The Art of Dealing with People – Grameds, apa kamu pernah merasa sudah berbicara dengan jelas, tapi tetap tidak dipahami orang lain? Bisa jadi masalahnya bukan pada apa yang kamu katakan melainkan bagaimana cara kamu berurusan dengan manusia.
The Art of Dealing with People bukan sekadar bacaan praktis atau buku motivasi. Buku ini hadir untuk kamu yang masih kaku dalam berkomunikasi dan ingin berubah dengan cara yang benar. Dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, lingkungan sosial, maupun dunia kerja, kemampuan menjalin hubungan sering kali lebih menentukan daripada kepandaian teknis semata.
Apakah kamu pernah mengalami komunikasi yang terasa buntu, baik sama keluarga, teman, rekan kerja, atau bahkan pasangan?
Kamu tentu tidak asing dengan situasi ketika komunikasi terasa buntu itu karena semua orang pasti pernah mengalaminya. Kita pasti ingin tujuan tercapai, tetapi ego manusia di depan kita justru menjadi tembok yang sulit ditembus, ya. Di sinilah The Art of Dealing with People yang ditulis Les Giblin hadir sebagai bacaan yang membumi dan relevan, meski sudah lahir puluhan tahun lalu.
Les Giblin, sang penulis, membuka bukunya dengan pernyataan yang cukup menampar kesadaran pembaca. Setiap orang, pada dasarnya, jauh lebih tertarik pada dirinya sendiri dibandingkan pada orang lain. Kesadaran sederhana ini menjadi kunci utama untuk memahami mengapa banyak komunikasi gagal sejak awal.
Jika kamu penasaran, kamu bisa bawa pulang buku setebal 128 halaman ini dengan berkunjung ke situs gramedia.com. Nah, sekarang mari kita berkenalan dulu sama penulisnya, Grameds!
Table of Contents
Profil Penulis Les Giblin Si Master Komunikasi
Les Giblin dikenal sebagai seorang pelatih komunikasi dan pengembangan diri asal Amerika Serikat yang menimba ilmunya dari pengamatan langsung terhadap perilaku manusia, terutama dalah hubungan sosial dan profesional. Ia bukan hasil produk dari menara gading akademik, melainkan praktisi yang meramu pengalaman lapangan menjadi pendekatan komunikasi yang praktis, realistis, dan mudah diterapkan.
Lewat The Art of Dealing with People, Giblin memosisikan diri bukan sebagai pengkhotbah teori, tetapi sebagai pengamat yang membagikan temuan-temuan sederhana namun esensial. Tak heran, gagasannya banyak dipakai di dunia bisnis. Khususnya dalam penjualan dan negoisasi, karena ia melihat komunikasi sebagai keterampilan hidup, bukan sekadar kepiawaian berbicara di depan umum.
Sinopsis Buku The Art of Dealing with People
The Art of Dealing with People bermula dari satu gagasan utama: kesuksesan sangat dipengaruhi oleh kemampuan membina hubungan dengan orang lain. Les Giblin menyoroti fakta bahwa hampir setiap interaksi melibatkan ego manusia yang ingin diakui dan dihargai.
Giblin menjelaskan bahwa banyak konflik muncul karena kita terlalu fokus pada diri sendiri. Padahal, saat kita memahami apa yang diinginkan lawan bicara, jalan menuju tujuan akan terasa lebih terbuka. Buku ini mengajak pembaca menggeser sudut pandang dari sekadar seni berbicara menjadi seni benar-benar memahami.
Di dalamnya, pembaca menemukan cara menghadapi ego tanpa konfrontasi. Mulai dari hubungan sehari-hari dari dunia bisnis sampai penjualan, buku ini relevan untuk berbagai konteks dituturkan dengan bahasa sederhana dan tanpa kesan menggurui.
Kelebihan dan Kekurangan Buku The Art of Dealing with People
Kelebihan Buku The Art of Dealing with People
Buku karya Les Giblin ini menyoroti satu keterampilan mendasar yang sering diremehkan yaitu kemampuan berurusan dengan manusia. Bertumpu dari gagasan bahwa setiap orang pada dasarnya lebih tertarik pada dirinya sendiri, Giblin menunjukkan bahwa keberhasilan dalam hidup dan bisnis sangat ditentukan oleh cara kita memahami dan mengelola ego manusia. Mari kita bahas beberapa di antaranya!
- Penulis yang praktis dan berpengalaman
Giblin dikenal sebagai praktisi yang belajar dari pengalaman lapangan. Pendekatannya langsung pada inti persoalan yang tidak teoritis atau menggurui. Ia menekankan bahwa orang sukses memiliki satu kesamaan, yaitu menguasai seni membangun hubungan tanpa manipulasi, melainkan dengan memahami kebutuhan untuk diakui dan dihargai. Pengalaman tersebut membuat setiap gagasannya terasa realistis dan sekat dengan situasi yang benar-benar terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pembaca tidak hanya memahami konsepnya, tetapi juga membayangkan bagaimana menerapkannya dalam percakapan nyata.
- Pembahasan yang aplikatif
Melalui contoh-contoh sederhana, buku ini mengajarkan cara menghadapi ego tanpa konfrontasi, membuat lawan bicara merasa nyaman, serta membangun komunikasi yang efektif. Prinsip-prinsipnya relevan untuk berbagai situasi, mulai dari hubungan sehari-hari hingga dunia bisnis dan penjualan. Setiap pembahasan disusun secara sistematis sehingga pembaca dapat melihat hubungan antara sikap, respons, dan hasil yang diperoleh dalam interaksi sosial. Hal ini membuat buku ini tidak berhenti pada teori, tetapi benar-benar menjadi panduan praktis yang dapat langsung diuji dalam kehidupan.
- Ringkas namun berdampak
Denan bentuk yang praktis dan bahasa yang sederhana, buku ini terasa ringan tetapi punya sarat makna yang dalam. Isinya padat, tidak bertele-tele, dan layak dibaca ulang karena selalu menawarkan sudut pandang baru dalam interaksi manusia. Keringkasan ini justru menjadi kekuatan karena pembaca tidak dibebani istilah rumit atau penjelasan yang berputar-putar. Setiap halaman terasa efisien namun tetap menyimpan gagasan yang cukup kuat untuk direnugkan lebih jauh.
- Membantu membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi
Bagi pembaca yang merasa kurang percaya diri saat bergaul atau bernegoisasi, buku ini menjadi panduan yang membumi. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya soal kecerdasan, tetapi juga kemampuan menjalani hubungan yang sehat dan saling menghargai. Penjelasan yang lugas membantu pembaca memahami bahwa komunikasi bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang dapat dilatih secara sadar. Dengan memahami pola dasar interaksi manusia, rasa canggung perlahan dapat digantikan dengan sikap yang lebih tenang dan terarah.
Kekurangan Buku The Art of Dealing with People
- Tidak terlalu kompleks
Di sisi lain, pendekatan yang sangat sederhana membuat buku ini terasa kurang menantang bagi pembaca yang sudah lama mempelajari komunikasi atau psikologi. Beberapa gagasan mungkin terasa terlalu mendasar.
Selain itu, karena ditulis pada konteks sosial yang berbeda, buku ini belum banyak menyinggung dinamika komunikasi modern, seperti interaksi digital atau media sosial yang kini sangat dominan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan Moral dalam Buku The Art of Dealing with People
The Art of Dealing with People memberi tahu pentingnya empati dalam berkomunikasi. Buku ini mengajarkan bahwa memahami orang lain sering kali jauh lebih efektif daripada berusaha memenangkan percakapan. Les Giblin juga menekankan bahwa kesuksesan tidak selalu ditentukan oleh kecerdasan atau kepandaian berbicara, tetapi oleh kemampuan membuat orang lain merasa dihargai dan dimengerti.
Pesan moral lain yang kuat dari buku ini adalah kesadaran bahwa komunikasi bukan tentang siapa yang paling benar melainkan siapa yang paling mampu memahami. Buku ini mengajak kita agar sesekali menurunkan keinginan untuk membuktikan diri, lalu menggantinya dengan sikap mendengarkan yang lebih tulus. Dalam banyak situasi, konflik sebenarnya bukan lahir dari perbedaan pendapat, tetapi dari perasaan tidak dihargai.
Selain itu, Les Giblin menekankan bahwa kemampuan berurusan dengan orang adalah keterampilan yang bisa dilatih. Buku ini memberi harapan bahwa siapa pun, termasuk mereka yang merasa tidak pandai bergaul, tetap bisa membangun hubungan yang sehat jika mau belajar memahami ego manusia. Kepekaan, kesabaran, dan ketulusan diposisikan sebagai fondasi utama dalam setiap relasi, baik personal maupun profesional.
Lebih jauh lagi, buku ini mengingatkan bahwa setiap interaksi membawa konsekuensi jangka panjang. Cara kita memperlakukan orang hari ini dapat menentukan peluang, dukungan, dan kepercayaan yang kita terima di masa depan. Giblin menegaskan bahwa relasi yang baik tidak dibangun dalam satu percakapan besar, melainkan melalui sikap konsisten yang menunjukkan rasa hormat dan perhatian. Pesan moralnya sederhana namun kuat: jika ingin dipahami, belajarlah memahami terlebih dahulu. Jika ingin dihargai, dahulukan menghargai. Pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya soal pencapaian pribadi, tetapi juga tentang seberapa banyak hubungan yang dapat kita rawat dengan bijak.
Penutup
Pada akhirnya, buku ini mengingatkan kamu pada satu hal mendasar. Manusia ingin dipahami sebelum memahami orang lain. Dengan pendekatan yang sederhana, praktis, dan relevan, buku ini layak menjadi bacaan bagi siapa pun yang ingin membangun hubungan yang lebih sehat, baik dalam kehidupan pribadi maupun dunia profesional.
Sebagai penutup, buku ini dapat dibaca sebagai pengingat sederhana di tengah dunia yang semakin bising. Di balik ambisi, target, dan tuntutan hidup maka kemampuan memperlakukan manusia dengan hormat dan empati tetap menjadi kunci utama keberhasilan. Buku ini tidak mengajarkan cara menjadi paling hebat, tetapi cara menjadi cukup manusia untuk bisa diterima dan dipercaya oleh orang lain.
Jangan ragu bawa pulang dan peluk buku ini ya, Grameds! Gramedia selalu setia menemani kamu dan pembaca lain dalam proses #TumbuhBermakna lewat bacaan-bacaan cerdas.






