Sosiologi

Pengertian Mobilitas Sosial: Teori, Bentuk, Faktor Pengaruh

Written by Rifda Arum

Pengertian Mobilitas Sosial – Apakah Grameds menyadari bahwa dalam kehidupan bermasyarakat ini, pasti terjadi perpindahan atau perubahan strata sosial pada setiap individunya? Atau bahkan perpindahan atau perubahan strata sosial tersebut justru sudah terjadi pada dirimu beserta keluarga?

Adanya perpindahan atau perubahan strata sosial tersebut adalah hal wajar untuk dapat terjadi, baik itu perubahan menuju ke strata sosial yang lebih tinggi atau bahkan lebih rendah dari strata sosial sebelumnya. Hal tersebut terjadi sebab setiap anggota masyarakat pastilah ingin mempunyai hidup yang lebih baik dari sebelumnya, sehingga mereka akan giat berusaha untuk melakukan perubahan strata sosial itu.

Lalu, apa sih pengertian dari mobilitas sosial itu? Grameds pasti sudah tahu bahwa mobilitas itu berarti perpindahan, lalu bagaimana dengan mobilitas sosial?

Nah, supaya Grameds dapat memahami akan hal tersebut, yuk simak ulasan berikut ini!

https://www.pexels.com/

Pengertian Mobilitas Sesuai Menurut Para Ahli

Pembicaraan mengenai mobilitas sosial itu masuk dalam disiplin ilmu sosiologi, sehingga pengertian akan hal tersebut tentu saja diungkapkan oleh para ahli yang merupakan para ahli sosiologi.

Edward Ransford

Menurut Ransford, mobilitas sosial adalah perpindahan yang mengarah ke atas atau ke bawah dalam lingkungan sosial secara hierarki.

Anthony Giddens

Menurut Giddens, mobilitas sosial adalah sesuatu yang merujuk pada gerakan dari seorang individu dan kelompok-kelompok di antara kedudukan-kedudukan sosial ekonomi yang berbeda.

William Kornblum

Kornblum berpendapat bahwa mobilitas sosial merupakan perpindahan individu-individu, keluarga-keluarga, dan kelompok sosialnya dari satu lapisan ke lapisan sosial lainnya.

Michael S. Bassis

Menurut Bassis, mobilitas sosial ini merupakan proses perpindahan dengan arah ke atas maupun ke bawah pada lingkungan sosial ekonomi yang dapat mengubah status sosial seseorang dalam tatanan masyarakat.

Kimball Young dan Raymond W. Mack

Dua ahli sosiologi ini mengemukakan bahwa mobilitas sosial merupakan suatu proses mobilitas dalam struktur sosial, yakni pola-pola tertentu yang mengatur organisasi di suatu kelompok sosial.

Paul B. Horton

Horton juga turut menyampaikan pendapatnya berkaitan dengan mobilitas sosial, yakni suatu gerakan perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya, atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya.

Nah, berdasarkan pada definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa mobilitas sosial merupakan proses perpindahan yang terjadi pada individu atau kelompoknya dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lain. Berhubung masyarakat Indonesia pada masa sekarang ini memiliki sistem lapisan sosial terbuka, sehingga tingkat mobilitas sosialnya dapat meningkat dibandingkan pada sistem lapisan sosial tertutup. Pada sistem lapisan sosial tertutup, justru cenderung rendah dalam hal mobilitas sosialnya, seperti dapat dilihat pada masyarakat yang masih mengutamakan sistem kasta.

Mobilitas sosial akan selalu menyangkut tiga hal pokok, yakni.

  1. Perubahan kelas sosial, baik ke arah atas maupun ke bawah.
  2. Dialami oleh manusia sebagai individu maupun secara berkelompok.
  3. Memperoleh kelas sosial baru.

Beli Buku di Gramedia

Teori Mengenai Mobilitas Sosial

Sama halnya dengan pokok materi dalam sub disiplin ilmu, mobilitas sosial ini juga mempunyai berbagai teori, sehingga tidak berasal dari pemikiran “ngawur” saja. Teori-teori mengenai mobilitas sosial telah banyak dirumuskan oleh para ahli sosiologi, sebut saja Martin Lipset dan Hans Zetterberg, Ralph Turner, dan Pitirim Sorokin. Nah, berikut adalah ulasan mengenai teori-teori tersebut!

1. Martin Lipset dan Hans Zetterberg

Teori mengenai mobilitas sosial yang dicetuskan oleh Martin dan Hans ini memfokuskan mengenai penyebab dan dimensi terjadinya sebuah mobilitas sosial di kalangan masyarakat.

Dalam hal penyebab terjadinya mobilitas sosial ini ada dua. Pertama, adanya supply (pasokan) dari posisi status yang tidak terisi. Kedua, terjadinya pergantian peringkat. Sederhananya saja, setiap terjadi sebuah mobilitas sosial dengan pergerakan ke arah atas, pasti juga akan ada pergerakan ke arah bawah.

Sementara itu, dalam hal dimensi terjadinya sebuah mobilitas sosial itu ada empat dimensi:

  • Ranking Okupasi

Dalam dimensi yang pertama ini, para ahli berpendapat bahwa sebuah pekerjaan yang dimiliki oleh seorang individu, diyakini menjadi faktor penting yang membedakan adanya keyakinan, nilai, norma, kebiasaan-kebiasaan, hingga ekspresi emosional dari seorang individu.

  • Ranking Konsumsi

Dalam dimensi ranking konsumsi ini mengacu pada gaya hidup yang dimiliki oleh seorang individu atau sekelompok masyarakat. Orang-orang yang memiliki gaya hidup dan kehormatan (prestise) sama, biasanya akan berada di kelas konsumsi yang sama pula. Indeks penghitungan konsumsi ini tidak berdasarkan penghasilan total pekerjaan, tetapi dari total penghasilan yang telah dihabiskan untuk kegiatan-kegiatan tertentu.

  • Ranking Kelas Sosial

Dalam dimensi ini, seorang individu dapat dikatakan berada di suatu kelas sosial yang sama dengan individu lain, apabila mereka menerima individu tersebut secara bersama-sama dan memiliki hubungan antar individu.

Misalnya, A merupakan mahasiswa biasa yang berada di kelas sosial menengah. Namun, dirinya bergaul dengan sekelompok mahasiswa di kelas sosial atas. Nah, orang-orang yang berada dalam kelompok tersebut, menerima A dengan senang hati untuk bergabung bersama mereka. Hal tersebut menjadikan A berada di dimensi kelas sosial atas, meskipun dirinya berasal dari kelas sosial menengah.

  • Ranking Kekuasaan

Dalam dimensi ranking ini, merujuk pada hubungan peran, berupa hubungan kekuasaan yang dimiliki oleh individu. Mereka meyakini bahwa kekuasaan atau jabatan yang dimiliki oleh individu lain dapat menjadi “kendaraan” dalam upaya mobilitas sosial ini.

2. Ralph Turner

Teori yang dicanangkan oleh Ralph Turner ini menghubungkan sistem pendidikan dengan upaya mobilitas sosial yang ada. Asumsi yang melatarbelakangi pemikiran tersebut adalah bahwa adanya sistem kelas terbuka, ditandai dengan dibukanya sekolah-sekolah umum, sehingga akan berpeluang bagi masyarakat untuk melakukan mobilitas sosial vertikal.

Ralph Turner juga mengemukakan bahwa mobilitas sosial itu ada dua jenis, yang didasarkan pada norma masyarakat, yakni mobilitas sponsor dan mobilitas kontes.

Dalam mobilitas jenis sponsor, penentuan anggota masyarakat yang dapat masuk di kelas sosial atas adalah melalui pemilihan dan didasarkan pada beberapa kriteria yang semestinya. Penentuan tersebut juga tidak bisa dibatalkan oleh strategi apapun.

Sementara itu, dalam jenis mobilitas kontes, adanya sebuah sistem dimana status sosial atas menjadi hadiah atau imbalan untuk seseorang, apabila berhasil melalui berbagai usaha yang dilakukannya pada suatu persaingan terbuka. Dari adanya “kontes” persaingan tersebut, seseorang akan mengupayakan kemampuan dan strategi mereka untuk bersaing dengan individu lain secara adil.

3. Pitirim Sorokin

Teori ketiga yang diungkapkan oleh Sorokin ini berkaitan dengan kesempatan atau peluang terjadi mobilitas sosial terhadap individu atau sekelompok individu.

Sorokin berpendapat bahwa dalam suatu masyarakat tidak semuanya akan mendapatkan kesempatan yang benar-benar sama dengan orang lain untuk dapat berpindah status sosialnya.

Melalui teori tersebut, secara tidak langsung maka Sorokin membagi dua tipe dari mobilitas sosial, yakni mobilitas horizontal dan mobilitas vertikal.

Beli Buku di Gramedia

Bentuk-Bentuk Mobilitas Sosial

Pada dasarnya, setiap manusia baik secara individu maupun kelompok, tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang didapat dalam hidupnya, sehingga mereka berkeinginan untuk terus berpindah ke arah atau status sosial yang lebih baik. Mobilitas sosial tentu saja berkaitan erat dengan stratifikasi sosial, karena mengacu pada definisinya yakni suatu perpindahan gerak dari satu lapisan sosial ke lapisan sosial lainnya, baik ke arah bawah maupun ke arah atas.

Nah, berikut adalah bentuk-bentuk mobilitas yang terjadi dalam tatanan masyarakat.

1. Mobilitas Sosial Horizontal

Mobilitas sosial horizontal ini adalah perubahan individu maupun kelompok selaku objek sosial menuju kelompok sosial lainnya yang sederajat. Maksud sederajat ini adalah tidak ada perubahan yang terjadi di dalam derajat kedudukan seseorang tersebut.

Contohnya, Pak Kuncoro adalah seorang guru Matematika di SMA, tetapi karena lingkungan SMA tidak cocok dengan dirinya, maka dirinya memutuskan untuk menjadi guru Matematika di SMP.

Dalam mobilitas sosial horizontal ini dapat terjadi pada hal-hal berikut:

  • Tingkatan atau Status

Mobilitas sosial sangat berkaitan dengan tingkatan atau status sosial yang dimiliki oleh individu, meskipun itu secara sederajat atau horizontal. Misalnya, Pak Yohan adalah kepala sekolah di SMA Produce, kemudian dirinya dipindahtugaskan untuk menjadi kepala sekolah di SMA Wei. Hal yang terjadi pada Pak Yohan tetap dapat disebut sebagai mobilitas sosial tetapi dalam status sosial yang sederajat.

  • Wilayah

Mobilitas sosial itu dapat terjadi dalam hal sekecil apapun. Bahkan perpindahan tempat atau wilayah tempatmu berkegiatan juga dapat disebut sebagai mobilitas sosial horizontal, sebab status sosialmu masih sama seperti sebelumnya.

2. Mobilitas Sosial Vertikal

Mobilitas sosial vertikal merupakan bentuk perpindahan individu atau kelompok selaku objek sosial menuju kedudukan sosial yang tidak sederajat. Maksud dari tidak sederajat adalah status sosialnya dapat ke arah atas (naik) maupun ke arah bawah (turun). Terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya sebuah mobilitas sosial vertikal, yakni:

  • Kekayaan

Faktor ini tentu saja dapat mengubah posisi atau kedudukan sosial dari seseorang, yang mana dapat menjadikannya lebih kaya atau justru lebih miskin.

  • Kekuasaan

Faktor kekuasaan turut serta dapat menyebabkan terjadinya sebuah mobilitas sosial vertikal. Seseorang yang mempunyai kekuasaan tertentu, cenderung mudah untuk naik jabatan sehingga kekuasaannya menjadi bertambah dan mobilitas sosialnya dapat meningkat secara drastis. Begitu juga sebaliknya, apabila seseorang itu tidak mempunyai kekuasaan yang cukup untuk naik jabatan, dirinya juga akan mengalami mobilitas sosial ke arah bawah.

  • Pendidikan

Saluran utama supaya seseorang dapat mengalami mobilitas sosial secara adil adalah melalui pendidikan, terutama pendidikan formal. Seseorang yang mempunyai latar belakang pendidikan bagus, tentu saja akan mengalami kenaikan kedudukan serta status sosialnya, terutama ketika bekerja.

Arah Mobilitas Sosial Vertikal Ke Atas

Sebelumnya, telah dituliskan bahwa mobilitas sosial vertikal ini memiliki dua arah, yakni menuju ke atas dan menuju ke bawah. Untuk mobilitas sosial vertikal yang menuju ke atas juga memiliki dua bentuk, yakni:

  • Masuk ke dalam kedudukan atau status sosial yang lebih tinggi

Dalam mobilitas sosial ke arah atas ini biasanya terjadi seseorang yang kala itu tengah berada di status sosial bawah, kemudian terjadi suatu hal yang menyebabkan dirinya mendapatkan kenaikan status sosial. Misalnya, ada seorang guru honorer yang diterima CPNS. Hal itu tentu saja menjadikan dirinya mengalami kenaikan status sosial hasil dari naiknya jabatan.

  • Membentuk sebuah kelompok baru

Pembentukan kelompok baru ini didasarkan karena kelompok tersebut belum ada sebelumnya. Namun perlu diketahui bahwa “sosok” yang membentuk kelompok baru ini juga harus berada di status sosial yang lebih tinggi.

Arah Mobilitas Sosial Turun

Sama halnya dengan arah mobilitas sosial ke arah atas (naik), mobilitas sosial ke arah bawah (turun) pun juga memiliki bentuk-bentuk utama, yakni:

  • Turunnya sebuah kedudukan

Penurunan kedudukan ini biasanya akan berkaitan dengan jabatan di lingkungan kerjanya. Misalnya, seorang PNS yang pensiun. Ketika menjadi seorang pensiunan, tentu saja secara tidak langsung akan menurunkan status sosialnya karena kekuasaannya ketika menjabat posisi tertentu telah “hilang”.

  • Turunnya derajat kelompok individu karena terdapat disintegrasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disintegrasi adalah keadaan yang tidak bersatu padu. Akibat disintegrasi ini, suatu kelompok individu dapat turun status sosialnya secara bersamaan.

Beli Buku di Gramedia

3. Mobilitas Sosial Antargenerasi

Mobilitas antar generasi ini ditandai dengan adanya perkembangan taraf hidup dalam suatu kehidupan keluarga, baik itu secara menurun maupun meningkat. Hal utama dalam bentuk mobilitas ini adalah bukan pada perkembangan keturunannya, tetapi pada perpindahan status sosial yang berdampak pada generasinya.

Misalnya, ada seorang pedagang cabai yang hanya menamatkan pendidikannya hingga Sekolah Dasar saja. Namun, dirinya berhasil menyekolahkan anaknya hingga lulus sekolah pelayaran. Sang anak ini berhasil mengubah statusnya dan keluarganya sehingga dapat berbeda dengan status orang tuanya sebelumnya.

4. Mobilitas Sosial Intragenerasi

Mobilitas horizontal intragenerasi ini adalah perpindahan status yang dialami seseorang dalam generasi yang sama. Maksud dari generasi yang sama adalah perpindahan status tersebut terjadi pada dirinya sendiri, bukan atas pencapaian anak atau anggota keluarganya.

Misalnya, ada seseorang yang sebelumnya bekerja sebagai kuli bangunan. Berkat ketekunan dan keberuntungannya, dia berhasil menjadi mandor.

Contoh lain adalah para remaja kelahiran ‘90-an memiliki kesempatan untuk mengembangkan ilmu IPTEK karena saat ini tengah berada pada era digital dan globalisasi.

Beli Buku di Gramedia

Faktor Penghambat dan Faktor Pendorong Terjadinya Mobilitas Sosial

Faktor Penghambat Terjadinya Mobilitas Sosial

Terjadinya mobilitas sosial ini didorong oleh beberapa faktor, yakni faktor struktur dan faktor individu. Nah, berikut adalah uraiannya.

Faktor Struktural

1. Struktur Pekerjaan

Umumnya, aktivitas ekonomi yang dilakukan dalam lingkungan masyarakat dibedakan menjadi dua sektor, yakni sektor formal dan sektor informal. Adanya perbedaan tersebut jelas mempengaruhi tingkat “keberhasilan” mobilitas sosial masyarakat yang terlibat.

Terutama pada sektor pertanian, anggota masyarakat yang terlibat lebih banyak memiliki status kedudukan rendah, sehingga tingkat mobilitasnya juga akan rendah.

Namun, hal tersebut tidak lantas membuat mereka “gagal” dalam upaya mobilitas sosial. Justru saat ini sudah banyak anggota masyarakat yang bekerja di sektor pertanian dan berhasil melakukan mobilitas sosial, baik secara horizontal maupun vertikal.

2. Ekonomi Ganda

Ekonomi ganda ini biasanya terjadi di negara berkembang, sehingga menimbulkan dualisme. Pertama, kegiatan ekonominya masih dikuasai oleh unsur-unsur yang bersifat tradisional. Kedua, kegiatan ekonominya dikuasai oleh unsur-unsur yang bersifat modern.

3. Pengalaman Belajar

Anggota masyarakat yang berasal dari kelas sosial menengah, umumnya memiliki pengalaman belajar yang lebih terjamin daripada pengalaman belajar yang dimiliki oleh anggota masyarakat dari kelas sosial rendah.

Apalagi, adanya pandangan bahwa ijazah, test, rekomendasi, hingga jaringan hubungan antar teman dapat menjadi tempat bertukar informasi disertai dengan rekomendasi yang menyangkut pada kesempatan kerja. Hal tersebut menyulitkan bagi orang-orang luar untuk “menerobosnya”, sehingga akan menimbulkan diskriminasi.

Faktor Individu

  1. Perbedaan Kemampuan
  2. Perbedaan Perilaku
  • Pendidikan
  • Kebiasaan Kerja
  • Pola Penundaan Kesenangan
  • Kemampuan Cara Bermain
  • Pola Kesenjangan Nilai
  • Faktor Keberuntungan

Keadaan Ekonomi

Keadaan ekonomi menjadi hal utama untuk mendorong terjadinya mobilitas sosial, terutama pada individu atau kelompok individu yang hidup dalam keadaan ekonomi rendah. Ketika mereka “memberanikan diri” untuk berpindah tempat ke daerah lain dan berhasil naik statusnya meskipun tidak terlalu meningkat, itu dapat disebut sebagai mobilitas.

Beli Buku di Gramedia

Faktor Pendorong Terjadinya Mobilitas Sosial

1. Perubahan Situasi Politik

Perubahan situasi politik yang terjadi di suatu negara pada dasarnya dapat menjadi bentuk dukungan rakyat terhadap struktur pemerintah yang baru tersebut. Nah, melalui dukungan-dukungan tersebut, maka seorang individu juga memiliki keinginan untuk mengembangkan “usahanya” supaya dapat melakukan mobilitas sosial.

2. Perubahan Sosial Budaya

Dalam kehidupan bermasyarakat, baik di perkotaan atau pedesaan, pasti akan senantiasa terjadi perubahan, baik dalam struktur sosial, interaksi sosial, hingga sistem tata nilai yang berlaku. Perubahan-perubahan tersebut nantinya dapat mendorong individu melakukan penyesuaian terhadap tuntutan perubahan tersebut, sehingga secara tidak sadar akan menimbulkan keinginan untuk melakukan social climbing.

Ingat, social climbing adalah perpindahan status sosial anggota masyarakat dari kelas sosial rendah ke kelas sosial yang lebih tinggi.  Tidak hanya itu, kemajuan teknologi dan perubahan ideologi juga membuka kemungkinan akan timbulnya mobilitas ke arah atas serta “menciptakan” stratifikasi baru yang berkembang di masyarakat.

3. Perubahan Ekonomi

Situasi ekonomi yang berjalan di suatu masyarakat, tentu saja memberikan dorongan kepada individu atau sekelompok individu untuk meningkatkan status sosial mereka. Apalagi jika situasi ekonomi pada kala itu membaik dan membuat mereka berhasil dalam menjalankan berbagai macam usaha.

  1. Faktor Kemiskinan
  2. Faktor Diskriminasi Kelas
  3. Faktor Perbedaan Ras dan Agama
  4. Faktor Perbedaan Jenis Kelamin
  5. Perbedaan Kepentingan

Beli Buku di Gramedia

Nah, itulah penjelasan mengenai pengertian mobilitas sosial beserta bentuk-bentuknya. Grameds pasti pernah mengalami mobilitas sosial ini, baik antar generasi maupun intragenerasi, sebab hal ini sangat wajar terjadi, terutama pada seluruh individu yang hidup dalam tatanan masyarakat sistem lapisan sosial terbuka.

Rekomendasi Buku & Artikel Terkait

Baca Juga!



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien