Biografi

Biografi WR Supratman, Sang Pencipta Lagu Indonesia Raya

biografi wr supratman
Written by Wida Kurniasih

Biografi WR Supratman – Grameds pasti sudah tidak asing dengan lagu “Indonesia Raya” yang selalu kita nyanyikan setiap hari Senin di sekolah saat upacara bendera. Lagu “Indonesia Raya” yang kemudian dijadikan sebagai lagu kebangsaan tersebut adalah ciptaan Wage Rudolf Soepratman, atau akrab kita kenal WR Supratman. Bahkan di setiap acara atau kegiatan resmi nasional bahkan tingkat paling rendah selalu mengumandangkan lagu wajib Indonesia Raya.

Sama berharganya dengan lagu “Indonesia Raya” WR Supratman adalah tokoh yang berperan bagi bangsa Indonesia. Bahkan hari kelahirannya dinobatkan sebagai hari musik nasional sejak 9 Maret 2013. Hal tersebut menunjukan bahwa peran WR Supratman sangat berpengaruh bagi bangsa Indonesia. Dari perjalanan hidup pahlawan nasional ini  kita bisa banyak belajar sejarah dan perjuangannya untuk Indonesia.

Biografi WR Supratman menjadi jejak kisah hidupnya berjuang bagi bangsa Indonesia dari seorang musikus, wartawan, hingga pahlawan nasional. Kisah tersebut tentu bukan perjalanan singkat melainkan jalan yang panjang dan tidak mudah menaklukan penjajah Indonesia saat itu.

WR Supratman adalah tokoh pahlawan nasional yang perlu Grameds ketahui. Melalui Biografi WR Supratman, Grameds bisa mengenal sosok hebat ini dan mengambil nilai-nilai positif yang menginspirasi. Belajar sejarah adalah perilaku bijaksana yang bisa dilakukan oleh generasi muda bangsa.

Semakin teman-teman Grameds menguasai sejarah, maka itu artinya generasi muda bangsa telah menghargai sejarah dan belajar untuk menjadi bangsa yang lebih baik lagi. Berikut ini ulasan biografi WR Supratman yang perlu Grameds ketahui untuk mengenal sejarah dan meneladani perjuangan pahlawan nasional Indonesia.

Biografi WR Supratman

WR Supratman lahir pada hari Jumat tanggal 19 Maret 1903 di Purworejo, Jawa Tengah. Namun Sang ayah, Sersan Jumeno Senen yang merupakan tentara KNIL dan juga seorang pendeta mencatat kelahiran WR Supratman di Jatinegara.

WR Supratman memiliki enam saudara, 1 saudara laki-laki dan sisanya saudara perempuan. WR Supratman tumbuh di Makasar bersama kakaknya bernama Roekijem sejak tahun 1914. Sejak itulah ia dibiayai sekolah oleh suami Roekijem, yakni Willem Van Eldik.

Riwayat pendidikan WR Supratman tercatat saat usianya 4, ia tempuh di Frobel School (Taman Kanak-kanak) di Jakarta tahun 1907. Ia kemudian melanjutkan bangku pendidikannya di Tweede Inlandschool yang selesai pada tahun 1917.

WR Supratman sempat mengikuti ujian Klein Ambtenaar Examen dan lulus menjadi calon pegawai rendahan. Setelah itu WR Supratman melanjutkan lagi pendidikannya di Normaalschool atau Sekolah Pendidikan Guru saat itu.Ia pun akhirnya menjadi guru di Sekolah Angka 2 sampai akhirnya ia memperoleh ijazah Klein Ambtenaar.

WR Supratman memang tumbuh di keluarga musisi. Sang kakak, Roekijem juga sangat gemar dengan sandiwara dan musik. Ia bahkan banyak hasil karyanya yang dipertunjukan di mes militer.

Roekijem juga mahir bermain alat musik biola, kegemarannya inilah yang membuat WR Supratman juga juga bisa bermain alat musik biola dan membuatnya banyak membaca buku musik.

WR Supratman mulai berkecimpung di dunia musik saat kakak iparnya, W.M. Van Eldick memberinya kado sebuah biola saat ulang tahunnya yang ke 17. Biola itulah yang membuat WR Supratman kemudian akrab dengan musik, terutama jazz. Ia dan kakak iparnya pun akhirnya mendirikan grup jazz dengan nama Black And White.

Grup jazznya tersebut sempat populer dikalangan sinyo-sinyo Belanda. Sebelum Sang Musikus ini bertransformasi menjadi tokoh kebangsaan, ia sering berfoya-foya dan berkencan dengan sinyo-sinyo Belanda.

Rupa kondisi bangsa berhasil mendesak dan menarik perhatiannya untuk ikut andil dalam bidang politik, seperti pelbagai pidato dan bacaan politik. Terutama WR Supratman sangat gemar membaca Koran Pemberita Makasar.

Pengetahuan politiknya pun akhirnya membuat WR Supratman memiliki hasrat untuk menciptakan lagu kebangsaan. Ia sempat mengalami kesulitan saat menulis lagu kebangsaan karena WR Supratman merasa pengalaman politiknya belum cukup. Akhirnya ia pun melibatkan diri dalam perjuangan dan bertemu oleh para tokoh-tokoh pergerakan.

Dengan berbekal biola WR Supratman pergi ke Pulau Jawa, tepatnya Kota Bandung dimana daerah tersebut adalah pusat pergerakan tokoh-tokoh muda. Sebelum sampai di Bandung, WR Supratman rupanya singgah di Surabaya dan akrab dengan para pelajar di sana yang penuh semangat juang.

WR Supratman, Seorang Musikus dan Wartawan

Setelah singgah sebentar di Surabaya beberapa tahun, pada tahun 1924 WR Supratman akhirnya pergi ke Cimahi. Disanalah ia gemar membaca koran Kaoem Muda yang akhirnya membawa WR Supratman menjadi seorang jurnalis. Sebelum ia diterima di Koran Kaoem Muda, WR Supratman sempat kursus kader politik di organisasi bentukan Soekarno, yakni Kelompok Studi Umum.

Karir jurnalisnya di Koran Kaoem Muda tidak berjalan lama, Ia kemudian pindah ke Biro Pers Algemene Pers News Agency (Alpena) sebagai reporter sekaligus editor.  Karena kondisi ekonomi perusahaan media tempat WR Supratman bekerja tersebut seret akhirnya membuat ia memutuskan untuk beralih ke media lain. WR Supratman kemudian bergabung dengan Surat Kabar Sin Po yang membuat kehidupan ekonominya membaik.

Di perusahaan media Sin Po juga membuat WR Supratman menjadi lebih dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan. Yakni Sumarno, M. Tabrani, Bahder Djohan, Paul Pinontoan, dan Sumarto. WR Supratman mengungkapkan kekagumannya pada M. Tabrani dan Sumarto saat berpidato di Kongres Pemuda Indonesia Pertama.

Dari situlah WR Supratman memiliki ide untuk membuat lagu “Indonesia Raya” dengan inspirasi “Cita-cita satu nusa, satu bangsa yang digelari Indonesia Raya.”

Setelah Kongres selesai, WR Supratman mulai membuat konsep lagu kebangsaan dengan tulisan dalam not balok dan not angka. Lagu Indonesia Raya akhirnya tercipta dengan tiga kuplet dengan bait ulangan dan irama lagu 6 per 8.

Sebagai wartawan ia ditugaskan untuk meliput Kongres II pada 28 Oktober 1928 di Batavia. Namun kali ini WR Supratman tidak ingin hanya menulis berita melainkan ia berinisiatif untuk menyanyikan lagu ciptaannya.

Selebaran salinan lagu Indonesia Raya ia sebar kepada para pemimpin organisasi pemuda. Akhirnya WR Supratman mendapat izin dari Sugondo untuk menyanyikannya saat jam istirahat.

Buku Pintar Mengenal Pahlawan Indonesia

Buku Pintar Mengenal Pahlawan Indonesia

Beli Buku di Gramedia

Namun karena keraguan Sugondo setelah membaca lirik lagunya yang sangat lugas, ia khawatir pemerintah dapat memboikot acara kongres. Oleh sebab itu Sugondo hanya mengizinkan WR Supratman membawakannya dalam instrumen biola saja.

Saat jam istirahat tiba, lagu Indonesia Raya dilantunkan dengan versi instrumental WR Supratman yang menakjubkan. Semua peserta kongres tercengan dan terharu dengan keindahan gesekan biola WR Supratman.

Itulah saat pertama kali lagu Indonesia Raya dikumandangkan dan mendapat sambutan hangat para penonton. Lirik dan notasi lagu Indonesia Raya kemudian pertama kali diterbitkan di edisi 10 November 1928 Surat Kabar Sin Po dengan jumlah 5.000 eksemplar.

Dari terbitan Surat Kabar Sin Po inilah akhirnya judul lagu WR Supratman yang semual “Indonesia” menjadi “Indonesia Raja” yang kemudian sekarang akrab kenal Indonesia Raya.

Setelah itu lagu kebangsaan tersebut kemudian dibawakan lagi oleh WR Supratman pada pembubaran panitia kongres kedua di bulan Desember 1928. Pada acara ini kemudian lagu Indonesia raya dibawakan lengkap dengan liriknya.

Penampilan lagu Indonesia Raya juga dinyanyikan dengan iringan paduan suara. Berikutnya Lagu Indonesia dibawakan pada acara pembukaan Kongres PNI tanggal 18 hingga 20 Desember 1929.

Para peserta kongres ini kemudian berdiri dan ikut bernyanyi mengikuti kur dan iringan biola WR Supratman sebagai bentuk penghormatan pada Indonesia Raya.

Karya WR Supratman Meresahkan Pihak Belanda 

Kepopuleran lagu Indonesia Raya pun semakin luas hingga membuat pihak Belanda khawatir jika lagu tersebut dapat membangkitkan semangat kemerdekaan.

Karena keresahan Belanda itulah akhirnya pada tahun 1930 lagu Indonesia Raya dilarang untuk dinyanyikan di acara tau kesempatan apapun.

Pemerintah kolonial menggunakan alasan kepada publik bahwa lagu Indonesia Raya tersebut dapat mengganggu ketertiban dan keamanan.

Tidak hanya dilarang, WR Supratman sebagai pencipta lagu juga mendapat ancaman, bahkan ia sempat ditahan dan di introgasi atas lirik lagu yang ia buat (merdeka, merdeka, merdeka).

Berkat keuangan dari berbagai kalangan, akhirnya pemerintah Hindia Belanda mencabut tuntutannya terhadap WR Supratman dan memperbolehkan lagu Indonesia dinyanyikan dengan syarat hanya dinyanyikan di ruang tertutup saja.

Keberhasilan lagu Indonesia Raya membaut WR Supratman kembali menciptakan lagu berjudul Matahari Terbit. Pemerintah Belanda kembali menahan WR Supratman karena ciptaan lagunya yang dianggap berbahaya bagi posisi mereka.

Lagu Matahari Terbit dianggap oleh pemerintah Belanda memuji Dai Nippon yakni pihak Jepang. Namun WR Supratman berhasil bebas dari tuduhan Belanda berkat bantuan Van Eldik. Setelah keluar dari tahanan singkat itu WR Supratman justru jatuh sakit.

Kondisi buruknya tersebut membuat pemerintah Belanda senang. Karena kondisinya yang semakin memburuk, tepat pada tanggal 17 Agustus 1938 WR Supratman Wafat di usianya yang ke 35 tahun.

Sebelum kepergiannya, WR Supratman sempat berkata pada kakak iparnya, Oerip Kasansengari bahwa ia yakin bahwa Indonesia pasti akan mereka.

Tak disangka hari wafatnya pada akhirnya bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia 7 tahun kemudian. WR Supratman dikebumikan di pemakaman umum di Jalan Kenjeran Surabaya.

Kepergian WR Supratman tentu bangsa Indonesia kehilangan sosok pejuang yang sangat pemberani. Ia telah berjuang untuk Indonesia dengan caranya sendiri bersama biola kesayangannya.

Kemampuannya di bidang musik ia gunakan untuk memperjuangkan bangsa dan menunjukan keberaniannya melawan Belanda. Berkat kemampuan dan peran WR Supratman menciptakan lagu kebangsaan Indonesia, akhirnya menetapkan hari lahirnya sebagai Hari Musik Nasional.

Berdasarkan Keputusan Presiden (keppres) Nomor 10 Tahun 2013 tentang Hari Musik Nasional yang pertama kali ditetapkan pada tanggal 9 Maret 2013.

Penetapan Hari Musik Nasional ini sempat menuai perdebatan karena banyak yang mengungkapkan bahwa hari lahir WR Supratman adalah 19 Maret bukan 9 Maret.

Namun Megawati Soekarnoputri selaku Presiden Republik Indonesia ke-5 saat itu terlanjur menetapkan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional.

Keputusan tersebut sebenarnya merujuk pada tanggal lahir WR Supratman. Keputusan ini tidak kunjung direvisi meskipun PN Purworejo sudah menetapkan WR Supratman lahir pada 19 Maret 1903. Hingga saat ini kita masih merayakan Hari Musik Nasional pada tanggal 9 Maret.

Selain lagu Indonesia Raya, WR Supratman juga menciptakan beberapa lagu kebangsaan yang kemudian saat ini kita kenal sebagai lagu wajib nasional. Berikut ini karya lalu-lagu ciptaan WR Supratman yang perlu Grameds ketahui:

  1. Indonesia Raya : Lagu Kebangsaan Republik Indonesia yang diciptakan pada tahun 1924
  2. Ibu Kita Kartini : Lagu Wajib Nasional yang diciptakan pada tahun 1929
  3. Di Timoer Matahari : Lagu Wajib yang diciptakan pada tahun 1931
  4. Indonesia Iboekoe : Yang Diciptakan pada tahun 1926
  5. Bendera Kita Merah Poetih : Yang Diciptakan pada tahun 1928
  6. Bangoenlah Hai Kawan : Yang Diciptakan pada tahun 1929
  7. Mars KBI : Lagu Kepandoean Bangsa Indonesia yang Diciptakan pada tahun 1930
  8. Mars PARINDRA : Lagu Partai Indonesia yang Diciptakan pada tahun 1930
  9. Mars Soerya Wirawan : Yang Diciptakan pada tahun 1937
  10. Matahari Terbit : Yang Diciptakan pada tahun 1928
  11. Selamat Tingga : Lagu yang belum selesai WR Supratman tulis di tahun 1938
Sang Patriot: Kisah Seorang Pahlawan Revolusi

Sang Patriot: Kisah Seorang Pahlawan Revolusi

Beli Buku di Gramedia

Selain karya lagu-lagu, WR Supratman juga sempat menulis beberapa buku, yakni Perawan Desa yang ditulis tahun 1929, Darah Moeda, dan Kaoem Fanatik. Salah satu karya bukunya pernah disita oleh Pemerintah Hindia Belanda dan dilarang beredar, yakni buku Perawan Desa.

Berkat peran dan karya besarnya, pemerintah membangun museum WR Supratman yang terletak di Jl Mangga Nomor 21 Tamansari, Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Museum ini berisi beberapanya barang milik WR Supratman salah satunya adalah biola legendaris Sang Musikus.

Museum tersebut rupanya adalah kediaman WR Supratman sebelum ia wafat pada tahun 1938. Sebelum dijadikan museum, tempat tersebut sempat ditinggali oleh sebuah keluarga hingga tahun 1974 dan akhirnya kosong selama 27 tahun lamanya.

Jejak perjuangan WR Supratman juga dipamerkan di Museum Sumpah Pemuda yang berada di JL Kramat Raya Nomor 106, Jakarta.

WR Supratman merupakan pahlawan nasional yang ikut berperan bersama tokoh-tokoh pemuda pergerakan nasional lainnya dalam peristiwa melahirkan deklarasi sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928.

Karena perannya itulah WR Supratman menjadi aktivis pergerakan nasional yang menciptakan lagu Indonesia Raya sebagai wujud rasa persatuan dan kehendak bangsa Indonesia untuk merdeka.

Nah, itulah biografi WR Supratman yang perlu teman-teman Grameds ketahui perannya untuk Bangsa Indonesia. Bahkan hingga saat ini Karya WR Supratman abadi menjadi lagu kebangsaan yang menyatukan semua masyarakat Indonesia.

Karyanya berhasil menjadi jejak perjuangan sejarah bangsa Indonesia menuju kemerdekaan hingga sekarang. Selain lagu Indonesia Raya, ada beberapa lagu wajib nasional dan daerah yang perlu Grameds ketahui.

Karya-karya lagu tersebut merupakan simbol nasionalisme yang diciptakan oleh tokoh-tokoh hebat yang menceritakan tentang bangsa Indonesia.

Teman-teman Grameds bisa mengunjungi koleksi buku Gramedia di www.gramedia.com untuk menemukan referensi buku tentang lagu wajib nasional dan daerah.

Buku-buku ini recommended untuk Grameds baca karena berisi kumpulan lagu wajib nasional dan daerah yang lengkap. Sebagai generasi yang nasionalis tentu Grameds harus tahun apa saja dan bagaimana lagu wajib nasional dan daerah sebagai bentuk kecintaan kepada bangsa dan menghargai karya-karya para pahlawan.

Rekomendasi Buku & Artikel

Buku Autobiografi
Buku Biografi Ir. Soekarno
Buku Biografi Jackma
Buku Biografi Jokowi
Buku Orang Sukses

Biografi RA Kartini
Biografi Cut Nyak Dien
Biografi Gus Dur
Biografi Ki Hajar Dewantara
Biografi Pattimura
Biografi Ir. Soekarno
Biografi WR Supratman
Biografi Jendral Soedirman

Berikut ini buku-buku rekomendasi Gramedia yang bisa teman-teman Grameds baca. Selamat Belajar. #SahabatTanpabatas

Terlengkap Kumpulan Lagu Wajib Nasional Lagu Daerah, dan Lagu Anak Indonesia

Terlengkap Kumpulan Lagu Wajib Nasional Lagu Daerah, dan Lagu Anak Indonesia

Beli Buku di Gramedia

Edisi Istimewa - Kumpulan Lagu Wajib Nasional Dan Daerah

Edisi Istimewa – Kumpulan Lagu Wajib Nasional Dan Daerah

Beli Buku di Gramedia



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien