Kesenian Sosial Budaya

Gerabah : Sejarah, Proses Pembuatan, dan Contohnya

gerabah
Written by Rifda Arum

Gerabah – Sama halnya dengan tembikar, pasti Grameds sudah tidak asing dengan keberadaan kerajinan tradisional yang berasal dari tanah liat alias gerabah. Jika Grameds merasa belum pernah melihat wujud dari gerabah, coba datanglah ke pasar tradisional, pasti akan langsung menemukannya. Kerajinan ini tidak dijual di pasar tradisional saja kok, sering juga dijual di pinggir jalan atau bahkan di sebuah kios tertentu.

Bagi masyarakat Jawa, mereka kerap menyamakan antara tembikar dengan gerabah. Hal tersebut belum tentu salah dan belum tentu benar, sebab keduanya memang hampir sama, yakni sama-sama dibuat dengan tanah liat. Dalam hal perbedaan di antara keduanya, dapat dilihat dari sudut pandang tertentu.

Lalu sebenarnya, apa sih gerabah itu? Apa perbedaannya dengan tembikar? Kota apa saja yang terkenal akan produksi gerabahnya? Bagaimana pula perkembangan industri kerajinan gerabah di Indonesia ini? Nah, supaya Grameds tidak bingung membedakan gerabah dengan tembikar dan memahami akan apa itu gerabah, yuk simak ulasan berikut!

pembuatan gerabah

https://pixabay.com/

Pengertian Gerabah

Pada dasarnya, gerabah dan tembikar itu sama-sama hasil dari kegiatan seni keramik. Namun, masyarakat kerap mengartikan secara terpisah antara gerabah dengan keramik, dan justru menyamakan antara gerabah dengan tembikar. Dalam hal ini, masyarakat berpendapat bahwa kerajinan ini itu bukan termasuk keramik, sebab benda-benda yang disebut dengan keramik itu seharusnya merupakan benda-benda pecah belah yang memiliki permukaan halus dan mengkilap, contohnya adalah vas bunga dan tegel lantai. Sementara itu, gerabah adalah benda-benda yang terlihat jelas berasal dari tanah liat, contohnya adalah periuk, kendi, dan lain-lain. Namun, ada juga sebagian masyarakat yang menyebut kerajinan ini sebagai keramik rakyat, karena bahan utamanya adalah tanah liat bakaran rendah dan menggunakan teknik pembakaran secara sederhana.

Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), gerabah adalah alat-alat dapur (untuk memasak dan sebagainya) yang dibuat dari tanah liat dan kemudian dibakar. Proses pengolahan tanah liat hingga pembakaran tersebut juga dilakukan dalam proses pembuatan tembikar. Kerajinan ini ternyata mulai dikenal masyarakat sejak ribuan tahun lalu, bahkan menurut data arkeologi menyebutkan juga bahwa keberadaan kerajiann ini telah ada sejak zaman prasejarah, terutama ketika manusia sudah mulai dapat bercocok tanam.

Fungsi Gerabah

Gerabah umumnya berfungsi sebagai wadah atau perkakas rumah tangga. Maka dari itu, fungsi gerabah dapat digolongkan menjadi:

  • Fungsional, yakni dapat memberikan manfaat secara langsung kepada penggunanya. Biasanya memiliki wujud seperti kendi, asbak, peralatan dapur, pot bunga, tempat payung, dan lain-lain.
  • Non Fungsional, yakni hanya memberikan manfaat sebagai barang hiasan dan mengutamakan nilai keindahan (estetis). Biasanya memiliki wujud seperti guci.

Sejarah Perkembangan dan Jenis-Jenis Gerabah

Menurut The Concise Colombia Encyclopedia (1995), menyatakan bahwa istilah ‘keramik’ itu berasal dari Bahasa Yunani, yakni ‘keramikos’ yang menunjuk pada pengertian gerabah, sementara ‘keramos’ menunjuk pada pengertian tanah liat. Ada sebuah teori lain mengenai apa itu gerabah, yakni “teori keranjang”.

Dalam “teori keranjang” ini menyebutkan bahwa pada zaman prasejarah, masyarakatnya kerap menggunakan keranjang anyaman untuk menyimpan bahan-bahan makanan. Nah, Grameds pasti tahu kan jika anyaman itu memiliki sela-sela atau lubang di antara anyamannya tersebut. Supaya keranjang tidak bocor, masyarakat pada kala itu melapisi bagian dalamnya dengan tanah liat. Setelah keranjang lapisan tanah liat tersebut tidak digunakan, orang-orang langsung membuatnya ke perapian. Seolah menjadi hal yang ajaib, keranjang lapisan tanah liat tersebut memang musnah, tetapi tanah liatnya justru menjadi keras dan membentuk suatu wadah. Kemudian, bentukan tanah liat tadi dihias dengan motif dan warna secantik mungkin.

Pada zaman perundagian atau periode logam, justru pembuatan barang-barang kerajinan ini menjadi semakin maju karena penggunaannya juga semakin meningkat. Meskipun pada kala itu, barang-barang dari logam berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tidak lantas menggantikan kerajinan ini begitu saja. Perkembangan penggunaan kerajinan ini juga dapat dilihat dari yang sebelumnya berfungsi sebagai perkakas rumah tangga menjadi perangkat upacara tradisi setempat hingga upacara kematian.

Tidak hanya itu saja, cara pembuatannya pada masa perundagian ini juga lebih maju apabila dibandingkan pada masa bercocok tanam. Banyak bukti peninggalan kerajinan ini yang ditemukan di Indonesia, sebut saja ada di Banyuwangi, Kalimantan Tenggara, , Sulawesi Tengah, dan masih banyak lagi.

Kerajinan gerabah diperkirakan berasal dari negeri Cina, yakni sekitar 4000 SM. Kala itu, orang-orang membuat gerabah dengan tujuan sebagai perkakas rumah tangga dan pembuatannya juga menggunakan teknik bakar, misalnya kendi, kuali, tempayan, dan lain-lain. Kemudian pada perkembangan selanjutnya, gerabah tidak hanya dibuat untuk perkakas rumah tangga saja, tetapi juga untuk bahan bangunan, sebut saja genteng, batu merah, hingga tegel lantai.

Dari adanya perkembangan itulah, masyarakat menggolongkan gerabah menjadi 2 jenis, yakni:

  • Yang mampu menyerap air: bata merah, celengan, bata merah, kuali, tungku, kendi, dan lain-lain.
  • Yang tidak mampu menyerap air (kerajinan keramik): tegel lantai, cangkir, guci, piring, dan lain-lain.

Bentuk kerajinan ini juga memiliki keberagaman, tidak hanya sekadar bentuk lonjong saja. Pada zaman sekarang ini, dalam pembuatannya terutama pada bentuk, biasanya perajin akan memiliki desain khusus yang menyesuaikan kegunaan dari kerajinan tersebut, apakah akan digunakan sebagai mangkok, celengan, kendi, atau yang lainnya. Sementara untuk ukuran juga beragam, ada yang berukuran kecil hingga raksasa dengan ketinggian mencapai 3 meter. Apakah Grameds pernah bermain pasaran yang menggunakan gerabah kecil berbentuk piring, cobek, gelas, dan kuali? Nah, itu adalah contoh kerajinan berbentuk kecil dan umumnya digunakan sebagai hiasan.

Proses Produksi Pembuatan Gerabah

Perlu diketahui bahwa pembuatan kerajinan ini itu tidak asal dilakukan, baik ketika dalam ranah industri maupun personal. Secara umum, pembuatan gerabah ini memang hampir sama dengan tembikar yang tentu saja melalui proses pembakaran. Nah, berikut adalah proses produksi pembuatan gerabah menurut Kusnan (2007), yakni:

1. Persiapan Produksi

Tahap ini menjadi proses awal dalam pembuatan, yakni dengan menyiapkan alat dan bahan pembuatan. Bahan utamanya tentu saja tanah liat dan pasir, sementara alat bantunya berupa meja putar. Tanah liat atau lempung yang digunakan harus hasil menggali secara langsung karena memiliki tekstur lengket dan mudah dibentuk.

Untuk mendapatkan tanah liat yang berkualitas baik, biasanya tanah akan disiram dengan air dan didiamkan selama satu malam. Setelah tanah disiram, kemudian disisir menggunakan cangkul supaya batu-batu yang ada di dalam tanah dapat tersingkir.

2. Proses Produksi

proses gerabah

https://pixabay.com/

a) Pembentukan Gerabah

Dalam proses ini hanya bisa digunakan apabila alat dan bahan telah disiapkan. Proses pembentukan dapat disesuaikan dengan keinginan atau desain dari perajin, yang biasanya bentuknya tidak pasaran supaya nilai jualnya tinggi. Terdapat 5 teknik dalam pengolahan, yakni:

  • Teknik Pijit (Pinching), yakni teknik pembuatan dengan cara memijitnya menggunakan tangan.
  • Teknik gulung (coil), yakni pembuatan dengan cara menyusun komponen tanah liat dibentuk seperti pensil atau bentuk uliran.
  • Teknik slab, yakni pembuatan dengan cara membentuk lempengan tanah liat menyerupai lembaran kertas, kemudian dibentuk sesuai desain yang ada.
  • Teknik cetak (mouding), yakni pembuatan dengan mengandalkan alat bantu cetak.
  • Teknik putaran, yakni pembuatan menggunakan alat khusus berupa meja putaran (subang pelarik).

Teknik yang paling kerap digunakan adalah teknik putaran karena hasilnya menjadi lebih halus dan prosesnya juga cepat. Gerabah hasil teknik putaran ini misalnya kendi, vas bunga, dan guci. Setelah selesai dibentuk, maka harus dijemur di bawah sinar matahari hingga kering secara merata.

2) Pembakaran Gerabah

Tahap pembakaran  ini harus dilakukan pada tungku pembakaran khusus yang memang dirancang sedemikian rupa, supaya dapat mengalirkan panas secara merata ke seluruh permukaannya. Dalam tahap ini, dilakukan secara hati-hati agar gerabah tidak terguyur air karena nantinya justru akan mempengaruhi hasil pembakaran. Cara untuk menjaga supaya api tetap berkobar adalah dengan memberi atap pada tungku pembakaran tersebut, sehingga jika terjadi hujan maka proses pembakaran masih tetap berjalan.

Tanda sudah “matang” adalah adanya perubahan warna menjadi coklat terang atau coklat kemerahan.

3) Penyelesaian Gerabah (Finishing)

Langkah terakhir dalam proses produksi adalah finishing, yakni dengan memberikan hiasan atau pewarna pada gerabah tersebut. Hal itu dilakukan supaya tidak tampak polos begitu saja, pemberian hiasan dan pewarna dapat menjadikannya lebih menarik untuk dipandang, mengingat produksinya termasuk ke dalam kegiatan jual-beli.

Beragam Teknologi Pembuatan Gerabah

Banyak bukti peninggalan gerabah yang ditemukan di Indonesia, sebut saja ada di Banyuwangi, Kalimantan Tenggara, , Sulawesi Tengah, dan masih banyak lagi. Bahkan di Kalimantan Tenggara dan Sulawesi Tengah juga ditemukan alat pemukul kulit kayu yang berasal dari batu. Umumnya, teknologi pembuatan kerajinan ini itu masih sederhana, selain meja putar ada pula beragam peralatan pembuatan gerabah, yakni:

1. Gerabah dengan Rembagan dan Lelanggong

Rembagan adalah cetakan yang terbuat dari tanah liat atau kayu dengan bentuk bulat serta pipih layaknya cobek. Alat ini biasanya digunakan untuk membentuk pola dasar  supaya benar-benar berbentuk bundar.

Sementara lelanggong adalah alas cetakan dari rembagon. Bentuknya menyerupai mangkok dan berguna sebagai alas atau tempat rembagon bertumpu, supaya rembagon mudah diputar.

2. Gerabah dengan Pemerataan dan Pasu

Yakni teknik membasahi tepi  yang akan ditambah ketinggiannya. Caranya berupa basahi kain dengan air, kemudian oleskan pada bagian tepi atas  yang akan ditambah ketinggiannya. Air itu biasanya ditempatkan pada mangkuk yang disebut dengan pasu.

3. Gerabah dengan Pengerikan

Yakni alat yang terbuat dari sejenis pisau atau potongan sabit untuk mengerik bagian luar yang telah dibentuk.

4. Pengoles

Yakni alat yang terbuat dari potongan sabut kelapa dan berguna untuk menghaluskan bagian dalam. Sebelum mengoleskannya pada bagian dalam, basahi terlebih dahulu dengan air.

5. Leladikan atau Pengerab

Yakni alat yang terbuat dari bilah bambu atau kayu yang pada salah satu sisinya dibuat lekukan. Alat ini berguna untuk menghaluskan bagian bibir yang tengah dibentuk.

6. Panepong

Yakni alat dari bambu yang mempunyai bulatan kecil serta runcing. Alat ini berguna untuk membuat luang pada bagian yang memang memerlukan lubang. Contoh yang menggunakan alat ini adalah pot bunga, tungku, dan tempat pembakaran sate.

7. Batu Lolet atau Batu Penggosok

Yakni alat yang terbuat dari batu sungai dengan bentuk membulat. Alat ini digunakan untuk menggosok bagian luar yang sudah selesai dibentuk supaya permukaannya menjadi rata dan halus.

8. Batu Bolek

Yakni batu penggosok berwarna hitam yang biasanya digunakan untuk membuat bagian luar menjadi berkilap.

9. Penggurat

Yakni alat dari paku atau kawat baja yang ditekuk dan diberi tangkai kayu. Alat ini biasanya digunakan untuk membuat ukiran dengan cara menggoreskan pada  supaya terdapat garisan ukiran sebagai hiasan.

10. Tabung Semprot

Yakni alat berisikan cairan asam, yang digunakan dengan cara menyemprotkannya pada setengah jadi supaya memberikan efek bercak hitam.

Perbedaan Tembikar dan Gerabah

Banyak orang merasa bahwa tembikar dan gerabah itu adalah dua benda yang sama, meskipun sebenarnya jika dilihat sekilas memang keduanya tampak sama. Namun, ternyata apabila dilihat dari suatu sudut pandang tertentu, tembikar dan gerabah itu punya beberapa perbedaan lho…

No. Tembikar Gerabah
1. Proses pemanasannya berada di kisaran 1.100-1.250 derajat Celcius. Proses pemanasannya berada di kisaran 800-1.000 derajat Celcius.
2. Proses pembuatannya menggunakan campuran tanah liat dengan pasir kuarsa, batu mineral, dan air. Proses pembuatannya menggunakan campuran tanah liat dengan air dan pasir dalam perbandingan tertentu.
3. Lebih mengutamakan fungsi estetis, yakni sebagai pernak-pernik dan hiasan. Lebih mengutamakan fungsi kegunaan, yakni sebagai perkakas kebutuhan sehari-hari.
4. Contohnya berupa: piring hias, cangkir hias, vas bunga hias, guci, dan lain-lain. Contohnya berupa: cobek, tungku, kuali, gentong, dan lain-lain.
5. Permukaannya lebih halus karena diberi glasir. Permukaannya lebih kasar karena tidak diberi glasir, hanya sekadar cat khusus supaya lebih menarik.


Daerah Penghasil Gerabah di Indonesia

Indonesia memang terkenal akan kerajinan gerabahnya dan bahkan telah menjadi bentuk industri usaha sebagai mata pencaharian masyarakatnya. Mulai dari Sabang sampai Merauke, keberadaan gerabah ini telah dikenal dan dibutuhkan oleh banyak masyarakat sebagai perkakas rumah tangga. Lalu, mana saja ya daerah penghasil gerabah dengan kualitas terbaik? Yuk simak uraian berikut!

1. Desa Kasongan di Yogyakarta

Desa Kasongan yang terletak di Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini telah dikenal oleh masyarakat luas sebagai daerah penghasil gerabah berkualitas. Bahkan peminatnya tidak hanya masyarakat lokal saja, tetapi juga dipercaya untuk diekspor ke luar negeri seperti India, Amerika Serikat, dan Australia.

Industri gerabah di Desa Kasongan ini telah berjalan sejak zaman Kolonial Belanda dan disebut-sebut sebagai pusat gerabah di Yogyakarta. Beragam model gerabah dapat ditemukan disini, mulai dari mangkuk, guci, hingga bentuk patung. Dalam hal ekspor, biasanya daerah Desa Kasongan ini berhasil mengirimkan sebanyak 80 kontainer per bulannya.

2. Desa Kapal di Bali

Desa Kapal yang terletak di Kabupaten Badung Provinsi Bali ini juga menjadi daerah penghasil gerabah paling terkenal di Pulau Bali. Para perajin gerabah di Desa Kapal ini kerap mendapatkan pesanan pembuatan gerabah untuk keperluan pribadi. Berhubung di Bali banyak masyarakat beragama Hindu, sehingga pesanan pembuatan gerabah biasanya digunakan untuk keperluan keagamaan.

3. Desa Wisata Sitiwinangun dan Desa Anjun di Jawa Barat

Di Pulau Jawa juga terdapat desa wisata khusus penghasil kerajinan ini yakni Desa Sitiwinangun yang berada di Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 1990-an, jumlah perajin di desa wisata ini bahkan mencapai 1.000 orang! Meskipun jumlah perajin ini menurun dan meningkat, tetapi para perajinnya telah menjadikan sebagai sumber mata pencahariannya. Desa ini disebut demikian karena menawarkan paket wisata yakni para wisatawan untuk melihat dan belajar secara langsung mengenai bagaimana membuat gerabah.

Kemudian, ada pula Desa Anjun yang juga berhasil memproduksi gerabah berkualitas dan melakukan ekspor ke negara lain, sebut saja Belanda, Cina, dan Rusia. Industri pembuatan gerabah di Desa Anjun ini telah berlangsung sejak tahun 1795 yakni pada masa penjajahan Belanda. Biasanya, pembuatan gerabah dilakukan di rumah karena sebagai penghasilan tambahan masyarakat setempat dengan jumlah produksi mencapai 7,2 unit gerabah setiap tahunnya.

Nah, itulah ulasan mengenai apa itu gerabah dan cara pembuatan serta teknologi apa yang digunakan oleh para perajin. Apakah Grameds berminat datang ke Desa Wisata Sitiwinangun di Jawa Barat untuk belajar membuat gerabah?

Sumber:

Mudra, I Wayan. (2019). Gerabah Bali. Surabaya: Penerbit Media Sahabat Cendekia

Baca Juga!