Akuntansi

Pengertian Likuiditas Hingga Perannya dalam Investasi

Pengertian Likuiditas
Written by Ananda

Pengertian Likuiditas – Likuiditas menjadi salah satu faktor penting dalam keberlangsungan suatu bisnis. Tentunya, suatu perusahaan harus memiliki cukup dana untuk memenuhi kewajiban keuangan alias utang. Oleh sebab itu, kita tentulah perlu memiliki uang tunai. Meski begitu, terlalu banyak kas akan mempertipis peluang untuk berinvestasi dan menyokong pertumbuhan perusahaan.

Berkaitan dengan hal itu, kita perlu memahami pengertian likuiditas, sebab mengukur likuiditas bisa membantu untuk menemukan keseimbangan yang tepat dan memantau “kesehatan” keuangan suatu perusahaan. Alhasil, bisnis kita bisa terbantu dan makin bertumbuh.

Tak cuma hal mendasar itu, likuiditas juga penting saat kita mengajukan suatu pendanaan atau pinjaman. Sebab, bank dan investor akan sangat memperhatikan rasio likuiditas dalam mempertimbangkan kemampuan suatu perusahaan dalam melunasi utangnya.

Hal ini tentu menjadi alasan bagus bagi kita untuk segera mempelajari likuiditas, mulai dari hal mendasar. Namun sebelum itu, memangnya apa pengertian likuiditas secara teori itu? Mari simak pembahasan di bawah ini terkait pengertian likuiditas hingga contoh dan perannya dalam investasi!

Pengertian Likuiditas

Pengertian Likuiditas

Pexels.com

Pengertian likuiditas secara umum sebenarnya memiliki dua arti. Dalam suatu perusahaan, likuiditas merupakan salah satu faktor penting untuk menentukan keadaan atau keberlangsungan. Oleh karena itu, banyak pelaku usaha yang menggunakan likuiditas sebagai tolak ukur atau acuan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam membiayai kebutuhan atau kegiatan operasional perusahaan.

Seperti yang kita ketahui, pengertian likuiditas dalam analisis akuntansi dan keuangan adalah ukuran seberapa mudah dan memungkinkan bagi suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, seperti utang usaha, deviden, pajak, dan lainnya, dengan menggunakan aktiva lancar.

Misalnya, kita mungkin melihat masih ada cukup uang kas untuk menutupi tagihan saat ini dan yang akan datang seperti yang kita harapkan. Atau, kita mungkin perlu memanfaatkan investasi dan aset lain yang dapat dikonversi menjadi uang tunai. Makin mudah kita mengubah suatu aset menjadi uang tunai, semakin likuid-lah aset tersebut.

Sebagai contoh, ada sebuah toko yang menjual perangko yang dapat dikoleksi. Toko ini mungkin menyimpan persediaannya untuk pembeli yang tepat agar mendapatkan harga terbaik, yang berarti perangko tersebut tidak terlalu likuid. Namun, jika toko perangko yang sama memiliki saham atau obligasi, keduanya dapat dijual dengan cepat sehingga investasi tersebut dianggap likuid.

Dalam pasar keuangan, istilah ini mengacu pada seberapa cepat sebuah investasi dapat dijual tanpa menimbulkan dampak negatif pada harganya. Jika kita tahu suatu investasi semakin likuid, artinya semakin cepat investasi itu dapat dijual, begitupun sebaliknya.

Dengan adanya likuiditas, memungkinkan aset yang dinilai lebih likuid akan diperdagangkan dengan harga lebih tinggi karena keuntungan yang diembannya. Sementara itu, aset yang tidak likuid diperjualbelikan dengan harga yang lebih rendah.

Perlu diketahui, perusahaan menggunakan aset untuk menjalankan bisnis mereka, termasuk memproduksi barang atau menciptakan nilai dengan cara lain. Aset dapat mencakup hal-hal seperti peralatan atau kekayaan intelektual. Sementara itu, persediaan atau produk yang dijual perusahaan untuk menghasilkan pendapatan, biasanya dianggap sebagai aset lancar karena biasanya akan dijual dalam waktu satu tahun.

Agar aset dianggap likuid, aset tersebut perlu berada dalam pasar yang mapan dengan banyak pembeli yang tertarik. Terlebih, aset itu juga harus memiliki kemampuan untuk memindahkan kepemilikan dengan mudah dan cepat.

Informasi yang kita perlukan untuk memeriksa likuiditas dapat ditemukan di neraca perusahaan. Pasalnya, aset biasanya terdaftar dalam urutan seberapa cepat mereka dapat diubah menjadi uang tunai. Jadi, di bagian atas neraca adalah uang tunai, aset yang paling likuid.

Di neraca ini, juga tercantum kewajiban atau hutang perusahaan kita. Kewajiban terdaftar dalam urutan kapan mereka akan jatuh tempo. Tagihan yang harus dibayar terlebih dahulu tercantum di bagian atas.

Membandingkan kewajiban jangka pendek dengan uang tunai dan aset likuid lainnya bisa membantu kita menjadi lebih paham akan posisi keuangan bisnis. Setelahnya, kita dapat meningkatkan likuiditas perusahaan dengan angka-angka rasio tertentu, seperti rasio lancar, rasio cepat, dan rasio kas.

Pengertian Likuiditas

Fungsi Likuiditas

Secara singkat, likuiditas suatu perusahaan yang tinggi dapat memicu daya tarik investor. Mereka akan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang positif, bahwa perusahaan kita sehat secara finansial dan memiliki resiko kerugian yang kecil. Dalam pasar saham pun, perusahaan dengan ciri tersebut disebut dengan kategori saham blue chip.

Menilik dari berbagai sumber, inilah berbagai fungsi likuiditas perusahaan.

  • Menjadi antisipator dana bila sewaktu-waktu perusahaan dihadang keperluan mendadak.
  • Mengukur tersedianya kas dan setara kas untuk memenuhi kewajiban utang jangka pendek.
  • Sebagai bahan pertimbangan mengenai kelayakan suatu perusahaan dalam menerima suntikan dana dari pemodal.
  • Menyokong jalannya aktivitas bisnis sehari-hari.
  • Memudahkan penarikan dana nasabah bagi pihak perbankan.
  • Dapat membantu manajemen perusahaan dalam mengawasi efisiensi modal.
  • Sebagai alat bantu dalam menganalisis dan menginterpretasi posisi keuangan jangka pendek perusahaan.
  • Berperan sebagai alat pemicu perusahaan dalam melakukan perbaikan kerja karyawannya.

Jenis-Jenis Rasio Likuiditas

Rasio, dalam hal akuntansi, adalah hubungan antara dua variabel keuangan yang secara sistematis terkait satu sama lain. Oleh karena itu, analisis rasio yang diperoleh dari proses perhitungan dan hasil rasio dapat dipakai sebagai bahan untuk mengambil keputusan atas kesepakatan suatu perusahaan.

Adapun tiga rasio terpenting untuk mengukur likuiditas, yaitu:

1. Rasio Lancar

Rasio lancar merupakan angka yang digunakan untuk menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban lancarnya dengan menggunakan aktiva lancar. Selain itu, rasio ini dapat digunakan sebagai perbandingan antara aktiva lancar dan kewajiban lancar.

Metode yang digunakan untuk mengetahui tingkat rasio lancar alias current ratio pada perusahaan cukup mudah, yaitu dengan mengamati jumlah aktiva lancar perusahaan seperti kas, piutang, persediaan dan aktiva lancar lainnya.

Jika aktiva lancar memiliki jumlah yang lebih besar daripada kewajiban lancar, maka perusahaan memiliki rasio lancar yang tinggi. Semakin tinggi rasio lancar, maka dapat dipastikan bahwa perusahaan tersebut memiliki kemampuan untuk melunasi hutang atau kewajibannya.

Rasio ini menghitung aset kelancaran perusahaan terhadap kewajiban lancarnya. Ini menentukan apakah perusahaan dapat melunasi semua hutang jangka pendeknya dengan uang yang diterima dari penjualan aset.

Rumus yang dipakai: Rasio Lancar = Aktiva Lancar/Kewajiban atau Utang Lancar

2. Rasio Cepat

Rasio cepat adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan untuk melunasi hutang jangka pendeknya tanpa menyertakan nilai persediaan perusahaan. Ciri khas dari rasio cepat atau quick ratio ini adalah hanya menggunakan uang tunai dan perhitungan setara kas lainnya untuk perhitungannya.

Perlu diperhatikan bahwa rasio cepat merupakan rasio yang menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan untuk melunasi utang jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar tanpa menyertakan nilai persediaan perusahaan.

Hal ini dikarenakan persediaan membutuhkan waktu yang relatif lama untuk diubah menjadi aset, jadi perusahaan menyisihkan persediaan terlebih dahulu. Perhitungan tingkat likuiditas dengan rasio cepat hanya menggunakan aset berwujud seperti uang tunai dan surat berharga sebagai komponen utama.

Jika rasio cepat berada di posisi teratas, maka kondisi keuangan seharusnya berada dalam kondisi stabil. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan akan lebih mudah melunasi hutang jangka pendeknya dengan kondisi keuangan yang baik. Mirip dengan rasio lancar, hanya saja rasio cepat ini cuma menganggap piutang, uang tunai, dan obligasi atau saham sebagai aset.

Beginilah rumusnya: Aktiva Lancar = Aktiva Likuid Lancar/Total Liabilitas

3. Rasio Kas

Rasio kas ini sebesar kas dibagi dengan kewajiban lancar. Penghitungan rasio ini akan berguna ketika perusahaan hanya dapat menggunakan uangnya untuk melunasi utang. Jika rasio kas berjumlah 1 atau lebih besar, artinya bisnis memiliki banyak likuiditas dan mungkin tidak akan menghadapi masalah dalam membayar utangnya.

Rumusnya adalah Rasio Kas = (Kas dan Setara Kas + Investasi Jangka Pendek)/Kewajiban atau Utang Lancar

4. Rasio Perputaran kas

Rasio perputaran kas ini digunakan untuk memberikan gambaran besarnya keuntungan yang diperoleh suatu perusahaan dari belanja modal kerja. Adapun rasio perputaran kas dapat menunjukkan angka relatif yang merupakan hasil dari jumlah penjualan produk dan modal kerja. Perhitungan cash turnover ratio dapat dilihat dari pembagian angka penjualan produk dengan modal kerja bersih.

Hasil dari rasio perputaran kas ini adalah keuntungan yang telah diraih perusahaan dari jumlah produk terjual dan modal kerjanya. Besaran hasil ini pun harus lebih besar daripada utang untuk mendapatkan likuiditas yang baik.

Rumus: Perputaran Kas = Penjualan/Rata-Rata Kas dan Setara Kas

5. Rasio Modal Kerja

Perusahaan pastilah berkaitan dengan modal kerja. Oleh karena itulah, dalam suatu perusahaan akan diperlukan rasio modal kerja untuk mengetahui gambaran tingkat likuiditas mereka. Rasio ini dilihat melalui aset dan posisi modal kerja yang dapat membiayai operasional perusahaan.

Perhitungan rasio modal kerja ini pun dilakukan dengan membandingkan total aset perusahaan dengan liabilitasnya. Kemudian, dibagikan dengan jumlah aset secara keseluruhan

Pentingnya Likuiditas dalam Bisnis

Pada tahap ini, kita pastinya sudah tahu bahwa likuiditas merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam keberlangsungan suatu bisnis. Namun, masih ada beberapa hal lagi yang perlu kita pahami tentang pentingnya likuiditas ini. Mari simak bersama!

Likuiditas yang baik bisa menjadi jalan dalam mempertemukan pebisnis dengan investor atau peminjam jangka pendek yang tepat. Pihak perusahaan akan bisa mempresentasikan usaha mereka dengan kesan yang baik jika memiliki likuiditas tinggi.

Secara internal, pihak perusahaan pun menjadi tahu status keuangan mereka, apakah baik atau buruk, berisiko atau tidak?

Pengertian Likuiditas

Peran Likuiditas dalam Investasi

Pengertian Likuiditas

Unsplash.com

Selain dalam bisnis, likuiditas juga sangat penting dalam berinvestasi, Grameds. Kita tentunya tak ingin memberikan dana pada perusahaan yang tak terpercaya, bukan? Pertimbangan tentang likuiditas mereka perlu dilakukan untuk memastikan investasi kita tidak sia-sia, apalagi untuk jangka panjang.

Inilah beberapa fokus peranan likuiditas dalam perencanaan keuangan:

1. Sebagai Sisihan untuk Cadangan Kas

Kita disarankan untuk menyisihkan sejumlah kecil uang kas untuk keadaan darurat, terlepas dari jumlah investasi kita dalam aset-aset non-likuid. Meski jumlah cadangan kecil ini berbeda-beda bagi tiap orang tergantung kebutuhan jangka pendeknya, saran umumnya adalah menyimpan pendapatan selama tiga bulan untuk ini.

2. Penyeimbang antara Investasi Likuid dan Tidak Likuid

Secara ideal, aset likuid seperti reksa dana, saham, obligasi, dan alternatif lainnya harus dialokasikan dengan wajar sedangkan sisanya dikerahkan untuk aset non-likuid. Seperti yang kita tahu, aset likuid dapat diubah menjadi uang tunai dengan tepat. Ini persis seperti yang kita butuhkan dalam menyimpan sebagian kekayaan.

Bahkan meski kita tak berinvestasi, kita pastilah perlu cadangan uang cash. Jadi, perlu dipertimbangkan memiliki aset likuid yang bisa disimpan tergantung anggaran bulanan kita dan berbagai faktor lainnya.

Contoh Aset Likuid dan Penerapan Rasio Likuiditas

Grameds, sekarang kita sudah memahami tentang likuiditas. Namun, rasanya tentu kurang jika kita tak mengenal contoh nyatanya di lapangan. Kali ini, mari kita bahas mengenai contoh aset yang termasuk likuid dan penerapan rasio likuiditas dalam penghitungannya!

Contoh aset yang likuid dan Tidak Likuid

1. Uang Kas atau Tunai

Uang kas adalah aset paling likuid karena berkaitan dengan likuiditas, semua aset lain dinilai atas kemudahannya diubah menjadi bentuk uang kas alias tunai.

2. Kas Terbatas (Restricted Cash)

Kas terbatas adalah setoran tunai sebagai sisihan yang dilakukan perusahaan untuk kewajiban di masa depan. Jumlah kas ini pun signifikan. Meski begitu, setoran ini dianggap tidak likuid jika dibatasi secara legal seperti kompensasi terhadap pinjaman.

3. Surat Berharga

Ini adalah instrumen keuangan yang dapat diperjualbelikan di pasar publik. Likuiditas surat berharga berkaitan dengan volume perdagangan harian surat berharga tersebut. Obligasi pemerintah dengan volume perdagangan tinggi dianggap hampir likuid seperti uang tunai. Sementara itu, surat berharga dengan nilai yang kecil dianggap tidak likuid.

4. Setara Uang Kas

Setara kas termasuk surat berharga dan instrumen yang dapat ditukar dengan kas seperti tagihan dan surat berharga komersial.

5. Kredit

Kredit yang tidak digunakan seperti jalur kredit dapat membantu entitas untuk mencapai likuiditas. Meski begitu, fasilitas tersebut mungkin tunduk pada persyaratan yang membuat mereka menjadi jauh kurang dapat diandalkan daripada uang tunai dalam krisis likuiditas. Misalnya, jika terjadi krisis keuangan global, bank mungkin memiliki insentif untuk mencabut jalur kredit.

6. Aset (Tidak Likuid)

Aset seperti inventaris, piutang, peralatan, kendaraan, dan real estat tidak dianggap likuid karena memerlukan waktu berbulan-bulan untuk diubah menjadi uang tunai. Jika terjadi tekanan keuangan, aset tersebut bisa jadi sulit untuk diubah menjadi uang kas sama sekali.

Contoh Penerapan Rasio Likuiditas

Perusahaan S&S telah menerima bahan bangunan dan pasokan lainnya dari vendor untuk menyelesaikan suatu proyek. Vendor ini tentunya berharap bahwa S&S dapat membayar penuh setelah proyek selesai. Suatu waktu setelah S&S hampir menyelesaikan proyek tersebut, perusahaan pastilah harus memastikan bahwa uang mereka cukup untuk membayar pinjaman dari vendor.

Sayangnya, S&S sadar bahwa pendapatan mereka tidak cukup untuk membayar vendor, jadi mereka memutuskan untuk melikuidasi beberapa aset yang mereka miliki saat ini. Adapun, rasio yang digunakan untuk menghitung kemampuan mereka dalam membayar kembali vendor adalah rasio cepat.

S&S menemukan bahwa mereka mempunyai kewajiban lancar sebesar USD400 ribu, USD100 ribu uang tunai, USD100 ribu dalam surat berharga, dan USD300 ribu dalam piutang. Berikut cara menghitungnya:

Aktiva Lancar = Aktiva Likuid Lancar/Total Liabilitas
= Kas + surat berharga + piutang/liabilitas lancar
= 100.000 + 100.000 + 300.000/400.000
= 500,000/400,000

Dengan perhitungan ini, S&S jadi bisa mengetahui kalau perusahaan mereka masih bisa melikuidasi aset untuk menyamai dan melunasi utang lancar mereka.

Pengertian Likuiditas

Kesimpulan

Grameds, likuiditas sangat berperan, bukan, dalam kelancaran operasi perusahaan? Tak cuma likuiditas, konsep akuntansi lain tentunya juga diperlukan. Jangankan hanya dalam aspek usaha, kehidupan sehari-hari sampai hukum pun akan memerlukan konsep akuntansi dalam beberapa kegiatannya!

Untuk kamu yang ingin tahu lebih banyak mengenai pengertian likuiditas dan akuntansi, Gramedia sebagai #SahabatTanpaBatas memiliki banyak rekomendasi buku terkait. Jangan lupa, nantikan promo menarik untuk bisa mendapatkan buku lainnya. Gramedia akan selalu memberikan produk terbaik, agar kamu memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Sevilla Nouval Evanda

BACA JUGA:

  1. Persamaan Dasar Akuntansi: Pengertian, Rumus, dan Contoh
  2. Siklus Akuntansi Perusahaan Manufaktur
  3. Contoh Neraca Lajur, Soal Neraca Lajur, Pengertian Neraca Lajur
  4. Materi Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang
  5. Mengenal Akuntansi Perusahaan Jasa Mulai dari Pengertian, Tahapan, dan Jenis Transaksi
  6. Contoh Jurnal Umum, Pengertian & Contoh Soal Jurnal Umum
  7. Pengertian, Contoh Jurnal Penutup, Cara Membuat


ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien