in

23 Cara Membuat Tanah Lebih Subur, Salah Satunya Pakai Pupuk Kimia?

Cara Membuat Tanah Lebih Subur – Salah satu kunci keberhasilan pertanian adalah tanah yang subur dan tanah yang subur tidak dapat diperoleh tanpa menerapkan cara pemupukan yang tepat? Masalah cara pemupukan tanah bukanlah hal yang sepele, karena kualitas tanah yang baik bukanlah jaminan.

Tanah yang baik hanyalah modal utama untuk memperlancar pekerjaan dan meningkatkan produksi. Jika tidak dikelola dengan baik, tanah yang subur pun tidak akan mencapai potensi maksimalnya.

Itulah mengapa penting untuk memahami kompleksitas tanah dan menerapkan metode pemupukan yang tepat. Penasaran, simak penjelasan lengkap tentang seluk beluk penyuburan tanah di bawah ini.

Jenis-Jenis Tanah di Indonesia

cara menyuburkan tanah
pexels.com

Sebelum membahas cara menyuburkan tanah, sangat penting untuk terlebih dahulu memahami jenis-jenis tanah di Indonesia dan kelebihannya.

Jenis tanah ini pasti banyak Anda temukan di sekitar Anda, namun sudahkah Anda memahami perbedaan karakteristik dan kelebihannya? Tahukah Anda jenis tanah apa yang baik untuk bercocok tanam atau berkebun?

Untuk lebih memahaminya, mari simak ulasan jenis tanah dan ciri-cirinya di bawah ini.

1. Tanah Regosol

Tanah Regosol ini termasuk dalam subtipe tanah Entisol. Jenis tanah ini terbentuk dari pelapukan material vulkanik seperti pasir, lava, debu, dan lipili. Jenis tanah ini tidak sepenuhnya berkembang. Tanah regosol memiliki tekstur kasar dengan pH 6-7 yang mengandung unsur P, K dan beberapa N.

Tanah ini sulit menahan air, sehingga tidak semua tanaman cocok untuk lapisan ini. Beberapa tanaman yang bisa ditanam dengan tanah regosol ini adalah palawija, tembakau dan pohon buah-buahan yang tidak terlalu membutuhkan unsur air. Tanah ini terdapat di daerah dekat Gunung Merapi, seperti Sumatera dan Nusa Tenggara.

2. Tanah Latosol

Jenis tanah ini terbentuk dari pelapukan batuan sedimen dan batuan metamorf. Tingkat pertumbuhan pakaian dalam di cakrawala lambat hingga rata-rata. Ini karena sebagian besar tanah terasa di daerah basah. Tanah merah hingga coklat ini memiliki pH antara 4,5 dan 6,5. Tanah ini mengandung unsur hara sedang hingga tinggi.

Namun, jenis tanah latosol ini memiliki kemampuan menyerap air yang baik, sehingga tahan terhadap erosi. Tanaman yang cocok ditanam di tanah ini adalah tembakau, kakao, pala, tebu, dan vanili. Beberapa daerah dengan jenis tanah ini adalah Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi.

3. Tanah Organosol

Tanah yang terbentuk oleh proses pelapukan dan penguraian bahan organik dapat ditemukan di daerah rawa atau daerah banjir besar. Oleh karena itu, jenis tanah ini memiliki tekstur yang lembut karena rentan terhadap genangan air. Ada 2 jenis tanah organik, humus dan gambut.

4. Tanah Aluvial

Tanah yang terdapat terutama di bagian hilir sungai ini merupakan tanah muda yang terbentuk dari pengendapan material halus dari aliran sungai. Lantai ini memiliki struktur lantai yang longgar dengan warna abu-abu.

Ph-nya termasuk dalam level ph rendah, sekitar 5,3-5,8. Karena pHnya, tanah ini sangat mudah digali. Kandungan unsur tanah aluvial ini sangat bergantung pada iklim daerah tersebut. Tanah yang terbentang di Jawa, Sumatera dan Papua cocok untuk menanam padi dan tanaman lainnya.

5. Tanah Podsolik Merah Kuning (PMK)

Sesuai dengan namanya, tanah ini berwarna merah hingga kuning yang berarti tanahnya kurang subur akibat pencucian. Jenis tanah ini terbentuk oleh curah hujan yang deras dan suhu yang sangat rendah, pH tanah ini termasuk dalam pH rendah dan banyak mengandung unsur Al dan Fe, kriteria tanah humus dan mudah lembab. Tanah dengan kriteria tersebut cocok untuk persawahan, tanah PMK ini tersebar merata di Indonesia.

6. Tanah Laterit

Tanah yang diangkut mirip dengan PMK ini memiliki suhu yang jauh lebih tinggi. Unsur hara di dalam tanah ini melimpah dan tanahnya juga cukup subur, namun hilang ketika larut oleh air hujan. Namun, jenis tanah ini banyak mengandung sesquioxides. Sayangnya jenis tanah ini tidak cocok untuk beberapa tanaman, hanya beberapa tanaman yang cocok untuk jenis tanah ini, yaitu jambu mete dan kelapa. Tanah ini terdapat di wilayah Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

7. Tanah Litosol

Tanah yang masih satu famili dengan tanah regosol ini terbentuk dari proses perubahan iklim topografi dan aktivitas vulkanik. Tanah ini termasuk dalam kelompok tanah Entisol, oleh karena itu selalu satu famili dengan tanah regosol. Struktur tanah ini besar dan rendah unsur hara, sehingga hanya dapat digunakan untuk tanaman palawija. Tanah ini membentang di Sumatera, Jawa, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara.

8. Tanah Rendzina

Tanahnya bertekstur lembut dan sangat permeabel, terbentuk dari basal, batugamping, dan granit. Karena permeabilitasnya yang tinggi, jenis tanah ini memiliki kemampuan menahan air. Tanah ini menyimpan banyak Ca, Mg dan sedikit unsur hara dengan pH tinggi. Tanah di Aceh, Sulawesi, Maluku dan Papua cocok untuk menanam tanaman keras musiman dan tanaman sampingan.

9. Tanah Mediteran

Tanah terdiri dari batugamping kaya karbonat yang merupakan bagian dari jajaran Alfisols yang biasa ditemukan di iklim lembab. Tanah ini banyak mengandung air, Al, Fe dan zat organik lainnya, sehingga dapat dikatakan sebagai tanah yang subur cocok untuk persawahan basah. Tanah ini membentang di Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

10. Tanah Grumusol

Tanah di Grumusol merupakan jenis tanah yang terbentuk dari strata batugamping dan vulkanik, dan umumnya bersifat basa sehingga tidak aktif. Tanah dengan kandungan liat tinggi termasuk dalam kelompok Vertisols. Tanah ini tergolong tidak subur karena jika iklimnya panas/kering akan retak dan menjadi sangat lengket saat hujan. Namun lahan ini masih bisa menjadi media tanam jati dan rerumputan. Tanah ini berada di Sumatera Barat, Jawa dan Nusa Tenggara Timur.

Cara Menyuburkan Tanah

cara menyuburkan tanah
pexels.com

Memiliki taman rumah sayang jika kesuburannya tidak terjaga. Memang, tanah saat fajar seringkali lebih mudah untuk menanam berbagai tanaman, termasuk tanaman hias dan pohon buah-buahan. Untuk menjaga kesuburan tanah di sekitar rumah, beberapa faktor harus diperhatikan.

Pertama, jenis tanah sering dibedakan berdasarkan ukuran partikel tanah. Misalnya pasir diklasifikasikan sebagai butiran besar, aluvial (butir sedang) dan lempung (butir sangat kecil). Jenis tanah mempengaruhi kemampuannya untuk mengalirkan air dan unsur hara. Keduanya berkontribusi besar terhadap kesuburan tanaman.

Kandungan mineral dan bahan organik. Pupuk mineral untuk tanah termasuk nitrogen, fosfor, kalium dan unsur mikro dan makro lainnya. Selama waktu ini, bahan organik mengikat sisa-sisa organisme dan tanaman yang membusuk di dalam tanah. Bahan organik hanya merupakan bagian kecil dari tanah, sekitar 5-10%, tetapi sangat penting untuk mengikat udara dan menjaga kelembaban.

Ketiga, organisme di dalam tanah meliputi bakteri, jamur, protozoa, nematoda, cacing tanah, tungau, dan flagellata. Organisme ini penting untuk pertumbuhan tanaman karena mereka dapat membantu mengubah bahan organik dan mineral di dalam tanah menjadi vitamin, hormon, senyawa penangkal penyakit, dan nutrisi yang dibutuhkan tanaman untuk berkembang.

Keempat, udara segar, yang membentuk sekitar 25% dari udara, membantu mikroorganisme dan tanah untuk hidup. Udara tanah juga merupakan sumber nitrogen yang penting yang digunakan oleh tanaman. Kelima, air dalam jumlah 25% dapat dianggap sebagai tanah yang subur. Air dan udara dapat mengalir melalui tanah yang berpori. Semakin besar bijinya, semakin cepat mengering seperti di tanah berpasir. Sementara tanah memiliki pori-pori kecil, melalui proses kapiler, air cenderung menggenang dan membunuh organisme tanah dan membuat akar tanaman rentan terhadap pembusukan.

Dari kelima faktor di atas, ada hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesuburan tanah. Berikut adalah daftar hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu tanaman tumbuh subur di kebun Anda.

Cara Menyuburkan Tanah dengan Metode Mekanik

Metode penyuburan tanah didasarkan pada pendekatan mekanik yang berfokus pada pengelolaan tanah dengan tujuan memodifikasi struktur tanah. Contoh dari metode ini adalah sebagai berikut.

1. Menyiram dengan Air

Tanah kering, tentu saja, kekurangan air. Jika cuaca dan iklim tidak memungkinkan hujan lebat, penyiraman buatan dapat dilakukan. Air dapat diarahkan dengan sprinkler (irigasi semprot) agar air terdistribusi secara merata.

2. Membuat Jalur Irigasi

Salah satu metode irigasi yang paling banyak digunakan di dunia adalah penyiraman dari saluran sungai. Dalam metode ini, seseorang dapat membuat saluran air di sungai sehingga air secara otomatis mengalir ke tanah. Lokasi tanah harus diperhatikan, yaitu di bawah aliran sungai atau sejajar dengan aliran sungai agar air dapat mengalir melaluinya.

Jika posisi geografis dan astronomis sungai tidak memenuhi persyaratan, pompa dapat menaikkan air secara artifisial. Namun, energi diperlukan. Air akan membasahi tanah dan bergabung dengan molekul tanah.

3. Membuat Jalur Pengaliran Limbah

Saluran irigasi biasanya berasal dari sungai dan sumber air lain yang sedikit mengandung bahan organik (autotrof). Memang, bahan organik ini dapat ditambahkan ke tanah melalui saluran irigasi jika air yang digunakan kaya nutrisi (eutrofikasi). Contoh air eutrofik adalah air limbah domestik dari daerah pemukiman.

Air limbah domestik digunakan dengan baik dalam sistem ini. Memang, limbah rumah tangga mengandung bahan organik yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh dan dapat disimpan di tanah sebagai humus. Namun, perlu diperhatikan kualitas air limbah domestik ini. Jika limbah terkontaminasi senyawa kimia beracun, air tidak akan layak digunakan.

4. Membajak Lahan

Pembajakan berguna untuk membolak-balikan lahan terutama daerah yang berada di zona topsoil (0 – 20 cm dari permukaan tanah). Dahulu pembajakan tanah dilakukan secara manual dengan cangkul atau bantuan hewan seperti kerbau. Kini pembajakan biasanya dilakukan dengan mesin traktor. Tanah yang telah dibajak akan terangkat dan menjadi gembur.

Tanah seperti tanah gembur berarti tanah yang memiliki rongga-rongga dalam strukturnya (tidak padat) tempat organisme tanah seperti cacing dan mikroorganisme dapat hidup. Akar tanaman juga akan lebih mudah menerima oksigen dengan struktur tanah berongga ini.

5. Penguatan Tanah

Tanah gersang seringkali tidak stabil dan rentan terhadap erosi tanah. Hal ini diperparah bila dari segi topografi, medannya memiliki kemiringan yang agak curam. Pada kondisi ini dapat dibuat parit atau terasering agar tanah dapat menerima air irigasi. Batuan buatan dan jaring juga bisa digunakan untuk menjaga posisi tanah.

6. Menaikan Porositas

Porositas tanah tergantung dari komposisi tanah. Tanah yang memiliki porositas tinggi memiliki kandungan partikel besar (sand) yang sedikit dibandingkan partikel yang lebih kecil (silt dan clay). Porositas yang tinggi berguna untuk menahan air dan nutrisi di dalam tanah dan tak terbawa air. Dengan demikian pada tanah dengan porositas rendah dapat ditambahkan partikel clay untuk selanjutnya dibajak agar tanah tercampur.

Cara Menyuburkan Tanah dengan Metode Non-biologis

cara menyuburkan tanah
pexels.com

Metode non-biologis sering mengambil pendekatan dengan mengubah kondisi kimia tanah. Kondisi ini dapat diubah dengan memasukkan sejumlah material ke dalam tanah. Contoh dari metode ini adalah sebagai berikut.

1. Menambahkan Pupuk Kimia

Kekurangan zat esensial (nitrogen, fosfor dan kalium) dalam tanah dapat membuat tanah menjadi steril. Untuk alasan ini, pupuk kimia dapat ditambahkan ke tanah. Pupuk jenis ini dapat langsung memberi makan tanaman karena senyawa kimia yang tersedia dapat langsung diserap tanaman. Di antara pupuk kimia yang banyak digunakan adalah NPK, ZA dan urea.

Pupuk kimia tidak boleh digunakan dalam dosis yang terlalu tinggi. Hal ini karena senyawa yang tidak diserap oleh tanaman dan disimpan di dalam tanah terbawa oleh air dan masuk ke dalam air tanah. Akibatnya, air tanah tercemar senyawa kimia yang berasal dari pupuk.

2. Menambahkan Mineral

Selain bahan esensial, tanah tandus juga dikenali dari minimnya mineral yang dikandungnya. Mineral ini termasuk boron, klorin, tembaga, kobalt, besi, mangan, magnesium, molibdenum, belerang, dan seng. Karena mineral biasanya berasal dari batuan yang lapuk, penambahan mineral dilakukan dengan menambahkan batuan ke atmosfer tanah.

3. Menambahkan Batuan Halus

Beberapa senyawa dapat ditambahkan ke dalam tanah melalui penambahan batuan halus, contohnya adalah batuan fosfat. Batuan fosfat ini tidak hanya mengandung fosfor saja namun juga karbon, kalsium, dan materi mineral tambahan seperti yang disebutkan sebelumnya. Namun sayangnya, batuan fosfat juga memiliki kandungan logam berat yang signifikan.

Untuk menggunakan batuan secara efektif, batuan dihaluskan hingga ukurannya cukup kecil kemudian ditambahkan bersamaan dengan pupuk kandang. Asam dari pupuk kandang akan melarutkan fosfat. Di lain pihak, fosfat akan menstabilkan nitrogen yang berasal dari pupuk kandang.

4. Tambahkan Debu Granit

Debu granit dan mineral glauconite dapat digunakan untuk meningkatkan kandungan kalium tanah. Debu granit mengandung sekitar 1-5% potasium sedangkan sisanya merupakan mineral tambahan. Sayangnya, debu granit kurang larut dalam air, sehingga lebih sedikit kalium yang dapat larut dengan cepat.

Efek positifnya, bagaimanapun, adalah bahwa debu granit adalah pupuk lepas lambat sehingga penambahan debu granit lebih jarang dibandingkan dengan senyawa anorganik lainnya. Hal yang sama berlaku untuk glauconite (pasir hijau).

5. Tambah Debu Basal

Debu basal yang berasal dari pelapukan batuan bisa ditemukan di kawasan gunung berapi aktif. Sangat baik bila digunakan untuk menyuburkan tanah karena mengandung berbagai mineral penting untuk memperbaiki pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

6. Atur Kadar pH

Mengatur kadar pH berarti membuatnya dalam kadar normal yaitu pada kisaran 6-8.

Bila terlalu rendah, tambahkan ion karbonat dari batuan kapur dan bila terlalu tinggi normalkan dengan ion sulfat dari batuan gipsum.

7. Hambat Pembuangan Nitrogen

Nitrogen yang terlepas dari tanah dapat membuat kesuburan tanah terganggu. Oleh karena itu perlu cara untuk menghambat pembuangan nitrogen ke udara. Salah satu cara yang bisa diterapkan adalah dengan memanfaatkan senyawa inhibitor alami misalnya dengan menggunakan tanaman tebu.

Cara Menyuburkan Tanah dengan Metode Biologis

1. Tambahkan Bahan Organik dan Pupuk

Penambahan bahan organik dan pupuk bertujuan untuk meningkatkan kualitas tanah secara keseluruhan. Bahan organik digunakan untuk mengaktifkan mikroorganisme di dalam tanah yang menguraikan bahan organik itu sendiri.

2. Lengkapi dengan Materi Hewani

Materi hewan seperti darah, tulang, dan bulu hewan memiliki kandungan nitrogen yang lumayan baik yang dapat digunakan sebagai pupuk organik.

3. Gunakan Serabut dan Abu Gergaji

Serabut dan abu gergaji bisa menjadi pilihan yang efisien untuk menambah kandungan nitrogen dalam tanah karena memiliki kadar nitrogen yang cukup yaitu sekitar 3 persen.

4. Memanfaatkan Lamun

Lamun merupakan salah satu jenis rumput laut dengan kandungan kalium yang penting bagi tanah. Lamun dapat membantu melepaskan mineral di dalam tanah, mendorong pertumbuhan tanaman, dan mencegah hama.

5. Cobalah Materi Ikan

Resep pemupukan tanah selanjutnya bisa menggunakan bahan organik ikan yang dikenal kaya nutrisi sehingga bisa membuat tanah subur dan tidak steril.

6. Menggunakan Kascing

Kascing adalah bahan organik berupa kascing yang dapat membentuk struktur tanah, menggemburkan tanah dan mempercepat penyerapan unsur hara oleh tanah.

7. Perbanyak Pupuk Kandang

Pupuk kandang bersumber dari kotoran ternak serta unggas dan kaya akan nitrogen, fosfor, serta kalium. Oleh karena itu, sangat cocok untuk meningkatkan kesuburan tanah.

8. Maksimalkan Pupuk Kompos

Pupuk kompos yang berasal dari bahan-bahan hijau seperti daun dan ilalang sangat baik untuk menambah kesuburan tanah karena mengandung rasio C/N yang tepat dan bersih dari bakteri patogen.

9. Buat Tutupan Hijau (Green Manure)

Tutupan hijau atau green manure didapat dengan cara menanam tanaman seperti ilalang dan tanaman sederhana lainnya. Saat tanaman tersebut mati, maka secara otomatis akan menjadi makanan yang bernutrisi bagi tumbuhan utama.

10. Tambah Pupuk Hayati

Pupuk hayati tak sama dengan pupuk organik apalagi pupuk non-organik karena tak hanya mengandung senyawa untuk kesuburan tanah tetapi juga mikroba tertentu.

Senyawa mikroba ini yang akan tinggal dalam tanah dan mengolah bahan-bahan organik menjadi materi organik dalam tanah.

Penulis: Ziaggi Fadhil Zahran

Baca juga artikel terkait:

Pengertian Hidroponik: Cara Menanam Tanpa Media Tanah

Manfaat Cacing Tanah untuk Pertanian dan Kesehatan Tubuh Manusia

Panduan Cara Budidaya Cacing Tanah Yang Menguntungkan

Kerajinan dari Tanah Liat: Karakteristik, Jenis, dan Ide Dekorasinya

Tanah Sengketa: Pengertian,Sebab, Proses Pengaduan & Menghindarinya



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by ziaggi