in

Puisi Untuk Ayah: Contoh dan Cara Membuatnya

Pixabay.com

Puisi Untuk Ayah – Apakah Grameds menyukai puisi? Tepat sekali, puisi adalah salah satu bentuk syair atau kata-kata indah yang bisa menunjukan kasih sayang untuk orang yang terkasih. Salah satunya puisi untuk ayah yang cocok Grameds berikan saat hari ayah atau menunjukkan cinta dan kasih kepada sang ayah kapan saja. Selain indah puisi juga memiliki manfaat dan fungsi bagi emosi dan ekspresi seseorang.

Jika Grameds ingin mencoba berekspresi dengan puisi, maka bisa simak penjelasan tentang puisi untuk ayah berikut ini, mulai dari mengenal apa itu puisi, contoh puisi untuk ayah dan puisi-puisi karya sastrawan Indonesia tentang ayah:

Mengenal Puisi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi adalah jenis sastra yang bahasanya dibatasi oleh irama, mantra, pantun, dan susunan baris dan klausa. Puisi biasanya berisi ungkapan perasaan, pengalaman, dan kesan penulisnya, yang ditulis dengan bahasa yang baik agar berima dan mudah dibaca.

Beberapa ahli di bidang sastra menjelaskan pentingnya puisi. Salah satunya adalah H.B.Jassin yang mengungkapkan bahwa puisi adalah karya sastra yang diucapkan secara emosional dan mengandung gagasan, pemikiran, dan reaksi terhadap hal atau peristiwa tertentu.

Smaldi juga menyatakan bahwa puisi adalah karya sastra yang menggunakan bahasa yang diringkas, dirangkum, dan diberi irama nada sehingga memiliki makna kiasan atau imajinatif. James Reeves juga memperkenalkan pentingnya puisi. Menurut James, puisi adalah ekspresi linguistik yang kaya dan menarik.

Selain Smaldi, HB Jassin, dan James Reeves, pakar sastra lainnya, Harman Waryo, mengatakan bahwa puisi adalah karya sastra yang secara imajinatif mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair, bahasa dalam struktur fisik, mengklaim terstruktur tergantung pada kekuatan di dalam strukturnya.

Dari pandangan ahli dan KBBI, dapat simpulkan bahwa puisi adalah karya sastra yang berisi tentang reaksi dan pendapat penyair tentang berbagai hal. Ide-ide penyair kemudian diungkapkan dalam bahasa yang halus, dengan struktur internal dan fisik khas penyair.

Pikiran penyair ditulis dalam berbagai kata-kata indah untuk memikat pembaca. Pada dasarnya, karya puisi ini memiliki nilai estetika tersendiri yang berbeda-beda dari setiap penyairnya. Jadi penyair biasanya memiliki karakteristik karya atau caranya sendiri dalam menulis karya puisi, mulai darinya bahasa, tema, sudut pandang, dan sebagainya.

Saat menulis puisi, kita perlu merumuskan ide, judul, dan sebagainya. Ada dua jenis puisi umum, yakni puisi kuno dan puisi modern. Jenis puisi kuno berupa Pantun, Puisi, Tulliven, Mantra, Gurindam. Jenis puisi modern muncul dalam bentuk puisi naratif, puisi liris, dan puisi deskriptif. Dalam praktiknya, puisi modern ini biasa disebut dengan istilah sajak bebas karena bentuk atau strukturnya yang tidak terikat dengan rima atau jumlah baris layaknya pantun.

Puisi kuno, atau mantra, adalah jenis puisi yang dibuat berdasarkan kepercayaan animisme, biasanya dikutip dalam ritual budaya dan menggunakan kata-kata yang dapat membangkitkan efek suara magis. Pantun adalah jenis puisi kuno, dengan setiap baris terdiri dari empat baris, dua baris sampiran, dan dua baris isi. Konsep dasarnya, pantun terdiri dari 4 baris atau lebih sampiran dan isinya dan selalu datar, yakni dua baris adalah sampiran dan dua baris isi.

Puisi memiliki rangkaian empat syair dan sajak, yang isinya menceritakan sebuah kisah. Gurindam adalah jenis puisi kuno yang terdiri dari dua baris dengan ritme yang sama, dengan isi di baris pertama dan penyebabnya di baris kedua.

Efeknya disertakan dari puisi modern, atau puisi naratif, adalah puisi yang digunakan untuk menceritakan sebuah kisah yang dapat dibagi menjadi tiga bagian, yakni epik, roman, dan balada. Jenis puisi modern yang kedua adalah puisi liris yang digunakan untuk mengungkapkan pikiran penyair, dan jenis puisi modern yang terakhir adalah puisi deskriptif, yaitu puisi yang mengungkapkan pendapat dan kesan penyair.

Contoh Puisi Untuk Ayah

Puisi Untuk Ayah

Setelah mengetahui tentang puisi di atas, Grameds juga bisa menggunakan referensi contoh puisi untuk ayah berikut ini:

1. Teladan Jiwaku

Ayah
Kamu yang terbaik
Seseorang yang selalu berbicara tentang apa adanya
Salah ya Salah
Keterbukaanmu lebih dari sekedar ayah

Aku lahir dari tulang rusukmu
Aku bertumbuh sekarang belajar dari sikapmu
Dan ketegasan dirimu
Bekas lukanya terlihat seperti ini
Disiplin dari waktu ke waktu

Tolong beritahu aku
Betapa pentingnya waktu
Penting juga untuk menghukum yang salah
Terlepas darimu aku belajar menjadi ayah yang mandiri
Dengan selalu mengingat semua nasehat yang kamu berikan

Terlahir dengan kejahatan dari lubuk hatiku
Maaf ayah, aku tahu rasanya menjadi pria dewasa yang harus bekerja untuk masa depan
Bertemulah besok
Jangan tersesat

2. Rindu Hujan

Setetes demi setetes Air surgawi membasuh wajahku. Tanah basah dan kering. Biji-bijian pecah ketika menyentuh tanah. Setiap tetes mengandung kerinduan yang tersembunyi. Aku tidak bisa menghentikan kerinduanku untuk menjadi lebih buruk dan lebih buruk. Aku ingin menuangkannya segera, atau katakan saja. Mataku melayang ke masa laluku. Dimana aku melompat ke punggungmu yang kuat tanpa ragu-ragu. Di mana meminta mainan dengan suara keras

Atau hanya merengek untuk membeli permen lolipop. Senyum dalam fantasi. Masih jelas dalam ingatanku bagaimana bentuk garis tegas rahangmu yang menjadikan engkau semakin tampan. Masih pula ku rekam suara tegas namun penuh kasih. Begitu pula dengan kekarnya tanganmu yang lincah menggendongku atau sekedar menaikkan ku pada kursi tinggi. Aku mengingat kembali kecup bibirmu di pipiku. Terasa hangat hingga hatiku bergetar.

gramedia digital

gramedia digital

Berlangganan Gramedia Digital

Baca SEMUA koleksi buku, novel terbaru, majalah dan koran yang ada di Gramedia Digital SEPUASNYA. Konten dapat diakses melalui 2 perangkat yang berbeda.

Rp. 89.000 / Bulan

gramedia digital

Aku selalu tertawa ketika kumis tipis menghiasi hidungmu

Dan mulutmu menyentuh pipiku. Membuat aku tertawa. Aku ingat membelai tanganku di antara rambutku

Bawa aku ke alam mimpi. aku juga ingat pelukan hangatmu memeluk semua kesedihanku. Ketika saya jatuh, saya melihat sinar kekhawatiran di mata saya. Dengan lembut Anda mengucapkan kata-kata yang membuat saya lebih kuat. Kamu mengirim pesan melalui semua kata. Kamu bilang aku tidak bisa menjadi cengeng. Kau bilang aku harus menjadi anak yang kuat. Ini semua membuatku lebih kuat, bahkan jika kamu terlihat liar.

Ayah…
Aku memiliki kerinduan untuk ribuan tetes hujan. Jangan khawatir, aku baik-baik saja di sini. Kamu tidak perlu khawatir, aku selalu di sini dan tertawa. Ayah, aku mempercayaimu dengan kerinduan untuk hujan yang bermanfaat ini.

Hubungi ayah kalian segera untuk berbagi cerita atau berita. Setidaknya dapat mendengar suaranya, bahkan jika kamu jauh darinya. Rekam tawamu.

Aku tahu ketika kita berbicara di telepon
Matamu bersinar dan senyummu selalu bersinar. Karena aku sama.
Ayah… Rindu ini diantara derasnya hujan. Semoga tetesnya menyampaikan padamu.

Ayah…
Sayangku sebanyak tetes hujan ini. Tak terhitung.

Ayah…
Aku sayang ayah.

3. Ayah Tinggal Disini, di Hatiku

Sudah lama ayahku meninggalkanku
Aku merasa kamu masih disini
Ini mimpi karena kamu selalu dalam tidurku
Tahukah kamu bahwa mimpi-mimpi ini selalu mengingatkanku ketika kamu masih di sini?

Bawa aku bersamamu setiap hari
Aku ingat saat engkau mengusap kepalaku
Saya ingat ketika engkau memukulku ketika aku sedang bercanda
Tolong beritahu saya jika apa yang saya lakukan salah

Berikan saran untuk membantuku menjadi anak yang baik
Selalu memberikan apa yang aku minta
Sekarang semuanya tinggal kenangan, kenangan terindah yang pernah aku rasakan dalam hidupku.

Tapi percayalah, hatimu selalu di hatiku
Kau jauh dari alam makmur ini, tapi hatimu ada di hati orang-orang yang mencintaimu ayah

Puisi Untuk Ayah

4. Dimanakah Cinta?

Ayah
Tolong dengarkan satu kata dari hatiku
Dengarkan tangisan hatiku
Dengarkan laguku
Apa yang aku ciptakan untukmu

Ayah
Aku merindukanmu
Aku merindukan keberadaanmu
Aku merindukan cintamu
Aku rindu pelukanmu yang menghangatkan kesedihanku

Ayah
Sekarang kamu jauh dariku
Dimana kamu jatuh cinta
Apa yang saya rasakan
Apakah saya tidak berguna

Ayah
Temani jiwaku yang kesepian
Tuhan mendekat untuk menguatkan semangatku sampai akhir
Aku memberimu diri yang lemah ini
Hati-hati, menjadilah lebih kuat 

Contoh Puisi Tentang Ayah Karya Sastrawan Indonesia

Selain contoh puisi untuk ayah diatas, Grameds bisa menggunakan referensi puisi tentang ayah karya sastrawan-sastrawan Indonesia yang terkenal seperti berikut ini:

1. Seorang Ayah yang Bijak (Karya Edijushanan)

Seorang ayah yang bijak
mendongeng untuk anak-anaknya
mengantar tidur malam: Adalah
suami-istri yang miskin, hidup
dengan kemiskinannya.

Setiap hari yang suami pergi
ke sungai mencari ikan, dan
yang istri pergi ke hutan
mencari kayu bakar. Sore harinya
yang suami pulang dengan membawa
ikan banyak. Di tengah jalan, di
sebuah kampung, ikannya yang besar-
besar dijualnya. Lalu dibelikan
setengah liter beras.

Yang istri pulang dari hutan
dengan membawa seikat besar dan
seikat kecil kayu bakar; yang
ikatan besar dijualnya di warung kopi.
Lalu dibelikan setengah liter beras.

Dalam mengakhiri dongengnya sang ayah
bertanya kepada anak-anaknya: “Tahukah
kalian apa makna cerita itu?” Tidak ada
jawaban; anak-anaknya sudah tidur semua.
Pertanyaan itu kembali berputar di benak
sang ayah: itukah hidup?

Ah untunglah anak-anak sudah tidur
semua. Mereka tak memikirkan pertanyaan itu,
pikirnya. Lalu ia mengepulkan asap rokok kawung;
bergulung-gulung melingkar-lingkar. Ia tersenyum,
seperti menemukan yang semua: hidup itu lingkaran?

Sumber: Horison (Desember, 1976)

2. Di Kuburan Ayah (Karya Slamet Sukirnanto)

Berteduh pohon kamboja berkembang
Tinggalmu yang kekal
Tak kenal lagi senyummu
Memikat hatiku
Ketika masih kanak.

Bukan segunduk tanah
Kupuja. Kerna diharamkan agama
Adalah hidupmu
Mengenang di kalbu!

(1963)

3. Buat H.J. dan P.G (Karya Goenawan Mohamad)

Seperti sebuah makam yang tenang:
dua leli paskah
disematkan
pada mawar hitam.

Seperti kelebat jam yang datang:
kupu-kupu putih
melenyapkan putih
ke loteng lengang.

Seperti sebuah bel yang riang,
kabar itu datang ke ruang
telah kuketok kawat,
“Bapak, saya agak tiba terlambat.”

Maka aku berbisik hati-hati
kepada malaikat yang tiba pagi,
“Hari ini aku
belum ingin mati.”

“Sebab anakku
akan terbang kemari
dari rumahnya yang jauh
di sebuah negeri yang teduh.”

Lalu kutunjukkan potretmu: 1985
ketika kau senyum
pada stang sepeda
di depan rumpun asalea.

Dan malaikat itu tertawa.
Adakah yang lebih sakral, anakku,
pada potret-potret lama
kecuali tempat yang kita kenal
saat-saat yang tak pernah baka?

(1990)

Puisi Untuk Ayah

4. Tuhan dan Ayahku (Karya Nersalya Renata)

satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku.
ia selalu mencari tuhan-tuhan lain.
tuhan yang bisa mengabulkan permohonannya
dalam semalam. tuhan yang tak perlu dirayu
dengan doa-doa.

satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku.
ia terus mencari. tuhan yang bisa menjaganya
dan memakmurkannya dalam sekejap.
tuhan yang melindunginya dari segala niat buruk
orang-orang berhati buruk.

satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku.
ia menemukan tuhan yang lain. tuhan yang bisa
disematkan di jari manisnya. tuhan yang ditanam
di pojok-pojok rumah. tuhan yang dapat dilarutkan
dalam minuman dan dicampur dalam makanan
untuk mengarahkan hati dan pikiran
sesuai keinginannya.
tuhan yang bisa menumbuhkan pohon uang.

satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku. ia bosan
berdoa. perjalanan doa menjadi nyata terlalu lama.

satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku.
ia menemukan tuhan yang lain.
seluruh keinginannya terwujud
dalam waktu singkat. aman. makmur. tanpa pesaing.
tanpa pengacau. tak ada yang membangkang.
semua jalan lancar. tak ada jalan buntu.
tak ada kemacetan. kharismanya berkilau.
senyumnya semakin lebar. ia tidur sangat nyenyak.
tanpa doa. tuhan yang baru tak perlu doa.
tak perlu ia jenguk lima kali sehari.
ia mimpi begitu indah.
mimpi menyembunyikan ibu di balik pohon.
lalu ia terbang bersama bidadari.

Jakarta, 2008

5. Ayah dan Burung-burung (Karya Radial Tanjung Banua)

Aku terbayang ayah yang melangkah di pematang
sawah kenangan. Sesekali langkahnya tertegun
ngungun bersama embun. Kadang ayah
bagai orang-orangan dari jerami
di tengah menguning padi. Kusentakkan tali rindu
di antara kami. Maka tersintaklah ayah
bersama riuh burung-burung yang berlepasan
tak kembali lagi.

Yogyakarta, 2011

6. Setiap Ayah (Karya Alex R. Nainggolan)

di tubuh setiap ayah
akan ada jalan pulang
rumah yang bagai selimut
dari kepala yang kusut

telah ku gali-gali
tangis yang kecut
dan terduduk di sudut
segala sesal yang sampai sekarang
hanya tertunduk

maka aku ingat ayah
setiap percakapan
yang abai kutafsirkan
lalu ayah mengerubung
di setiap hari
bahkan bertahun setelah dirinya pergi

di mata setiap ayah
selalu ada kegembiraan
meski hanya sebentar
bertemu
atau percakapan yang biasa saja
dengan anaknya

(2016)

7. Asu (Karya Joko Pinurbo)

Di jalan kecil menuju kuburan Ayah di atas bukit
saya berpapasan dengan anjing besar
yang melaju dari arah yang saya tuju.
Matanya merah. Tatapannya yang kidal
membuat saya mundur beberapa jengkal.

Gawat. Sebulan terakhir ini sudah banyak orang
menjadi korban gigit anjing gila.
Mereka diserang demam berkepanjangan
bahkan ada yang sampai kesurupan.
Di saat yang membahayakan itu saya teringat Ayah.
Dulu saya sering menemani Ayah menulis.
Sesekali Ayah terlihat kesal, memukul-mukul
mesin ketiknya dan mengumpat, “Asu!”
Kali lain, saat menemukan puisi bagus di koran,
Ayah tersenyum senang dan berseru, “Asu!”
Saat bertemu temannya di jalan,
Ayah dan temannya dengan tangkas bertukar asu.

Pernah saya bertanya, “Asu itu apa, Yah?”
“Asu itu anjing yang baik hati,” jawab Ayah.
Kemudian ganti saya ditanya,
“Coba, menurut kamu, asu itu apa?”
“Asu itu anjing yang suka minum susu,” jawab saya.

Sementara saya melangkah mundur,
anjing itu maju terus dengan nyalang.
Demi Ayah, saya ucapkan salam, “Selamat sore, asu.”
Ia kaget. Saya ulangi salam saya, “Selamat sore, su!”
Anjing itu pun minggir, menyilakan saya lanjut jalan.
Dari belakang sana terdengar teriakan,
“Tolong, tolong! Anjing, anjing!”

(2011)

Puisi Untuk Ayah

Nah, itulah penjelasan tentang puisi untuk ayah. Jika Grameds membutuhkan referensi lebih banyak tentang puisi, maka bisa kunjungi koleksi buku Gramedia di www.gramedia.com, selamat belajar. #SahabatTanpabatas.

BACA JUGA:

  1. Pengertian Puisi: Jenis-Jenis, Contoh, dan Cara Membuat Puisi 
  2. Review Berbagai Puisi Tentang Ibu Beserta Contohnya 
  3. Kumpulan Contoh Puisi Bertema Keluarga Penuh Makna 
  4. Contoh Puisi Anak Sekolah SD, SMP, dan SMA Berbagai Tema 
  5. List Best Seller Buku Puisi

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Ananda