likuifaksi terparah di dunia – Pernah nggak sih Grameds membayangkan bumi yang padat dan kokoh di bawah pijakan kaki kita tiba-tiba melunak, mencair, lalu mengalir menyerupai sungai lumpur raksasa?
Kedengarannya seperti adegan dalam film fiksi ilmiah bergenre apocalypse, tapi secara geologi, fenomena ini nyata dan pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia.
Dalam keilmuan sains kebumian, fenomena mencekam ini dikenal dengan nama likuifaksi tanah (soil liquefaction).
Di antara serangkaian peristiwa gempa bumi dahsyat di berbagai penjuru bumi, tragedi di Palu, Indonesia pada tahun 2018 kerap disebut oleh para ahli geofisika internasional sebagai salah satu peristiwa likuifaksi terparah di dunia.
Biar kita nggak sekadar merinding saat mendengar istilahnya, yuk kita kupas tuntas rahasia di balik fenomena geologi ini!
Kita bakal bahas mulai dari pengertian dasar, proses fisika tanah, peristiwa likuifaksi paling dahsyat dalam sejarah bumi, hingga langkah mitigasi teknik yang bisa dilakukan. Check this out, Grameds!
Table of Contents
Apa Itu Likuifaksi Tanah?
Likuifaksi adalah proses hilangnya kekuatan dan kekakuan tanah akibat guncangan gempa bumi, sehingga padatan tanah berubah sifat menjadi cairan kental (fluid-like behavior).
Secara terminologi, likuifaksi berasal dari bahasa Latin liquidus (cair) dan facere (buat).
Syarat Utama Terjadinya Likuifaksi di Lapisan Tanah
Secara mekanika tanah (soil mechanics), tidak semua jenis tanah bisa mengalami likuifaksi. Dikutip dari United States Geological Survey (USGS), fenomena ini memerlukan tiga syarat utama yang terjadi secara bersamaan:
1. Lapisan Tanah Pasir Jenuh Air (Saturated Loose Sand)
Tanah terdiri dari butiran pasir atau lanau yang belum tersolidasi (unconsolidated) dan memiliki pori-pori melimpah yang terisi air (water-saturated).
2. Muka Air Tanah Dangkal (Shallow Water Table):
Posisi air tanah berada sangat dekat dengan permukaan, biasanya kurang dari 10 meter.
3. Guncangan Gempa Bumi Kuat (Strong Seismic Shaking)
Gelombang geser seismik (S-wave) berintensitas tinggi yang menggoncang lapisan tanah secara mendadak.
Mengapa Tanah Bisa Kehilangan Daya Dukung?
Pada kondisi normal, daya dukung tanah dihasilkan dari kontak antarbutiran pasir yang saling mengunci (grain-to-grain contact). Kontak ini menciptakan apa yang disebut tegangan efektif.
Ketika gempa bumi terjadi, guncangan berulang yang sangat cepat memaksa butiran pasir merapat. Namun, karena pori-pori tanah terisi penuh oleh air, air tersebut terperangkap dan tidak sempat melarikan diri. Akibatnya, tekanan air pori (excess pore water pressure) melonjak drastis hingga menyamai atau melebihi beban berat tanah di atasnya.
Saat tekanan air pori setara dengan tekanan total, kontak antarbutiran terlepas sepenuhnya . Di titik inilah tanah kehilangan kekuatan gesernya (shear strength) dan bertransformasi menjadi susupan lumpur cair yang mampu menenggelamkan bangunan di atasnya!
Tragedi Palu 2018: Salah Satu Kasus Likuifaksi Terparah di Dunia
Mengapa gempa bumi di Palu, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 digolongkan sebagai salah satu bencana likuifaksi terparah di dunia?
Dikutip dari publikasi ilmiah di jurnal Nature Geoscience, gempa berskala 7,5 magnitudo yang dipicu oleh aktivitas Sesar Palu-Koro melahirkan fenomena likuifaksi jenis flow liquefaction (aliran likuifaksi) berkecepatan tinggi yang sangat langka dan masif.
Fenomena Flow Liquefaction yang Menggeser Pemukiman Ratusan Meter
- Pergeseran Lahan Berjarak Ratusan Meter
Di area Balaroa, Petobo, dan Jono Oge, tanah tidak hanya melunak di tempat, tetapi “mengalir” menyerupai sungai lumpur sejauh 1-1,5 kilometer menyusuri kemiringan lereng yang sangat landai.
- Fenomena “Memutus” Pemukiman
Ribuan rumah terangkat, terbelah, dan tertimbun lumpur tebal hanya dalam hitungan menit. Area pemukiman berhektar-hektar seolah hilang ditelan bumi karena lapisan tanah dasar berubah menjadi cairan kental berkecepatan tinggi.
Peran Air Tanah dan Irigasi dalam Memicu Kebasahan Ekstrem
Penelitian yang dirilis oleh Badan Geologi Kementerian ESDM menunjukkan bahwa keberadaan saluran irigasi Gumbasa yang tidak dilapisi beton (unlined canal) membuat air meresap secara konstan ke dalam tanah pasir di bawahnya selama bertahun-tahun.
Hal ini menciptakan kejenuhan air tanah yang sangat ekstrem sebelum gempa terjadi, sehingga saat guncangan melanda, tekanan air pori melonjak secara instan.
Deretan Peristiwa Likuifaksi Dahsyat Lainnya dalam Sejarah Geologi
Sebelum tragedi Palu, sejarah geologi mencatat beberapa peristiwa likuifaksi besar yang merubah lanskap dunia dan menjadi tonggak penting berkembangnya rekayasa geoteknik modern:
Gempa Niigata 1964 (Jepang) & Robohnya Apartemen Utuh
Gempa berskala 7,5 magnitudo di Niigata menjadi batu pijakan utama bagi para ilmuwan untuk memahami likuifaksi.
Gedung-gedung apartemen beton berketinggian 4 lantai di kawasan Kawagishi-cho bertumbangan dan miring hingga 45° tanpa kerusakan struktur yang berarti pada bangunannya.
Bangunan-bangunan tersebut “tenggelam” utuh karena tanah pendukungnya mencair secara mendadak.
Gempa Christchurch 2011 (Selandia Baru) & Fenomena Sand Boils
Gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo ini memicu likuifaksi yang meluas di seluruh wilayah perkotaan. Uniknya, fenomena yang paling mendominasi di sini adalah munculnya sand boils atau “gunung api pasir”, di mana lumpur cair meletus keluar dari celah-celah retakan tanah dan menutupi ribuan jalan raya serta pemukiman warga dengan ratusan ribu ton lumpur pasir.
Rekapitulasi Komparasi Peristiwa Likuifaksi Terbesar di Dunia
Untuk melihat gambaran komparatif skala dampaknya, berikut adalah rekapitulasi data dari berbagai peristiwa likuifaksi global:
| Peristiwa & Lokasi | Magnitudo Gempa | Jenis Likuifaksi Utama | Karakteristik Unik & Dampak Utama |
| Palu, Indonesia (2018) | 7,5 | Flow Liquefaction (Aliran) | Likuifaksi lateral masif meluncur hingga $1,5\text{ km}$, menimbun ribuan bangunan di Petobo & Balaroa. |
| Niigata, Jepang (1964) | 7,5 | Cyclic Mobility & Bearing Capacity Failure | Gedung apartemen beton roboh utuh/miring karena tanah runtuh; tonggak awal riset geoteknik. |
| Christchurch, NZ (2011) | 6,2 | Sand Boils & Lateral Spreading | Ratusan ribu ton pasir tersembur ke permukaan kota; memicu pemetaan ulang zona tata ruang. |
| Great Alaska, AS (1964) | 9,2 | Massive Lateral Slide | Keruntuhan tebing pantai pesisir di Anchorage akibat pencairan lapisan pasir halus. |
Langkah Mitigasi Geoteknik: Mencegah Risiko Likuifaksi Sejak Dini
Apakah daerah yang berpotensi likuifaksi bisa diidentifikasi sejak dini? Jawabannya sangat bisa, Grameds! Ilmu geoteknik modern telah merumuskan berbagai metode mitigasi untuk meminimalkan risiko fenomena ini.
Ciri-Ciri Tanah Pemukiman Rawan Likuifaksi
- Lokasi berada di kawasan endapan aluvial, dataran banjir sungai, atau lahan reklamasi pesisir pantai.
- Memiliki lapisan tanah pasir yang sangat gembur (loose sand) berdasarkan pengujian Standard Penetration Test (SPT) atau Cone Penetration Test (CPT).
- Kedalaman muka air tanah sangat dangkal (<5 meter)
Metode Pemadatan Tanah (Soil Densification) dan Rekayasa Pondasi
1. Pemetaan Kawasan Rawan Bencana (KRB): Tahap awal identifikasi kerentanan tanah.
Pemerintah dan tim ahli geologi menyusun peta mikrozonasi bahaya likuifaksi berdasarkan data bore-hole dan parameter gempa historis.
2. Perbaikan Drainase & Muka Air Tanah: Memadamkan kondisi jenuh air dalam tanah.
Membuat saluran penurun muka air tanah (dewatering system) agar lapisan tanah pasir tidak selalu dalam kondisi jenuh air penuh.
3. Pemadatan Tanah (Soil Densification): Meningkatkan kerapatan butiran tanah.
Melakukan proses Vibro-replacement, Dynamic Compaction, atau Grouting (penyuntikan semen) untuk merapatkan susunan butiran pasir gembur menjadi sangat padat.
4. Pondasi Dalam (Pondasi Tiang Pancang):Rekayasa pondasi tahan likuifaksi.
Memastikan struktur bangunan bertumpu pada lapisan batuan keras (bedrock) di bawah kedalaman zona cair, bukan sekadar bertumpu pada tanah dangkal.
Dampak Ekologis Pasca Likuifaksi
Likuifaksi tidak hanya merusak struktur bangunan dan infrastruktur di permukaan, tetapi juga membawa dampak ekologis jangka panjang yang merubah fungsi serta ekosistem lingkungan secara permanen.
Ketika pencairan tanah (soil liquefaction) terjadi, massa tanah mengalami deformasi hebat, teraduk, dan mengalir (flow liquefaction). Berikut adalah penjelasan detail mengenai dampak ekologis pasca-likuifaksi:
Kerusakan Struktur dan Kesuburan Profil Tanah
- Kerusakan Lapisan Topsoil
Lapisan tanah atas (topsoil) yang kaya akan bahan organik, humus, dan mikroorganisme teraduk atau tertimbun oleh endapan pasir, lanau, dan lumpur anorganik dari lapisan tanah dalam.
- Penurunan Kualitas Unsur Hara
Campuran material pasir-lanau mentah dari bawah tanah mengurangi tekstur gembur dan kapasitas ikat air tanah. Akibatnya, lahan bekas likuifaksi mengalami penurunan kesuburan yang signifikan, membuat tanaman sulit tumbuh secara alami tanpa reklamasi tanah yang intensif.
Gangguan Sistem Hidrologi & Akuifer Air Tanah
- Merusak Saluran Akuifer Alami
Pergeseran massa tanah secara lateral (lateral spreading) dan keruntuhan zona pemicu mencincang dan menutup rongga-rongga akuifer dangkal.
- Pencemaran Air Tanah
Sumur warga dan sumber air bersih terkontaminasi oleh endapan lumpur pekat, material lumpur jenuh, hingga potensi polutan sekunder dari infrastruktur pemukiman yang tertimbun (seperti saluran septic tank atau bahan kimia rumah tangga).
- Perubahan Arah Aliran Air Tanah
Terbentuknya retakan dan pemadatan tanah di area baru mengubah rute resapan air (recharge area) dan aliran air tanah dangkal di wilayah sekitar.
Pembentukan Bentang Alam Baru (Topografi & Lahan Basah)
- Penurunan Permukaan Tanah (Subsidence)
Hilangnya volume material bawah tanah menyebabkan amblesan tanah di beberapa titik hingga membentuk cekungan-cekungan besar.
- Munculnya Danau/Lahan Basah Baru (Topogenic Wetland)
Cekungan amblesan yang berada di bawah tingkat muka air tanah akan terisi air secara konstan, menciptakan danau-danau baru atau rawa-rawa buatan yang mengubah ekosistem daratan menjadi ekosistem perairan/lahan basah.
Disrupsi Vegetasi dan Keragaman Hayati Lokal
- Kematian Masif Vegetasi
Pergerakan tanah yang deras merusak perakaran pohon dan vegetasi lokal, mencabut atau menimbun tanaman di atasnya.
- Kehilangan Habitat Alami
Satwa lokal dan organisme tanah (seperti cacing tanah, bakteri pengikat nitrogen, dan fungi mikoriza) kehilangan habitat utamanya akibat perubahan sifat fisik dan kimia tanah secara drastis.
Ancaman Erosi Sekunder dan Bahaya Debu Pasir
- Rentan Erosi Air dan Angin
Tanah bekas likuifaksi yang mengering cenderung menjadi sangat gembur, mudah lepas, dan kehilangan pengikat alami. Saat musim hujan, area ini rentan mengalami erosi air dan tanah longsor susulan.
- Polusi Udara (Debu Pasir)
Di musim kemarau, material halus pasir dan lanau yang mengering di permukaan mudah diterbangkan angin, menyebabkan polusi debu yang mengganggu kesehatan pernapasan makhluk hidup di sekitarnya.
Mitigasi & Tata Ruang Pemukiman Rawan Likuifaksi
Tragedi fenomena likuifaksi terparah di dunia memberikan pelajaran berharga bahwa pembangunan pemukiman tidak boleh lagi mengabaikan aspek geoteknik dan hidrologi.
Mitigasi bencana berbasis penataan ruang (spatial planning mitigation) adalah benteng pertahanan utama untuk mencegah jatuhnya korban jiwa serta kerugian infrastruktur yang masif di kawasan rawan bencana.
Identifikasi & Indikator Fisik Tanah Pemukiman Rawan Likuifaksi
Sebelum membangun kawasan perumahan, masyarakat maupun pengembang (developer) perlu mengenali karakteristik lingkungan yang berpotensi mengalami likuifaksi:
- Morfologi Lahan
Terletak di daerah dataran aluvial (endapan sungai), bekas rawa-rawa, kawasan delta, atau lahan reklamasi pesisir pantai.
- Muka Air Tanah Dangkal
Air tanah dapat ditemukan dengan mudah pada kedalaman kurang dari 3-5 meter di bawah permukaan tanah.
- Karakteristik Tanah Gembur
Didominasi oleh pasir halus, pasir lanauan, atau lanau tanpa perekat (non-cohesive loose soil) yang belum terkompaksi secara alami.
- Kemunculan Sand Boils
Sering muncul semburan air bercampur pasir halus dari celah tanah saat terjadi guncangan kecil atau musim hujan ekstrem.
Penerapan Tata Ruang Berbasis Mikrozonasi (Spatial Planning)
Penataan ruang yang aman harus mengacu pada pemetaan mikrozonasi bencana geologi (seismic hazard microzonation) untuk membagi kawasan pemukiman menjadi beberapa zona peruntukan:
| Zona Kerentanan | Tingkat Risiko Likuifaksi | Arahan Pemanfaatan Ruang (Tata Ruang) |
| Zona Merah (KRB Tinggi) | Sangat Tinggi / Flow Liquefaction | Zona Terlarang (Red Zone). Dialihkan menjadi kawasan RTH (Ruang Terbuka Hijau), hutan kota, atau area konservasi. |
| Zona Kuning (KRB Sedang) | Sedang / Lateral Spreading | Zona Bersyarat. Diizinkan untuk pemukiman kepadatan rendah dengan syarat rekayasa geoteknik ketat. |
| Zona Hijau (KRB Rendah) | Sangat Rendah – Rendah | Zona Budidaya. Diperuntukkan bagi kawasan pemukiman padat, infrastruktur publik, dan pusat bisnis. |
Strategi Rekayasa Geoteknik untuk Pemukiman
Pada zona bersyarat, beberapa teknologi mitigasi struktur dapat diterapkan untuk mengamankan lahan pemukiman dari ancaman pencairan tanah:
- Pengujian Geoteknik Lapangan (SPT/CPT):Uji ketahanan dan kebalan lapisan tanah dasar.
Melakukan pengujian Standard Penetration Test (SPT) atau Cone Penetration Test (CPT/Sondir) untuk mengetahui nilai perlawanan penetrasi dan kedalaman lapisan keras (bedrock).
- Pemasangan Drainase Bawah Tanah (Subsurface Drainage):Menghilangkan faktor jenuh air pada pori tanah.
Membangun sistem sumur resapan, sumur dalam (dewatering well), dan saluran drainase terintegrasi untuk menjaga tinggi muka air tanah berada di kedalaman aman >8 meter
- Stabilisasi dan Pemadatan Tanah (Soil Densification):Meningkatkan kerapatan butiran pasir gembur.
Menggunakan teknologi stone column (tiang batu), vibro-flotation, atau penyuntikan semen (grouting) agar kepadatan tanah meningkat sehingga tekanan air pori tidak melonjak saat gempa.
- Penerapan Pondasi Dalam (Deep Foundations):Menyalurkan beban ke lapisan batuan keras.
Menggunakan pondasi tiang pancang (pile foundation) atau bored pile yang menembus lapisan tanah lunak hingga menancap kokoh pada batuan keras di bawahnya.
Edukasi Masyarakat & Kesiapsiagaan Jalur Evakuasi
Mitigasi fisik harus didukung oleh kesiapan komunal masyarakat lokal:
- Sistem Peringatan Dini Berbasis Komunitas
Melatih warga mengenali suara gemuruh atau retakan tanah saat gempa bumi melanda.
- Peta Rute Evakuasi Mandiri
Menentukan titik kumpul aman (assembly point) yang berada di luar zona merah atau di atas bukit/batuan keras (bedrock) terdekat.
- Pengawasan Izin Mendirikan Bangunan (IMB/PBG)
Pemerintah daerah wajib memperketat proses audit geoteknik sebelum menerbitkan izin pembangunan pemukiman baru.
Memahami pentingnya tata ruang dan mitigasi geologi adalah langkah awal untuk mewujudkan pemukiman yang aman dan ramah bencana.
Kesimpulan
Belajar dari rentetan peristiwa bencana, khususnya fenomena likuifaksi terparah di dunia seperti yang terjadi di Palu, membuka mata kita bahwa pemahaman geologi bukan sekadar teori akademis di atas kertas.
Pemahaman mengenai mekanika tanah, kondisi hidrologi, dan karakteristik Sesar aktif adalah kunci utama dalam membangun peradaban yang tangguh bencana (disaster resilient society).
Mitigasi berbasis sains dimulai dari tata ruang yang berbasis mikrozonasi hingga rekayasa geoteknik yang memadai.
Hal ini harus menjadi prioritas utama sebelum membangun infrastruktur di negara yang berada di jalur Ring of Fire seperti Indonesia.
Gimana Grameds? Makin penasaran ingin mendalami rahasia kebumian, sains geofisika, geoteknik, hingga ilmu mitigasi bencana alam lainnya?
Yuk, perluas wawasan dan literasi sainsmu dengan membaca berbagai koleksi buku ilmu kebumian, sains populer, dan kebencanaan terlengkap hanya di Gramedia.com. Mari terus belajar dan mengenal bumi tempat kita tinggal bersama Gramedia!
- 7 Fungsi Kawah Gunung Berapi
- Bikin Takjub Inilah Kawah Gunung Terbesar di Indonesia
- Fakta Aliran Lahar Gunung Berapi
- Fakta Awan Panas Gunung Berapi
- Fakta Tentang Magma
- Kawah Gunung Terbesar di Dunia
- Kaldera Terbesar di Dunia
- Likuifaksi Terparah di Dunia
- Pengertian Kaldera
- Perbedaan Kawah dan Kaldera
- Proses Terbentuknya Kawah
- Proses Terbentuknya Kaldera
- Wajib Punya Tas Siaga Bencana Gunung Meletus




