in

5 Fakta tentang La Galigo, Salah Satu Sastra Terbesar Dunia

Sumber foto header: Ciputra Artpreneur

La Galigo, sebuah epik mitos asal Sulawesi Selatan ini baru saja dipentaskan sebagai teater musik di Teater Ciputra Artpreneur pada awal Juli lalu.

Kisah tentang asal-usul penciptaan dunia, perang, dan asmara ini terdiri paling tidak 300.000 baris, mengalahkan epos Mahabharata yang panjangnya antara 160.000 sampai 200.000.

Apa saja yang kamu ketahui tentang salah satu sastra terbesar di dunia ini? Berikut 5 fakta menarik tentang La Galigo.


View this post on Instagram

 

A post shared by TEC Indonesia (@theeditors_club) on

1. Diakui sebagai Memory of The World oleh UNESCO

La Galigo menerima sertifikat Memory of The World (MOW) dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

La Galigo dianggap mengandung jejak-jejak literatur dan ingatan kolektif dunia. Sertifikat tersebut menjadikan karya sastra ini sebagai milik dunia dan nantinya akan menjadi bagian dari arsip nasional yang bisa dibaca oleh siapapun.

2. Naskah yang asli dan terlengkap tersimpan di Belanda

Naskah La Galigo yang asli dan terlengkap tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Terdapat ratusan naskah di sana.

Dari ratusan naskah tersebut, hanya satu yang alurnya berkesinambungan dan dapat dibaca sebagai satu kesatuan, yaitu berkode NBG 188. Naskah yang terdiri dari dua belas jilid ini diperkirakan hanya mewakili sepertiga cerita total La Galigo.


View this post on Instagram

 

A post shared by Universiteit Leiden (@universiteitleiden) on

3. Berbahasa Bugis Kuno

Bahasa yang digunakan dalam teks La Galigo adalah bahasa Bugis Kuno yang hanya dikuasai oleh kurang dari 100 orang di dunia. Bahasa Bugis Kuno ini pun jadi lekat dikenal sebagai bahasa Galigo.

Keunikan bahasa ini terletak pada penggunaan kosakatanya. Satu kata dengan makna serupa dapat punya lebih dari satu sinonim, seperti kata “emas” yang punya hingga 20 padanan kata.

4. Telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia

Pada 1987, Belanda dan Indonesia memulai kerja sama untuk memperkenalkan kembali naskah-naskah tersebut ke khalayak umum, yaitu dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Hasil terjemahan ini diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan La Galigo pada tahun 1995 dengan judul La Galigo Menurut Naskah NBG 188 (jilid I). Hingga 2017, buku ini telah mencapai jilid ketiga.

la galigo_gramedia digital
Beli e-book La Galigo di sini

 

 

 

 

 

 

 

La Galigo 1 oleh Ratna Kencana Colliq Puji Arung Pancana Toa

 

5. Telah diadaptasi menjadi puisi

Faisal Oddang menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Manurung: 13 Pertanyaan untuk 3 Nama pada 2018.

Kumpulan puisi ini tak sekadar menceritakan ulang kisah-kisah dalam La Galigo, tetapi juga mempertanyakan jalan pemikiran penulis-penulis terdahulu naskah La Galigo.

Menurut Faisal Oddang, ia percaya jika sebuah pertanyaan tak mampu dijawab, maka ia harus bertanya berkali-kali dalam bentuk yang berbeda-beda. Oleh karena itu, Manurung: 13 Pertanyaan untuk 3 Nama adalah salah satu bentuknya.

manurung 13 pertanyaan untuk 3 nama_gramedia digital
Beli e-book Manurung: 13 Pertanyaan untuk 3 Nama di sini

 

 

 

 

 

 

 

Manurung: 13 Pertanyaan untuk 3 Nama karya Faisal Oddang

 


 

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Adinda