in

Negara Termiskin di Asia: Fakta, Penyebab, dan Solusi Mengatasinya

negara termiskin di asia – Asia adalah benua dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, namun tidak semua negara menikmati kemakmuran yang sama.

Beberapa negara masih berjuang melawan kemiskinan, konflik berkepanjangan, dan keterbatasan infrastruktur. Negara mana saja yang termasuk dalam daftar negara termiskin di Asia?

Artikel ini akan membahas secara mendalam kondisi ekonomi, penyebab kemiskinan, serta upaya yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Yuk, Grameds, simak selengkapnya!

Daftar 10 Negara Termiskin di Asia

Berikut adalah daftar negara dengan PDB per kapita terendah di Asia yang perlu Grameds ketahui.

No Negara PDB per Kapita (USD) PDB per Kapita (Rupiah) Tingkat Kemiskinan
1 Afghanistan $500 Rp 7.500.000 55% penduduk miskin
2 Yaman $700 Rp 10.500.000 45% penduduk miskin
3 Tajikistan $1.100 Rp 16.500.000 30% penduduk miskin
4 Myanmar $1.200 Rp 18.000.000 25% penduduk miskin
5 Nepal $1.300 Rp 19.500.000 22% penduduk miskin
6 Kirgizstan $1.400 Rp 21.000.000 20% penduduk miskin
7 Kamboja $1.600 Rp 24.000.000 18% penduduk miskin
8 Pakistan $1.600 Rp 24.000.000 24% penduduk miskin
9 Bangladesh $2.600 Rp 39.000.000 15% penduduk miskin
10 Laos $2.700 Rp 40.500.000 18% penduduk miskin

Sumber: World Bank, IMF (2024)

Dari tabel di atas, terlihat bahwa Afghanistan dan Yaman adalah negara dengan pendapatan per kapita terendah di Asia, di mana penduduknya hidup dengan kurang dari Rp 10.500.000 per tahun.

1. Afghanistan

Afghanistan memiliki PDB per kapita terendah di Asia, sekitar Rp 7,5 juta per tahun. Tingkat kemiskinan mencapai 55%, dipengaruhi oleh konflik berkepanjangan, ketidakstabilan politik, dan minimnya infrastruktur ekonomi. Sektor utama hanya mengandalkan pertanian tradisional dan bantuan internasional.

2. Yaman

Yaman mencatat PDB per kapita sekitar Rp 10,5 juta dengan tingkat kemiskinan 45%. Perang saudara dan krisis kemanusiaan berkepanjangan membuat ekonomi terpuruk. Banyak penduduk bergantung pada bantuan pangan dan impor.

3. Tajikistan

PDB per kapita negara ini Rp 16,5 juta dengan kemiskinan 30%. Tajikistan bergantung pada pengiriman uang (remitansi) dari warganya yang bekerja di luar negeri, terutama Rusia. Ekonomi domestik masih terbatas pada pertanian dan industri ringan.

4. Myanmar

Dengan PDB per kapita Rp 18 juta dan tingkat kemiskinan 25%, Myanmar memiliki potensi besar di pertanian, gas alam, dan pariwisata. Namun, krisis politik dan konflik internal menghambat perkembangan ekonomi.

5. Nepal

Nepal memiliki PDB per kapita Rp 19,5 juta dan kemiskinan 22%. Negara pegunungan ini mengandalkan pariwisata (Gunung Everest), pertanian, dan remitansi dari pekerja migran. Infrastruktur terbatas menjadi kendala besar.

6. Kirgizstan

Dengan PDB per kapita Rp 21 juta dan kemiskinan 20%, Kirgizstan mengandalkan pertanian, peternakan, dan tambang emas. Letaknya yang strategis di Asia Tengah membuatnya berpotensi sebagai jalur perdagangan, namun investasi masih rendah.

7. Kamboja

Kamboja memiliki PDB per kapita Rp 24 juta dan kemiskinan 18%. Ekonomi tumbuh lewat pariwisata (Angkor Wat), tekstil, dan pertanian. Namun, ketergantungan pada sektor tertentu membuatnya rentan terhadap krisis global.

8. Pakistan

PDB per kapita Rp 24 juta dengan kemiskinan 24%. Pakistan memiliki industri tekstil besar, pertanian, dan potensi teknologi. Namun, masalah korupsi, inflasi tinggi, dan krisis energi menjadi hambatan ekonomi.

9. Bangladesh

Dengan PDB per kapita Rp 39 juta dan kemiskinan 15%, Bangladesh menjadi salah satu produsen tekstil terbesar dunia. Pertumbuhan ekonominya stabil, namun kepadatan penduduk tinggi dan kerentanan terhadap bencana alam masih menjadi tantangan.

10. Laos

Laos memiliki PDB per kapita Rp 40,5 juta dengan kemiskinan 18%. Negara ini mengandalkan tenaga air, pertambangan, dan pariwisata alam. Keterbatasan akses transportasi dan pasar global menjadi penghambat perkembangan ekonomi.

Faktor Penyebab Kemiskinan di Negara-Negara Asia

Berikut adalah faktor-faktor penyebab kemiskinan di negara-negara Asia yang perlu kamu ketahui, Grameds.

1. Konflik dan Perang Berkepanjangan

Negara seperti Afghanistan dan Yaman mengalami kehancuran ekonomi akibat perang saudara dan intervensi asing. Infrastruktur hancur, pengungsi meningkat, dan investasi asing sulit masuk.

2. Ketergantungan pada Sektor Pertanian

Beberapa negara miskin di Asia, seperti Nepal dan Kamboja, masih sangat bergantung pada pertanian tradisional dengan produktivitas rendah. Akibatnya, pendapatan masyarakat sulit meningkat.

3. Korupsi dan Tata Kelola Pemerintahan yang Buruk

Myanmar dan Pakistan adalah contoh negara di mana korupsi sistemik menghambat pembangunan. Dana bantuan internasional sering disalahgunakan, sehingga program pengentasan kemiskinan tidak efektif.

4. Kurangnya Akses Pendidikan dan Kesehatan

Di Bangladesh dan Laos, banyak anak tidak bisa bersekolah karena harus bekerja membantu keluarga. Keterbatasan layanan kesehatan juga memperburuk kondisi ekonomi masyarakat.

5. Sanksi Ekonomi Internasional

Beberapa negara, seperti Korea Utara, mengalami kemiskinan parah karena isolasi ekonomi dan sanksi dari PBB.

Dampak Kemiskinan pada Masyarakat di Asia

Kemiskinan tidak hanya tentang pendapatan rendah, tetapi juga mempengaruhi berbagai aspek kehidupan seperti berikut ini, Grameds.

1. Pendidikan yang Terhambat

Anak-anak di Afghanistan dan Yaman sering putus sekolah karena perang atau harus bekerja.

Di Nepal, banyak sekolah kekurangan guru dan fasilitas dasar.

2. Krisis Kesehatan yang Parah

  • Di Yaman, wabah kolera dan malnutrisi merajalela karena kurangnya akses air bersih.
  • Di Kamboja, banyak keluarga tidak mampu membayar pengobatan dasar.

3. Migrasi dan Eksploitasi Tenaga Kerja

  • Banyak warga Myanmar dan Bangladesh menjadi pekerja migran dengan upah rendah di Malaysia atau Timur Tengah.
  • Pekerja anak masih marak di beberapa negara miskin Asia.

Upaya Mengatasi Kemiskinan di Asia

Berikut adalah upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi kemiskinan yang ada di Asia.

1. Bantuan Internasional dan Program Pembangunan

  • PBB dan NGO seperti UNICEF memberikan bantuan pangan dan medis di Yaman dan Afghanistan.
  • Program microfinance (seperti Grameen Bank di Bangladesh) membantu UMKM berkembang

2. Peningkatan Investasi di Pendidikan dan Kesehatan

  • Pembangunan sekolah dan pelatihan guru di Nepal dan Kamboja.
  • Program vaksinasi dan sanitasi air bersih di Pakistan dan Laos.

3. Penguatan Infrastruktur dan Industri Lokal

  • Pembangunan jalan dan listrik di pedesaan Myanmar.
  • Pengembangan pariwisata berkelanjutan di Nepal dan Kamboja.

4. Pemberantasan Korupsi dan Reformasi Pemerintahan

  • Transparansi anggaran di Bangladesh dan Pakistan.
  • Pemberdayaan masyarakat sipil untuk mengawasi kebijakan pemerintah.
  • Prospek Masa Depan: Bisakah Negara-Negara Ini Bangkit dari Kemiskinan?

Meski tantangannya berat, beberapa negara menunjukkan tanda-tanda perbaikan:

  • Bangladesh berhasil mengurangi kemiskinan dari 44% (1991) menjadi 15% (2024) berhasil mengurangi kemiskinan dari 44% (1991) menjadi 15% (2024) berkat industri garmen dan remitansi TKI.
  • Vietnam (tidak termasuk dalam daftar 10 termiskin) adalah contoh sukses transformasi ekonomi dari perang menjadi negara industri.
  • Namun, negara seperti Afghanistan dan Yaman masih membutuhkan solusi jangka panjang, terutama perdamaian dan stabilitas politik.

Negara di Asia yang Berhasil Keluar dari Kemiskinan

Berikut adalah beberapa negara di Asia yang pernah masuk kategori miskin, namun berhasil melakukan transformasi ekonomi hingga keluar dari daftar negara termiskin.

Negara Kondisi Dahulu Strategi Perubahan Hasil Saat Ini
Vietnam PDB per kapita ± $200 pada 1980-an, ekonomi hancur pasca perang Reformasi ekonomi (Doi Moi), industrialisasi, investasi asing PDB per kapita ± $4.300 (Rp 64,5 juta), kemiskinan turun drastis
Tiongkok Lebih dari 80% penduduk miskin pada 1970-an Reformasi pasar, industrialisasi, perdagangan global Menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia
Korea Selatan PDB per kapita ± $150 pada 1960-an Investasi besar di pendidikan dan industri teknologi PDB per kapita ± $34.000 (Rp 510 juta), masuk negara maju
Malaysia Ekonomi berbasis pertanian pada 1970-an Diversifikasi ke sektor industri, minyak, dan pariwisata PDB per kapita ± $13.000 (Rp 195 juta)

Peta Sebaran Kemiskinan di Asia Berdasarkan Kawasan

Kemiskinan di Asia tidak merata. Beberapa kawasan memiliki tingkat kemiskinan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan lain.

Kawasan Negara dengan Kemiskinan Tertinggi Rata-rata PDB per Kapita Tantangan Utama
Asia Selatan Afghanistan, Pakistan, Nepal, Bangladesh ± Rp 30 juta Populasi padat, ketergantungan pada pertanian, rendahnya akses pendidikan
Asia Barat (Timur Tengah) Yaman, Suriah ± Rp 67,5 juta Konflik berkepanjangan, sanksi ekonomi, ketergantungan migas
Asia Tenggara Myanmar, Kamboja, Laos ± Rp 45 juta Ketimpangan pendapatan, infrastruktur belum merata
Asia Tengah Tajikistan, Kirgizstan ± Rp 60 juta Terbatasnya industri, ketergantungan remitansi
Asia Timur Tidak ada negara dengan kemiskinan ekstrem ± Rp 225 juta Tantangan utama adalah ketimpangan antar wilayah

Kesimpulan

Afghanistan, Yaman, dan Myanmar saat ini menempati posisi sebagai negara termiskin di Asia, dengan pendapatan per kapita di bawah Rp 20.000.000 per tahun. Penyebab utamanya meliputi perang, korupsi, dan ketergantungan pada sektor tradisional.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan kerja sama internasional, investasi di SDM, dan tata kelola pemerintahan yang baik. Dengan langkah-langkah strategis, diharapkan negara-negara ini dapat mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Rekomendasi Buku Terkait

1. Negara Maju dan Negara Berkembang

Negara Maju dan Negara Berkembang

Dalam ekonomi internasional, negara-negara dibagi menjadi dua kategori utama: negara maju dan negara berkembang. Negara maju memiliki tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat yang tinggi, termasuk pendapatan per kapita yang besar, pendidikan yang baik, serta penguasaan teknologi yang mumpuni. Sementara itu, negara berkembang umumnya masih menghadapi berbagai tantangan seperti pendapatan rendah, angka kemiskinan tinggi, serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan.

Namun, klasifikasi ini tidak bisa hanya didasarkan pada pendapatan per kapita. Banyak indikator lain yang turut menentukan, seperti tingkat pengangguran, angka kematian ibu dan bayi, tingkat melek huruf, serta kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan. Artinya, untuk menentukan apakah suatu negara tergolong maju atau berkembang, perlu dilihat dari berbagai aspek kehidupan, bukan sekadar angka ekonomi semata.

2. Korupsi Subur, Negara Hancur

Korupsi Subur,Negara Hancur

Korupsi di Indonesia dipicu oleh lemahnya karakter bangsa, kurangnya penerapan ajaran agama, serta rendahnya nasionalisme dan transparansi dalam pemerintahan. Kondisi ini diperparah oleh keputusan pejabat yang tidak berpihak pada rakyat, sehingga membahayakan masa depan generasi muda. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pendidikan antikorupsi sejak dini dengan menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kesederhanaan.

Buku Korupsi Subur, Negara Hancur membahas secara lengkap tentang pengertian korupsi, penyebab, dampak, hingga cara pencegahannya. Buku ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran siswa akan bahaya korupsi dan pentingnya menjaga nilai-nilai moral dan agama agar tidak menyimpang dalam kehidupan sosial.

3. Melindungi Negara

Melindungi Negara

Buku ini mengajak pembaca memahami pentingnya upaya bersama dalam melindungi negara, baik dari sisi keamanan maupun pertahanan. Mengamankan negara dilakukan melalui diplomasi, ekonomi, dan militer dalam hubungan internasional untuk mencapai kepentingan nasional. Sementara itu, mempertahankan negara fokus pada perlindungan terhadap kedaulatan, wilayah, dan bangsa dari berbagai ancaman.

Ancaman terbesar seperti invasi bersenjata dan disintegrasi bangsa dibahas secara mendalam karena menyangkut kelangsungan hidup negara. Namun, penulis menekankan bahwa dengan persiapan sejak dini, hal ini bisa dihadapi bersama. Komponen penting yang harus diperkuat meliputi sumber daya manusia, militer, ketahanan pangan dan energi, infrastruktur, serta industri pertahanan.

4. Ilmu Negara

Ilmu Negara

Ilmu negara mempelajari berbagai aspek negara, seperti sistem pemerintahan, interaksi politik, serta hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Hal-hal yang menjadi perhatian dalam ilmu negara meliputi asal mula terjadi dan tenggelamnya negara, unsur-unsur negara, hakikat negara, tujuan negara, fungsi negara, bentuk negara, dan sebagainya. Selain itu, peninjauannya juga meliputi negara yang hanya ada di dalam konsep pikir manusia.

Dalam konteks Indonesia, ilmu negara memberikan sumbangsih terhadap pengetahuan ketatanegaraan dan politik. Oleh karena itu, sebelum mendalami tata negara Indonesia, penting untuk mempelajari ilmu negara terlebih dahulu.

5. Negara Hukum

Negara Hukum

Prinsip negara hukum merupakan salah satu pilar utama dalam masyarakat demokratis yang mengatur pelaksanaan kekuasaan negara. Keterkaitan erat antara demokrasi dan negara hukum tercermin dalam pernyataan Mahkamah Hak Asasi Manusia Uni Eropa yang menyebut “democratic society based on the rule of law.” Prinsip ini diakui secara luas oleh negara-negara di dunia dan organisasi internasional.

Secara umum, terdapat dua tipe utama negara hukum, yaitu rule of law yang berkembang di negara dengan sistem common law dan rechtsstaat yang berkembang di negara dengan sistem civil law. Pasca perubahan UUD NRI Tahun 1945, Indonesia membentuk tipe negara hukum khas yang disebut negara hukum prismatic, yang memadukan unsur dari kedua sistem tersebut.

Hakikat semua tipe negara hukum adalah pemerintahan yang berdasarkan hukum (rule of law, not rule of man), perlindungan hak asasi manusia, dan peradilan yang independen.

Written by Vania Andini