Bahasa Bahasa Jawa

Pengertian Aksara Murda, Fungsi, dan Contoh Kalimatnya

Written by Vania Andini

pengertian aksara murda – Saat belajar bahasa daerah–khususnya bahasa Jawa–setidaknya kamu pernah mendengar atau menulis aksara Jawa sebagai tulisan khas-nya.

Nah, selain hanacaraka, ternyata ada jenis aksara Jawa lainnya yang disebut dengan aksara murda.

Aksara ini tidak bisa dipakai sembarang dan jarang digunakan dalam tulisan sehari-hari. Meskipun begitu, mereka tetap memiliki nilai budaya tersendiri yang harus dipahami oleh pelajar.

Kalau istilah ini masih asing di telingamu, mari simak artikel ini untuk menemukan pengertian aksara Murda, fungsi, unsur-unsur di dalamnya, hingga contoh kalimat sederhananya!

Pengertian Aksara Murda

Aksara murda yaiku salah siji aksara kang ana ing tata tulis aksara Jawa. Artinya, aksara murda adalah salah satu aksara yang terdapat dalam penulisan aksara Jawa.

Aksara ini digunakan untuk menuliskan huruf awal nama diri–seperti gelar–atau hal-hal yang dianggap penting,

Dalam bahasa Indonesia, aksara murda merupakan bentuk “huruf kehormatan” yang fungsinya mirip huruf kapital.

Perbedaan Aksara Murda dan Aksara Jawa Biasa

Supaya penggunaannya tidak salah, mari simak tabel sederhana berikut ini yang menunjukkan perbedaan antara aksara murda dan aksara Jawa biasa dari berbagai aspek penting!

Aspek Perbandingan Aksara Murda Aksara Jawa Biasa (Nglegena)
Fungsi Digunakan sebagai tanda kehormatan dan penekanan Digunakan untuk penulisan umum
Penggunaan Dipakai pada huruf awal nama diri, gelar, dan hal penting Dipakai pada kata sehari-hari
Makna Mengandung nilai penghormatan dan keistimewaan Bersifat netral tanpa makna khusus
Jumlah Huruf Terbatas, tidak semua aksara memilikinya Lengkap dan digunakan secara luas
Kesamaan dengan Huruf Latin Mirip fungsi huruf kapital Mirip huruf kecil
Konteks Pemakaian Teks resmi, budaya, dan sastra Jawa Percakapan dan teks biasa

Fungsi Aksara Murda

Aksara murda digunakan untuk menandai nama diri atau gelar kehormatan, membedakan kata umum dan khusus, dan menjaga nilai kesopanan dalam bahasa tulis.

1. Menandai Nama Diri dan Gelar Kehormatan

Aksara murda biasanya digunakan untuk menandai nama orang, nama tempat, serta gelar tertentu yang dianggap penting.

Dengan aksara murda, pembaca dapat langsung mengenali bahwa kata tersebut merupakan nama diri yang menjadi bentuk penghormatan.

2. Membedakan Kata Umum dan Nama Khusus

Selain menjadi tanda kehormatan, aksara murda juga berfungsi membedakan kata umum dengan nama khusus sehingga menghindari kesalahpahaman pembaca dalam membaca teks beraksara Jawa.

3. Menjaga Nilai Kesopanan dalam Bahasa Tulis

Penggunaan aksara murda mencerminkan nilai unggah-ungguh atau tata krama dalam budaya Jawa. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa ini juga menjadi sarana dalam menjaga etika.

Unsur Aksara Murda

Ada beberapa unsur khusus yang dimiliki aksara murda yang membedakannya dari aksara Jawa lainnya, terutama aksara nglegena.

Yuk, kita simak unsur-unsurnya di bawah ini!

1. Bentuk Huruf yang Berbeda

Unsur utama aksara murda adalah bentuk hurufnya yang berbeda dari aksara biasa. Dari segi visual, aksara ini memiliki entuk hurufnya yang berbeda dari aksara biasa. Secara visual, aksara murda memiliki karakteristik tersendiri yang mudah dikenali.

2. Jumlah Aksara yang Terbatas

Tidak semua aksara Jawa memiliki bentuk murda. Jumlah aksara murda tergolong terbatas dan hanya digunakan pada huruf tertentu sehingga penggunaannya harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan.

3. Makna Simbolis sebagai Tanda Penghormatan

Selain unsur bentuk, aksara murda juga memiliki unsur makna simbolis. Aksara ini melambangkan penghormatan dan penekanan makna pada kata tertentu.

Contoh Kalimat Aksara Murda

Agar semakin memahami penggunaannya secara nyata, berikut Gramin berikan 10 contoh kalimat yang menggunakan aksara murda pada huruf awal nama orang, tempat, gelar, dan unsur budaya–lengkap dengan artinya dalam bahasa Indonesia!

1. Contoh Aksara Murda yang Menandakan Nama Orang

Contoh 1: Rama
Aksara Jawa:
ꦫꦩ ꦭꦸꦔ ꦩꦼꦤꦁ ꦱꦺꦏꦺꦴꦭꦃ
Transliterasi: Rama lunga menyang sekolah
Arti: Rama pergi ke sekolah.

Contoh 2: Sinta
Aksara Jawa:
ꦯꦶꦤ꧀ꦠ ꦲꦤꦼꦩꦧꦏ꧀ꦠꦶ ꦏꦤ꧀ꦛꦶ ꦭꦸꦒꦸ
Transliterasi: Sinta nduweni sipat sing alus
Arti: Sinta memiliki sifat yang lembut.

Contoh 3: Andi
Aksara Jawa:
ꦄꦤ꧀ꦢꦶ ꦱꦶꦤꦲꦸ ꦏꦁꦒꦺ ꦩꦸꦭꦾ
Transliterasi: Andi sinau kanthi sregep
Arti: Andi belajar dengan rajin.

2. Contoh Aksara Murda yang Menandakan Nama Tempat

Contoh 1: Solo
Aksara Jawa:
ꦯꦺꦴꦭꦺꦴ ꦏꦸꦮꦶ ꦏꦸꦛ ꦧꦸꦢꦪ
Transliterasi: Solo kuwi kutha budaya
Arti: Solo adalah kota budaya.

Contoh 2: Yogyakarta
Aksara Jawa:
ꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠ ꦥꦸꦤꦶꦏ ꦏꦸꦛ ꦥꦭꦗꦂ
Transliterasi: Yogyakarta punika kutha pelajar
Arti: Yogyakarta merupakan kota pelajar.

Contoh 3: Bandung
Aksara Jawa:
ꦧꦤ꧀ꦢꦸꦁ ꦏꦸꦮꦶ ꦏꦸꦛ ꦱꦼꦗꦸꦏ꧀
Transliterasi: Bandung kuwi kutha sejuk
Arti: Bandung adalah kota yang sejuk.

3. Contoh Aksara Murda yang Menandakan Gelar Kehormatan

Contoh 1: Raden
Aksara Jawa:
ꦫꦢꦺꦤ꧀ ꦲꦤꦼꦩꦧꦏ꧀ꦠꦶ ꦩꦫꦁ ꦫꦏꦾꦠ꧀
Transliterasi: Raden ngabdi marang rakyat
Arti: Raden mengabdi kepada rakyat.

Contoh 2: Ki
Aksara Jawa:
ꦑꦶ ꦒꦸꦫꦸ ꦏꦸꦮꦶ ꦥꦤꦸꦠꦤ꧀
Transliterasi: Ki guru kuwi panutan
Arti: Ki guru adalah teladan.

Contoh 3: Nyai
Aksara Jawa:
ꦚꦻ ꦒꦸꦫꦸ ꦲꦤꦼꦩꦧꦶꦁ ꦥꦸꦠꦿ
Transliterasi: Nyai guru ngemong putra
Arti: Nyai guru membimbing anak.

4. Contoh Aksara Murda yang Menandakan Tokoh Wayang

Contoh 1: Arjuna
Aksara Jawa:
ꦄꦂꦗꦸꦤ ꦥꦸꦤꦶꦏ ꦠꦺꦴꦏꦺꦴꦃ ꦮꦶꦫ
Transliterasi: Arjuna punika tokoh wirya
Arti: Arjuna adalah tokoh pemberani.

Contoh 2: Bima
Aksara Jawa:
ꦨꦶꦩ ꦏꦸꦮꦠ꧀ ꦭꦤ꧀ ꦥꦿꦏꦱ
Transliterasi: Bima kuwat lan prakasa
Arti: Bima kuat dan berani.

Contoh 3: Yudhistira
Aksara Jawa:
ꦪꦸꦢꦶꦱ꧀ꦠꦶꦫ ꦭꦸꦒꦸ ꦭꦸꦲꦸꦂ
Transliterasi: Yudhistira nduweni sipat luhur
Arti: Yudhistira memiliki sifat mulia.

5. Contoh Aksara Murda yang Menandakan Nama Kerajaan atau Lembaga

Contoh 1: Majapahit
Aksara Jawa:
ꦩꦗꦥꦲꦶꦠ꧀ ꦲꦤꦼꦩꦶꦭꦶꦏꦶ ꦱꦼꦗꦫꦃ ꦭꦸꦮꦶꦃ
Transliterasi: Majapahit nduweni sejarah agung
Arti: Majapahit memiliki sejarah yang agung.

Contoh 2: Keraton
Aksara Jawa:
ꦑꦼꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ ꦱꦺꦧꦒꦻ ꦥꦸꦱꦠ꧀ ꦧꦸꦢꦪ
Transliterasi: Keraton minangka pusat budaya
Arti: Keraton merupakan pusat budaya.

Contoh 3: Sekolah
Aksara Jawa:
ꦱꦺꦏꦺꦴꦭꦃ ꦥꦸꦤꦶꦏ ꦥꦤꦶꦠꦶꦪꦤ꧀
Transliterasi: Sekolah punika panggonan sinau
Arti: Sekolah adalah tempat belajar.

Cara Menulis Aksara Murda

Saat ingin menulis aksara murda, kamu harus teliti dan memiliki pemahaman kaidah yang benar. Yuk, ikuti langkah-langkahnya di bawah ini!

1. Kenali Bentuk Aksara Murda

Pertama, kenali bentuk-bentuk aksara murda yang tersedia. Tidak semua huruf memiliki versi murda, sehingga kamu perlu memahami daftarnya terlebih dahulu.

2. Tentukan Kata yang Layak Menggunakan Aksara Murda

Selanjutnya, tentukan kata yang memang layak diawali aksara murda, seperti nama orang, tempat, atau gelar.

Dengan penggunaan yang tepat, tulisanmu sudah sesuai dengan kaidah penulisan aksara murda yang diberlakukan!

3. Jagalah Konsistensi Penulisan

Terakhir, gunakanlah aksara murda dengan konsisten. Hindari mencampurnya sembarangan dengan aksara biasa dan rutinlah latihan untuk meningkatkan kemampuanmu.

Aksara Murda sebagai Simbol Bahasa dan Budaya

Dari artikel ini, kamu sudah memahami pengertian aksara Murda, fungsi, unsur-unsur utama, hingga cara menulisnya.

Aksara ini mengajarkan pentingnya menghormati nama, gelar, dan identitas dalam bahasa tulis. Dengan mempelajari dan mempraktikkan aksara murda, kamu turut berperan dalam melestarikan budaya daerah.

Yuk, terus asah kemampuan bahasa Jawa kamu agar warisan budaya ini tetap hidup dan relevan hingga generasi mendatang!

Rekomendasi Buku tentang Budaya Jawa

1. Jawa yang Monumental

Jawa yang Monumental

Dalam buku ini, J. F. Scheltema menyajikan eksplorasi mendalam terkait keluhuran Jawa lewat narasi sejarah dan budaya yang kaya. Tulisan cermat ini menggunakan gaya sastra deskriptif dan analitis yang dengan cekatan memadukan refleksi pribadi dan penelitian ilmiah, mengajak kita untuk merenungkan warisan Indonesia yang kompleks.

Bagi para pembaca yang tertarik dengan persilangan budaya, sejarah dan arsitektur, buku ini adalah koleksi yang tak tergantikan. Buku ini tidak hanya sekadar catatan perjalanan, tetapi bahkan bisa menjadi referensi ilmiah yang dapat memuaskan rasa ingin tahu, sekaligus menawarkan wawasan mendalam tentang warisan Jawa yang abadi. Buku ini amat direkomendasikan bagi pembaca umum maupun bagi mereka yang mendalami studi Asia Tenggara.

2. Spiritualisme Jawa

Spiritualisme Jawa

Apabila dicermati, yang mengejar keselamatan hidup lahir batin dunia dan akhirat bukan orang Jawa. Manusia di seluruh dunia juga mendambakannya. Hanya saja, cara mewujudkan keselamatan tersebut berbeda-beda, sesuai dengan kepercayaan, situasi kondisi lingkungan, sarana dan prasarana yang tersedia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman hidup, serta adat tradisi kebudayaan masing-masing.

Sebagaimana kebudayaan-kebudayaan daerah lain di Indonesia, kebudayaan Jawa juga memiliki spesifikasinya yang khas, terutama pada aspek spiritualisme atau kepercayaan batin yang dianut sehingga memunculkan paham yang lazim disebut kejawen. Menurut para ahli, kejawen adalah hasil sinkretisasi antara Islam dengan agama dan kepercayaan lama yang sempat tumbuh berkembang di Jawa. Benarkah demikian? Benarkah seperti anggapan banyak orang juga bahwa kejawen sangat berbau mistik, klenik, dan hal-hal yang bersifat gaib?

3. Orang Jawa, Jimat, & Makhluk Halus

Orang Jawa, Jimat, & Makhluk Halus

Orang Jawa, Jimat, & Makhluk Halus adalah buku yang ditulis oleh Anan Hajid T. Buku yang terdiri dari 168 halaman ini berisi penjelasan tentang jimat dan mahluk halus khasanah spiritual Jawa yang dikemas secara jelas, lengkap, dan detail. Buku ini cocok untuk Anda yang ingin mengetahui spiritualitas hidup orang Jawa yang hakiki. Walaupun materi di dalam buku ini lumayan berat, namun penulis bisa menyampaikannya dengan bahasa yang mudah dimengerti.

4. Etika Jawa : Prinsip Kebajikan dan Pedoman Hidup Orang Jawa

Etika Jawa : Prinsip Kebajikan dan Pedoman Hidup Orang Jawa

Buku ini mencoba menguak kembali beragam hal tentang etika Jawa, mulai dari hakikat, sumber etika, penerapan etika Jawa dalam beragam kesadaran, hingga langkah menjadikan etika Jawa sebagai pedoman hidup. Harapannya, masyarakat-khususnya generasi muda- dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan masa kini. Dengan demikian, bangsa ini bisa tetap inklusif dalam kemajuan, tetapi tetap konservatif dalam tradisi.

Dengan membaca buku ini diharapkan para pembaca, terutama generasi muda akan mengetahui pentingnya etika Jawa. Selain sebagai filter atas pengaruh negatif dari budaya modern, etika Jawa dapat difungsikan sebagai pembentuk kepribadian emas generasi muda yang merupakan aset tak ternilai bagi bangsa dan negara di masa depan.

5. Sejarah Jawa Jilid 1 (History of Java)

Sejarah Jawa Jilid 1 (History of Java)

Sejarah Jawa Jilid I (History of Java) oleh Sir Thomas Stamford Raffles adalah sebuah karya monumental yang memberikan pandangan mendalam tentang sejarah, budaya, dan masyarakat Pulau Jawa. Raffles, yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada awal abad ke-19, memulai penelitian sejarah ini sebagai upaya untuk memahami dan mendokumentasikan warisan Jawa.

Buku ini mencakup periode sejarah yang luas, mulai dari masa prasejarah hingga masa Hindu-Buddha, Islam, dan pemerintahan kolonial Belanda. Raffles tidak hanya memberikan narasi sejarah, tetapi juga memberikan gambaran yang rinci tentang geografi, flora, fauna, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa.

About the author

Vania Andini

Gramedia Literasi