Kesenian Sosial Budaya

Ragam Hias Geometris: Pengertian dan Contoh dalam Budaya Indonesia

ragam hias geometris
Written by Rifda Arum

Ragam Hias Geometris – Saat menempuh sekolah jenjang menengah pertama maupun atas, pasti Grameds mendapatkan mata pelajaran seni budaya dan terdapat penugasan membuat pola batik ‘bukan? Ketika menggambar pola batik itu, jenis pola apa yang Grameds pilih? Apakah pola batik mega mendung atau kawung? Nah, pola batik tersebut sebenarnya termasuk dalam ragam hias yang identik dengan materi seni budaya.

Jika membahas tentang ragam hias, di Nusantara ini memiliki beragam jenisnya yang kebanyakan diterapkan dalam pakaian batik, rumah adat, hingga senjata adat. Salah satu jenis dari ragam hias tersebut adalah ragam hias geometris yang ternyata menjadi motif tertua dan telah dikenal sejak zaman prasejarah! Bahkan mungkin saja Grameds sering menggambar motif-motifnya ketika tengah iseng saja sebab bentuknya yang abstrak. Lalu sebenarnya, apa sih ragam hias geometris itu? Apa pula jenis-jenis dari ragam hias ini? Bagaimana penerapannya dalam peninggalan kebudayaan yang ada di Nusantara ini?

Nah, supaya Grameds memahami akan hal tersebut, yuk simak ulasan berikut ini!

ragam hias geometris

https://www.pexels.com/id-id/

Pengertian Ragam Hias Geometris

Ragam hias geometris ini termasuk pada jenis-jenis ragam hias yang telah dikenal oleh banyak masyarakat Indonesia, terutama dalam hal kesenian. Yap, ragam hias geometris dianggap sebagai motif yang paling tua keberadaannya sebab telah dikenal sejak zaman prasejarah, yakni kira-kira pada zaman Yunani di tahun 2000 SM.

Ragam hias geometris ini adalah bentuk ornamen yang memiliki bentuk berupa susunan garis-garis, raut, dan bangun yang biasa kita kenal sebagai bidang geometri. Bidang geometri itu ada banyak sekali jenisnya, mulai dari garis, bentuk bangunan, bentuk lengkungan, hingga lingkaran. Misalnya dalam hal garis, terdapat garis lurus, garis zigzag, atau garis lengkung. Kemudian dalam hal bentuk bangunan, terdapat bentuk segitiga, lingkaran, persegi, prisma, dan lain-lain. Ragam hias ini juga kerap disebut sebagai ragam hias ilmu ukur, sebab dalam pembuatannya tak jarang orang-orang akan menggunakan elemen-elemen geometris yang terukur alias memakai alat bantu berupa penggaris supaya hasilnya lebih rapi. Motif-motif yang digunakan misalnya motif garis lurus, lengkung segitiga, lingkaran, meander, tumpal, swastika, patra mesir “L/T”, dan pilin berganda. Namun seiring perkembangan zaman yang mana motif ragam hias geometris juga ikut berkembang, maka dapat dibedakan menjadi 6 motif yakni motif swastika, motif kawung, motif pilin berganda, motif tumpal, dan motif pilin.

Faktor Pengaruh Pada Motif Ragam Hias

Keberadaan motif ragam hias yang memiliki banyak variasi ini tentu saja menjadi identitas khusus bagi budaya di wilayah tertentu, sehingga sangat bermanfaat bagi para arkeolog maupun sejarawan. Terdapat beberapa faktor pengaruh pada variasi motif ragam hias yang ada di Nusantara ini, yakni:

  • Lingkungan alam
  • Flora di suatu daerah
  • Fauna di suatu daerah
  • Manusia sebagai anggota masyarakat di suatu daerah

Kebanyakan motif ragam hias yang ada di Nusantara ini menggunakan motif hias flora fauna yang asing untuk ditemui, sebab sebagian besar memang berasal dari pengaruh asing. Contoh: adanya motif ragam hias berupa burung phoenix, naga, awan biru, hingga batu karang yang mana berasal dari seni Cina dan biasanya ditemukan pada karya seni rupa yang khas dari utara Pulau Jawa. Kemudian ada juga motif bunga teratai yang bermakna sebagai kelahiran, diambil dari kesenian Hindu India dan banyak diterapkan pada arca dan relief candi di Nusantara ini.

Fungsi Ragam Hias Geometris Apabila Diterapkan Pada Benda Pakai

  • Untuk menghias bagian tepi atau pinggiran dari suatu benda yang hendak dipakai oleh manusia. Biasanya berupa garis zig-zag, garis-garis silang, dan lain-lain.
  • Sebagai pengisian terutama pada permukaan bidang dari benda pakai tersebut.
  • Sebagai inti atau bagian yang berdiri sendiri dalam bentuk benda pakai.

motif gemoetri - ragam hias geometris

Fungsi Ragam Hias Bagi Masyarakat

Keberadaan ragam hias dalam corak apapun itu, pasti memberikan fungsi estetis bagi masyarakat. Namun ternyata, fungsi dari ragam hias tidak hanya sekadar fungsi estetis saja lho… Nah, berikut adalah beberapa fungsi dari ragam hias bagi masyarakat:

  1. Sebagai hiasan benda, baik itu benda yang berupa seni terapan maupun seni murni.
  2. Untuk mempercantik penampilan alias fungsi estetis.
  3. Sebagai simbol dari status sosial dari suatu individu yang hidup di tengah masyarakat multikultural.

Teknik Dasar Menggambar Ragam Hias

Pada dasarnya, ketika hendak menggambar motif ragam hias apapun itu termasuk ragam hias geometris, haruslah mempunyai aturan atau tekniknya, yakni sebagai berikut:

  1. Perhatikan secara detail pada pola bentuk ragam hias yang hendak digambar.
  2. Persiapkan alat dan media gambar.
  3. Tentukan ukuran dari pola bentuk ragam hias yang akan digambar.
  4. Buatlah sketsa dari bentuk ragam hias terlebih dahulu.
  5. Jika sketsa sudah selesai, lakukan tahap finishing dengan menebalkan dan memberi warna pada pola bentuk ragam hiasnya.

seni rupa dan kriya - ragam hias geometris

Klasifikasi Ragam Hias Geometris

1. Tumpal

tumpal - ragam hias geometris

Motif tumpal ini biasanya diterapkan dalam seni batik dan tenunan. Bentuk dari motif ini juga beragam, mulai dari sulur-suluran tumbuhan yang melambangkan kesuburan hingga bentuk gunung yang melambangkan keteguhan dan kekuatan untuk menolak bala. Contohnya adalah Batik Pesisir (berasal dari Indramayu) yang bersifat naturalis guna menunjukkan adanya pengaruh kuat dari kebudayaan asing dengan pemilihan  warna yang bervariasi.

2. Pilin Berganda

pilin berganda - ragam hias geometris

Keberadaan motif geometris ini dapat Grameds temui di seluruh kepulauan Indonesia, terutama bagian timur. Bentuk dari motif pilin berganda ini hampir menyerupai huruf “S” atau kebalikannya. Motif ini bahkan dianggap telah ada pada kebudayaan perunggu di zaman prasejarah atau biasa disebut sebagai kebudayaan perunggu Eropa.

Penerapan motif ini banyak dijumpai pada kapak perunggu, ukiran kayu, gantungan perkakas, dan perabotan rumah lainnya. Namun, penerapan motif ini tidak hanya pada perabot rumah dan gantungan perkakas saja, tetapi juga pada batik, salah satunya di Jawa Tengah yang biasa disebut sebagai motif Parang Rusak.

3. Meander

meander - ragam hias geometris

Motif geometris meander ini dianggap telah ada sejak zaman perunggu yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah, mulai dari Asia Tenggara yang salah satunya adalah Indonesia, Asia Timur, Eropa, hingga Yunani. Bentuk motif ini berupa deretan huruf “T” yang berdiri tegak lurus dan terbalik secara berganti-ganti. Bentuk dari motif meander ini hampir mirip dalam seni Tionghoa, yakni seolah mengalir mirip awan, maka dari itu biasanya juga kerap disebut sebagai Pinggir Awan.

Namun, keberadaan motif geometris ini tidak selalu berbentuk demikian, sebab juga dapat berbentuk lingkaran yang nantinya akan diukirkan pada kapal, khususnya di Papua Utara.

4. Swastika

swastika - ragam hias geometris

Motif geometris yang satu ini telah ada sejak zaman perunggu Eropa Barat yang biasa disebut dengan Swastika, sementara di Tionghoa disebut dengan Banji. Motif Swastika ini menjadi bentuk perlambangan peredaran bintang-bintang yang ada di luar angkasa, khususnya matahari sekaligus menjadi tanda pembawa tuah bagi manusia di bumi.

Di Indonesia, motif ini dibuat dengan cara mengisi garis-garis lurus.

5. Kawung

kawung - ragam hias geometris

Motif kawung ini kerap digambar oleh siswa sekolah dalam penugasan seni budaya, apakah Grameds salah satunya? Bentuk dari motif geometris ini berupa lingkaran-lingkaran yang diatur sedemikian rupa sehingga akan menutup sebagian yang lain. Nama “kawung” ini berasal dari bahasa Jawa dan Sunda yang berarti “pohon aren”. Perlu diketahui, pohon aren itu apabila dipotong dengan cara melintang, maka akan nampak bijinya yang berjumlah empat.

Bentuk motif dari kawung ini sudah ada sejak zaman Hindu Jawa, contohnya pada kain yang selalu dipakai oleh Kertajaya selaku raja pertama dari Kerajaan Majapahit.

batik klasik legendaris - ragam hias geometris

Penerapan Ragam Hias Geometris Pada Rumah Adat Nusantara

Rumah Adat Saoraja

Berdasarkan pada penelitian dalam artikel jurnal yang berjudul “Analisis Ragam Hias Rumah Adat Saoraja di Desa Binanga Karaeng Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang” oleh Al Mukarramah ini menyatakan bahwa keberadaan ragam hias, terutama ragam hias geometris banyak diterapkan pada rumah adat Saoraja.

Perlu Grameds ketahui ya bahwa bentuk rumah adat Bugis ini memiliki bentuk yang hampir mirip dengan rumah adat Sumatera dan Kalimantan, yakni sama-sama berbentuk rumah panggung. Namun, pada rumah adat Bugis ini biasanya bentuknya lebih memanjang ke arah belakang, disertai adanya tambahan bangunan di samping dan depan rumah. Orang Bugis biasa menyebut tambahan bangunan tersebut dengan lego-lego. 

Dalam kehidupan sehari-hari, rumah adat Bugis ini dibedakan berdasarkan status sosial dari mereka yang menempatinya. Yakni ada rumah adat Saoraja (istana) dan Bola (rumah). Pada rumah adat Saoraja yang berarti rumah besar ini, biasanya akan ditempati oleh para raja beserta keturunannya. Sementara pada rumah adat Bola biasanya akan dihuni oleh rakyat biasa. Meskipun pada dasarnya, kedua jenis rumah adat Bugis ini tidak memiliki perbedaan yang mendasar, kecuali pada ukuran dan ragam hias yang digunakan sebagai ornamen hiasannya.

Ragam hias geometris banyak ditemukan dalam rumah adat Bugis yang berbentuk Saoraja, yang mana menjadi bukti bahwa keberadaan ragam hias memang berfungsi untuk menunjukkan status sosial dari individu. Ragam hias geometris yang ditemukan ada di bagian jendela dengan bentuk segitiga (cobo’-cobo’), belah ketupat (cidu), dan bentuk hati. Selanjutnya, dapat ditemukan pula di pegangan tangga dengan bentuk bulatan yang dibubut. Ragam hias tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghias saja, tetapi juga sebagai bagian dari konstruksi atau penahan pada pegangan tangga supaya terlihat kokoh.

Pada rumah adat Bugis ini, bagian tangga biasanya akan terdapat 13 anak tangga. Semakin tinggi rumah adat tersebut, maka akan semakin banyak pula jumlah anak tangganya, tetapi jumlahnya harus selalu ganjil. Angka ganjil pada anak tangga tersebut merupakan simbol angka Tuhan dan pemasangannya tidak boleh sembarangan.

Jika melihat pada makna simbolik dari ragam hias geometris yang terdalam di dalam rumah adat Bugis ini, maka setiap bentuk geometris-nya akan beragam, yakni:

  • Bentuk belah ketupat (cidu) menyimbolkan kesempurnaan yang mana berdasarkan atas filosofi masyarakat Bugis.
  • Pada bentuk segitiga (cobo’-cobo’) akan menyimbolkan kesuburan.
  • Pada bentuk segi delapan akan menyimbolkan manusia sempurna berdasarkan filosofi masyarakat bugis.
  • Pada bentuk hati akan menyimbolkan kasih sayang.
  • Pada bentuk bulat yang dibubut terutama di bagian pegangan tangga akan menyimbolkan kekuatan.

Mengenal Jenis-Jenis Ragam Hias di Nusantara

1. Motif Ragam Hias Padjajaran

Pada ragam hias ini memiliki bentuk ukel dari daun pakis dan ornamen lainnya serba bulat. Bentuk ukel tersebut hampir menyerupai tanda koma. Motif ragam hias Padjajaran ini biasanya ditemukan pada kayu ukiran yang berada di Makam Sunan Gunung Jati. Beberapa bagian dari motif ragam hias ini misalnya Angkup, Culo, Benangan, Simbar, dan lain-lain.

2. Motif Ragam Hias Majapahit

Pada ragam hias ini memiliki bentuk bulatan dan krawingan, biasanya terdiri atas ujung ukel pakis dan daun waru. Keseluruhan motif dari seolah berbentuk tanda tanya. Ragam hias ini ditemukan kembali oleh Ir. H. Maclaine Pont, seorang pejabat yang bekerja di Museum Trowulan. Keberadaan motif ragam hias dapat ditemukan pada tiang pendopo di Masjid Demak yang dianggap sebagai benda peninggalan Kerajaan Majapahit oleh Raden Patah.

3. Motif Ragam Hias Bali

Pada ragam hias ini sebenarnya hampir mirip bentuk motifnya dengan ragam hias Padjajaran. Hal yang membedakan terletak pada ujung ukel yakni adanya hiasan berupa sehelai parta. Masyarakat Bali memiliki julukan khusus pada motif ragam hias ini, yakni Patre Punggel yang biasanya dapat dilihat di pura sebagai hiasan pintu masuk.

4. Motif Ragam Hias Yogyakarta

Pada ragam hias ini memiliki motif khusus berupa sulur-sulur bunga dengan bentuk pilin tegar. Sulur bunga itu sebenarnya adalah bentuk akar gantung yang melilit menyerupai tali bergelombang. Pada jarak-jarak tertentu, akan terdapat buku-buku dengan tangkai daun. Kemudian pada setiap ujung tangkai daun, akan terdapat buah dan bunga.

Keberadaan ragam hias ini biasanya digunakan pada hiasan barang-barang kerajinan yang dibuat dari bahan aluminium, perak, dan emas. Contohnya adalah sendok, asbak, keris, gong, bejana, dan lain-lain.

5. Motif Ragam Hias Madura

Pada ragam hias ini seolah memiliki corak tersendiri, yakni berupa daun yang berbentuk agak kaku. Memang, motif dari ragam hias Madura ini diciptakan oleh para ahli seni yang berasal dari Madura dengan tidak mencontoh motif dari ragam hias daerah lain. Grameds dapat melihat keberadaan motif ragam hias Madura ini di Gedung Museum Pusat (Museum Gajah) yang ada di Jakarta.

6. Motif Ragam Hias Cirebon

Daerah Cirebon terkenal akan seni ukir kayunya yang mempunyai gaya tersendiri, terutama dengan menggunakan motif ragam hiasnya. Pada ragam hias ini, memiliki tiga motif tertentu, yakni bentuk awan, bukit batu karang, dan tumbuh-tumbuhan. Sebenarnya, ragam hias ini adalah bentuk gubahan dari ragam hias Padjajaran.

7. Motif Ragam Hias Pekalongan

Motif khusus pada ragam hias Pekalongan ini adalah adanya bunga dan buah khas, yakni bakung. Sayangnya, ukiran dengan motif ragam hias ini kurang terkenal sebab tidak dikembangkan dan diperjualkan oleh penduduk setempat, sehingga hanya diterapkan pada perabotan rumah tangga saja. Justru daerah Pekalongan ini terkenal akan batiknya.

8. Motif Ragam Hias Surakarta

Pada ragam hias ini, memiliki bentuk ukel pakis yang menjalar ke arah manapun secara cembung dan cekung, disertai pula dengan buah dan bunga. Hasil penciptaan motif ini dipengaruhi oleh alam daerahnya.

9. Motif Ragam Hias Mataram

Pada ragam hias ini, kebanyakan mengambil motif yang ada pada ukiran wayang purwa dari Kerajaan Demak. Hal tersebut karena menurut sejarah, ketika Kerajaan Demak tengah mengalami masa krisis, kebudayaan wayang dibawa hingga ke Kerajaan Mataram. Bentuk dari motif ragam hias ini mirip dengan cawenan-cawenan yang ada di pakaian wayang.

10. Motif Ragam Hias Jepara

Pada ragam hias ini berhasil dikembangkan oleh masyarakatnya terutama pada perhiasaan rumah tangga, yang bahkan juga diperdagangkan hingga ke luar negeri. Bentuk dasar dari ragam hias ini berupa prisma segitiga yang melingkar-lingkar dan memecah menjadi beberapa helai daun. Peninggalan pertama dari motif ini berada pada Makam Mantingan Jepara.

Nah, itulah ulasan mengenai apa itu ragam hias geometris dan penerapannya di rumah adat yang ada di Nusantara. Apakah Grameds pernah melihat ragam hias tersebut?

Sumber:

Mukarramah, A. (2019). ANALISIS RAGAM HIAS RUMAH ADAT SAORAJA DI DESA BINANGA KARAENG KECAMATAN LEMBANG KABUPATEN PINRANG (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR).

Baca Juga!