Sosial Budaya

Mengenal Suku Baduy, Suku Asli Sunda yang Bersahabat dengan Alam

Suku Baduy
Written by Ananda

Suku Baduy – Indonesia adalah negara yang istimewa. Tidak seperti kebanyakan negara yang hanya terdiri dari satu ras atau suku saja, Indonesia terdiri dari beragam suku dan ras yang menghuni Sabang sampai Merauke.

Mayoritas suku di Indonesia memang sudah hidup modern di daerah perkotaan. Namun, tidak sedikit juga yang lebih memilih untuk tetap mempertahankan budaya nenek moyang dan hidup sederhana tanpa menyentuh kecanggihan teknologi. Beberapa suku di Indonesia bahkan memilih untuk tinggal di hutan belantara atau tempat yang jauh dari keramaian kota, dan Suku Baduy adalah salah satunya.

Suku Baduy memang tidak tinggal di hutan layaknya suku-suku lain yang ada di Indonesia. Alih-alih hutan, mereka tinggal di perkampungan yang jauh dari keramaian kota. Bedanya, kamu tidak harus berkunjung ke tempat mereka tinggal hanya untuk bertemu dengan orang-orang dari Baduy.

Pasalnya, tidak seperti kebanyakan suku lain yang menolak untuk keluar dari wilayah mereka tinggal dan menolak pendatang, Suku Baduy seringkali keluar dari wilayah tempat mereka tinggal dan berjalan di wilayah perkotaan. Tidak jarang kita yang tinggal di wilayah Jabodetabek melihat mereka di jalanan dengan pakaian hitam-hitam, berjalan tanpa alas kaki, menenteng tas kain sederhana dan menjajakan madu atau untuk mengunjungi sanak saudara.

Meski begitu, tidak semua orang di Indonesia mengenal Suku Baduy. Banyak orang yang tinggal di luar daerah Jabodetabek atau Pulau Jawa mungkin asing dengan suku satu ini. Kalau kamu adalah salah satunya, yuk kenalan dengan suku Indonesia yang satu ini.

Suku Baduy

Asal-Usul Suku Baduy

Kamu yang tinggal di luar wilayah Jabodetabek, mungkin penasaran dengan Suku Baduy. Mengingat kamu tidak tinggal di wilayah Banten atau sekitar Jabodetabek, maka kamu jadi tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Suku Baduy adalah sebuah suku etnis Sunda yang mendiami wilayah Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Sama seperti kebanyakan suku lainnya di Indonesia, Suku Baduy hidup berdampingan dengan alam sekitarnya. Meski tidak tinggal di hutan, orang-orang Baduy sangat menghargai hutan yang telah memberikan kehidupan bagi mereka.

Asal-usul nama ‘Baduy’ sendiri masih simpang siur hingga sekarang, mengingat ada banyak versi yang beredar seputar penamaan Suku Baduy. Konon nama ‘Baduy’ diberikan oleh orang Belanda yang pernah menjajah Indonesia.

Kisah ini bermula ketika orang Belanda bertemu dengan orang-orang Baduy di Tanah Sunda. Karena orang Baduy saat itu hidup berpindah-pindah, orang Belanda lantas menyamakannya dengan Suku Bedouin di Jazirah Arab yang juga suka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Cerita lain menyebutkan, nama Suku Baduy berasal dari nama sebuah sungai di utara Desa Kanekes. Sungai ini bernama Sungai Cibaduy, dan karena orang-orang ini tinggal disekitar sungai, maka orang-orang luar mulai menyebut mereka dengan sebutan Suku Baduy.

Menariknya, orang-orang ini tidak pernah menyebut diri mereka sendiri sebagai Suku Baduy, melainkan Urang Kanekes alias Orang Kanekes. Orang-orang Baduy percaya jika mereka adalah keturunan Batara Cikal, salah satu dewa yang diutus ke Bumi untuk menjaga harmoni di dunia.

Kisah lain menyebutkan bahwa Suku Baduy adalah warga Kerajaan Padjajaran yang memilih untuk mengasingkan diri ke Pegunungan Kendeng. Semua bermula ketika Putra Sunan Gunung Jati yang bernama Maulana Hasanuddin mendirikan Kesultanan Banten pada abad ke 16. Pada tahun 1570, raja kedua dari Kesultanan Banten yang bernama Maulana Yusuf berhasil mengalahkan Kerajaan Padjajaran yang berpusat di Bogor, Jawa Barat.

Sayangnya, disaat mayoritas rakyat Padjadjaran memutuskan untuk masuk Islam, sebagian lainnya memilih untuk mempertahankan agama nenek moyang dan kabur ke Pegunungan Kendeng dan tinggal di sana hingga hari ini.

Golongan Suku Baduy

Tidak seperti kebanyakan suku Indonesia yang terdiri dari satu golongan yang mendiami satu wilayah yang sama, orang-orang dari Suku Baduy berbeda. Meski sama-sama orang Baduy dan tinggal di wilayah Pegunungan Kendeng, Suku Baduy terbagi menjadi dua golongan yakni Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar.

Perbedaan Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar

Suku Baduy

dispar.bantenprov.go.id

1. Warna Pakaian

Bagi orang luar yang belum mengenal mereka, mungkin tidak akan menemukan perbedaan yang mencolok di antara keduanya. Padahal sebenarnya, dua golongan ini memiliki beberapa perbedaan. Perbedaan yang pertama yang paling mencolok dapat dilihat dari warna berpakaian mereka.

Orang Baduy Luar biasanya memakai pakaian berwarna hitam atau biru tua. Sedangkan orang Baduy Dalam memilih pakaian berwarna putih.

2. Makna Warna Baju

Perbedaan warna pakaian ini sebenarnya juga memiliki makna sendiri. Pakaian Suku Baduy Luar yang sering dipakai berwarna hitam atau biru yang berarti kesederhanaan.

Pakaian orang Baduy Dalam yang berwarna putih melambangkan kesucian sekaligus tanda bahwa mereka masih tetap teguh memegang adat istiadat nenek moyang mereka dan menolak kehadiran teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Orang Baduy Dalam sangat tertutup dan menggantungkan hidupnya kepada alam.

3. Keterbukaan Terhadap Budaya Luar

Dibandingkan dengan orang Baduy Dalam, orang Baduy Luar sudah lebih terbuka dengan budaya luar. Mereka mulai mandi menggunakan sabun, menggunakan barang elektronik, bahkan dengan senang hati menerima turis asing yang datang berkunjung, dan mengizinkan turis-turis ini untuk menginap di rumah mereka.

4. Letaknya

Orang Baduy Luar tinggal di lima puluh kampung yang tersebar di berbagai wilayah kaki Gunung Kendeng. Sedangkan orang Baduy Dalam tinggal di tiga kampung dan dipimpin oleh ketua adat yang dikenal dengan sebutan Pu’un. Kampung-kampung tersebut adalah Kampung Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo yang terpisah dari kampung Baduy Luar.

Suku Baduy

Agama yang Dianut oleh Masyarakat Suku Baduy

Suku Baduy

kompas.com

Mengenai kepercayaan, kamu mungkin beranggapan bahwa Suku Baduy beragama Islam. Namun kenyataannya, mereka tidak menganut satupun agama yang diakui oleh pemerintah.

Sama seperti kebanyakan suku-suku lain, orang-orang Baduy atau Kanekes menganut agama kepercayaan nenek moyang. Mereka memuja kekuatan alam dan juga nenek moyang yang terdahulu yang dikenal dengan ajaran Sunda Wiwitan.

Dalam ajaran Sunda Wiwitan, ada tiga alam, dua diantaranya dihuni oleh manusia. Alam pertama disebut Buana Nyungcung yakni alam tempat bersemayam Sang Hyang Kersa. Alam kedua adalah Buana Panca Tengah, sebuah alam yang ditempati manusia yang masih hidup. Terakhir adalah Buana Larang alias neraka yang menjadi tempat orang-orang jahat disiksa setelah mereka meninggal dunia.

Sama seperti agama lainnya, orang Baduy juga memiliki kitab, tempat beribadah dan juga doa-doa yang dilantunkan. Untuk beribadah, orang-orang dari Suku Baduy akan pergi ke Pamunjungan yang berada di wilayah perbukitan. Di sana, mereka akan melantunkan kidung atau nyanyian lengkap dengan beberapa gerakan tari.

Doa-doa agama Sunda Wiwitan bisa ditemukan di kitab yang menjadi pegangan hidup mereka. Kitab ini dikenal dengan nama Kitab Sanghyang Siksa Kandang Karesian. Kitab Sanghyang Siksa Kandang berisi ajaran keagamaan yang dianut oleh nenek moyang mereka di zaman Kerajaan Sunda ratusan tahun yang lalu.

Melihat Lebih Dekat Kehidupan Suku Baduy

Suku Baduy

iNews.com

Mayoritas orang Baduy bekerja sebagai petani. Namun, berbeda dengan kebanyakan petani yang membajak sawah dengan menggunakan kerbau bahkan traktor, orang Baduy terutama Baduy Dalam melarang hewan berkaki empat memasuki wilayah mereka.

Selain padi, Suku Baduy juga menanam kopi dan umbi-umbian. Sebagian hasil panen biasanya digunakan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, sebagian lagi dijual kepada orang lain. Selain bertani, orang Baduy juga masuk ke hutan untuk mencari madu.

Kaum perempuan biasanya menenun kain untuk dijadikan pakaian, ikat kepala, ikat pinggang, dan juga tas khas Suku Baduy yang dikenal dengan nama Koja. Selain digunakan untuk perjalanan jauh, Koja juga dijual kepada wisatawan yang datang berkunjung.

Berbeda dengan mayoritas orang-orang yang tinggal di perkotaan, yang tidak peduli bahkan berani merusak alam, masyarakat Suku Baduy justru sangat menghargai dan melindungi alam sekitar tempat mereka tinggal. Penghargaan mereka terhadap alam tercermin terlihat jelas dari bagaimana mereka menjalankan hidupnya, termasuk saat mereka membangun rumah sekalipun.

Orang Baduy tidak sembarangan membangun rumah. Mereka memperhitungkan segalanya, termasuk arah sinar matahari. Oleh karena itu, rumah-rumah Suku Baduy selalu menghadap ke arah utara atau selatan. Selain arah rumah, mereka juga menggunakan bahan alami yaitu bambu dan kayu yang mereka dapatkan dari hutan.

Untuk pondasinya, mereka menggunakan batu kali, anyaman bambu sebagai lantai serta dinding, dan daun pohon kelapa kering sebagai atapnya. Rumah khas Suku Baduy biasanya terdiri dari tiga ruangan.

Ruangan pertama digunakan sebagai ruang tamu atau tempat menenun bagi perempuan. Ruang tengah digunakan sebagai kamar tidur. Terakhir, ruang belakang sebagai dapur untuk memasak dan menyimpan hasil panen dari ladang.

Pantangan Suku Baduy

Suku Baduy

indonesiakaya.com

Berbeda dengan kebanyakan orang yang tinggal di kota, dan memilih hidup bebas tanpa terikat dengan peraturan yang terlalu banyak, orang-orang Suku Baduy masih sangat memegang teguh terhadap aturan yang diturunkan oleh leluhur mereka.

Tidak peduli jika aturan itu sudah berusia sangat tua, mereka masih menjalankannya hingga hari ini. Memang tidak semua orang Baduy seketat ini dalam aturan. Orang-orang Baduy Luar cenderung lebih terbuka, tetapi beda ceritanya dengan orang-orang Baduy Dalam.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, orang Baduy Dalam memegang teguh adat istiadat warisan nenek moyang. Mereka juga memiliki seperangkat larangan yang tidak boleh mereka lakukan dalam hidup. Berikut ini beberapa pantangan Suku Baduy.

1. Tidak menggunakan transportasi modern

Sebagai manusia modern, kita terbiasa menggunakan berbagai moda transportasi untuk pergi kemana-mana. Mulai dari transportasi umum seperti bus, kereta, dan angkutan umum bahkan membeli motor dan mobil untuk kendaraan pribadi kita.

Lain halnya dengan orang Baduy Dalam atau Baduy Luar yang justru anti dengan yang namanya kendaraan. Di desa mereka, tidak ada orang Baduy yang memiliki kendaraan dan tidak boleh ada kendaraan yang masuk. Sebagai gantinya, mereka mengandalkan kedua kakinya untuk pergi kemana-mana.

Hal ini juga berlaku ketika orang Baduy berpergian keluar wilayah mereka. Kalau kamu pernah bertemu orang Baduy, mereka selalu terlihat sedang berjalan kaki menuju suatu tempat.

2. Tidak menggunakan alas kaki

Selain dilarang menggunakan kendaraan, orang Baduy juga dilarang menggunakan alas kaki, baik itu sendal maupun sepatu. Lagi-lagi aturan ini, tetap berlaku meski mereka pergi keluar dari wilayah tempat tinggalnya.

Bayangkan, berjalan kaki kemana-mana saja sudah melelahkan, ditambah lagi tanpa alas kaki. Jika melakukan apa yang orang Baduy lakukan, maka kaki kita bisa melepuh karena akan sulit menahan panasnya jalanan.

3. Pintu rumah harus menghadap utara atau selatan

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, orang-orang Baduy sangat hati-hati dalam menjalani berbagai aktivitas, apalagi jika aktivitas itu berhubungan dengan alam.

Selain menggunakan semua bahan dari alam, Suku Baduy juga selalu membangun rumahnya menghadap ke utara atau selatan. Hal ini dilakukan agar rumah mereka dapat sepenuhnya terkena sinar matahari.

4. Dilarang menggunakan barang elektronik

Sebagai manusia modern, kita jelas tidak bisa hidup tanpa barang elektronik. Bukan hanya barang elektronik seperti televisi, atau kipas angin, kita bahkan tidak bisa menjauh dari smartphone.

Satu hari tanpa smartphone akan terasa seperti satu abad. Karena merasa betapa pentingnya itu smartphone, beberapa orang bahkan sampai rela putar balik jika smartphone-nya ketinggalan di rumah.

Orang-orang Baduy justru sebaliknya. Sejak kecil, mereka tidak pernah berkenalan dengan yang namanya barang elektronik. Jangankan memiliki kipas angin atau televisi di rumah, mayoritas orang Baduy juga tidak menggunakan smartphone.

Di masa sekarang, beberapa orang Baduy luar memang sudah berkenalan dengan barang elektronik. Namun tetap saja, barang elektronik yang digunakan juga sangat terbatas.

5. Hanya boleh memakai pakaian serba hitam atau putih

Salah satu ciri khas Suku Baduy adalah mereka selalu memakai pakaian berwarna hitam. Pakaian inilah yang membuat mereka lebih mudah dikenali ketika berada di jalanan.

Kebanyakan orang biasanya memakai pakaian dengan warna tertentu karena mereka menyukai warna tersebut. Namun, bagi orang Baduy, warna baju merupakan bagian dari identitas mereka.

Pakaian serba hitam menunjukkan bahwa mereka berasal dari Baduy Luar. Sedangkan orang Baduy Dalam selalu memakai pakaian berwarna putih. Dibanding orang Baduy Luar yang sering bepergian, orang Baduy Dalam tidak pernah menggunakan teknologi dalam kehidupannya, dan tidak pernah pergi keluar meninggalkan desa mereka.

6. Dilarang memakai pakaian modern

Tren pakaian menjadi salah satu tren yang paling cepat berganti. Setiap bulan, ada saja tren pakaian baru yang menarik untuk dicoba. Orang-orang yang tinggal di kota biasanya mudah sekali terpengaruh dengan berbagai jenis pakaian yang sedang hits saat ini.

Namun, sekeren apapun tren pakaian yang sedang populer saat ini, orang Baduy tidak akan pernah tertarik untuk menggunakannya. Hal ini karena sejak kecil, mereka memang dibiasakan untuk memakai pakaian berwarna hitam atau putih yang dijahit secara manual. Begitu juga semua orang yang tinggal di kampung mereka.

Bagi kita yang terbiasa hidup di kota, memakai pakaian serba hitam atau serba putih setiap hari mungkin akan terlihat membosankan. Namun, bagi masyarakat Baduy, memakai pakaian yang sedang tren saat inilah yang justru akan dipandang aneh oleh mereka, terutama warga Baduy Dalam.

Suku Baduy

Kesimpulan

Kehidupan orang Baduy memang jauh lebih sederhana ketimbang kita yang tinggal di daerah kota dan sangat dekat dengan segala teknologi maju yang ada disekitar kita. Namun di satu sisi, mereka juga layak menjadi contoh bagi kita yang hidup di kota. Salah satu teladan yang baik dari mereka adalah betapa mereka sangat menjaga alamnya dan sangat suka dengan kesederhanaan.

Mereka sadar bahwa semaju apapun kehidupan, manusia akan selalu bergantung kepada alam. Rusaknya alam, akan membuat manusia terancam. Kita yang tinggal di kota, sudahkah menyadari akan hal itu? Bukannya menjaga, kebanyakan orang justru dengan sengaja merusak alam hanya demi kepentingannya sendiri. Padahal jika alam rusak, manusia juga yang akan rugi.

Untuk Grameds yang mau mempelajari tentang Suku Baduy dan suku-suku lain di Indonesia, kamu bisa banget mengunjungi gramedia.com. Sebagai #SahabatTanpaBatas, kami selalu berusaha untuk menyediakan informasi terbaik dan terbaru untuk kamu serta #LebihDenganMembaca bersama Gramedia.

Penulis: Siti Marliah

BACA JUGA:

  1. Daftar Suku Bangsa di Indonesia serta Pranata Sosial Masyarakatnya
  2. Mengenal Asal-Usul dan Adat-Istiadat 5 Suku Terbesar di Jawa 
  3. Mengenal Lebih Dalam 6 Suku di Pulau Jawa
  4. 5 Rumah Adat Suku Dayak dan Budaya Dayak di Kalimantan
  5. Suku Tionghoa yang Tersebar di Indonesia 


ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien