Environment IPA

21 Hewan Endemik yang Tersebar di Kepulauan Indonesia

hewan endemik
Written by Rifda Arum

Hewan Endemik – Grameds pasti sudah tahu bahwa negara kita Indonesia ini merupakan negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau dengan keanekaragaman hayati, salah satunya adalah satwa endemik. Satwa endemik sama saja dengan hewan endemik, yang pada dasarnya adalah hewan asli yang berhabitat di suatu daerah tertentu. Yap, hewan endemik ini dapat disebut bahwa mereka adalah spesies satwa alami yang hanya dapat ditemukan di suatu daerah tertentu saja dan tidak dapat ditemukan di daerah lain.

Berhubung negara kita memiliki ribuan pulau dengan keanekaragaman hayati yang salah satunya adalah hewan endemik, maka itu berarti jumlah dari hewan endemiknya juga ada banyak. Bahkan tidak dipungkiri bahwa dalam satu pulau saja akan tersebar puluhan hingga ratusan hewan endemik yang memiliki keunikan dan ciri khas tertentu. Wah menarik ya!

Lalu, apa sih hewan endemik itu? Apa saja hewan endemik yang ada di pulau-pulau besar Indonesia? Bagaimana pula cara pelestarian yang tepat supaya hewan-hewan tersebut tidak punah di masa depan? Nah, supaya Grameds memahaminya, yuk simak ulasan berikut ini!

hewan endemik

https://www.pexels.com/

Apa Itu Hewan Endemik?

Menurut Kurniawan (2016), istilah “endemik” dalam dunia satwa adalah suatu gejala yang dialami oleh organisme tertentu supaya dapat menjadi unik pada satu lokasi geografi tertentu, mulai dari pulau, negara, atau zona ekologi tertentu. Pada dasarnya, hewan endemik adalah hewan-hewan yang secara alami hanya dapat ditemukan dan hidup di suatu tempat tertentu saja, alias tidak dapat ditemukan di tempat lain.

Hewan endemik tentu saja memegang peranan penting dalam ekosistem dunia, sebab jika keberadaannya punah maka ekosistem dunia termasuk wilayah yang bersangkutan juga akan turut punah. Mengingat seiring perkembangan zaman seperti saat ini, manusia mulai memanfaatkan potensi alam secara bar-bar. Padahal hal tersebut justru mempengaruhi kelangsungan hidup hewan-hewan yang berada di alam, sehingga sama saja dengan tindakan ancaman bagi hewan endemik.

Di negara kita ini ternyata memiliki tingkat endemisme yang tinggi, yakni lebih dari 165 jenis mamalia endemik, 150 jenis reptilia, 397 jenis burung, dan 100 spesies amfibi tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Bahkan tak jarang di dalam suatu pulau, terdapat puluhan jenis hewan endemik yang memiliki ciri khas tersendiri.

Hewan Endemik di Pulau Sumatera

1. Harimau Sumatera

hewan endemik harimau sumatera

https://wwf.id/

Sesuai dengan namanya, hewan endemik yang mempunyai nama latin Panthera Tigris Sumatrae ini menjadi spesies endemik asli dari Pulau Sumatera dan masih bertahan hidup hingga saat ini. Ciri utama dari harimau sumatera adalah ukuran tubuhnya yang mana lebih kecil dibandingkan jenis harimau pada umumnya, serta memiliki corak loreng hitam gelap.

Berhubung jenis harimau ini adalah hewan endemik, maka harimau sumatera hanya di hidup Pulau Sumatera saja, yang biasanya berhabitat di hutan dataran rendah dan hutan pegunungan. Hingga saat ini, jumlah populasinya hanya tinggal sekitar 400 ekor saja. Untuk menghindari kepunahan akibat perburuan liar, maka kebanyakan harimau sumatera di ditempatkan di Cagar Alam dan Taman Nasional. Kemudian, sekitar 250 ekor hidup di berbagai kebun binatang yang tersebar di seluruh dunia.

Harimau sumatera juga termasuk dalam daftar hewan dilindungi oleh pihak pemerintah Indonesia, berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

2. Badak Sumatera

hewan endemik badak sumatera

https://wwf.id/

Perlu Grameds ketahui bahwa sebagai salah satu satwa yang terancam punah, 5 spesies badak yang ada di dunia, 2 diantaranya hidup di Indonesia, yakni Badak Sumatera dan Badak Jawa.

Badak Sumatera dengan nama latin Dicerorhinus Sumatrensis menjadi satu-satunya badak Asia yang memiliki dua cula. Sayangnya, saat ini keberadaannya menjadi punah akibat perburuan liar untuk diambil culanya. Cula badak sumatera ini dipercaya dapat menjadi obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit, meskipun sebenarnya tidak ada penelitian ilmiah yang terkait akan kepercayaan tersebut. Ditambah lagi, susunan dalam cula badak itu serupa dengan kuku dan rambut manusia, sehingga jelas tidak memiliki khasiat penyembuhan apapun.

Populasinya saat ini hanya kurang dari 80 ekor saja dan rata-rata tersebar di wilayah Taman Nasional Bukit Barisan, Taman Nasional Gunung Leuser, dan Taman Nasional Way Kambas. Habitat badak sumatera kebanyakan adalah di daerah berbukit yang dekat air, hutan hujan tropis, hutan lumut pegunungan, hingga daerah pinggiran hutan.

Beruntungnya, pada 24 Maret 2022 lalu, seekor badak sumatera bernama Rosa yang ada di Taman Nasional Way Kambas, Provinsi Lampung, berhasil melahirkan anak berjenis kelamin betina. Kelahiran ini tentu saja menambah jumlah populasi badak sumatera yang ada di taman nasional tersebut.

3. Orangutan Sumatera

hewan endemik orangutan sumatera

Sumatran orang utan (Pongo abelii) female ‘Suma’ swinging through the trees with male baby ‘Forester’ (part of baby snatching story) Gunung Leuser NP, Sumatra, Indonesia

Di Indonesia, terdapat tiga spesies orangutan sebagai hewan endemik, yakni orangutan sumatera, orangutan kalimantan, dan orangutan tapanuli. Ketiga spesies ini termasuk dalam daftar hewan dilindungi sebab hutan tempat tinggal mereka selalu menjadi sasaran pembabatan hutan secara liar.

Orangutan sumatera dengan nama latin Pongo Abelii ini memiliki ukuran lebih kecil daripada orangutan kalimantan, yakni tinggi sekitar 4,6 kaki dan berat 200 pon saja. Orangutan sumatera justru memiliki perilaku lebih bersosial dibandingkan dengan orangutan kalimantan, yang mana lebih suka berkumpul untuk makan sejumlah buah di dekat pohon secara bersama-sama.

Saat ini, terdapat 13 kantong populasi orangutan yang tentu saja berada di Pulau Sumatera, yang mana hanya tiga kantong tersebut memiliki sekitar 500 ekor dan tujuh kantongnya memiliki 250 ekor. Pada 31 Mei 2022 lalu, seekor orangutan sumatera berusia 3 tahun bernama Kaka diserahkan oleh warga Bogor kepada pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera, guna dipulangkan ke habitat aslinya.

4. Monyet Kedih

hewan endemik monyet kendih

Monyet kedih menjadi primata asli alias hewan endemik yang terdapat di Pulau Sumatera, khususnya di Sumatera Utara. Monyet kedih dengan nama latin Presbytis Thomasi ini memiliki ekspresi yang tenang dan termasuk pada hewan pemalu. Penyebaran primata ini adalah di kawasan hutan Aek Nauli sampai Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Secara alami, monyet kedih hidup secara berkelompok yakni sekitar 10 ekor, yang meliputi 1 jantan dan 6 betina, sisanya adalah anak-anak mereka. Monyet kedih memiliki perilaku yang khas, yakni suara vokal kuat dari masing-masing kelompoknya. Sehingga dapat disebut juga bahwa monyet kedih akan mengenali anggota kelompoknya berdasarkan suara vokal tersebut.

5. Gajah Sumatera

hewan endemik gajah sumatera

https://wwf.id/

Gajah Sumatra dengan nama latin Elephas Maximus Sumatranus ini memiliki ukuran yang lebih kecil daripada gajah afrika. Kebanyakan gajah sumatera ditangkarkan di Way Kambas Lampung, tetapi ada juga yang dikembangbiakkan di Tangkahan, Langkat. Menurut survey pada tahun 2007, jumlah populasi dari gajah sumatera yang tersisa adalah sekitar 2.400-2.800 ekor, tetapi jumlahnya semakin menurun akibat perburuan liar yang marak terjadi akhir-akhir ini.

Hewan Endemik di Pulau Jawa

1. Harimau Jawa

hewan endemik harimau jawa

Keberadaan harimau jawa ini dapat disebut sebagai punah sebab telah diumumkan secara resmi oleh pihak International Union for Conversation Nature. Jenis harimau dengan nama latin Panthera Tigris Sondaica ini telah dinyatakan punah pada tahun 1980-an. Bahkan, harimau jawa yang terakhir terlihat ada di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur, itu pun pada tahun 1976.

Punahnya hewan endemik ini disebabkan karena perburuan liar yang dilakukan secara bar-bar. Meskipun pada tahun 1990-an, telah banyak laporan mengenai kemunculan harimau jawa ini, tetapi tidak dapat dilakukan verifikasi lebih lanjut. Kemudian pada tahun 1998, di Universitas Gadjah Mada (UGM), pernah melakukan sebuah seminar nasional yang menyepakati bahwa peneliti harus melakukan peninjauan kembali atas klaim punahnya hewan endemik ini. Hal tersebut karena banyak bukti yang ditemukan dan berkaitan dengan “kembalinya harimau jawa” ini.

2. Badak Jawa

hewan endemik badak jawa

Sebenarnya, keberadaan badak jawa tidak hanya berhabitat di pulau Jawa saja, tetapi juga di negara Vietnam, Laos, Kamboja, hingga Thailand. Namun, di Vietnam pada tahun 2010, populasi dari hewan endemik ini dinyatakan telah punah. Sementara di Pulau Jawa, terutama di Taman Nasional Ujung Kulon, keberadaan badak jawa juga terbatas.

Pada tahun 2017, jumlahnya sekitar 67 ekor saja yang tersebar di Semenanjung Ujung Kulon. Daerah sebaran tersebut sesuai dengan habitatnya yang berupa daerah dataran rendah dengan cukupnya sumber air dan pangan.

3. Macan Tutul Jawa

hewan endemik macan tutul jawa

Hewan endemik dengan nama latin Panthera Pardus ini juga memiliki nama lokal yakni macan kumbang. Apabila dibandingkan dengan macan tutul lainnya, hewan endemik ini memiliki ukuran yang lebih kecil dan indra penglihatan serta penciumannya yang tajam. Sayangnya, macan tutul jawa saat ini tengah berada di ambang kepunahan akibat pemburuan liar.

Pada tahun 2008, populasi dari macan tutul jawa hanya 250 ekor saja. Sebagian besar populasinya dapat ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat.

4. Elang Jawa

hewan endemik elang jawa

Apakah Grameds tahu jika lambang negara Indonesia yakni Garuda itu adalah penjelmaan dari elang jawa? Sebenarnya, Burung Garuda yang berukuran besar itu tidak ada di dunia nyata, sebab merupakan hewan mitologi. Namun, burung Garuda dapat kita lihat kok sebab merupakan penjelmaan dari elang jawa.

Sayangnya, hewan endemik yang sekaligus menjadi penjelmaan lambang negara Indonesia ini justru semakin langka untuk ditemukan. Padahal, hewan endemik dengan nama latin Nisaetus Bartelsi ini keunikan berupa jambulnya yang menonjol sekitar 2-4 helai dengan panjang 12 cm. Apalagi ketika mengepakkan sayapnya secara kuat, elang jawa ini akan memiliki kemampuan terbang tinggi sehingga nampak gagah dan jantan.

5. Kukang Jawa

hewan endemik kukang jawa

https://kukangku.id/

Pada 6 Januari 2022 lalu, seekor kukang jawa dengan nama latin Nycticebus Javanicus ini dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sebelumnya, hewan endemik tersebut ditemukan oleh masyarakat di kawasan pemukiman. Atas kesadaran masyarakat mengenai pelestarian hewan endemik, maka hal tersebut patut untuk diapresiasi.

Kukang jawa merupakan salah satu jenis primata yang hidup secara nokturnal alias aktif mencari mangsa ketika malam hari. Ciri khas dari primata ini adalah adanya kelenjar racun yang ada di bawah ketiaknya, berfungsi sebagai pertahanan dari predator yang hendak memangsanya.

Saat ini, kebanyakan kukang jawa tersebar di kawasan taman nasional, cagar alam, atau suaka margasatwa. Hal tersebut karena hewan endemik ini telah masuk dalam daftar hewan langka sehingga harus dilindungi, terlebih dengan adanya aturan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Hewan Endemik di Pulau Kalimantan

1. Orangutan Kalimantan (Orangutan Borneo)

Adult male Bornean orangutan (Pongo pygmaeus) in rainforest canopy, Gunung Palung National Park, Borneo, West Kalimantan, Indonesia

Orangutan kalimantan dengan nama latin Pongo Pygmaeus ini hidup di Pulau Kalimantan, yang mana mencakup wilayah Kalimantan Barat dan Serawak (Malaysia). Habitatnya berupa daerah hutan hujan tropis yang cocok dengan keadaan di Pulau Kalimantan, terlebih lagi kebiasaannya yang membuat sarang dari dedaunan di pepohonan lebat.

Sebenarnya, morfologi dari orangutan kalimantan ini tidak jauh berbeda dengan orangutan sumatera, yakni termasuk hewan diurnal (aktif di siang hari) dan arboreal (hidup di pepohonan). Tubuh hewan endemik ini umumnya diselimuti rambut merah kecoklatan dengan kepala yang lebih besar dan posisi mulut yang tinggi. Pada orangutan jantan, memiliki benjolan di kedua sisi wajahnya.

Sayangnya, spesies hewan endemik ini telah masuk dalam status endangered alias terancam punah sejak tahun 1994. Maka dari itu, pihak pemerintah menetapkan adanya UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya untuk menjaga orangutan kalimantan dari kepunahan, terutama yang disebabkan oleh kerusakan hutan dan perburuan liar.

2. Rangkong Papan

https://upload.wikimedia.org/

Burung Rangkong Papan dengan nama latin Buceros Bicornis ini apabila dewasa dapat berukuran panjang hingga 160 cm. Biasanya, rangkong papan betina memiliki ukuran lebih kecil dari rangkong papan jantan. Untuk membedakan keduanya, cukup melihat dari warna matanya saja, yakni mata biru untuk burung betina sementara warna merah untuk burung jantan.

Makanan utama dari hewan endemik ini adalah serangga, cacing, siput, amfibi, hingga kepiting. Tidak jarang pula mereka akan mengonsumsi buah-buahan, salah satunya adalah buah pala dan buah drupa. Apabila ukuran mangsanya lebih besar, maka akan dibenturkan terlebih dahulu pada dahan pohon dan melunakannya di dalam paruh, lalu baru ditelan.

Sayangnya, burung endemik ini semakin punah karena maraknya penebangan pohon dan pembukaan lahan secara besar-besaran. Terlebih lagi adanya kepercayaan akan dagingnya yang dapat dikonsumsi sebagai obat tradisional membuat perburuan liar burung rangkong papan semakin bar-bar.

3. Monyet Bekantan

https://mangrovemagz.com/

Apakah Grameds tahu bahwa hewan endemik yang satu ini ternyata merupakan maskot dari taman hiburan Dunia Fantasi (Dufan) yang terletak di Jakarta? Yap, dengan ciri khas hidung besar, monyet bekantan juga dijuluki sebagai “monyet belanda” oleh penduduk setempat. Monyet bekantan tidak membuat sarang khusus untuk tempatnya tidur, sehingga untuk istirahat hanya mencari pohon di sekitar tepi sungai saja.

Keberadaan monyet bekantan masih tersebar di hutan-hutan Pulau Kalimantan, terutama di Taman Nasional Tanjung Puting. Namun meskipun demikian. monyet bekantan juga rentan akan kepunahan, sebab hutan mangrove semakin rusak akhir-akhir ini. Terlebih lagi adanya kebakaran hutan tentu saja mengancam populasi monyet bekantan sebagai hewan endemik Indonesia.

4. Ikan Pesut Mahakam

Ikan pesut mahakam alias Irrawaddy Dolphin ini disebut-sebut sebagai lumba-lumba sungai sejati, sebab berhabitat di sungai alias air tawar. Padahal sebenarnya, terdapat beberapa perbedaan antara ikan pesut mahakam dengan lumba-lumba, mulai dari bentuk moncongnya, bentuk kepala, hingga habitat aslinya.

Di Kalimantan, ikan pesut mahakam selalu menjadi “lakon” dalam cerita rakyat maupun legenda setempat. Sayangnya, saat ini populasi hewan endemik ini semakin punah, sebab adanya aktivitas ponton, baik dari perusahaan perkebunan kelapa sawit maupun tambang batu bara.

Hewan Endemik di Pulau Sulawesi

1. Burung Maleo

Burung Maleo biasanya hidup di hutan tropis dataran rendah yang ada di Sulawesi Tengah dan Gorontalo, terutama di kawasan Taman Nasional Lore Lindu populasi hewan endemik ini sekitar 320 ekor. Ciri khas dari burung maleo berupa adanya tonjolan di bagian kepala, ukuran telur yang besar, dan tidak suka untuk mengerami telurnya.

Sayangnya, adanya illegal logging, kebakaran hutan, hingga perburuan liar menyebabkan burung maleo menjadi hewan endemik yang terancam punah. Mengingat burung ini tidak mengerami telurnya, sehingga rentan diserang oleh predator, salah satunya adalah biawak dan kadal. Burung maleo biasanya menempatkan telurnya di dalam tanah, yang mana akan dapat dicium baunya oleh kadal dengan mudah.

2. Kuskus Beruang Sulawesi

Hewan endemik dengan nama latin Ailurops Ursinus ini menyukai habitat berupa hutan tropis dataran rendah, misalnya di Kepulauan Butung, Kepulauan Muna, dan Kepulauan Peleng. Ciri khas dari kuskus beruang sulawesi adalah ekornya dapat digunakan untuk bergantungan atau melilit batang pohon ketika dirinya tengah mencari makan.

Sama halnya dengan hewan endemik lain, kuskus beruang sulawesi juga terancam punah karena terjadinya perburuan dan perdagangan liar. Tidak hanya itu saja, hutan tropis yang menjadi tempat tinggalnya saat ini banyak mengalami kerusakan akibat upaya pembukaan lahan demi area pertanian dan pemukiman penduduk.

3. Tarsius

Tarsius adalah hewan endemik yang memiliki bentuk tubuh unik, yakni berupa tulang tarsal yang memanjang dan membentuk pergelangan, sehingga dapat membuatnya melompat pada jarak 3 meter dari satu pohon ke pohon lain. Tarsius adalah jenis hewan nokturnal, sehingga mereka akan melakukan aktivitas berupa berburu mangsa ketika malam hari. Sasaran mangsanya adalah jangkring, burung kecil. kelelawar, dan reptil kecil.

Maraknya aktivitas pemeliharaan tarsius sebagai hewan peliharaan juga menjadi penyebab hewan endemik ini mengalami kepunahan. Bahkan, tarsius juga termasuk dalam kategori 25 primata yang paling terancam punah di dunia. Padahal, tarsius itu tidak pernah betah disentuh oleh manusia lho, sehingga seringnya mereka akan bereaksi berupa membenturkan kepala ke pohon sebagai upaya bunuh diri.

4. Babi Rusa

Hewan endemik yang masuk dalam jenis babi liar ini biasanya hidup di sekitar Pulau Sulawesi, mulai dari Pulau Togean, Pulau Sula, Pulau Malenge, dan lainnya. Habitat dari babi rusa adalah daerah hutan hujan tropis dan merupakan hewan herbivora. Bentuk tubuh babi rusa ini hampir mirip dengan babi tetapi ukurannya lebih kecil. Terdapat perbedaan yang mencolok antara babirusa dengan babi, yakni babirusa memiliki taring panjang yang menembus moncongnya.

Maraknya perdagangan liar pada babi rusa yang mengincar dagingnya menjadikan hewan endemik ini masuk kategori langka dan wajib dilindungi oleh pihak pemerintah dan masyarakat setempat. Tidak hanya itu saja, adanya pembabatan hutan secara liar juga menjadi penyebab langkanya populasi babi rusa.

Hewan Endemik di Pulau Papua

1. Kanguru Pohon Mantel Emas

Ternyata, keberadaan hewan kanguru tidak hanya ada di Australia saja lho, tetapi di Tanah Papua juga ada, yakni kanguru pohon mantel emas. Ciri khas dari hewan endemik ini adalah warna bulunya yang kuning keemasan di sepanjang bagian leher, pipi, dan kaki.

Pada tahun 2021 lalu, diadakanlah PON (Pekan Olahraga Nasional) XX di Papua dan menjadikan hewan endemik ini sebagai maskotnya. Sebenarnya, keberadaan kanguru pohon mantel emas ini baru diketahui oleh publik pada tahun 1990 oleh Pavel German di Gunung Sapau. Sayangnya, hewan endemik ini terancam punah karena kerusakan hutan dan perburuan liar sehingga mempengaruhi populasi di alam. Bahkan pihak The International Union for Conservation of Nature (IUCN) juga menyatakan bahwa kanguru jenis ini masuk dalam kategori kritis dan terancam punah.

2. Burung Cendrawasih

Grameds pasti sudah tahu bahwa burung yang dikenal sebagai burung surga ini adalah ikon terkenal dari Tanah Papua. Yap, burung cendrawasih dikenal demikian sebab memiliki bulu berwarna merah dengan corak warna-warni pada bagian kepalanya. Habitatnya banyak ditemukan di hutan lebat dataran tinggi.

Uniknya, ketika musim kawin datang, burung cendrawasih jantan akan memamerkan bulunya yang indah tersebut disertai tarian dan suara layaknya nyanyian di atas pohon. Hal tersebut dilakukan untuk menarik perhatian burung cendrawasih betina. Sayangnya, perburuan liar burung cendrawasih yang masih marak terjadi menjadikan hewan endemik ini terancam punah. Perburuan liar tersebut mengincar bulu-bulu indahnya yang mana biasa digunakan sebagai penghias topi.

3. Labi-Labi Moncong Babi

Hewan endemik dengan nama latin Carettochelys Insculpta ini memiliki bentuk mirip kura-kura, sebab adanya cangkang di tubuhnya. Hal yang membedakannya dengan kura-kura adalah adanya hidung panjang layaknya moncong babi. Habitat dari labi-labi ini biasanya di sungai, rawa, dan air payau yang tersebar di Pulau Papua. Bahkan tak jarang, hewan endemik ini juga ditemukan di Australia bagian utara.

Sayangnya, labi-labi moncong babi ini termasuk hewan langka dan wajib dilindungi atas adanya Permen LHK Nomor P.106/2018. Hal tersebut karena maraknya perdagangan liar dan bahkan diselundupkan untuk tujuan komersial.

Nah, itulah ulasan mengenai hewan-hewan endemik yang tersebar di pulau-pulau Indonesia. Sebagian besar hewan-hewan endemik ini termasuk dalam daftar hewan dilindungi oleh pihak pemerintah Indonesia, berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Sebagai generasi masa depan, kita harus berperan besar dalam upaya pelestarian hewan-hewan endemik ini ya…

Baca Juga!



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien