in

4 Film Ini Kasih Gambaran Muda-mudi Modern Indonesia

Sumber foto header: Tuta Media Corporation

Sejarah membuktikan bahwa pemuda kerap kali memiliki andil besar dalam mengubah garis tangan bangsa dan negaranya. Tak usah jauh-jauh untuk mencari buktinya. Kita tengok saja sejarah Indonesia.

Sembilan puluh satu tahun silam, pada 27-28 Oktober 1928 di Batavia, Kongres Pemuda II diadakan oleh perhimpunan pemuda dari berbagai daerah maupun suku bangsa.

Dan, pada hari kedua kongres tersebut, lahirlah Sumpah Pemuda yang terkenal itu. Ikrar sebagai satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa tersebut lantas menjadi krusial bagi proses pembentukan bangsa Indonesia.

Soalnya, Sumpah Pemuda bukan hanya menekan soal nilai-nilai persatuan dan patriotisme, tapi juga kerukukan, kekeluargaan, hingga gotong-royong.

Berpuluh-puluh tahun pasca ikrar tersebut, para pemuda Indonesia dan kehidupannya telah alami banyak perubahan sesuai tuntutan zaman. Seberapa banyak perubahan yang terjadi?

Nah, empat film panjang berikut ini bisa dibilang berupaya merekam karakter muda-mudi modern di Indonesia.

KULDESAK (1997)

Film
Film Kuldesak yang berformat omnibus ini digarap secara gerilya dan memakai uang pribadi para sutradaranya. (Foto: Miles Films)

 

 

 

Film omnibus ambisius ini berupaya merekam karakter, kehidupan, dan pemberontakan anak-anak muda perkotaan di era 1990-an. Inilah generasi yang tengah gandrung sekaligus dipengaruhi budaya pop dunia yang hadir lewat musik, film, dan televisi.

Di tengah puncak perekonomian Indonesia di bawah rezim Orde Baru, karakter generasi muda dalam Kuldesak juga digambarkan tengah mempertanyakan identitas mereka, antara sebagai warga dunia atau orang Indonesia.

Omnibus ini memuat empat cerita yang disutradarai oleh Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T Achnas, dan Rizal Mantovani, serta diproduksi dengan melawan banyak peraturan pembuatan film yang sudah ditetapkan negara.

3 HARI UNTUK SELAMANYA (2006)

Film
Film 3 Hari untuk Selamanya dibintangi Nicholas Saputra dan Adinia Wirasti. (Foto: Miles Films)

 

 

 

Saudara sepupu, Yusuf (Nicholas Saputra) dan Ambar (Adinia Wirasti), harus menempuh perjalanan darat dari Jakarta ke Yogyakarta untuk membawa benda istimewa yang akan digunakan dalam acara penting keluarga.

Perjalanan bermobil itu kemudian menjadi panjang karena Yusuf dan Ambar mempertanyakan (bahkan sengaja melanggar) nilai-nilai yang mereka anut selama ini.

Ada pergolakan batin dan semangat memberontak pada diri mereka. Namun, di satu sisi, mereka tetap berupaya patuh pada pesan dan harapan orang tua.

Film ini disutradarai Riri Riza dan diproduseri Mira Lesmana.

SANG PEMIMPI (2009)

Film
Disutradarai Riri Riza, film Sang Pemimpi meraih 2 juta penonton. (Foto: Miles Films)

 

 

 

Mimpi adalah kata dan tindakan kunci sebagai awal untuk mengubah nasib. Inilah yang tertanam pada diri tiga anak SMA asal Belitong: Ikal, Arai, dan Jimbron. Apalagi, mereka bukan anak-anak kota di Jawa dari kelas ekonomi mapan.

Meski ada aral yang melintang, edukasi adalah solusi dan kesempatan bagi anak-anak muda seperti Ikal, Arai, dan Jimbron untuk memperbaiki hidup mereka di masa depan.

Mereka lantas berupaya keras untuk berprestasi di pendidikan sembari bekerja cari uang sendiri. Mereka juga dilanda segala elemen masalah remaja: identitas, nafsu, dan kenakalan lainnya.

Film ini diadaptasi oleh sutradara Riri Riza dari novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.

CATATAN HARIAN SI BOY (2011)

Film
Film Catatan Harian Si Boy juga menandakan kembalinya Abimana Aryasatya ke industri hiburan. (Foto: Tuta Media Production)

 

 

 

Boy adalah karakter fiktif populer dari kehidupan anak muda urban di akhir dekade 1980-an lewat lima film lawas Catatan Si Boy.

Dan, pada 2011, Boy dihidupkan kembali dalam film garapan sutradara Putrama Tuta ini. Karakternya masih tetap modern, urban, gaul, kompetitif, macho, hobi otomotif, dan disukai perempuan.

Perbedaannya, Boy terbaru (yang kini diperankan Ario Bayu) diperlihatkan bermasalah dengan orang tuanya. Tidak seperti Boy versi Catatan Si Boy yang akrab dengan orang tuanya.

Malah dalam plotnya, film Catatan Harian Si Boy boleh disebut menyuarakan kegelisahan dan penolakan anak-anak muda terhadap korupsi.

Nah, dari gambaran anak-anak muda dalam empat film tersebut, mana yang paling dekat dengan kehidupan kamu?


 

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

banner-promo-gramedia

Written by Angga Rulianto