Sosiologi

Teori Kebutuhan Maslow: Pengertian, Konsep & Pembagiannya

teori kebutuhan maslow
Written by Laeli Nur Azizah

Teori Kebutuhan Maslow – Grameds pasti sudah tahu bukan, bahwa setiap individu yang ada di dunia ini pastilah memiliki paling tidak satu hal yang harus mereka penuhi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hal tersebut biasanya disebut dengan kebutuhan. Adanya kebutuhan yang harus terpenuhi membuat setiap individu memiliki motivasi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Nah, ada nih salah satu teori motivasi mengenai pemenuhan kebutuhan yang sangat terkenal. Bahkan mungkin sebagian besar dari Grameds sudah tidak asing dengan salah satu teori motivasi ini. Teori motivasi kebutuhan ini dicetuskan oleh seorang psikolog yang juga seorang teoritikus berasal dari Amerika bernama Abraham Maslow. Secara garis besar Abraham Maslow beranggapan bahwa kebutuhan menjadi alasan terbentuknya motivasi pada diri seorang individu untuk melakukan semua kegiatan yang sekiranya dapat menopang individu tersebut dalam usaha memenuhi kebutuhan mereka.

Teori yang dicetuskan oleh Abraham Maslow ini memiliki nama Teori Hierarki Kebutuhan Maslow atau lebih akrab disebut dengan Teori Maslow. Teori Hierarki Kebutuhan yang dicetuskan oleh Abraham Maslow ini merangsang adanya pengaruh yang sangat besar pada kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari

Dalam teori kebutuhan ini Abraham Maslow juga mengungkapkan bahwa seorang individu haruslah memenuhi kebutuhan mereka, Abraham Maslow membagi kebutuhan tersebut dibagi dalam lima tingkatan dengan urutannya masing-masing. Adanya tingkatan kebutuhan tersebut mengharuskan individu memenuhi kebutuhan mereka mulai dari tingkatan terdasar. Eits, pembahasan ini dibahas nanti ya! Sebelum melanjutkan pembahasan mengenai Teori Hierarki Kebutuhan Maslow, ada baiknya jika kita mengenal terlebih dahulu tokoh yang mencetuskan teori motivasi satu ini.

Mari Mengenal Abraham Maslow Sang Pencetus Teori Maslow

Teori Kebutuhan Maslow: Pengertian, Konsep & Pembagiannya 1

Abraham Maslow Sang Pencetus Teori Hierarki Kebutuhan Maslow lahir pada tanggal 1 April 1908 di Kota New York, Amerika Serikat. Lebih tepatnya Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn dengan nama lengkap Abraham Harold Maslow. Abraham Maslow dibesarkan di keluarga Yahudi Rusia dengan kedua orang tua yang tidak pernah menjalani pendidikan serta duduk dibangku sekolah. Semasa kecilnya, Abraham Maslow hidup di lingkungan tempat tinggal yang sebagian besar penduduknya adalah kaum non Yahudi.

Setelah beranjak dewasa, Abraham Maslow mengenyam pendidikan di Brooklyn College dan lulus sebagai seorang psikolog. Tak hanya itu saja, Abraham Maslow juga menjadi profesor di beberapa universitas, seperti Alliant International University, Brooklyn College, Brandeis University, New School for Social Research, dan Columbia University. Dalam kehidupannya, Abraham Maslow menjadi pribadi yang berfokus pada pengembangan kualitas dari seorang individu menjadi individu yang lebih positif.

Dari tujuan hidupnya itulah yang membuat Abraham Maslow menaruh perhatian lebih pada kalimat pertanyaan yang memiliki jenis seperti “Mengapa masih sedikit manusia yang memiliki aktualisasi diri padahal kebutuhan tingkat pertama atau kebutuhan dasar mereka sudah berhasil terpenuhi?” Padahal menurut pandangan psikolog humanistik, setiap individu pasti memiliki keinginan untuk menyadari kelebihan serta potensi yang mungkin dapat mereka gunakan dalam memenuhi tingkatan selanjutnya dan mencapai tingkatan tertinggi dalam hierarki kebutuhan Maslow.

Di usianya yang ke-62 tahun tepatnya pada tanggal 8 Juni 1970, Abraham Harold Maslow Sang Pencetus Teori Hierarki Kebutuhan Maslow menghembuskan nafas terakhirnya di California, Amerika Serikat dikarenakan Abraham Maslow mengalami serangan jantung. Abraham Maslow dikenang dan dikenal sebagai pioneer yang bergerak di bidang psikologis dengan mencetuskan sebutan “Humanistik Psikologis” untuk menyebutkan dirinya semenjak Abraham Maslow memulai untuk memahami bagaimana pikiran seorang individu berjalan.

Setelah mengenal dengan jelas siapa pencetus dari Teori Hierarki Kebutuhan Maslow, kini saatnya kita mengenal tentang apa pengertian dari teori ini, bagaimana konsep teori ini, dan urutan kebutuhan dari teori ini. Let’s go!

Pengertian dari Teori Hierarki Kebutuhan Maslow

Teori Hierarki Kebutuhan Maslow adalah salah satu teori psikologi yang berguna untuk memicu munculnya motivasi pada seorang individu dalam memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow diperkenalkan pada tahun 1943 melalui “A Theory of Human Motivation” melalui acara Psychological Review. Seperti yang sudah kami katakan diawal, bahwa secara garis besar Abraham Maslow berpendapat untuk memenuhi kebutuhan tingkat atas, seorang individu haruslah memenuhi kebutuhan tingkat bawahnya terlebih dahulu dan menggunakan keinginan tersebut sebagai hal untuk memotivasi mereka.

 

Buku Abraham Maslow

Teori Kebutuhan Maslow: Pengertian, Konsep & Pembagiannya 2

Beli Buku di Gramedia

banner-promo-gramedia

Sejarah banyak agama yang terlembagakan menunjukkan suatu kecenderungan untuk mengembangkan dua sikap ekstrem: kecenderungan yang bersifat “mistik” dan individual di satu sisi, dan legalistik dan organisasional di sisi lain. Pribadi religius yang autentik dan memiliki pemahaman mendalam akan mampu mengintegrasikan kecenderungan-kecenderungan ini dengan mudah dan otomatis. Kebanyakan orang kehilangan atau melupakan pengalaman religius subjektif, dan mendefinisikan ulang agama sebagai seperangkat kebiasaan, perilaku, dogma, bentuk-bentuk, yang di titik ekstrem menjadi sepenuhnya legalistik dan birokratis, konvensional, kosong, dan dalam makna yang sesungguhnya, antireligius. Agama yang terlembagakan, akhirnya dapat menjadi musuh utama bagi pengalaman religius dan orang-orang yang mengalaminya. Inilah tesis utama dari buku ini.

Abraham Maslow, penulis buku ini, hendak menegaskan bahwa agama dengan a kecil sepenuhnya selaras, pada level yang lebih tinggi dari perkembangan pribadi, dengan rasionalitas, dengan sains, dengan semangat sosial. Bukan hanya ini, melainkan secara prinsip, agama juga dapat dengan mudah mengintegrasikan dorongan-dorongan naluriah, material, dan berpusat pada diri yang sehat dengan hal-hal yang secara alamiah bersifat transenden, spiritual, dan aksiologis.

Konsep dari Teori Hierarki Kebutuhan Maslow

Lalu apa sih konsep dari Teori Hierarki Kebutuhan Maslow ini? Konsep teori ini berawal dari pengamatan terhadap perilaku monyet yang dilakukan oleh Abraham Maslow. Dari pengamatan tersebut, Abraham Maslow mendapatkan sebuah kesimpulan berupa ada beberapa kebutuhan yang akan lebih diutamakan dicapai oleh seorang individu daripada kebutuhan lainnya

Grameds dapat ambil sampel seperti individu mungkin akan lebih lama bertahan hidup jika mereka dapat memenuhi asupan cairan mereka dibandingkan memenuhi kebutuhan makan mereka. Dari contoh ini dapat diambil kesimpulan bahwa air adalah hal yang sangat penting untuk menopang kehidupan manusia. Hal inilah yang dijadikan permisalan oleh Abraham Maslow dalam menyusun teori hierarki kebutuhannya. Tambahan dari kesimpulannya, bahwa kebutuhan tingkat selanjutnya dapat diraih apabila seorang individu berhasil memenuhi kebutuhan tingkat sebelumnya.

Abraham Maslow juga menambahkan pendapat lain yaitu, bahwa dalam mencapai tingkatan kebutuhan selanjutnya, seseorang dapat menggunakan kuasa motivasi untuk mendorong mereka dalam mencapai tingkat kebutuhan di tingkat selanjutnya. Ada dua jenis kuasa motivasi yang dapat digunakan oleh seorang individu dalam memenuhi kebutuhan mereka, yaitu menggunakan deficiency growth atau dapat diartikan sebagai motivasi kekurangan dan motivation growth atau dapat diartikan sebagai motivasi perkembangan.

Kedua jenis motivasi ini memiliki artinya tersendiri. Untuk motivasi kekurangan diartikan sebagai usaha yang dilakukan individu dalam proses pemenuhan kekurangan mereka. Lalu untuk motivasi perkembangan dapat diartikan sebagai motivasi yang secara alami muncul dari dalam diri individu tersebut dan berguna untuk membuat seorang individu menjadi lebih semangat dalam meraih keinginan dan tujuan mereka.

Pembagian Hierarki Kebutuhan Maslow

teori kebutuhan maslow

Seperti yang Grameds tahu, bahwa Abraham merupakan seorang humanis. Hal tersebut yang membuat Abraham Maslow mempercayai pernyataan bahwa setiap individu memiliki keinginan untuk menjadikan dirinya pada tingkat atas. Namun, untuk mencapai tingkatan tersebut ada tingkatan lain yang harus terpenuhi.

Teori Hierarki Kebutuhan Maslow memuat mengenai tingkatan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Individu yang dimaksud pada teori ini adalah manusia. Seperti yang Grameds tahu, manusia adalah makhluk yang lemah dan tentunya akan terus berkembang untuk menemukan kelebihan mereka dalam upaya memenuhi kebutuhan mereka.

Dalam teori ini memuat lima tingkatan kebutuhan yang harus terpenuhi di masing-masing tingkatannya. Tingkatan kebutuhan tersebut diawali dengan kebutuhan dasar seperti kebutuhan fisiologi manusia, kebutuhan rasa aman, kebutuhan merasakan kasih sayang, kebutuhan mendapatkan pencapaian, dan tingkat paling atas adalah kebutuhan mengaktualisasikan diri. Hierarki kebutuhan ini dibentuk dalam bentuk segitiga dengan bagian dasarnya memiliki cakupan aspek yang lebih luas dibanding bagian kerucutnya. Berikut ini penjelasan dan urutan dari Teori Hierarki Kebutuhan oleh Abraham Maslow.

1. Kebutuhan Dasar atau Fisiologi

Kebutuhan tingkat dasar yang pertama ini memiliki hubungan dengan kebutuhan tubuh setiap individu baik kebutuhan biologis maupun fisik. Kebutuhan yang sangat mendasar ini haruslah terlebih dahulu terpenuhi agar manusia dapat bertahan hidup dan melangkah ke tingkat kebutuhan selanjutnya. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan manusia akan oksigen, air, makanan, suhu tubuh yang normal, tidur, homeostasis, kebutuhan seksual, dan lain semacamnya.

Bisa Grameds nalar, seorang individu tidak mungkin dapat memenuhi tingkat kebutuhan selanjutnya apabila mereka belum memenuhi kebutuhan fisiologi dasar ini. Perlu diingat apabila salah satu saja dari bagian kebutuhan fisiologi ini tidak dapat terpenuhi, maka secara otomatis akan mengganggu tercapainya pemenuhan kebutuhan di tingkat selanjutnya. Tentu hal ini akan berbeda dengan mereka yang ditakdirkan menjadi orang kaya, memakan makanan sudah bukanlah kebutuhan fisiologi mereka. Namun, mereka menganggap memakan makanan mahal adalah gaya hidup mereka.

2. Kebutuhan Akan Rasa Aman

Kebutuhan tingkat dasar yang kedua adalah kebutuhan untuk senantiasa merasa aman. Seorang individu dapat melangkah ke tingkat kebutuhan selanjutnya apabila sudah berhasil memenuhi kebutuhan pada tingkat pertama. Abraham Maslow menjelaskan bahwa kebutuhan akan rasa aman ini meliputi rasa aman secara fisik maupun emosional. Perlu diketahui, kadar kebutuhan pada tingkat ini lebih banyak untuk usia rentang anak-anak. Hal itu dikarenakan anak-anak masih memiliki tingkat kewaspadaan yang masih rendah, sehingga pendampingan orang yang lebih tua sangat diperlukan.

Untuk kebutuhan akan rasa aman dapat dicontohkan dengan contoh seperti kebutuhan akan rasa aman dari bahaya yang akan mengancam, kebutuhan perlindungan dari tindak kriminalitas, kebutuhan rasa aman dari ancaman penyakit, kebutuhan rasa aman dari bahaya bencana alam, dan lain sebagainya.

3. Kebutuhan Sosial (Rasa Cinta, Kasih Sayang, serta Hak Kepemilikan)

Kebutuhan tingkat ketiga adalah kebutuhan mengenai aspek sosial yang ada di masyarakat, seperti kebutuhan untuk merasakan cinta, kasih sayang, dan memiliki hak kepemilikan terhadap suatu hal. Dalam tingkat ini, Abraham Maslow memberikan pendapatnya mengenai alasan mengapa seorang individu mencari cinta. Abraham Maslow menjelaskan latar belakang dari aspek tersebut karena didasari oleh kesepian, kesendirian, depresi, stress, serta kecemasan berlebihan. Rasa Cinta pada yang dimiliki oleh seorang individu sendiri memiliki dua jenis, yaitu D-Love atau Deficiency dan B-Love atau Being.

Seseorang yang merasakan cinta dikarenakan kekurangan, maka akan termasuk kedalam jenis D-Love. D-Love sendiri sering digambarkan sebagai rasa cinta yang menjadikan diri sendiri sebagai titik fokusnya. Sedangkan untuk B-Love merupakan bentuk penilaian seorang individu tanpa adanya niat untuk memanfaatkan orang yang dicintai. Cinta itu berwujud seperti cinta yang tidak ada keinginan untuk memiliki, hanya mendukung orang tersebut untuk menjadi lebih baik, dan cinta yang dapat memberikan dampak positif untuk kedua belah pihak, biasanya dapat dicontohkan ketika seorang individu menjalin hubungan pertemanan dengan individu atau kelompok lainnya.

Selain itu, kebutuhan pada tingkat ketiga ini juga meliputi kebutuhan untuk dapat menjalin pertemanan dengan individu lain, membentuk keluarga, bersosialisasi dengan suatu kelompok, beradaptasi dengan lingkungan sekitar, serta berada dalam lingkungan masyarakat. Seperti kebutuhan-kebutuhan sebelumnya, kebutuhan tingkat ketiga ini dapat diraih apabila seorang individu berhasil memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka pada tingkat sebelumnya.

4. Kebutuhan Mendapatkan Penghargaan

Kebutuhan tingkat selanjutnya, yaitu tingkat keempat adalah kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan. Penghargaan yang dimaksud dalam tingkat kebutuhan ini tidaklah selalu penghargaan berupa piala atau hadiah. Maksud dari kata penghargaan disini adalah harga diri. Yap, setiap individu berhak mendapatkan harga diri mereka. Harga diri dapat berasal dari diri sendiri maupun orang lain. Ketika kebutuhan pada tingkat ini dapat terpenuhi, maka secara otomatis akan memunculkan kebutuhan untuk merasakan penghormatan, rasa menjadi kepercayaan orang lain, dan menstabilkan diri sendiri.

Dari hal itu, dapat kita simpulkan kebutuhan ini adalah tentang pangkat, gelar, serta profesi. Setelah seorang individu berhasil memenuhinya maka secara otomatis rasa percaya diri individu tersebut akan melejit dengan pesat. Tingkat percaya diri yang tinggi tentu akan mempengaruhi peran sosial dari individu tersebut. Sebaliknya jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, akan membawa dampak yang serius seperti rasa depresi, kecemasan, stress, tiadanya rasa percaya diri, minder, merasa tidak berguna, dan lain sebagainya.

Harga diri dibagi menjadi dua bentuk, yaitu :

banner-promo-gramedia

4.1 Bentuk menghargai diri sendiri

adanya kepercayaan pada diri sendiri, meraih prestasi, menjadi pribadi yang mandiri, memiliki kemampuan, serta kompetensi yang mumpuni.

4.2 Bentuk penghargaan dari orang lain

mendapatkan status, gelar, pangkat, jabatan, menjadi orang terkenal, mendapatkan apresiasi atas ketekunan yang dilakukan,mendapatkan pujian, dinilai baik oleh orang lain.

 

Buku Manusia Utuh: Sebuah Kajian atas Pemikiran Abraham Maslow

Teori Kebutuhan Maslow: Pengertian, Konsep & Pembagiannya 3

Beli Buku di Gramedia

Hendro Setiawan mengantar pembaca ke dalam garis besar pemikiran Maslow tentang manusia yang, itu kekuatannya, berdasarkan bukan pada spekulasi, melainkan pada amatan psikologis. Hendro Setiawan melakukannya secara kritis dengan juga menunjuk di mana terletak pelbagai keterbatasan yang tentu juga ada pada pemikiran Maslow. Buku Hendro Setiawan tidak hanya memperluas wawasan kita tentang salah seorang psikolog paling termasyhur abad lalu, melainkan dapat memperkaya dan memperdalam pengertian kita tentang siapa kita ini, kita manusia. Prof Dr. Franz Magnis-Suseno, S.J.

5. Kebutuhan untuk Mengaktualisasikan Diri

Kebutuhan tingkat tertinggi, yaitu kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Kebutuhan ini dapat tercapai apabila seorang individu berhasil memenuhi keempat kebutuhan sebelumnya. Aktualisasi diri dapat diartikan sebagai wujud sesungguhnya untuk mencerminkan harapan serta keinginan seorang individu terhadap dirinya sendiri. Dalam penggambaran aktualisasi diri yang diberikan oleh Abraham Maslow, aktualisasi diri ini berperan sebagai kebutuhan seorang individu untuk memutuskan keinginan mereka.

Jika Grameds masih bingung dengan gambaran aktualisasi diri, maka kami akan memberikan permisalan seperti jika seorang individu adalah seorang musisi maka seharusnya ia pergi untuk bermusik, jika ia adalah penari maka ia harus menggerakkan tubuhnya, jika ia adalah seorang pendidik maka ia harus mencari seseorang dididik, dan masih banyak lagi.

Untuk mengaktualisasikan diri bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan. Karena dalam memenuhi kebutuhan ini, seorang individu haruslah mendapatkan dukungan yang cukup dari berbagai pihak. Dampak yang terjadi apabila kebutuhan pada tingkat akhir ini tidak terpenuhi adalah timbulnya perasaan tidak nyaman, kegelisahan, tegang, minder, dan lain sebagainya.

Berikut ini akan kami jelaskan lebih jelas mengenai penggambaran Abraham Maslow terhadap kebutuhan aktualisasi diri.

5.1 Acceptance and Realism

seseorang yang berhasil memahami diri sendiri serta menerima semua kenyataan baik mengenai diri mereka sendiri, orang lain, dan lingkungannya.

5.2 Problem Centering

mempunyai pribadi yang suka tolong menolong dengan sesama, dapat mencari solusi terbaik untuk permasalahan yang tengah dihadapi. Meskipun masalah tersebut di luar kendali dan lingkungan pribadi individu tersebut. memiliki motivasi untuk selalu bertanggung jawab dan selalu mengedepankan etika sosial.

5.3 Spontaneity

mampu bertindak spontan dan dapat beradaptasi dalam kondisi tersebut.

 

5.4 Autonomy and Solitude

memiliki tingkat kebebasan serta privasi yang lebih tinggi.

banner-promo-gramedia

 

5.5 Continued Freshness of Appreciation

orang yang berhasil mencapai aktualisasi diri memandang dunia dengan pandangan penuh rasa syukur serta kekaguman yang tak pernah terhentikan. Mereka akan mudah untuk bersyukur sekalipun hanya menerima atau mengalami hal yang kecil, mereka juga dengan sangat mudah menjadikan setiap kejadian di kehidupannya sebagai inspirasi dan sumber kesenangan mereka.

 

5.6 Peak Experiences

orang yang berhasil mencapai aktualisasi diri memiliki puncak kesenangan mereka yang biasa Abraham Maslow sebut dengan suka cita. Mereka akan memandang semua hal yang telah terjadi padanya dengan pandangan yan positif. Setiap kejadian yang baik maupun buruk digunakan dengan bijak sebagai pembelajaran, inspirasi, pengalaman, serta kekuatan untuk menjadi lebih baik dan semakin baik.

Selain itu, menurut Abraham Maslow, seseorang yang berhasil mencapai aktualisasi diri memiliki beberapa kualitas yang berbeda dengan individu lainnya. Berikut ini kualitas dari individu yang berhasil mencapai aktualisasi diri, seperti

  • truth,
  • goodness,
  • beauty,
  • wholeness,
  • dikotomi,
  • aliveness,
  • unique,
  • perfection,
  • necessity,
  • completion,
  • justice,
  • order,
  • simplicity,
  • richness,
  • effortless,
  • playfulness,
  • self-sufficiency.

Ternyata ada banyak sekali informasi yang kita dapatkan hanya dalam satu teori ya, Grameds! Bagaimana? Apakah informasi dari kami sudah menjawab semua pertanyaan yang Grameds miliki? Teori ini memiliki kesimpulan, intinya untuk mencapai tingkat kebutuhan tertinggi, seorang individu haruslah terlebih dahulu memenuhi tingkat kebutuhan terdasar. Nah, barulah dapat mencapai tingkat kebutuhan tertinggi.

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien