Psikologi

Pengertian Healing Adalah: Manfaat, dan Trauma Healing

Written by Rifda Arum

Healing Adalah – Pada zaman sekarang ini, para muda-mudi sering membicarakan topik berupa healing dan self-healing. Terutama bagi mereka yang tengah berada di situasi terpuruk, misalnya putus cinta, perceraian, terkena musibah, dan peristiwa traumatis apapun itu. Bahkan perasaan lelah akan beban kerja di kantor juga sering menjadikan mereka melakukan proses healing ini. Mereka berupaya serius supaya situasi terpuruk tersebut dapat “lepas” dari kehidupan sehari-hari.

Banyak cara yang dilakukan dalam upaya healing ini, salah satunya yang paling kerap dilakukan adalah berlibur. Lalu sebenarnya, apa sih healing itu? Apakah proses healing itu sangat dibutuhkan bagi kehidupan seorang individu? Hal-hal apa saja yang berkenaan dengan proses healing ini?

Nah, supaya Grameds tidak bingung akan apa itu healing dan hal-hal yang menyertainya, yuk simak ulasan berikut ini!

https://www.pexels.com/

Pengertian Healing

Istilah “healing” itu berasal dari kata dasar “heal” yang berarti menyembuhkan, membuat sembuh, dan menjadi waras. Maka dari itu, “healing” dalam pembahasan ini berarti suatu proses yang berupaya untuk meringankan dan memulihkan beban mental dari seorang individu. Proses pemulihan beban mental tersebut biasanya akan berupa penanaman perspektif yang positif dan realistis terhadap diri sendiri.

Meskipun dalam terjemahan istilahnya, healing ini berarti proses penyembuhan, padahal sebenarnya belum tentu begitu. Healing justru disebut sebagai pemulihan saja, tidak benar-benar menyembuhkan. Hal tersebut disebabkan karena luka batin dan pengalaman traumatis yang dialami oleh seseorang itu tidak bisa benar-benar sembuh seratus persen.

Yap, luka batin dan pengalaman traumatis itu tidak bisa benar-benar sembuh seratus persen. Namun, tetap dapat perlahan kita “maafkan” sehingga ketika ingatan kita tiba-tiba mengingat hal-hal terpuruk tersebut, diri kita akan langsung menerimanya.

Dilansir dari Kompas.com, mengungkapkan bahwa seorang psikolog klinis bernama Veronica Adesla berpendapatan bahwa proses healing itu ternyata dapat dilakukan oleh diri sendiri maupun dibantu oleh professional. Proses healing yang dapat dilakukan oleh diri sendiri salah satunya adalah dengan berlibur.

Beli Buku di Gramedia

Apa Saja Manfaat Healing Bagi Kehidupan Seorang Individu?

Healing ini sebenarnya sangat bermanfaat bagi kehidupan seorang individu, berapapun usianya, apapun pekerjaannya, dimanapun tempat tinggalnya. Hal tersebut karena tidak mungkin bahwa seseorang itu tidak memiliki peristiwa traumatis dan luka batin yang menyertainya selama hidup. Namun sayangnya, tidak semua orang dapat melakukan proses healing ini karena beberapa kendala.

Manfaat healing secara keseluruhan adalah dirinya dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan atas tindakannya dan lebih produktif ketika melakukan pekerjaan apapun. Nah, berikut akan diuraikan apa saja manfaat healing yang dapat diperoleh seorang individu bagi kehidupannya.

1. Lebih Bijak dalam Mengambil Keputusan

Manfaat pertama yang dapat diperoleh dari proses healing adalah kita dinilai akan lebih bijak dalam menjalani hidup, terutama ketika tengah mengambil keputusan atas tindakan yang akan diperbuat. Kebanyakan orang melakukan healing adalah karena merasakan beban hidup yang berat sehingga mempengaruhi pola pikir.

Nah, setelah upaya pemulihan beban mental ini, niscaya kita akan merasa “plong” dan ketika diajak berunding untuk suatu hal, diri kita akan lebih mantap atas pengambilan keputusan tersebut. Selain itu tidak akan penyesalan atas keputusan apapun yang telah diambil sebab pikiran kita sudah “bersih” seolah tidak ada beban mental seperti sebelumnya.

2. Meningkatkan Produktivitas

Manfaat kedua yang dapat diperoleh dari proses healing ini adalah diri kita lebih dapat meningkatkan produktivitas, baik di tempat kerja maupun di tempat pendidikan. Perlu diketahui, bahwa kondisi mental seorang individu itu dapat berpengaruh pada tingkat produktivitasnya, sehingga memang diperlukan adanya “refreshing” untuk memulihkan beban mental.

Apalagi bagi seseorang yang baru saja mengalami peristiwa traumatis dan membebani hidupnya, maka proses healing ini sangat penting. Setelah melakukan proses healing, dipercaya dapat memaksimalkan tingkat produktivitas. Selain itu, konsentrasi tidak akan terpecah belah antara beban pikiran dan beban pekerjaan di kantor maupun di pendidikan.

3. Menjadikan Hidup Lebih Bermakna

Perlu dipahami sekali lagi bahwa proses healing itu berarti pemulihan, bukan penyembuhan yang benar-benar sembuh seratus persen. Dari hal itu dapat disimpulkan bahwa seseorang yang mengalami luka batin dan pengalaman traumatis memang tidak dapat benar-benar melupakan hal buruk tersebut, tetapi dapat berdamai dengannya.

Ketika mendapatkan luka batin dan pengalaman traumatis yang tentunya menjadikan hidup seperti “berantakan”, segeralah mencari bantuan profesional untuk proses healing ini. Namun, dapat juga dilakukan seorang diri, salah satunya dengan berlibur.

Nah, setelah proses healing ini selesai, niscaya dirimu akan merasa bahwa hidup jauh lebih bermakna daripada harus terus-menerus merenungi luka batin dan pengalaman traumatis tersebut.

4. Menjadikan Diri Kita Sebagai Sosok yang Lebih Dewasa

Apakah kamu quote akan “pengalaman buruk akan memberimu pendewasaan” yang sering tersebar di postingan sosial media? Yap, quote tersebut tidak hanya sekadar konten saja, tetapi benar-benar dapat terjadi di kehidupan seseorang.

Apabila kamu berhasil melewati pengalaman buruk tersebut, baik itu putus cinta, ditinggal orang kesayangan, dan apapun peristiwa traumatis yang terjadi, niscaya hal-hal tersebut akan menjadikanmu sebagai sosok yang lebih dewasa.

gramedia digital

gramedia digital

Berlangganan Gramedia Digital

Baca SEMUA koleksi buku, novel terbaru, majalah dan koran yang ada di Gramedia Digital SEPUASNYA. Konten dapat diakses melalui 2 perangkat yang berbeda.

Rp. 89.000 / Bulan

gramedia digital

Perlu diketahui bahwa “dewasa” itu tidak dapat diukur berdasarkan usia saja, yakni usia 20-30 tahun. Melainkan juga pada tingkah laku beserta cara berpikirnya, baik ketika tengah menghadapi suatu masalah atau ketika berinteraksi dengan individu lain.

Beli Buku di Gramedia

Mengenal Apa Itu Trauma Healing

https://www.pexels.com/

Sebelumnya telah dituliskan bahwa dalam proses healing itu dilakukan karena seorang individu mengalami peristiwa traumatis. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), trauma adalah keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani. Semua orang tentu saja memiliki peristiwa traumatis yang terjadi dalam hidup mereka, tetapi cara menghadapi dan “melupakannya” juga berbeda-beda.

Apabila dilihat dari sudut pandang psikologi, trauma memiliki makna berupa pengalaman hidup yang dialami manusia dan mengganggu pada keseimbangan obiokimia yang terletak pada sistem informasi pengolahan psikologi otak manusia. Selain itu, trauma ini dapat berupa luka atau sakit (shock) yang menyebabkan gangguan pada mental. Penyebab utama dari trauma adalah peristiwa yang sekiranya sangat membebani dan menyebabkan bekas yang mendalam.

Maka dari itu, trauma healing adalah proses penanganan psikis yang dilakukan dalam dunia psikologi guna menangani permasalahan traumatis yang dialami oleh manusia. Sama dengan hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya, permasalahan traumatis ini dapat berupa bencana alam, kehilangan orang yang dicintai, menjadi korban kejahatan dan tindakan kriminal, menjadi korban pelecehan seksual, menjadi korban penganiayaan, hingga putus cinta.

banner-promo-gramedia-ilana-tan

Perlu dipahami bahwa setiap orang memiliki “kekuatan” mental yang berbeda-beda. Untuk permasalahan putus cinta misalnya, ada beberapa orang yang menganggapnya hanya angin lalu dan mudah melupakan. Namun, ada juga menganggap putus cinta itu adalah hal yang menyakitkan sehingga tanpa disadari justru menjadi pengalaman traumatis yang membekas sepanjang hidupnya. Maka dari itu, proses trauma healing ini dapat dilakukan untuk segala usia, sebab peristiwa traumatis juga tidak segan-segan “menyerang” anak-anak sekalipun.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhammad dengan judul Trauma Healing oleh Corps Brigade Pembangunan (CBP), Ratih Zulhaqqi mengemukakan bahwa proses trauma healing juga dapat dijadikan sebagai kegiatan untuk mengantisipasi post-traumatic syndrome disorder (PTSD). Penanganan trauma healing ini termasuk pada kategori Acceptance atau penerimaan penanganan pasca trauma.

Bagaimana Reaksi Trauma yang Dialami Oleh Seseorang?

Setiap orang pasti mengalami peristiwa traumatis yang berbeda-beda, begitu juga dengan reaksinya. Reaksi trauma tersebut memiliki bentuk yang luas, yang kemudian para ahli psikolog telah mengembangannya dalam tipe-tipe berikut ini.

  1. Compex Trauma
  2. PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder)
  3. Developmental Trauma Disorder

Wujud reaksi umum yang pertama dilakukan ketika terjadi peristiwa traumatis adalah berupa penolakan. Setelah itu akan mengalami reaksi jangka panjang seperti marah, sedih, hingga putus asa. Seiring dengan terus-menerus teringat akan peristiwa traumatis tersebut, maka emosi yang muncul juga tidak dapat ditebak atau diduga. Mulai dari munculnya perasaan bersalah yang tidak kunjung hilang, mual, hingga sakit kepala, seolah-olah diri kita merasa bertanggung jawab pada peristiwa traumatis tersebut.

Beli Buku di Gramedia

Apa Perbedaan Stres dan Trauma?

Kebanyakan orang sering keliru dalam mengartikan stress dan trauma ini. Ada beberapa orang yang padahal dirinya memang mengalami trauma, justru menganggapnya hanya stress belaka sehingga tidak melakukan upaya healing karena berpikir stress tersebut akan hilang begitu saja. Padahal sebenarnya, dua hal ini sangat membahayakan bagi kelangsungan mental manusia lho… Maka dari itu, proses healing sangat dibutuhkan untuk memulihkan beban yang dirasakan dalam diri.

Pengertian Stress

Menurut M. JD. Jordan, stress dapat diartikan sebagai perubahan dalam jiwa manusia, baik secara internal maupun eksternal. Sebagian ada juga yang menyebutkan bahwa stress adalah wujud dari reaksi tubuh manusia terhadap situasi dan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan mereka, serta menekan pada aspek kejiwaan hingga dapat mengancam seseorang.

Sebelumnya, telah dituliskan bahwa reaksi dan “kekuatan” setiap orang dalam menghadapi trauma serta stress ini berbeda-beda. Namun, meskipun begitu, kebanyakan orang yang mengalami stress justru masih mampu menghadapi atau bahkan lari atas situasi yang dialaminya tersebut. Apabila seseorang tersebut menghadapinya, maka akan terdapat dua kemungkinan yakni apakah dirinya berhasil melewati atau berakhir. Namun, apabila stress yang dialami tersebut terlalu berat bahkan dapat terjadi terus-terusan, maka dapat membuatnya mengalami gangguan fisik, perubahan psikologi (depresi), hingga perubahan sikap.

Semua orang, mulai dari usia anak-anak hingga lansia pasti mengalami masa-masa stress dalam hidupnya. Apalagi jika sedari kecil sudah mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, pasti lama-kelamaan akan menjadi trauma. Stress dapat dikategorikan menjadi beberapa hal berikut:

1) Stress Positif

Kondisi stress ternyata tidak selamanya berkenaan dengan hal-hal negatif lho… Ada juga stress positif yang menyebabkan perkembangan baik dalam jiwa manusia. Kategori stress ini sangat diperlukan keberadaanya sesekali dalam kehidupan seseorang, apabila seseorang tersebut ingin maju. Contohnya: menghadapi ujian dalam kehidupan, memulai hidup baru melalui perkawinan, memulai pekerjaan dengan lingkungan baru.

2) Stress Negatif

Apabila terdapat stress yang berkenaan dengan hal-hal positif, pastilah ada yang negatif juga. Dalam kategori stress ini diartikan sebagai reaksi dari kejiwaan seseorang yang menimbulkan kesengsaraan dan terus-menerus berpikiran negatif. Tanda-tanda dari kategori stress ini adalah perasaan tegang, gugup, ketakutan, sedih, dan kebingungan.

Biasanya, stress negatif ini muncul atas ketidakberhasilan rencana yang telah diatur sebelumnya. Misalnya: gagal dalam ujian, perceraian, kesehatan yang buruk, lingkungan yang terlalu toxic, dan lain-lain. Beberapa penyebab tersebut tentu saja berpengaruh pada kondisi kejiwaan manusia dan merasa tidak betah untuk bertahan hidup.

3) Stress Akibat Trauma

Sebelumnya, telah dituliskan bahwa semua orang, mulai dari usia anak-anak hingga lansia pasti mengalami masa-masa stress dalam hidupnya. Apalagi jika sedari kecil sudah mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, pasti lama-kelamaan akan menjadi trauma. Nah, kategori stress ini dapat fatal apabila terjadi pada manusia yang terlalu shock jiwanya, sebab dapat kehilangan kontrol atas dirinya sendiri hingga mengancam nyawa.

Maka dari itu, untuk kategori stress ini, lebih disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli psikolog profesional dan mendapatkan healing yang tepat.

Beli Buku di Gramedia

Pengertian Trauma

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), trauma adalah keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani. Semua orang tentu saja memiliki peristiwa traumatis yang terjadi dalam hidup mereka, tetapi cara menghadapi dan “melupakannya” juga berbeda-beda.

Apabila dilihat dari sudut pandang psikologi, trauma memiliki makna berupa pengalaman hidup yang dialami manusia. Selain itu, trauma ini dapat berupa luka atau sakit (shock) yang menyebabkan gangguan pada mental. Penyebab utama dari trauma adalah peristiwa yang sekiranya sangat membebani dan menyebabkan bekas yang mendalam. Nah, berikut hal-hal yang berkaitan dengan trauma, yakni:

1) Trauma biasanya terjadi secara tiba-tiba, bahkan tidak disangka dapat terjadi dalam hidupnya sehingga tentu saja mengganggu kejiwaan manusia.

2) Menyebabkan seseorang menjadi merasa tidak berdaya, tidak dapat tertolong, dan hilang kontrol atas dirinya sendiri.

3) Dapat mengancam nyawa seseorang.

Seseorang yang tengah mengalami trauma tentu saja memiliki ciri khas, bahkan ciri tersebut dapat dilihat secara fisik, kelakuan, emosi, hingga kognitif. Berikut beberapa ciri khas tersebut:

1) Ciri Fisik

Berupa pusing, sakit perut, jantung sering berdebar, tekanan darah tinggi, dan pernapasan menjadi lebih cepat.

2) Ciri Pada Tindakan (Kelakuan)

Nafsu makan berkurang, sering gugup, menjadi ceroboh, agresif, dan tiba-tiba menangis.

3) Ciri Pada Emosi

Sering merasa cemas, marah, sedih, frustrasi, gugup, gelisah, dan ketakutan.

4) Ciri Pada Kognitif

Berupa konsentrasi menjadi mudah terganggu, mudah pesimis, kehilangan rasa percaya diri, sulit mengambil keputusan meskipun dalam hal-hal kecil, banyak bermimpi, dan lain-lain.

Beli Buku di Gramedia

Sumber: 

Muhammad. (2020). TRAUMA HEALING OLEH CORPS BRIGADE PEMBANGUNAN (CBP). Tesis. Surabaya: UIN Sunan Ampel Surabaya.

Baca Juga!

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien