in

Mengenang Seabad P.K. Ojong dan Sumbangsihnya untuk Indonesia

Photo by Kompas

Tepat seabad yang lalu, 25 Juli 1920, telah lahir sosok Auwjong Peng Koen, atau yang biasa dikenal sebagai Petrus Kanisius Ojong (P.K. Ojong).

Pria kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat ini dikenal sebagai salah satu pendiri Kompas Gramedia. Ia memulai karirnya sebagai wartawan pada surat kabar harian Keng Po dan mingguan Star Weekly.

Bersama Jakob Oetama, mereka mendirikan majalah bulanan Intisari pada tahun 1963, yang kini menjadi cikal bakal Kompas Gramedia.

Melalui P.K. Ojong, kita bisa mengetahui bagaimana karakter pemimpin yang jujur, pekerja keras, dan sederhana.

Menurutnya, hasil kerja yang baik hanya dapat dicapai dengan kedisiplinan, kepercayaan, dan kerja sama.

Untuk mengenang sosoknya, berikut sumbangsih-sumbangsih P.K. Ojong untuk Indonesia yang perlu kamu tahu.

1. Sumbangsih P.K. Ojong dalam dunia pendidikan

 

jakob-oetama-dan-pk-ojong
Potret Jakob Oetama dan P.K. Ojong semasa muda (Sumber: Kompas)

 

Selain dikenal sebagai wartawan yang andal, P.K. Ojong merupakan seorang guru yang patut dijadikan teladan. Kepeduliannya terhadap dunia pendidikan muncul sejak lama, bahkan sebelum menjadi jurnalis.

Ia merupakan lulusan sekolah guru negeri di Jatinegara pada tahun 1940, dan mengawali karirnya sebagai guru sekolah dasar katolik di daerah Mangga Besar, Jakarta.

Semasa hidupnya, P.K. Ojong merupakan anggota perhimpunan sosial Candra Naya, dan juga merupakan pencetus nama Universitas Tarumanegara.

Toko Buku Gramedia, yang hadir di Indonesia sejak tahun 1970, merupakan salah satu wujud komitmen P.K. Ojong dalam mencerdaskan bangsa.

Alasannya mendirikan Gramedia adalah demi memudahkan akses bacaan bermutu bagi para wartawan dan khalayak umum, guna memperluas wawasan mereka.

Beberapa puluh tahun berselang, Kompas Gramedia mendirikan Universitas Multimedia Nusantara bersama sejumlah lembaga pendidikan lainnya, hadir sebagai komitmen dari visi untuk mencerdaskan bangsa.

2. Sumbangsih P.K. Ojong dalam bidang hukum

Gelar sarjana hukum yang melekat pada P.K. Ojong, membuktikan bahwa tidak perlu bekerja di balik meja hijau untuk membela yang tertindas dan menghargai orang kecil di sekitar kita.

Ia berhasil meraih gelar sarjana hukum dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 1951.

Hal inilah yang mendasari munculnya rubrik Kompasiana pada Harian Kompas, menjadikannya alat mengkritik dan memberi saran untuk pemerintah dan membela yang tertindas.

P.K. Ojong juga menyokong pendirian LBH (Lembaga Bantuan Hukum) sebagai bentuk keberpihakannya pada orang miskin dan teraniaya.

Sosoknya yang sangat mengenal hukum membuatnya menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam bekerja.


Baca juga: Paket Premium Gramedia Digital x Kompas.id. Baca Buku & Berita Sepuasnya!


3. P.K. Ojong menjadi sosok yang menerapkan ekonomi humanis

 

p.k.-ojong-dan-keluarga
Potret P.K. Ojong dan keluarga (Sumber: Kompas)

 

Bersama Jakob Oetama, sebagai pendiri Kompas Gramedia, peran P.K. Ojong adalah menjadi pemimpin umum yang menggariskan kebijakan keuangan dan bisnis perusahaan.

Pada awal berdiri, Kompas Gramedia menerapkan “ekonomi humanis” di mana banyak kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan karyawan.

Berlangganan Gramedia Digital

Baca majalah, buku, dan koran dengan mudah di perangkat Anda di mana saja dan kapan saja. Unduh sekarang di platform iOS dan Android

  • Tersedia 10000++ buku & majalah
  • Koran terbaru
  • Buku Best Seller
  • Berbagai macam kategori buku  seperti buku anak, novel,religi, memasak, dan lainnya
  • Baca tanpa koneksi internet

Rp. 89.000 / Bulan

Berlangganan Gramedia Digital

Baca majalah, buku, dan koran dengan mudah di perangkat Anda di mana saja dan kapan saja. Unduh sekarang di platform iOS dan Android

  • Tersedia 10000++ buku & majalah
  • Koran terbaru
  • Buku Best Seller
  • Berbagai macam kategori buku  seperti buku anak, novel,religi, memasak, dan lainnya
  • Baca tanpa koneksi internet

Rp. 89.000 / Bulan

Ia juga dikenal anti mencampuri urusan redaksi, namun tetap rajin menyapa karyawan tanpa memandang status sosial.

Warisan nilai-nilai inilah yang membentuk sikap humanisme, yang terus menjadi roh perusahaan.

4. Peran P.K. Ojong dalam bidang seni dan budaya

Kecintaannya pada seni dan budaya dilandasi kepeduliannya terhadap seniman.

Beliau mengajarkan kebiasaan untuk membeli lukisan seniman lokal, sebagai investasi agar pelukis-pelukis lokal dapat terus berkarya dan turut mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.

Selain lukisan, P.K Ojong juga merupakan penggemar keramik tua, terutama martavan atau guci dari Tiongkok.

Salah satu benda tua yang dibeli P.K. Ojong adalah rumah kudus. Rumah ini dibawa bilah demi bilah dari tempat asalnya dari Jawa Tengah, untuk didirikan kembali di Palmerah Selatan.

Sampai hari ini, rumah kudus masih tetap kokoh berdiri. Di belakang dan samping rumah itu didirikan bangunan yang biasa dipakai untuk pameran seni, pertunjukan kesenian, seminar, dan sebagainya.

Rumah kudus dan bangunan di ketiga sisinya itu, saat ini dikenal sebagai Bentara Budaya Jakarta.

5. Peran P.K. Ojong dalam bidang lingkungan

 

pk-ojong-dan-presiden-kedua-soeharto
Potret P.K. Ojong dan Presiden ke-2 Soeharto (Sumber: Kompas)

 

Jika ditanya hal apa saja yang membuat P.K. Ojong tertarik, selain buku, jawabannya adalah tanaman. Kecintaannya pada tanaman tak pernah surut.

Dalam rubrik Kompasiana di Harian Kompas, beberapa kali ia menulis tentang pohon dan bunga. Ia pun telah mencanangkan penghijauan kota Jakarta sejak tahun 1952.

Di tengah kesibukannya, P.K. Ojong masih menyempatkan waktu berbincang tentang pohon dan penghijauan Jakarta dengan kepala Dinas Pertanian.

Gagasannya tentang penghijauan Jakarta juga disambut baik oleh gubernur kala itu, yakni Ali Sadikin, yang lantas membuat mereka berteman akrab.


Baca juga: Langkah Mudah Berlangganan Paket Bundling Gramedia Digital x Kompas.id


P.K. Ojong telah berpulang meninggalkan kita pada 31 Mei 1980.

Meski sosoknya telah tiada, namun warisannya terhadap dunia jurnalisme Indonesia, serta berbagai bidang lain sungguh tak ternilai, dan tetap abadi.

Ia adalah wartawan, cendekiawan, sekaligus guru bagi kita semua.

Gramedia Digital bangga menjadi bagian dari Kompas Gramedia Group yang turut #BerkolaborasiUntukIndonesia mewujudkan visi, misi, dan mimpi pendiri kami, P.K. Ojong.

 

100-th-ojong-07

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

  • Custom logo gratis
  • Akses gratis ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien
  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien