in

Arswendo Atmowiloto, Pengarang yang Dibutuhkan Sejarah

Sumber foto header: Kompas.id

Sudah dua pekan Arswendo Atmowiloto, sastrawan terkenal yang produktif sekaligus wartawan senior terkemuka ini, meninggalkan kita.

Pengarang Keluarga Cemara ini wafat pada usia 70 tahun akibat penyakit kanker prostat. Namun, karya-karyanya tetap dan bakal abadi. Arswendo membenarkan makna peribahasa “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang”.

Kenangan publik terhadap pria kelahiran Surakarta, 26 November 1948 ini memang kuat. Sampai-sampai “Harta Berharga”, lagu tema serial TV dan film Keluarga Cemara, dinyanyikan oleh kor Gereja Katolik Santo Matius, Tangerang, saat misa arwah jenazah Arswendo Atmowiloto pada Sabtu pagi, 20 Juli 2019. Suasana haru pun langsung menyeruak.

Keluarga Cemara boleh jadi merupakan warisan berharga yang paling dikenal luas publik Indonesia. Bermula dari cerita bersambung populer yang terbit perdana di majalah Hai empat dekade lalu, Keluarga Cemara makin mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia sejak tayang jadi serial TV selama hampir sembilan tahun (1996-2005).

Film adaptasi Keluarga Cemara juga sukses memikat 1,7 juta penonton ketika dirilis pada Januari 2019.

Penulis
Pada 30 Desember 1982, Arswendo Atmowiloto (tengah) saat memenangkan hadiah dan piagam Yayasan Buku Utama untuk buku-buku terbaik tahun 1981 dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef. Buku Dua Ibu karya Arswendo Atmowiloto terbitan Gramedia memenangkan kelompok baca tulis. (Sumber foto: Kompas.id)

 

 

 

 

“Kok enggak ada hantunya? Enggak ada santetnya?” ujar Arswendo menirukan respons para produser saat ia menawarkan cerita Keluarga Cemara untuk diangkat ke layar televisi.

Tidak banyak produser yang meminati kisah tentang keluarga bersahaja beranggotakan Abah, Emak, Euis, Ara, dan Agil ini. Soalnya, saat itu stasiun televisi lebih menyukai cerita horor.

“Saya bilang Indonesia enggak butuh santet banyak,” kata Arswendo, mengutip Kompas.com.

Nafsu Kreatif Arswendo

Keluarga Cemara yang menceritakan tentang sebuah keluarga yang mengalami kebangkrutan sehingga harus hidup seadanya di pinggiran kota, mengingatkan pada kisah hidup Arswendo sendiri.

Ia lahir sebagai anak ketiga dari enam bersaudara. Ayahnya, Djoko Kamit, adalah staf bagian hukum golongan II-C di pemerintah Surakarta.

Penulis
Buku “Imung”, salah satu karya legendaris Arswendo Atmowiloto

 

 

 

 

Pada 1960, saat Arswendo duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, Djoko Kamit meninggal dunia. Lima tahun berselang, sang ibu, Sardjiem, wafat. Arswendo dan lima saudaranya pun jadi yatim piatu.

Mereka lalu hidup dari uang pensiunan dan bayaran sewa pendopo rumah yang dijadikan Sekolah Dasar Negeri Harjopuran. Namun, uang tersebut tidak cukup. Suatu hari, mereka terpaksa harus mengambil beberapa lembar genteng rumah untuk dijual demi membeli beras.

Kas keluarga yang minim membuat Arswendo harus putar otak untuk mencari penghasilan tambahan. Ia pun menulis lantaran memiliki daya khayal yang kuat karena kerap membaca komik dan cerita wayang karya R.A. Kosasih dan B. Ardi Soma.

Tulisan-tulisan fiksi Arswendo mulai dimuat di koran Gelora Berdikari di Surakarta, majalah Mekarsari di Yogyakarta, dan majalah anak-anak Si Kuntjung yang terkenal di Jakarta. Perlahan, ia memasuki dunia jurnalistik lewat surat kabar Dharma Kanda di Surakarta, kemudian hijrah ke Jakarta pada 1973.

Di Ibu Kota, karier jurnalistik Arswendo melesat di berbagai media cetak, seperti majalah Astaga, majalah Midi, dan majalah Hai. Produktivitasnya sebagai pengarang juga sangat tinggi. Ia sampai menulis buku, Mengarang Itu Gampang (1982).

“Kreativitas berhubungan dengan nafsu. Menjadi pengarang harus memiliki nafsu untuk bersikap kreatif,” tulis Arswendo dalam buku Mengarang Itu Gampang.

Penulis
Suasana misa arwah Arswendo Atmowiloto di Gereja Katolik Santo Matius, Tangerang. (Sumber foto: Kompas.id)

 

 

 

 

Di rentang 1970-an sampai dengan 1980-an, ratusan karya Arswendo bertebaran dalam berbagai bentuk, mulai dari cerita bersambung, esai, kolom, naskah drama, cerpen, novel, hingga puisi.

Sejumlah penghargaan pun ia bawa pulang. Salah satunya Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 1975.

Si Jahilun

Akan tetapi, Arswendo tersandung saat memimpin redaksi tabloid Monitor. Pada 2 September 1990, Monitor merilis semacam angket dalam format kuis “Kagum 5 Juta” untuk mengajak pembaca memilih tokoh-tokoh favorit mereka.

Hasilnya, yang diterbitkan Monitor edisi 15 Oktober 1990, memperlihatkan 5.003 pembaca memilih Soeharto, B.J. Habibie mendapat 2.975 suara pembaca, 2.662 pembaca memilih Sukarno, Iwan Fals mendapat 2.431 suara, dan 797 orang memilih Arswendo (peringkat 10), sedangkan Nabi Muhammad di peringkat 11.

Sontak Monitor diserbu protes dari umat Islam. Monitor dan Arswendo dituduh menghina Islam. “Angket yang dimuat Monitor kemarin telah menjurus ke hal SARA. Kalau pun pengelola Monitor menganggap angket itu sebagai suatu gurauan, harusnya mereka tahu diri, mana yang boleh diguraukan dan mana yang tidak. Keyakinan adalah hal yang sangat hakiki, tidak boleh dibuat suatu gurauan,” kata Kiai Haji Hasan Basri, Ketua Majelis Ulama Indonesia MUI, saat itu, seperti dikutip Pantau.

Penulis
Sejumlah warga Solo menyalakan lilin untuk menghormati Arswendo Atmowiloto. (Sumber foto: Kompas.id)

 

 

 

 

Massa kemudian menuntut pemerintah untuk membredel Monitor. Bahkan, massa yang marah sampai mengobrak-abrik kantor Monitor di Jalan Palmerah Barat, Jakarta Pusat pada 22 Oktober 1990.

Kaca-kaca jendela pecah, komputer dirusak, foto-foto artis di dinding disobek-sobek. Para karyawan pun lari menyelamatkan diri. Banyak yang menangis. Arswendo luput dari kepungan massa dengan meloloskan diri lewat jalan belakang kantor. Dia naik mobil pick up dengan memakai helm.

Seperti diceritakan dalam artikel “Wendo dan Tujuh Samurai” di Pantau, Arswendo lalu meminta perlindungan ke kantor polisi di Jalan Kramat, tapi kemudian ia ditahan di situ.

Keluarganya pun cemas. Agnes Sri Hartiningsih, istri Arswendo, dan anak-anaknya sangat khawatir dan tak berani keluar dari rumahnya di Jalan Damai Raya, Petukangan Selatan, Jakarta.

“Saya malah mengunci diri di dalam kamar,” ungkap anak bungsu Arswendo, Cecilia Tiara.

Arswendo kemudian ditahan polisi sejak 26 Oktober 1990 dan dipindahkan ke Rutan Salemba. Persidangan Arswendo dibanjiri pengunjung sampai harus dijaga oleh 1.000 personel keamanan (polisi dan militer).

Jaksa menuntutnya dengan pasal berlapis-lapis, mulai pasal 156 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) tentang penghinaan agama, pasal 157 KUHP tentang penyebaran penghinaan terhadap golongan penduduk, sampai pasal 19 UUPP (Undang-Undang Pokok Pers) tahun 1982 tentang pelanggaran fungsi dan kewajiban pers.



Penulis
Buku “Canting” karya Arswendo Atmowiloto.

 

 

 

 

Akhirnya, pengarang Senopati Pamungkas ini divonis penjara lima tahun. Dalam persidangan, ia membacakan pledoi setebal 16 halaman.

Judulnya “Sebagai Pribadi Atau Kelompok Kita Ini Lemah dan Mudah Cemas Sebagai Bangsa Kita ini Kuat, Liat dan Selalu Mayoritas.” Arswendo meminta maaf dan menyatakan penyesalan dalam pledoinya sembari menjelaskan kronologi pembuatan kuis “Kagum 5 Juta” itu.

“Harusnya saya sudah tahu. Tanpa ada yang memberi tahu pun, harusnya sudah tahu. Nyatanya saya bego. Sangat bego. Jahilun,” katanya.

Lahirnya Pendosa

Ketika Arswendo di dalam penjara, napas Monitor pun berhenti. Ia ditutup pemerintah. Padahal, saat itu Monitor sedang nge-hit dan berjaya. Belanja iklannya mencapai Rp 6,32 miliar dan memiliki oplah 500-600 ribu eksemplar per minggunya.

Keluarga Arswendo pun kena imbasnya. Kondisi ekonomi yang tadinya berkecukupan tiba-tiba jadi terjun bebas. Sebagian dari harta keluarga terpakai untuk membayar perkara hukum Arswendo. Bahkan, Cecilia sampai harus berjualan kue buatan ibunya di sekolah.

Toh, mereka tidak menyerah. Selama dibui di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Arswendo pun tetap menulis artikel, naskah skenario, novel, dan cerita bersambung. Sejumlah surat kabar terkemuka, seperti Kompas, Suara Pembaruan, dan Media Indonesia memuat tulisan-tulisannya.

Namun, pada tulisan-tulisan tersebut, Arswendo selalu memakai beberapa nama alias (Sukmo Sasmito, Lani Biki, Said Saat, dan BMD Harahap) serta alamat palsu, yakni Jalan Bekasi Raya 45.

Penulis
Buku “Keluarga Cemara” sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris.

 

 

 

 

 

“Sampai tahun 1995 saya belum pake nama sendiri. Saya cuma ingin membuktikan bahwa saya profesional di bidang ini,” ungkapnya, seperti dikutip Pantau.

Di LP Cipinang, Arswendo juga rajin menulis catatan yang kemudian ia kirim ke anaknya. Pada 1993, catatan itu diterbitkan jadi buku Menghitung Hari. Isinya tentang kehidupan di penjara.

Buku ini lantas diadaptasi jadi sinetron yang tayang di SCTV dan menang di Festival Sinetron Indonesia (FS) pada 1995. Di dalam penjara, Arswendo membuat syukuran atas kemenangan ini.

Tak cuma menulis, Arswendo juga menyebarkan virus menulis ke rekan sesama narapidana. Alasannya, kehidupan di lembaga pemasyarakatan merupakan sumber cerita yang kaya.



Kata Arswendo, latar belakang narapidana yang beragam bisa menjadi karakter dan konflik menarik, serta unik.

Kepribadiannya yang hangat, bersahabat, senang bercanda, dan mudah tertawa juga dengan cepat diterima di kalangan narapidana maupun sipir.

”Siapa yang enggak kenal Wendo, apalagi mulutnya yang ceplas-ceplos itu. Kami yang sudah kenal dekat dengannya tidak akan sakit hati dengan canda yang selalu dia lontarkan. Justru hal itu menunjukkan bahwa Wendo memiliki kedekatan emosional dengan kita,” ujar aktor senior Slamet Rahardjo Djarot saat bertakziah ke kediaman Arswendo pada Jumat malam, 19 Juli 2019, seperti dilansir Kompas.id.

Penulis
Suasana rumah duka Arswendo Atmowiloto. (Sumber foto: Kompas.id)

 

 

 

 

Hukuman terhadap Arswendo dan kasus Monitor dipandang sebagai kebutuhan zaman oleh Arief Budiman, cendikiawan dan aktivis mahasiswa 1966.

Dalam kolomnya di majalah Tempo, kakak Soe Hok Gie ini berpendapat hukuman terhadap Arswendo sulit terelakkan karena keadaan saat itu sedang membutuhkan kambing hitam.

Sebab, pada awal 1990-an, kelompok masyarakat Islam belum punya peran politik yang kuat, meskipun jumlahnya mayoritas dalam populasi negeri ini.

Sejak awal 1970-an, Presiden Soeharto memang menekan Islam politik. Tekanan dan represi ini lalu mulai melunak pada awal 1990-an. Kasus Monitor pun jadi salah satu peluang bagi kelompok Islam supaya bisa diperhitungkan secara politik.

Menurut Arief, kasus Monitor juga dimanfaatkan oleh Menteri Penerangan saat itu, Harmoko, untuk menunjukkan bahwa pembredelan pers masih diperlukan. Tujuannya tentu demi tetap kuatnya Orde Baru.

Arswendo Atmowiloto, kata Arief, adalah hasil proses sosial ketika sejarah membutuhkan seorang pendosa. Arief menulis, “Seperti pahlawan, pendosa lahir karena adanya kebutuhan sejarah.”


 

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Angga Rulianto