in ,

Review Buku Can I Talk to You?

Can I Talk to You – Kalau kamu bisa berbicara jujur pada anakmu suatu hari nanti, apa yang benar-benar ingin kamu sampaikan?

Can I Talk to You? Conversations with My Children: A Mother’s Reflection adalah karya Kania Annisa Anggiani, seorang influencer sekaligus pebisnis yang aktif membagikan pengalaman seputar pemberdayaan perempuan dan pengembangan diri. Buku ini sempat ramai diperbincangkan di dunia maya berkat muatan dan reflektifnya yang kuat dan emosional, bahkan berhasil terjual lebih dari 350 eksemplar hanya dalam 13 jam sejak peluncuran awal.

Karya ini menjadi potret jujur perjalanan batin sang penulis, merangkum emosi terdalam, proses spiritual, serta nilai-nilai hidup yang ia pegang. Lebih dari sekadar buku, tulisan ini juga mencerminkan upaya Kania dalam merawat anak batinnya dan keberaniannya untuk tetap berpihak pada sisi kemanusiaan. Diterbitkan oleh Studio Geometry pada 17 November 2025 dengan ketebalan 288 halaman, buku ini menawarkan refleksi yang hangat sekaligus menguggah bagi para pembacanya.

button cek gramedia com

Profil Kania Annisa Anggiani – Penulis Buku Can I Talk to You? Conversations with My Children: A Mother’s Reflection 

Kania Annisa Anggiani dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses mengembangkan brand Chic and Darling, sebuah lini produk yang menghadirkan desain unik dan berkarakter. Brand ini memproduksi berbagai barang seperti bantal, buku catatan, tas, perlengkapan rumah, hingga produk artisan berbahan pecah belah.

Lulusan Arts, Media Culture and Photomedia dari Edith Cowan University, Australia ini mengungkapkan bahwa Chic and Darling awalnya lahir sebagai media terapi pribadi, bukan semata-mata bisnis. Melalui PT Sasibra Multikreasi Nusantara, usaha yang bermula dari skala rumahan tersebut tumbuh menjadi bisnis yang mapan. Selain itu, Kania juga merupakan co-founder Dapur Ruben serta figur publik yang aktif menyuarakan isu self-love dan pemberdayaan perempuan. Ia terbuka membagikan pengalamannya menghadapi depresi pasca persalinan dan kerap menyebarkan pesan positif melalui media sosial, khususnya Instagram @kekekania.

Sinopsis Buku Can I Talk to You? Conversations with My Children: A Mother’s Reflection

“Apakah kita sungguh membesarkan anak-anak, atau justru mereka yang secara perlahan membentuk kita?”

Conversations with My Children: A Mother’s Reflection berisi kumpulan percakapan sederhana namun bermakna antara seorang ibu dan anak-anaknya. Dialog-dialog ini menghadirkan kebijaksanaan yang tak terduga, membuka kembali luka masa kecil, sekaligus merayakan proses bertumbuh bersama.

Dengan gaya yang jujur, lugas, dan kerap diselingi humor, buku ini menawarkan refleksi personal tentang bagaimana suara anak-anak mampu menjadi cermin bagi kehidupan batin orang dewasa. Sarat akan empati dan kedalaman emosional, buku ini ditujukan bagi siapa pun yang menghargai kejujuran, rasa ingin tahu, dan kekuatan percakapan yang tulus.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Can I Talk to You? Conversations with My Children: A Mother’s Reflection

Pros & Cons

Pros
  • Bagai percakapan personal
  • Media refleksi
  • Pendekatan humanis tanpa menghakimi
  • Buku yang layak dibaca berulang kali
Cons
  • Lebih cocok untuk pembaca dewasa
  • Tema yang relatif familiar

Kelebihan Buku Can I Talk to You? Conversations with My Children: A Mother’s Reflection

Buku Can I Talk to You? Conversations with My Children: A Mother’s Reflection karya Kania Annisa Anggiani ini memiliki banyak sekali kelebihan yang membuat buku ini wajib sekali untuk Grameds miliki dan baca.

  • Bagai percakapan personal

Buku ini menghadirkan suasana seperti dialog pribadi yang hangat dan menenangkan, seolah hadir di saat yang tepat ketika pembaca membutuhkannya. Melalui narasi yang lembut, pembaca diajak merefleksikan relasi dengan anak, orang tua, dan diri sendiri tanpa rasa dihakimi. Penulis menekankan makna kehadiran yang utuh, pentingnya mendengar, serta belas kasih sebagai fondasi hubungan yang sehat.

  • Media refleksi

Banyak bagian dalam buku ini terasa seperti cermin bagi pembacanya. Ada momen yang menyentuh dan ada pula yang terasa perih, namun semuanya disampaikan dengan ketulusan. Buku ini tidak bersikap menggurui, melainkan mengajak pembaca untuk merenung dan membiarkan perubahan tumbuh secara alami.

  • Pendekatan humanis tanpa menghakimi

Alih-alih menawarkan panduan menjadi orang tua atau pribadi yang ideal, buku ini memilih untuk hadir secara jujur dan manusiawi. Penulis tidak menuntut kesempurnaan, melainkan mengingatkan pentingnya hadir sepenuhnya dalam setiap peran yang dijalani.

  • Buku yang layak dibaca berulang kali

Buku ini bukan sekadar bacaan sekali selesai. Ia cocok untuk kembali dibuka di momen-momen hening, saat lelah, atau ketika emosi terasa berat. Isinya menjadi pengingat bahwa menjadi manusia apa adanya sudah cukup, dan kehadiran yang tulus adalah bentuk cinta paling bermakna.

Kekurangan Buku Can I Talk to You? Conversations with My Children: A Mother’s Reflection

Buku Can I Talk to You? Conversations with My Children: A Mother’s Reflection karya Kania Annisa Anggiani memang bacaan yang sangat menarik dengan segala kelebihannya, akan tetapi buku ini masih memiliki kekurangan sebagai berikut

  • Tema yang relatif familiar

Sebagian pembaca menilai bahwa pesan tentang parenting dan refleksi diri yang disampaikan tergolong umum dan mudah ditemukan di berbagai sumber daring. Meski demikian, kekuatan buku ini tetap terletak pada cara penyampaiannya yang personal, jujur, dan sarat kedekatan emosional.

  • Lebih cocok untuk pembaca dewasa

Walaupun dikemas dalam bentuk percakapan yang tampak ringan, beberapa bagian refleksi dalam buku ini mengandung kedalaman emosi yang cukup kuat. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar buku ini dibaca oleh pembaca dewasa yang siap menyelami lapisan perasaan dan pengalaman yang lebih kompleks.

Mengapa Percakapan Orang Tua dengan Anak itu Penting?

Percakapan antara orang tua dan anak bukan sekadar rutinitas harian, melainkan fondasi utama dalam membentuk karakter serta kesehatan mental anak. Kurangnya komunikasi dapat berdampak serius, mulai dari keterlambatan bicara, rendahnya rasa percaya diri, hingga kesulitan membangun relasi sosial saat dewasa. Berbagai riset hingga akhir tahun 2025 menunjukkan bahwa dialog yang hangat dan konsisten memegang peran krusial dalam tumbuh kembang anak.

  • Dampak pada Kecerdasan Intelegensi (IQ)

Interaksi verbal yang aktif sejak usia dini terbukti mampu merangsang perkembangan saraf otak. Balita yang sering diajak berbicara cenderung memiliki kemampuan kognitif dan kecerdasan intelektual yang berkembang lebih optimal dibandingkan anak yang minim stimulasi percakapan.

  • Kesehatan Mental dan Kesepian

Pada tahun 2025, sekitar delapan dari sepuluh orang tua dan anak menganggap kesepian serta isolasi sosial sebagai ancaman utama bagi kesehatan mental generasi muda. Percakapan yang terbuka dan penuh empati menjadi kunci untuk membantu anak merasa didengar, dipahami, dan tidak sendirian.

  • Fenomena Fatherless

Data menunjukkan bahwa sekitar 20,9 persen remaja di Indonesia mengalami kondisi fatherless dalam kehidupan sehari-hari. Ketidakhadiran ini bukan disebabkan oleh kehilangan secara fisik, melainkan oleh minimnya komunikasi akibat kesibukan atau kurangnya keterlibatan emosional dari sosok ayah.

  • Kecerdasan Emosional (EQ)

Anak yang terbiasa diajak berbicara tentang perasaan dan pengalaman emosionalnya cenderung memiliki kecerdasan emosional yang lebih baik. Mereka lebih mampu mengelola stres, mengekspresikan emosi dengan sehat, dan tidak mudah meluapkannya secara berlebihan saat menghadapi masalah.

  • Memberi Rasa Aman

Komunikasi yang efektif tidak hanya bergantung pada kata-kata, tetapi juga pada bahasa tubuh. Saat orang tua menyesuaikan posisi tubuh sejajar dengan anak, seperti duduk atau berjongkok setinggi mata, anak akan merasakan rasa aman dan penerimaan emosional yang lebih kuat.

Penutup

Can I Talk to You? Conversations with My Children: A Mother’s Reflection karya Kania Annisa Anggiani menghadirkan rangkaian percakapan sederhana antara seorang ibu dan anak-anaknya yang perlahan membuka lapisan terdalam perasaan manusia. Dari dialog yang tampak ringan, Grameds akan diajak untuk menemukan kebijaksanaan yang tak terduga, menghadapi kembali luka masa kecil yang kerap terabaikan, serta memahami makna pertumbuhan yang sesungguhnya. Disampaikan dengan kejujuran, kehangatan, dan sentuhan humor yang alami, buku ini terasa dekat dan manusiawi.

Lebih dari sekadar kumpulan cerita, buku ini menjadi ruang refleksi yang menguatkan, di mana suara anak-anak hadir sebagai cermin yang jujur bagi dunia batin orang dewasa. Setiap halaman akan mengajak Grameds untuk berhenti sejenak, mendengarkan, dan berdialog dengan diri sendiri. Buku ini tidak hanya menawarkan jawaban instan saja, tetapi meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang terus bergema lama setelah halaman terakhir ditutup, membuat siapa pun ingin kembali membacanya dan menemukan makna baru di setiap pertemuan dengan buku ini.

Bagi kamu yang ingin segera membaca buku ini, kamu bisa mendapatkannya di Gramedia.com! Sebagai teman untuk menemanimu #TumbuhBermakna, kami selalu siap menyediakan informasi terbaik dan terlengkap untuk kamu. Selamat membaca!

 

Rekomendasi Buku

1. How to Talk So Kids Will Listen & Listen So Kids Will Talk

How to Talk So Kids Will Listen & Listen So Kids Will Talk

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Adele Faber dan Elaine Mazlish mengajak kita untuk mendengarkan dengan empati, mengungkapkan perasaan dengan jujur, dan menyelesaikan konflik tanpa pertengkaran melalui enam keterampilan:

  • Mengakui perasaan
  • Mendorong kemandirian
  • Melibatkan kerja sama
  • Memberi pujian
  • Pengganti hukuman
  • Membebaskan anak dari peran

Dengan pendekatan yang mudah dipahami dan beragam contoh nyata, buku ini membantu Anda membangun komunikasi yang kuat dan hubungan yang harmonis dengan anak Anda.

2. Mindsets for Parents

Mindsets for Parents

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Buku ini bertujuan menyediakan peta jalan dalam mengembangkan lingkungan rumah dengan mindset tumbuh (pola pikir berkembang). Ditulis dengan gaya percakapan dan disertai contoh-contoh nyata, buku ini menyajikan alat untuk menilai mindset orangtua dan anak secara informal. Pengarang memaparkan data penelitian otak mutakhir, aneka contoh, dan petunjuk baru untuk refleksi diri, serta strategi dan sumber daya yang layak digunakan bersama anak-anak dari segala usia. Edisi terbaru ini juga dirancang untuk mendorong kelompok orang tua berpikir dan berkolaborasi guna memaksimalkan strategi-strategi penting ini.

3. Parenting the Fearless Child

Parenting the Fearless Child

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Jika menengok ke masa kecil, dulu kita pasti pernah merasa takut-entah itu gelap, suara keras, ataupun hal-hal baru yang belum pernah kita lakukan. Kini, ketika sudah menjadi orang tua, kemungkinan besar anak juga merasakan yang pernah kita rasakan dulu merasa takut saat mencoba hal-hal baru. Yang menjadi kekhawatiran para orang tua adalah rasa takut bisa terasa begitu besar hingga membatasi langkah dan keberanian anak untuk mencoba. Lalu, apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua?

 

 

Written by Laura Saraswati