Cara Pembuatan Tembikar

cara membuat tembikar

https://www.pexels.com/

Sebenarnya, cara pembuatan kerajinan tradisional ini di daerah satu dengan daerah lainnya itu hampir sama. Perbedaan yang mencolok adalah terletak pada bentuk, corak, motif, dan warna tambahan yang digunakan. Dari teknik dasar pembuatan tembikar yang telah diuraikan sebelumnya, akan dijelaskan lebih rinci yakni sebagai berikut:

1. Pengambilan Tanah Liat

Langkah pertama dalam pembuatan tembikar adalah menggali tanah liat secara langsung terutama yang berwarna merah coklat atau putih kecoklatan. Tanah liat yang digali tersebut kemudian dikumpulkan pada suatu tempat.

2. Persiapan Tanah Liat

Langkah kedua adalah menyiram tanah liat tadi dengan air hingga basahnya merata, kemudian diamkan selama 1-2 hari. Setelah itu, tanah liat dapat digiling supaya struktur tanahnya menjadi lebih rekat. Dalam menggiling tanah liat ini, terdapat dua cara yakni secara manual dan mekanis.

Penggilingan manual dapat dilakukan dengan cara menginjak-injak tanah liat menggunakan kaki hingga strukturnya menjadi halus dan lebih ulet. Sedangkan penggilingan mekanis dapat dilakukan menggunakan mesin giling. Namun, apabila ingin mendapatkan hasil dan kualitas bagus, lebih baik menggunakan cara penggilingan manual saja.

3. Proses Pembentukan

Setelah tanah liat selesai digiling, maka tibalah proses pembentukan yang dapat disesuaikan dengan keinginan. Biasanya, para perajin kerajinan tradisional ini yang sudah ahli mempunyai bentuk dan desain tertentu. Semakin rumit bentuk dan desainnya, maka waktu yang digunakan untuk membentuknya juga akan lama.

Para perajin akan menggunakan alat bantu berupa alat pemutar (perbot), yang cara penggunaannya adalah dengan memutar kedua tangan untuk membentuk tanah liat sesuai desainnya, sementara kedua kakinya memutar roda pada alat tersebut. Meskipun terlihat mudah, ternyata cara membuat tembikar sangat membutuhkan konsentrasi yang cermat lho terutama dalam menyamakan gerakan tangan dan kaki.

Alat penunjang dalam pembuatan kerajinan tradisional ini tidak hanya perbot saja, tetapi juga ada alat pemukul, batu bulat, kain kecil, dan air di wadah.

4. Proses Penjemuran

Setelah tembikar selesai dibentuk sesuai desain, maka langkah selanjutnya menghaluskan tembikar dengan air dan kain kecil terlebih dahulu, terutama pada bagian yang agak mengeras. Kemudian, barulah dijemur di bawah terik matahari hingga benar-benar kering. Lamanya waktu penjemuran bergantung pada kondisi cuaca dan panas matahari.

5. Proses Pembakaran

Langkah selanjutnya adalah membakar tembikar pada kobaran api di tungku pembakaran, selama beberapa jam hingga tembikar benar-benar menjadi keras. Hal tersebut supaya tembikar tidak mudah pecah dan kualitasnya bagus. Biasanya, para perajin tembikar akan menggunakan jerami kering, daun kelapa kering, hingga kayu bakar dalam proses pembakaran tembikar ini.

6. Penyempurnaan Tembikar

Langkah terakhir adalah menyempurnakan tembikar sesuai dengan desain yang ada, yakni dengan memberinya cat khusus atau glasir supaya hasilnya lebih indah dan menarik. Semakin unik motif pada tembikarnya, maka harga jualnya juga akan makin tinggi.

Perbedaan Tembikar dan Gerabah

Banyak orang merasa bahwa tembikar dan gerabah itu adalah dua benda yang sama, meskipun sebenarnya jika dilihat sekilas memang keduanya tampak sama. Namun, ternyata apabila dilihat dari suatu sudut pandang tertentu, tembikar dan gerabah itu punya beberapa perbedaan lho…

No. Tembikar Gerabah
1. Proses pemanasannya berada di kisaran 1.100-1.250 derajat Celcius. Proses pemanasannya berada di kisaran 800-1.000 derajat Celcius.
2. Proses pembuatannya menggunakan campuran tanah liat dengan pasir kuarsa, batu mineral, dan air. Proses pembuatannya menggunakan campuran tanah liat dengan air dan pasir dalam perbandingan tertentu.
3. Lebih mengutamakan fungsi estetis, yakni sebagai pernak-pernik dan hiasan. Lebih mengutamakan fungsi kegunaan, yakni sebagai perkakas kebutuhan sehari-hari.
4. Contohnya berupa: piring hias, cangkir hias, vas bunga hias, guci, dan lain-lain. Contohnya berupa: cobek, tungku, kuali, gentong, dan lain-lain.
5. Permukaannya lebih halus karena diberi glasir. Permukaannya lebih kasar karena tidak diberi glasir, hanya sekadar cat khusus supaya lebih menarik.

Tembikar Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah

Apakah Grameds menyadari bahwa keberadaan tembikar yang ditemukan oleh para arkeolog itu ternyata dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah? Yap, hal itu adalah benar adanya, sebab dalam suatu tembikar kuno yang ditemukan terpendam di dalam tanah selama bertahun-tahun ternyata memuat nilai sejarah pada masanya. Biasanya, kerajinan kuno yang telah terpendam di dalam selama bertahun-tahun ini kondisinya sudah tidak utuh lagi, bahkan tak jarang pula hanya beberapa bagian serpihannya saja yang tersisa.

Tembikar adalah bentuk nyata dari peninggalan benda bersejarah dari nenek moyang, sehingga tentu saja akan berkaitan dengan sejarah atau peristiwa di masa lampau. Tembikar kuno temuan arkeolog ini nantinya akan ditempatkan pada kotak kaca di museum yang pastinya dapat dimanfaatkan oleh para generasi masa depan untuk menjadikannya sebagai sumber pembelajaran sejarah. Terutama guru sebagai sosok yang harus memiliki pemikiran cerdas untuk mengajak siswa dalam mempelajari nilai-nilai sejarah dari tembikar kuno tersebut.

Meskipun terlihat seperti kerajinan usang karena telah terpendam di dalam tanah selama berjuta-juta tahun lamanya, tetapi nilai sejarah yang terkandung di dalamnya sangatlah beragam. Maka dari itu, banyak pihak harus turut serta dalam menjaga peninggalan sejarah dalam bentuk tembikar ini. Apalagi para guru dan mahasiswa yang harus turut berkontribusi dalam pembelajaran nilai-nilai sejarah yang kemudian dapat diajarkan kepada siswa di sekolah. Banyak sekali penemuan tembikar kuno yang telah disimpan di museum.

Filosofi Unik Tembikar Sungai Janiah di Sumatera Barat

Sungai Janiah adalah sebuah daerah yang terletak di Sumatera Barat yang ternyata sudah lama dikenal sebagai penghasil kerajinan tembikar. Maka dari itu, tak heran banyak kerajinan tradisional kuno yang ditemukan di daerah ini. Keunikan yang paling mencolok dari tembikar Sungai Janiah ini adalah dalam proses pembuatannya perajinnya akan memangku “olahan” tembikar di atas pelukan sambil duduk berselonjor. Tidak hanya itu saja, bahkan setiap tahapnya diberikan nama seolah sedang beraktivitas mengasuh anak.

Sama halnya dengan fungsi kerajinan ini pada umumnya, tembikar Sungai Janiah ini juga berfungsi untuk keperluan wadah perkakas hingga sebagai perangkat upacara ritual, mulai dari acara syukuran, upacara penyemaian benih padi, panen bersama, ziarah kubur, dan lain-lain. Kerajinan tembikar Sungai Janiah mengalami masa kejayaan sejak awal tahun 1950-1960-an, yang mana menjadikan setiap warganya sebagai perajin tembikar.

Sebelumnya, telah diuraikan bahwa tembikar Sungai Janiah ini memiliki cara pembuatan yang unik sebab setiap tahapnya diberikan nama seolah sedang beraktivitas mengasuh anak. Nah, berikut adalah beberapa tahap pembuatan tembikar tersebut:

  1. Bakanak (Beranak/Melahirkan)

Tahap ini berupa pembentukan awal, yakni dengan cara melengketkan tanah liat pada bingkai. Bingkai ini biasanya berbentuk lingkaran yang terbuat dari anyaman lidi dengan bentuk cakram.

  1. Maambuai (Membuaikan/Mengayun)

Dalam tahap ini, nantinya olahan akan dipukul-pukul secara perlahan di atas pelukan, menggunakan kayu balok bertekstur dan alas dari batu bulat. Tahap ini umumnya menggunakan teknik tatap landas, sehingga nantinya akan cembung ke suatu sisi.

  1. Maambuang (Diangkat/Dilambung-lambungkan)

Dalam tahap ini, olahan yang sudah kering akan dipukul-pukul kembali terutama pada bagian dasar dengan teknik tatap lanas.

  1. Maurak (Membuka)

Dalam tahap ini, olahan akan dijemur. Setelah agak kering, bingkai anyaman lidi tadi akan dibuka dan bagian samping akan kembali dipukul dengan teknik tatap landas. Hal tersebut supaya dapat mencapai seberapa cembung  yang diinginkan sekaligus memadatkan partikel tanah liat. Tidak lupa juga dengan meratakan ketebalan  dan ketebalan permukaannya menggunakan pisau.

  1. Mambibia (Membibir)

Dalam tahap ini disebut demikian karena merupakan pembuatan bibir dengan tanah liat baru. Biasanya dibentuk bulat memanjang dengan diameter 1 inchi, kemudian dilengketkan melingkar pada mulut. Selanjutnya, dibentuk dengan jari supaya bibirnya menjadi tipis dan melicinkannya dengan menjepitkan pada daun keladi.

  1. Malinyang (Menorehkan)

Tahap terakhir adalah dengan membuat licin, terutama pada bagian luarnya supaya tampak mengkilat. Biasanya menggunakan alat berupa batu palinyang yang terbuat dari batu pualam putih).

Mengenal Dari Berbagai Negara

Cina

tembikar cina

Tembikar Cina

Negara Cina termasuk pada negara yang meninggalkan hasil kebudayaan berupa tembikar dalam jumlah banyak. Bahkan di Indonesia juga sering ditemui sebagai hasil perpaduan dari budaya Cina. Menurut suatu sumber, sejarah akan asal-usul kerajinan ini di Cina itu adalah sekitar zaman prasejarah, yakni pada 5000 SM. Kemudian, kerajinan Cina ini berkembang dan menyebar di seluruh penjuru dunia karena pada kala itu Cina juga berkembang menjadi negara perdagangan. Bangsa yang paling mengagumi kerajinan Cina adalah Eropa, bahkan hingga sekarang ini kerajinan tersebut dihargai sangat tinggi.

Sejak tahun 1920-an, telah banyak dilakukan penelitian mengenai kerajinan tradisional ini di Cina, yang kemudian dikategorikan menjadi beberapa kebudayaan tembikar kuno, yakni Yang-Sha (Provinsi Shanxi), Lung-Shan (Provinsi Shandong), dan Gansu (Provinsi Gansu).

Pada kala Dinasti Han yakni sekitar tahun 206-220 SM, pembuatan kerajinan ini telah mendapatkan banyak perhatian dari pemerintah. Maka dari itu, produksinya juga berkembang semakin banyak, bahkan penggunaan teknik glasir disertai warna yang beragam juga mulai diterapkan. Hal tersebut semakin berkembang hingga tahun 1620.

Pada periode pemerintahan Kaisar Wanli, hubungan dagang Tiongkok dengan bangsa Eropa meningkat pesat. Hal tersebut menjadikan produksi kerajinan ini juga makin dikenal masyarakat penjuru dunia. Meskipun industri ini sempat hancur karena perang, tetapi dapat dipulihkan lagi pada masa Dinasti Qing.

Jepang

Tembikar Jepang

www.livejapan.com

Perkembangan industri ini di Jepang dimulai sekitar 13.000 tahun yang lalu yang disebut dengan jomon doki. (Jo = tali, mon = pola, doki = barang tanah liat). Sejak saat itu, industri pembuatan kerajinan tradisional ini semakin berkembang dengan desain yang dinamis, termasuk adanya ornamen ombak dan pola-pola unik yang menutupi setiap bagian luar tembikar. Sejak zaman dahulu, kerajinan ini di Jepang ini telah menjadi bagian dari kehidupan manusia, sebab digunakan sebagai perkakas kegiatan sehari-hari, seperti untuk penyimpanan, memasak, dan makan.

Sekitar pertengahan abad ke-7, para perajin Jepang pergi ke negara Korea dan Cina untuk mempelajari teknik-teknik pembuatan, terutama cara menggunakan glasir dan membakar tanah liat dengan suhu rendah. Biasanya, glasir yang digunakan memiliki warna hijau tua, merah, dan kuning.

Ketika terjadi perang saudara Sengoku Jidai (1467-1568), para perajin pergi ke daerah Gifu bagian selatan. Nah, sejak saat itu mereka menjadi pelopor gaya baru dan unik untuk kerajinan tradisional Jepang, sebut saja ada tembikar Kiseto, Setoguro, Shino, dan Oribe. Berhubung negara Jepang ini memiliki tradisi minum teh, maka kerajinan ini juga digunakan dalam prosesi tradisi ini.

Di Jepang, keberadaan kerajinan ini memberikan perasaan bangga dan kesenangan tersendiri bagi para pemiliknya. Hal tersebut karena masyarakat Jepang sangat mencintai keindahan, sehingga apabila mereka memiliki benda atau tembikar unik tentu saja menjadi kesenangan. Memang awalnya kerajinan ini hanya digunakan sebagai peralatan rumah tangga saja, tetapi seiring perkembangannya, justru menjadi pernak-pernik yang cantik. Tidak hanya itu saja, keberadaan kerajinan ini juga dapat dijadikan sebagai mata pencaharian, biasanya berupa usaha keluarga.

Sumber:

Agista, Meril dan Muhammad Idris. (2018). TEMBIKAR TEMUAN DI DESA DURIAN GADIS SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH. Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah, 2(2), 36-43.

Damayanti, Nuning Y dan Mesra. (2018). PERGESERAN MAKNA, FUNGSI, DAN BENTUK TEMBIKAR TRADISIONAL SUNGAI JANIAH DI TANAH AGAM SUMATERA BARAT. Jurnal Budaya Nusantara, 2(1).

Baca Juga!



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien