in

Lirik Assubhubada Latin dan Biografi Singkat Pengarangnya

Assubhubada Lirik – Semua agama di dunia ini pasti memiliki doa masing-masing yang dibaca secara terus-menerus oleh penganutnya. Tak terkecuali agama Islam yang memiliki shalawat sebagai lantunan doa pujian yang ditujukan kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Bacaan shalawat ini ada banyak jenisnya yang dapat dibaca dalam bahasa Arab dan latin. Salah satu shalawat yang terkenal dan sering dilantunkan oleh umat muslim terutama di acara-acara keagamaan adalah shalat Assubhubada.

Keberadaan shalawat ini bahkan semakin santer dibicarakan setelah dibawakan kembali oleh seorang santri muda bernama Gus Azmi.

Lantas, bagaimana sih lirik dari sholawat Assubhubada ini, baik secara latin, bahasa Arab, maupun terjemahan Bahasa Indonesia? Nah, supaya Grameds memahaminya, yuk simak ulasan berikut ini!

Lirik Assubhubada
https://squarespace-cdn.com/

Apa Itu Assubhubada?

Membaca sholawat adalah salah satu ibadah yang wajib dilaksanakan oleh seluruh umat muslim yang taat kepada Allah SWT. Salah satu sholawat yang wajib dilantunkan adalah Assubhubada, ciptaan Hasan ibn Tsabit selaku sahabat Nabi Muhammad SAW. Sederhananya, Assubhubada ini adalah lantunan doa yang berupa pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sekaligus menjadi bentuk seni pertunjukan Islami. Mengapa disebut sebagai seni pertunjukan Islami? Sebab ketika melantunkannya, biasanya akan dilakukan oleh orang banyak dan diiringi instrumen musik membranophone.

Di zaman yang serba modern seperti saat ini, keberadaan sholawat Assubhubada tentu saja tidak boleh dilupakan. Untuk itulah, banyak grup sholawat di seluruh Nusantara yang tetap melestarikan sholawat ini dan sekaligus menyampaikan dakwah Islami melalui seni suara serta musik.

Salah satu contoh grup sholawat yang mempopulerkan kembali sholawat Assubhubada ini adalah grup Syubbanul Muslimin dengan anggotanya yang terkenal Gus Azmi.

Sebagai role-model anak muda, Gus Azmi yang selaku santri muda ini membawa dampak positif kepada generasi muda untuk melantunkan kembali doa sholawat Assubhubada ini. Penyanyi religi Maher Zain pun juga turut mempopulerkan sholawat Assubhubada ini di penjuru dunia lho…

Lirik Assubhubada Latin

Assubhubada min thol’atihi

Wallai lu daja min wafratihi (2x)

Allah… Allah Allah… Allah… Allah Allah… (2x)

*****

Assubhubada min thol’atihi..

Wallai lu daja min wafratihi.. (2x)

Allah… Allah Allah… Allah… Allah Allah… (2x)

*****

Faqarrusula, Fadhlaw waala

Wahada, subula bidila latihi

*****

Kanzul karomi – maulaanniami – haa dil umami

Haa dil umami bisyarii atihi bisyarii atihi (3x)

*****

Allah… Allah Allah… Allah… Allah Allah… (2x)

Allah Allah Allah… Allah… Allah… Ya Allah...

*****

Assubhubada min thol’atihi…

Wallai lu daja min wafratihi… (2x)

Allah… Allah Allah… Allah… Allah Allah… (2x)

*****

Azkan nasabi – a’la hasabi kullal arobi

Kullal arobi fii khidmatihi – fii khidmatihi

*****

Sa’tis syajaru, nathqol hajaru 

Syuqqal qomaru, bisyari atihiii

*****

Jibrilu ataa, lailal isroii

Warobbu da’a hu li hadhrotihii 

*****

Allah… Allah Allah… Allah… Allah Allah… (2x)

Allah Allah Allah… Allah… Allah… Ya Allah...

*****

Assubhubada min thol’atihi…

Wallai lu daja min wafratihi.. (2x)

Allah… Allah Allah… Allah.. Allah Allah… (2x)

*****

Lirik Assubhubada Bahasa Arab

Lirik Assubhubada

Lirik Assubhubada Terjemahan Bahasa Indonesia

Assubhubada min thol’atihi

(Cahaya fajar adalah dari pancaran wajahnya, )

Wallai lu daja min wafratihi (2x)

(kilauan malam adalah dari secercah rambutnya)

Allah… Allah Allah… Allah… Allah Allah… (2x)

*****

Assubhubada min thol’atihi..

(Cahaya fajar adalah dari pancaran wajahnya, )

Wallai lu daja min wafratihi.. (2x)

(kilauan malam adalah dari secercah rambutnya)

Allah… Allah Allah… Allah… Allah Allah… (2x)

*****

Faqarrusula, Fadhlaw waala

(Nabi Muhammad keutamaannya melebihi para Rasul)

Wahada, subula bidila latihi

menunjukkan jalan (kebenaran) dengan petunjuknya

*****

Kanzul karomi – maulaanniami – haa dil umami

(Ia adalah harta kasih karunia, harta rahmat)

Haa dil umami bisyarii atihi bisyarii atihi (3x)

(petunjuk umat dengan syariat-Nya (hukum Islam))

*****

Allah… Allah Allah… Allah… Allah Allah… (2x)

Allah Allah Allah… Allah… Allah… Ya Allah...

*****

Assubhubada min thol’atihi..

(Cahaya fajar adalah dari pancaran wajahnya, )

Wallai lu daja min wafratihi.. (2x)

(kilauan malam adalah dari secercah rambutnya)

Allah… Allah Allah… Allah… Allah Allah… (2x)

*****

Azkan nasabi – a’la hasabi kullal arobi

(Paling suci nasab keturunannya, paling tinggi derajat nenek moyangnya)

Kullal arobi fii khidmatihi – fii khidmatihi

(semua orang Arab berkhidmah kepadanya)

*****

Sa’tis syajaru, nathqol hajaru 

(Pohon mulai berjalan, batu mulai berbicara)

Syuqqal qomaru, bisyari atihiii

(bulan terbelah menjadi dua dengan perintahnya)

*****

Jibrilu ataa, lailal isroii

(Malaikat Jibril mendatanginya saat malam isra’)

Warobbu da’a hu li hadhrotihii 

(Allah memanggilnya untuk menghadap kepada-Nya)

*****

Allah… Allah Allah… Allah… Allah Allah… (2x)

Allah Allah Allah… Allah… Allah… Ya Allah...

*****

Assubhubada min thol’atihi..

(Cahaya fajar adalah dari pancaran wajahnya, )

Wallai lu daja min wafratihi.. (2x)

(kilauan malam adalah dari secercah rambutnya)

Allah… Allah Allah… Allah… Allah Allah… (2x)

Mengenal Hasan bin Tsabit, Pencipta Sholawat Assubhubada

Menurut buku berjudul Sastra Arab: Masa Jahiliyah dan Islam, Abu Walid Hasan bin Tsabit al Anshary atau yang kerap disebut sebagai Hasan bin Tsabit ini adalah salah satu pujangga terkenal di masa awal Islam. Hasan bin Tsabit selain menjadi seorang penyair, juga menjadi sahabat Nabi Muhammad SAW dan termasuk Bani Najjar selaku penduduk Madinah.

Hasan bin Tsabit dianggap berkemampuan hebat dalam hal sastra puisi karena memang berasal dari kaum yang terkenal akan cita rasa puisi bagus. Itulah mengapa, Beliau dielu-elukan sebagai pujangga puisi terbaik yang hidup di dua masa yakni Jahiliyah dan Islam.

Selama hidupnya, nama Hasan bin Tsabit ini memang telah dikenal oleh banyak orang dan bertemu dengan penyair-penyair hebat lainnya. Kala itu, Hasan bin Tsabit paling kerap memuja-muji dan membuat puisi untuk keluarga Jafr dari raja Ghassan karena hubungan kerabat yang dimiliki dengan penduduk Yatsrib (Madinah).

Nah, setelah Rasulullah SAW melakukan hijrah ke Madinah, orang-orang Anshor pun masuk ke agama Allah SWT ini. Begitu pula dengan Hasan bin Tsabit.

Setelah menjadi umat muslim, tentu saja Hasan bin Tsabit membela Islam, sebagaimana orang lain yang membelanya dengan pedang. Yap, segala perkataan dan syair Hasan bin Tsabit sebenarnya mengandung hinaan dan kemarahan terutama kepada para musuh-musuh Nabi. Itu semua dilakukan demi membela nama Islam sekaligus Rasulullah SAW.

Semua orang mengakui kemampuan bersyair yang dimiliki oleh Hasan bin Tsabit, tak terkecuali Nabi Muhammad SAW dan istrinya, Aisyah. Dilansir dari alif.id, pada zaman dahulu, masyarakat Quraish memang sering menghancurkan personal Nabi Muhammad SAW dengan penyair-penyairnya, sebut saja ada Abdullah bin al-Zibakra, Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muthalib, Amr bin al-Ash, Dhirar bin al-Khattab.

Melihat tingkah laku para masyarakat Quraish yang terus-menerus mencaci Nabi Muhammad SAW dengan syair, kemudian Ali bin Abi Thalib selaku sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW pun hendak membalas cacian tersebut. Namun sebelum itu, Beliau meminta izin terlebih dahulu kepada Rasulullah SAW dan ternyata Rasulullah SAW tidak memberinya izin. Lalu, Ali bin Abi Thalib pun berkata, “Apakah kita hanya akan menolong nabi dengan pedang-pedang kita? apakah kita tidak mau menolong beliau dengan lisan-lisan kita?”

Tiba-tiba saja dari kejauhan, muncul lelaki bernama Hasan bin Tsabit dan berkata “Biar aku saja yang melakukan itu (membela nabi dengan lisan)”. Namun, Rasulullah SAW masih keberatan jika Hasan bin Tsabit melakukan upaya “pembalasan” kepada kaum kafir tersebut. Lalu, Hasan pun mendatangi Abu Bakar yang kala itu menjadi sosok paling tahu akan nasab manusia. Abu Bakar pun memberitahu siapa-siapa saja dari kaum Quraisy yang harus “dibalas”.

Dalam hal ini, Rasulullah SAW pun senantiasa mendukung dan mendoakan Hasan bin Tsabit ketika bersyair untuk kaum Quraisy, yang mana telah mengolok-olok Rasulullah SAW. “Hajarlah mereka kaum Quraisy dengan syair-syairmu, Jibril selalu bersamamu.”

Ketika Rasulullah SAW meninggal dunia, kehidupan Hasan tetap masih dicintai oleh para khalifah dan bahkan berusia panjang hingga 120 tahun. Pada akhir-akhir umurnya, Hasan menjadi semakin lemah dan mendapatkan kebutaan. Lalu, Hasan bin Tsabit pun meninggal pada tahun 54 H, tepatnya di masa pemerintahan Mu’awiyah.

Nama Hasan bin Tsabit dianggap sebagai penyair kota yang hidup di masa Jahiliyah dan Yamani di masa Islam. Puisi-puisi karyanya pada masa jahiliyah cenderung menggunakan bahasa asing dan sulit dimengerti. Lalu, setelah dirinya masuk Islam, karya puisinya menjadi semakin halus baik dalam hal susunan maupun artinya. Kebanyakan puisinya memang mengambil tema tentang satire, pujian, dan kebanggaan terhadap dirinya sendiri maupun kaumnya. Salah satu karya puisi Hasan bin Tsabit yang hingga saat ini masih dipopulerkan adalah Assubhubada yang merupakan pujian-pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Perkembangan Karya Sastra Puisi Di Masa Awal Islam

Menurut buku berjudul Sastra Arab: Masa Jahiliyah dan Islam, sebenarnya pandangan Islam terhadap suatu karya sastra itu ada dua. Pertama, suatu karya puisi akan dianggap sebagai hal terpuji jika dimaksudkan terhadap hal-hal yang baik. Kedua, suatu karya puisi justru akan dianggap sebagai hal tidak terpuji, terutama apabila maksud dan cara penyampaiannya tidak terhormat.

Nah, Nabi Muhammad SAW itu sangat peka akan bagaimana keadaan orang Arab, terutama dalam hal semangat berpuisi akan permusuhan dan kekerasan. Itulah mengapa, dalam beberapa peristiwa, Nabi Muhammad SAW melarang adanya karya sastra ini. Namun, jika karya sastra tersebut digunakan untuk mempromosikan kearifan dan kebajikan, maka tentu saja Beliau akan memujinya.

Kala itu, Nabi Muhammad SAW begitu menghargai dan memuji puisi-puisi yang menunjukkan kesalehan dan moralitas karya Labid dan Umayyah bin Abu Salt. Perlu diketahui bahwa kedua penyair tersebut tidak beragama Islam, tetapi Nabi Muhammad SAW tetap menghargainya. Sementara pada penyair Islam, Beliau begitu memuji 3 penyair yakni Hasan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, dan Abdullah bin Rawahah. Ketiga penyair muslim ini menggunakan syair puisinya untuk membela Islam.

Dalam Al-Quran, Allah SWT pun juga telah menurunkan firman akan tercelanya para penyair yang menggunakan puisi untuk hal-hal tidak terpuji. Firman ini ditunjukkan pada Q.S Asy-Syu’ara ayat 224-227 yang berbunyi:

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidaklah kamu melihat bahwa mereka mengembara di tiap-tiap lembah dan bahwa mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan? kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah mendapat kezaliman”.

Maksud dari ayat tersebut adalah mereka yang menggunakan karya sastra puisi untuk mencela orang baik dan malah memuji segala sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah SWT sama saja dengan inspirasi jahat. Hal itu tentunya dilaknat oleh Allah SWT karena karya puisinya dapat menyesatkan banyak orang.

Dalam sejarah perkembangan Islam, keberadaan puisi sangat bermanfaat untuk hal komunikasi. Nabi Muhammad SAW pun selalu memberikan penghargaan yang tinggi kepada para penyair Islam. Bahkan mereka pun selalu menempati tempat terdekat di sisi Nabi.

Menurut Juzif Al-Hasyim (1968), menyatakan bahwa pada masa permulaan Islam, terdapat 4 tingkatan kelompok penyair, yakni:

  1. Kelompok yang meninggalkan puisi dan langsung beribadah hanya kepada Allah SWT. Contohnya adala Labid bin Rabi’ah al-‘Amiry.
  2. Kelompok penyair yang melakukan penindasan dan mengejek Nabi Muhammad SAW. Contohnya: Abu Sufyan al-Harits bin Abdul Muthalib, Ka’ab bin Asyraf.
  3. Kelompok penyair yang menentang orang-orang musyrik melalui puisi-puisinya. Contohnya: Hasan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, ‘Abdullah bin Rawahah, dan Ka’ab bin Zuhair.
  4. Kelompok penyair yang tetap berpuisi dalam Islam, sebagaimana mereka tetap berpuisi di masa Jahiliyah dulu. Namun, mereka tetap menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Islam. Contoh: Abu Dahbal al Jahiy, Al-Nabighah al-Ja’diy, Abu Mahjan al-Tsaqofiy, Al-Hathiyah, dan lainnya.

Tujuan Sastra Puisi Di Masa Awal Islam

Hampir sama dengan definisi puisi di zaman sekarang, keberadaan puisi di masa awal Islam juga ditinjau dari segi maksud dan seninya. Hanya saja, pada masa awal Islam ini, puisi lebih disorot dalam hal arti dan intisarinya, lafadz dan gaya bahasanya, wazan dan qafiyah. Nah, berikut ini beberapa tujuan pembuatan sastra puisi di masa awal Islam.

  1. Untuk menyebarkan akidah dan hukum-hukum agama supaya kaum muslim bersedia mengikutinya.
  2. Sebagai dorongan untuk perang dan mendapatkan persaksian di sisi Allah SWT karena menegakkan kalimatullah.
  3. Al Hijak, yakni untuk membela Islam terutama dari caci maki orang-orang musyrik.
  4. Sebagai penggambaran peperangan dan penguasaan terhadap kota-kota.
  5. Sebagai pujian untuk memperkokoh kedudukan khalifah.

Sumber:

Wargadinata, Wildana dan Laily Fitriani. (2018). Sastra Arab: Masa Jahiliyah dan Islam. Malang: UIN Maliki Press.

https://yuksinau.co.id/

https://imujio.com/

Baca Juga!



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Rifda Arum

Perkembangan dunia industri kreatif berkembang dengan pesat. Kpop, Kdrama, dan Kfilm sudah tersebar dan disukai oleh banyak orang, salah satunya saya yang suka dengan kebudayaan Korea.