Daftar Isi
Apakah baca buku masih relevan?
Di tengah derasnya arus TikTok, kecanggihan AI, dan budaya konten serba cepat, membaca buku sering terlihat seperti aktivitas yang tertinggal zaman. Informasi kini bisa dirangkum dalam satu menit, dijelaskan melalui video singkat, atau dijawab instan oleh mesin pintar.
Ritme konsumsi pengetahuan berubah drastis, serba cepat dan serba ringkas. Tak sedikit bahkan yang menganggap membaca buku itu lambat, terlalu panjang, bahkan kalah menarik dibanding scrolling tanpa henti.
Namun, jika kita menengok data Badan Pusat Statistik atau BPS, ceritanya tidak sesederhana itu. Di balik riuhnya dunia digital, minat dan aktivitas membaca masyarakat Indonesia ternyata menunjukkan dinamika yang menarik untuk dicermati.
Data BPS Tunjukkan Minat Baca Buku Justru Bertambah
Kalau kita melihat data dari Badan Pusat Statistik, gambaran soal kebiasaan membaca di Indonesia ternyata tidak seburuk yang sering dibicarakan. Dalam beberapa tahun terakhir, trennya cenderung stabil bahkan menunjukkan peningkatan.
Melalui indikator Tingkat Kegemaran Membaca (TGM), skor nasional pada 2024 berada di angka 72,44 dan masuk kategori sedang. Angka ini memberi sinyal bahwa aktivitas membaca masih hidup dan terus bergerak.
Menariknya, TGM tidak hanya menilai apakah seseorang membaca atau tidak. Indikator ini juga mengukur seberapa sering orang membaca dalam seminggu, berapa lama durasi membaca setiap hari, serta berapa banyak bahan bacaan yang dikonsumsi. Dengan kata lain, yang dinilai adalah kebiasaan membaca secara menyeluruh, bukan sekadar formalitas.
Dari sini terlihat bahwa minat baca masyarakat Indonesia tidak hilang. Yang berubah adalah cara dan polanya. Perbedaan antarwilayah dan generasi pun cukup terasa. Generasi muda, khususnya Gen Z, tetap aktif mengonsumsi bacaan, hanya saja formatnya lebih beragam dan fleksibel. Mereka membaca dalam bentuk cetak, digital, artikel daring, hingga platform berbasis aplikasi. Ekosistemnya meluas, bukan menyusut.
Kenapa Muncul Persepsi Baca Buku Itu Kuno?
Persepsi ini muncul karena perubahan cara kita mengonsumsi informasi. Konten cepat memberikan kepuasan instan. Dalam hitungan detik, kita bisa mendapatkan ringkasan ide, opini, atau hiburan.
Sebaliknya, buku menawarkan kedalaman. Membaca buku membutuhkan waktu, fokus, dan proses berpikir yang lebih panjang. Di era serba cepat, hal ini sering dianggap tidak praktis.
Padahal, dalam banyak aspek kehidupan karier, pengembangan diri, keputusan finansial pemahaman mendalam tetap dibutuhkan. Buku masih menjadi salah satu medium paling efektif untuk membangun cara berpikir yang sistematis.
Jadi yang terjadi bukanlah kematian budaya membaca, melainkan transformasi.
Transformasi Cara Membaca di Era Digital
Membaca hari ini tidak lagi identik dengan duduk lama membuka buku fisik. Polanya lebih fleksibel dan hybrid. Beberapa tren yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir:
- Micro-reading (5–15 menit)
Orang membaca dalam potongan waktu singkat namun konsisten.
- BookTok dan rekomendasi viral
Buku bisa kembali populer karena rekomendasi komunitas di media sosial.
- Buku self-improvement dan mental wellness
Topik pengembangan diri, finansial, dan kesehatan mental meningkat signifikan.
- Reading challenge dan gamifikasi
Target membaca tahunan membuat aktivitas ini terasa lebih terukur.
- Hybrid format: fisik + digital + audiobook
Banyak orang menggabungkan beberapa format sekaligus.
Fenomena ini menunjukkan bahwa membaca tidak mati; ia berevolusi. Membaca menjadi bagian dari gaya hidup dan aktivitas sosial, bukan sekadar aktivitas individu.
Tren Baca Buku dan Ekosistem Literasi
Ketika minat baca meningkat, yang tumbuh bukan hanya pembacanya, tetapi juga ekosistem literasi di sekitarnya. Kini buku bukan lagi produk tunggal. Ia hadir bersama:
- Komunitas baca
- Diskusi rutin
- Event literasi
- Ruang nyaman untuk membaca
- Aktivitas sosial berbasis buku
Membaca berubah menjadi lifestyle. Banyak orang mencari ruang fisik yang mendukung aktivitas tersebut. Tempat dengan kurasi jelas, suasana nyaman, dan aktivitas komunitas rutin semakin diminati.
Di titik ini, pembahasan mulai bersinggungan dengan bisnis toko buku. Bukan sekadar tempat jual beli, tetapi ruang interaksi dan ekosistem.
Apa Artinya Tren Ini untuk Bisnis Toko Buku?
Jika melihat trend jangka panjang, literasi memiliki potensi berkelanjutan. Namun, kunci keberhasilannya bukan semata pada jumlah buku yang dijual.
Nilai utama dalam bisnis toko buku modern terletak pada:
- Kurasi yang tepat
- Pengalaman pelanggan
- Aktivasi komunitas
- Konsistensi sistem operasional
Toko buku yang mampu menjadi ruang ketiga (third place) memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Di sinilah muncul berbagai pendekatan model usaha. Ada yang memilih membuka toko independen dengan niche tertentu. Ada pula yang menggabungkan toko buku dengan café atau community hub. Sebagian lainnya mempertimbangkan jalur yang lebih siap sistem, seperti franchise toko buku atau model jaringan.
Model jaringan biasanya menawarkan standar operasional yang lebih terstruktur, dukungan supply chain, serta brand trust yang sudah dikenal publik. Salah satu contoh yang sering disebut dalam diskusi literasi adalah konsep partnership Gramedia, yang banyak dilirik karena pendekatan sistem dan kurasi yang matang.
Namun kembali lagi, model apa pun tetap membutuhkan komitmen dan konsistensi.
Mitos Autopilot dalam Bisnis Toko Buku
Sering muncul anggapan bahwa bisnis toko buku bisa berjalan autopilot. Penting untuk memahami bahwa auto pilot bukan berarti tanpa kerja.
Auto pilot lebih tepat diartikan sebagai sistem yang sudah berjalan dengan SOP jelas, kurasi rutin, event terjadwal, serta manajemen stok dan display yang konsisten.
Tanpa sistem, bisnis berbasis literasi sulit bertahan dalam jangka panjang.
Melihat tren membaca dan data BPS yang ada, satu hal menjadi jelas. Bahwa budaya membaca tidak hilang; ia hanya bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Cara orang mengakses bacaan berubah, medium yang digunakan semakin beragam, dan ruang-ruang diskusi semakin terbuka.
Ekosistemnya pun ikut tumbuh. Aktivitas yang dulu terasa sunyi dan personal kini menjadi lebih sosial. Membaca hadir dalam komunitas, klub buku, forum digital, hingga ruang-ruang kolaboratif yang menjadikannya bagian dari gaya hidup.
Jika tren membaca terus tumbuh, pertanyaannya bukan lagi apakah buku masih relevan, tetapi bagaimana kita memaknainya sebagai pembaca, sebagai bagian dari komunitas, atau bahkan sebagai bagian dari ekosistem literasi seperti bisnis toko buku, franchise toko buku, dan model kemitraan yang terstruktur.
Karena pada akhirnya, membaca tidak pernah soal cepat atau lambat. Membaca adalah soal kedalaman dan bagaimana kita memberi ruang untuk benar-benar memahami.
- Buku Biologi Best Seller
- Diferensiasi Proses
- Latihan Soal SBMPTN Saintek dan Soshum
- Latihan Soal Asesmen Kompetensi Minimum SMA
- Novel Fantasi
- Novel Best Seller
- Novel Romantis
- Novel Fiksi
- Novel Non Fiksi
- Rekomendasi Novel Terbaik
- Rekomendasi Novel Horor
- Rekomendasi Novel Remaja Terbaik
- Rekomendasi Novel Fantasi
- Rekomendasi Novel Fiksi
- Rekomendasi Buku Menambah Wawasan
