in

Maria Hartiningsih dan Perjuangannya demi HAM

Sumber foto header: Arus Pelangi

Memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM) dan nasib kelompok masyarakat marjinal adalah jalan hidup Maria Hartiningsih.

Begitu juga tentang profesi wartawan yang pernah digelutinya selama 31 tahun (15 Juni 1984- 31 Desember 2015) di Harian Kompas. Penulis buku Jalan Pulang ini juga merasa terpanggil untuk menjadi jurnalis.

Penghargaaan Yap Thiam Hien yang diterimanya pada 10 Desember 2003 merupakan pengakuan terhadap determinasi Maria pada isu-isu penegakan HAM di Indonesia. Sejak diadakan pertama kali pada 1992, Maria merupakan wartawan pertama yang mendapat penghargaan Yap Thiam Hien.

Penghargaan tersebut diberikan oleh Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia kepada orang-orang yang berjasa besar dalam upaya penegakan HAM di Indonesia.

“Setelah mendapat penghargaan itu, saya bekerja seperti biasa dan tidak merasa lebih dari yang lain, karena kerja jurnalistik bersifat komplementer. Tidak ada yang lebih hebat dibanding yang lain. Yang membedakan adalah passion,” ujar Maria, seperti dikutip Jurnal Ruang.

Penulis
Maria Hartiningsih saat pelatihan jurnalisme investigasi tentang perdagangan manusia pada Agustus 2016. (Sumber foto: Jaring.id)

 

 

 

 

Kerja jurnalistik menjadi jalan bagi Maria untuk menyuarakan pelbagai isu tentang ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang menimpa masyarakat marjinal, warga kelas bawah, dan perempuan.

Hak-hak dasar yang seharusnya diberikan negara kepada kelompok-kelompok masyarakat ini seringkali diabaikan. Ditambah lagi, menurutnya, hukum selalu tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.

“Orang kecil sulit mendapatkan keadilan,” lanjutnya. Mengutip Jurnal Ruang, Maria mencontohkan kasus Asyiani yang dituduh mencuri batang pohon jati milik Perhutani di Situbondo, Jawa Timur pada 2015. Nenek berusia 67 tahun itu akhirnya divonis satu tahun penjara dan denda Rp 500 juta.

Walaupun sekarang masyarakat sudah banyak yang memahami hak-hak dasar mereka sebagai warga negara, tapi perkara ketidakadilan terhadap masyarakat kelas bawah dan marjinal akan terus terjadi. Itu sebabnya Maria terus berjuang untuk mereka. “Saya hanya akan terus berjalan,” ujarnya, seperti dilansir Liputan 6.

Selepas pensiun sebagai wartawan Kompas pada akhir 2015, perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah pada 1954 ini tetap konsisten memperjuangkan kelompok-kelompok masyarakat tersebut.

Suaranya tetap nyaring dan kritis. Mengenai isu human trafficking (perdagangan manusia), misalnya, Maria mendorong para wartawan supaya menulis laporan secara komprehensif, jangan hanya saat sudah menelan korban saja.

Penulis
Buku “Jalan Pulang” karya Maria Hartiningsih

 

 

 

 

“Tugas pemerintah adalah menciptakan lapangan pekerjaan. Kalau tidak dibongkar dari sini, pemerintah akan senang saja. Mereka tidak mengerjakan tugasnya untuk mengurangi pengangguran,” kata Maria dalam pelatihan jurnalisme investigasi tentang perdagangan manusia pada Agustus 2016, seperti dikutip Jaring.id.

Sebagai wartawan, Maria berprinsip bahwa perspektif HAM harus dipakai ketika membuat laporan jurnalistik. “Satu pun yang meninggal, itu tetap manusia. Jumlah bukan masalah. Kita wajib memperjuangkan hak-hak dia, hak untuk hidup,” ucapnya.

Menurut ketua dewan juri Penghargaaan Yap Thiam Hien 2003, Soetandyo Wignjosoebroto, Maria Hartiningsih merupakan jurnalis yang tidak pernah lelah mengingatkan tentang masih banyaknya kekerasan dalam kehidupan masyarakat di Indonesia.

“Ia pun dapat mengajak kita untuk melihat isu yang berkaitan dengan kehidupan manusia korban. Di tengah kehidupan jurnalisme yang lebih banyak dan lebih suka menyebarluaskan tulisan mengenai kekerasan dengan bahasa yang sering jauh dari kalimat santun, jurnalisme yang dianut Maria secara konsisten ini sesungguhnya belum banyak,” kata Soetandyo, yang juga aktivis HAM dan guru besar Universitas Airlangga, setelah acara Penghargaaan Yap Thiam Hien 2003.

Kepedulian Maria pada isu HAM ini berangkat dari rasa dan nilai-nilai kemanusiaan. Perihal kemanusiaan ini jugalah yang dituturkan Maria dalam bukunya, Jalan Pulang.

Pada September hingga Oktober 2013, ia melakukan perjalanan rohani ke Santiago de Compostela di barat laut Spanyol, Lourdes di barat daya Perancis, Plum Village di Perancis.

Dari situ, ia pergi ke Aljazair, bahkan menginap selama empat hari di kompleks Djanatul al Arif di Mostaganem. Di situlah ia kemudian bisa bertemu dan mewawancarai Syeikh Khaled Bentounes, pemimpin spiritual Sufi dari Tarekat Alawiyah.

Penulis
Maria Hartiningsih dalam acara diskusi tentang buku “Jalan Pulang”. (Sumber foto: The Jakarta Post)

 

 

 

 

Perjalanan rohani tersebut lantas dituangkan Maria dalam buku Jalan Pulang. Di setiap perhentian dalam perjalanan itu, ia melakukan refleksi serta dialog dengan sesama peziarah lain.

Dalam semua proses dalam perjalanan ini, ia merenungkan kembali secara mendalam berbagai persoalan dan peristiwa kemanusiaan yang selama ini kerap membuatnya gelisah.

Berlangganan Gramedia Digital

Baca majalah, buku, dan koran dengan mudah di perangkat Anda di mana saja dan kapan saja. Unduh sekarang di platform iOS dan Android

  • Tersedia 10000++ buku & majalah
  • Koran terbaru
  • Buku Best Seller
  • Berbagai macam kategori buku  seperti buku anak, novel,religi, memasak, dan lainnya
  • Baca tanpa koneksi internet

Rp. 89.000 / Bulan

Berlangganan Gramedia Digital

Baca majalah, buku, dan koran dengan mudah di perangkat Anda di mana saja dan kapan saja. Unduh sekarang di platform iOS dan Android

  • Tersedia 10000++ buku & majalah
  • Koran terbaru
  • Buku Best Seller
  • Berbagai macam kategori buku  seperti buku anak, novel,religi, memasak, dan lainnya
  • Baca tanpa koneksi internet

Rp. 89.000 / Bulan

Empat hari singgah di Mostaganem dengan menginap di kediaman Syeikh Khaled Bentounes rupanya sangat mengesankan hati Maria. Ada perasaan diterima dengan ketulusan. “Mostaganem menyemaikan rasa persaudaraaan,” tulis Maria dalam Jalan Pulang.

Ia juga mengungkapkan tak satu pun orang yang menanyakan agamanya di sana. Alhasil, secara rohani, ia merasa menjadi bagian dari keluarga besar di Djanatul al Arif di Mostaganem.

“Dan… tatapan penuh kasih dari darwis pengembara sambil melambaikan tangan, saat mobil yang kutumpangi bergerak meninggalkan gerbang. Terima kasih tak terhingga….”


Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

  • Custom logo gratis
  • Akses gratis ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien
  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

gramedia digital

Written by Angga Rulianto

What do you think?