in ,

Review Buku Ego Is The Enemy

Ego is the Enemy – Bagaimana kalau ternyata musuh terbesar dalam hidupmu bukan orang lain, tapi suara kecil di kepalamu sendiri?

Ego is the Enemy hadir dengan satu keyakinan yang cukup “menampar halus”: ego bukan sesuatu yang harus selalu dituruti. Ia bisa dikendalikan, bahkan diarahkan. Lewat buku ini, Grameds diajak menelusuri perjalanan tokoh-tokoh dunia seperti William Tecumseh Sherman, Katharine Graham, Jackie Robinson, Eleanor Roosevelt, hingga Angela Merkel. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, namun sama-sama mampu mencapai hal besar seperti menyelamatkan perusahaan, menguasai strategi perang, menjaga tim tetap solid, hingga bertahan di tengah tekanan hidup, tanpa membiarkan ego mengambil alih kendali.

Dari kisah-kisah tersebut, kita belajar bahwa mereka tetap manusia biasa yang punya ego, tetapi memilih untuk mengelolanya, bukan menuruti begitu saja. Mereka bisa menjadi hebat tanpa kehilangan kerendahan hati. Buku ini juga tidak menampik bahwa ada orang sukses karena ego yang besar, tetapi perlahan menunjukkan bahwa kekuatan sejati justru lahir dari kemampuan mengendalikan diri.

Dengan ketebalan 304 halaman, buku terbitan Elex Media Komputindo pada 27 Juni 2019 ini terasa seperti pengingat yang relevan di tengah dunia yang sering mendorong kita untuk “terlihat paling hebat”. Sebelum masuk ke ulasan selengkapnya, yuk kita kenalan dulu dengan sosok di balik buku ini, Ryan Holiday. 

Profil Ryan Holiday – Penulis Buku Ego Is The Enemy

Ryan Holiday dikenal sebagai penulis sekaligus ahli strategi media yang perjalanannya terbilang tidak biasa. Di usia sembilan belas tahun, ia memutuskan berhenti kuliah dan memilih belajar langsung dari Robert Greene, penulis The 48 Laws of Power. Pilihan berani itu membawanya pada karier pemasaran yang sukses di American Apparel sebelum akhirnya mendirikan agensi kreatif bernama Brass Check. Melalui agensi tersebut, ia bekerja sama dengan berbagai klien besar seperti Google, TASER, Complex, serta sejumlah penulis buku laris termasuk Neil Strauss, Tony Robbins, dan Tim Ferriss.

Ryan Holiday bisa disebut juga sebagai penulis produktif yang sudah menerbitkan banyak buku, di antaranya adalah The Obstacle Is the Way, Ego Is the Enemy, The Daily Stoic, Conspiracy, dan Stillness Is the Key. Karyanya telah terjual lebih dari dua juta eksemplar dan diterjemahkan ke lebih dari tiga puluh bahasa. Bukunya banyak diikuti para pelatih NFL, atlet kelas dunia, tokoh televisi, hingga pemimpin politik di berbagai negara. Saat tidak menulis, ia menghabiskan waktu di sebuah peternakan di luar Austin, Texas, sambil merawat sapi, keledai, dan kambing.

button cek gramedia com

Sinopsis Buku Ego Is The Enemy

Mungkin saat ini kamu masih muda dan penuh dengan ambisi. Atau justru masih muda tetapi sedang berjuang keras. Bisa jadi kamu baru saja menghasilkan uang pertamamu, menandatangani kontrak penting, masuk ke kelompok bergengsi, atau bahkan sudah mencapai pencapaian yang bagi banyak orang sudah lebih dari cukup. Mungkin kamu malah terkejut karena posisi puncak yang kamu impikan terasa kosong. Mungkin kamu sedang memimpin orang lain di tengah krisis. Mungkin kamu baru kehilangan pekerjaan. Mungkin kamu baru saja mencapai titik paling rendah dalam hidup. Di mana pun kamu berada dan apa pun yang sedang kamu jalani, ada satu musuh yang selalu ikut dan bersembunyi di dalam diri. Musuh itu adalah ego.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Ego Is The Enemy

Pros & Cons

Pros
  • Memberikan pembelajaran yang berhaga.
  • Mudah untuk diikuti.
  • Gaya penulisan yang khas.
  • Terbagi menjadi beberapa bagian.
Cons
  • Kurangnya sumber rujukan.

Kelebihan Buku Ego Is The Enemy

Buku Ego Is The Enemy karya Ryan Holiday ini memiliki banyak sekali kelebihan yang membuat buku ini wajib sekali untuk Grameds miliki dan baca.

  • Memberikan pembelajaran yang berharga

Buku ini menawarkan sudut pandang baru tentang makna kesuksesan. Ryan Holiday menekankan bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari jumlah uang, penampilan luar, atau pengakuan dunia, melainkan dari ketenangan batin saat seseorang percaya bahwa ia sudah memberikan usaha terbaik untuk tujuan hidupnya. Lewat buku ini Grameds diajak untuk tidak mudah terjebak pada pujian dan pencapaian kecil yang sering membuat ego mengambil alih. Buku ini mengingatkan bahwa kesuksesan yang sebenarnya lahir dari pilihan untuk tetap berbuat benar, bahkan ketika kita bisa saja mengambil jalan pintas.

  • Mudah untuk diikuti

Salah satu kelebihan lain dari buku ini adalah penyajiannya yang mudah dipahami. Isinya tidak bertele tele, bab babnya pendek, serta langsung pada inti pembahasan. Alurnya mengalir, tidak membosankan, dan cocok dibaca oleh siapa pun, termasuk pembaca yang baru mulai mempelajari stoisisme atau pengembangan diri.

  • Gaya penulisan yang khas

Gaya penulisan Ryan Holiday menjadi daya tarik tersendiri dalam buku ini. Bahasa yang digunakan lugas, sehingga terasa seperti sedang mendengarkan seseorang bercerita dengan penuh antusias. Cara ia membangun narasi dalam buku ini juga berhasil membuat pembaca mudah larut dalam setiap contoh dan penjelasan yang disajikan. Hal ini membuat buku ini tidak hanya informatif tetapi juga menyenangkan untuk dibaca.

  • Terbagi menjadi beberapa bagian

Buku ini disusun ke dalam tiga bagian utama yaitu Aspire, Success, dan Failure. Pembagian ini membantu pembaca memahami bagaimana ego bekerja dalam setiap fase kehidupan. Setiap bagian diperkaya dengan kisah tokoh sejarah, pemimpin besar, hingga wirausaha sukses untuk menunjukkan bagaimana ego bisa menjadi penghalang jika tidak dikelola dengan baik. Struktur yang rapi ini membuat pembelajaran semakin jelas dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari hari.

Kekurangan Buku Ego Is The Enemy

Buku Ego Is The Enemy karya Ryan Holiday memang bacaan yang sangat menarik dengan segala kelebihannya, akan tetapi buku ini masih memiliki kekurangan yaitu,

  • Kurangnya sumber rujukan.

Meskipun Ryan Holiday mencantumkan daftar referensi di bagian akhir buku, ia tidak menuliskan sumber kutipan secara langsung di dalam isi buku. Hal ini membuat pembaca yang ingin menelusuri asal informasi atau menguji keaslian data perlu melakukan pencarian tambahan.

Cara Mengelola Emosi yang Baik

Ego memang disebut sebagai salah satu musuh terbesar dalam perjalanan menuju kesuksesan. Namun sebelum Grameds belajar mengendalikan ego, ada satu hal penting yang juga harus dikelola dengan baik, yaitu emosi. Baik emosi negatif maupun positif perlu diawasi agar tidak mengacaukan keputusan sehari hari. Banyak orang gagal bukan karena kurang kemampuan, tetapi karena tidak mampu mengatur emosinya. Untuk membantu Grameds, berikut beberapa tips sederhana yang bisa diterapkan.

1. Buang pikiran buruk

Saat menghadapi masalah, pikiranmu sering terpancing untuk membayangkan hal terburuk. Padahal kebiasaan ini justru menjauhkan dari solusi. Cobalah melepaskan pikiran negatif yang tidak perlu dan fokus mencari jalan keluarnya.

2. Olahraga

Penelitian menunjukkan bahwa olahraga rutin dapat membantu mengontrol emosi karena memicu keluarnya endorfin yang meningkatkan suasana hati. Grameds tidak perlu langsung olahraga berat, cukup mulai dari aktivitas ringan seperti berjalan kaki atau jogging secara teratur.

3. Berpikir sebelum berbicara

Ketika emosi memuncak, kita cenderung akan mengucapkan hal yang nantinya akan disesali. Luangkan sedikit waktu untuk menenangkan diri dan pikirkan kembali kata kata yang ingin diucapkan agar tidak melukai diri sendiri maupun orang lain.

4. Jangan terlalu lama menahan emosi

Menahan emosi sesekali memang tidak masalah, tetapi jika dilakukan terus menerus bisa membuat Grameds meledak di kemudian hari. Lebih baik mengakui apa yang dirasakan dan mencari cara menyelesaikannya secara perlahan.

5. Temui seseorang untuk berbicara

Berbagi cerita dengan orang tepercaya dapat membantu Grameds melihat masalah dari sudut pandang yang lebih jernih. Jika emosi tetap sulit dikendalikan, Grameds bisa mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan ahlinya seperti psikolog.

Penutup

Pada akhirnya, pesan terbesar yang disampaikan Ryan Holiday lewat buku ini adalah tentang kekuatan untuk tetap mencintai. Mencintai pekerjaan, keluarga, hewan peliharaan, diri sendiri, hingga hal hal yang berada di luar kendali kita. Bahkan mencintai kegagalan, momen baik maupun buruk, serta orang orang yang mungkin tidak sejalan dengan kita. 

Melalui buku ini, Grameds diajak untuk menundukkan ego dan tidak terjebak menjadi pribadi yang sombong. Pesannya sederhana namun sangat kuat, menjadi pengingat bahwa kerendahan hati dan kemampuan melihat segala sesuatu dengan penuh cinta adalah fondasi penting untuk tumbuh dan bertahan dalam hidup. Buku ini bukan hanya bacaan, tetapi juga ajakan untuk terus memperbaiki diri.

Nah Grameds, itu dia sinopsis dan ulasan dari Buku Ego Is The Enemy karya Ryan Holiday. Buku ini membahas tentang musuh yang selalu ada di dalam diri kita sendiri yaitu, ego. Yuk langsung saja dapatkan buku ini hanya di Gramedia.com! Sebagai sahabat untuk #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu!

 

Rekomendasi Buku

1. Jika Bukan Aku, Kenapa Bawa Aku Sejauh Ini?

Jika Bukan Aku, Kenapa Bawa Aku Sejauh Ini?

button cek gramedia com

Darimu aku belajar bahwa ‘tidak ada kepastian adalah kepastian’. Kamu seperti laut yang indah tapi menenggelamkan. Denganmu, aku hanya berlayar ke arah tak pasti yang berujung karam.

Oleh karena itu, aku lebih memilih dia dari masa laluku. Kuberi padanya kesempatan kedua, karena kali ini dia datang dalam versi terbaiknya. Dia seperti gunung yang sunyi tapi menenangkan, mengajarkanku arti berpijak. Dan pada akhirnya, masa lalu layak menjadi tujuan.

2. The Let Them Theory

The Let Them Theory 

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

The Let Them Theory adalah metode terbukti yang akan mengajari kamu cara melindungi waktu dan energi, serta berfokus pada apa yang benar-benar berarti bagimu. Kamu sudah menghabiskan terlalu banyak waktu mengejar persetujuan, mengatur kebahagiaan orang lain, dan membiarkan opini mereka menahan langkahmu. Pelajari cara menyerahkan kekuasaan dan mulai menciptakan kehidupan tempatmu menjadi yang utama—mimpimu, tujuanmu, kebahagiaanmu.

Let Them adalah alat sederhana yang tak bisa berhenti dibicarakan oleh jutaan orang di seluruh dunia karena kemanjurannya. Cara tercepat untuk memegang kendali atas hidupmu adalah dengan berhenti berusaha mengendalikan orang lain dan berfokus pada hal yang bisa kamu kendalikan: dirimu sendiri.

3. Yolk

Yolk

button cek gramedia com

Jayne Ji-young Baek berusaha bertahan hidup di New York. Kuliah di kampus mode, di apartemen ilegal, dikelilingi orang-orang yang hanya peduli pencitraan, dan bergulat dengan gangguan makan yang belum berani dia hadapi. Namun, meski penuh masalah, New York tetap terasa lebih pas baginya dibanding masa lalu di Texas.

Sementara kakaknya, June Ji-hyun Baek, punya segalanya: karier cemerlang di dunia finansial, apartemen luas, dan kenyamanan yang membuatnya tidak tahu arti kesulitan. Namun, vonis kanker rahim mengubah segalanya. Dan sekarang, dua saudari yang lama renggang itu harus kembali tinggal bersama. Hubungan kakak-adik itu memang selalu rumit, apalagi ketika mereka masih membawa luka lama dari keluarga imigran Korea yang mencoba peruntungan di Amerika. Namun, ketika maut sudah menunggu di depan pintu, siapa lagi yang bisa kau andalkan selain saudara sedarahmu sendiri?

 

 

Written by Laura Saraswati