in

Review Novel Second Sister (Putri Kedua) Karya Chan Ho-Kei

Review Novel Second Sister (Putri Kedua) adalah novel bergenre thriller yang ditulis oleh Chan Ho-Kei, penulis asal Hong Kong. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama pada Februari 2021.

Novel dengan total 632 halaman akan menyajikan kisah misteri yang terkait dengan bahaya internet dan teknologi pada zaman ini.

Kisah ini dimulai dengan Siu-Man yang melompat dari jendela di lantai dua puluh dan langsung tewas seketika. Nga-Yee, kakak perempuan Siu-Man yang selama ini hidup bersamanya, menolak untuk percaya bahwa adiknya itu bunuh diri.

Nga-Yee pun akhirnya meminta bantuan seorang peretas yang dikenal sebagai N, untuk menyelidiki kasus kematian adiknya. Penyelidikan amatir yang dilakukan Nga-Yee dan N berlanjut layaknya permainan kucing dan tikus ke seluruh penjuru kota Hong Kong dan dunia digital bawah tanah mereka.

Terutama di platform-platform gosip online, di mana ditemukan seseorang yang menjatuhkan nama baik Siu-Man secara brutal.

Diawali dengan kasus pelecehan seksual di transportasi umum, kemudian berlanjut menjadi kasus perundungan di dunia maya, ternyata sukses membuat Siu-Man menyerah kepada hidup. Namun, apakah benar itu penyebab Siu-Man mengambil keputusan untuk bunuh diri?

Di masa ini, dengan percakapan online dan offline yang terus berlangsung, kadang manusia lupa bahwa yang terlibat dalam situasi tersebut adalah manusia yang nyata, bukan maya.

Profil Chan Ho-Kei – Penulis Novel Second Sister (Putri Kedua)

Sumber gambar: goodreads.com

Chan Ho-Kei adalah penulis fiksi misteri atau kriminal lahir dan besar di Hong Kong. Selain menjadi novelis, ia juga bekerja sebagai insinyur perangkat lunak, penulis naskah, perancang game, dan editor majalah komik. Karir kepenulisannya dimulai pada tahun 2008, saat ia berusia tiga puluh tiga tahun. Ia mulai menerbitkan cerita pendek berjudul “The Case of Jack and the Beanstalk” yang terpilih dalam Penghargaan Penulis Misteri Taiwan.

Chan Ho-Kei juga sempat memenangkan penghargaan lagi pada tahun berikutnya dengan karyanya yang berjudul “The Locked Room of Bluebeard” pada tahun 2011. Novel pertama Chan yang berjudul “The Man Who Sold The World” berhasil memenangkan hadiah misteri terbesar di dunia, Soji Shimada Mystery Award, dan selanjutnya diterbitkan di Taiwan (Mahkota), China (Bintang Baru), Jepang (Bungeishunju), Thailand (Nanmee) dan Italia (Metropoli d’Asia).

Sinopsis dan Review Novel Second Sister (Putri Kedua)

Pros & Cons
Pros Cons
  • Premis kisah yang menarik tentang kasus bunuh diri akibat internet.
  • Eksekusi konflik yang kompleks, tetapi mudah untuk dimengerti.
  • Mengandung edukasi tentang kecanggihan teknologi, internet, alat-alat cyber, juga dampak buruk yang dapat ditimbulkan.
  • Edukasi tentang isu sosial dan psikologis.
  • Karakter tokoh yang kuat dan dapat menjadi teladan.
  • Format kisah misteri yang unik, dengan mengungkap pelaku di tengah cerita.
  • Terdapat selingan adegan komedi yang segar.
  • Menyajikan plot twist yang tak terduga.
  • Terjemahan yang baik dan menambah pengetahuan kosa kata baru.
  • Kisah ini dapat memicu trauma sebagian orang, sehingga tidak cocok dibaca oleh semua kalangan.

Saat Nga-Yee meninggalkan tempat tinggalnya pukul delapan pagi itu, dia tidak mengetahui bahwa seluruh hidupnya akan berubah hari itu. Setelah mimpi buruk tahun lalu, dia yakin waktu yang lebih baik akan datang jika mereka hanya menggertakkan gigi dan berpegangan.

Dia dengan tegas percaya bahwa takdir itu adil, dan jika sesuatu yang buruk terjadi, sesuatu yang baik secara alami akan mengikuti.

Sayangnya, kekuatan yang melibatkan cinta malah mempermainkan kami bagai sebuah lelucon yang kejam. Tak lama setelah pukul enam malam itu, Nga-Yee menyeret tubuhnya yang kelelahan menuju rumah.

Ketika dia berjalan dari halte bus antar-jemput, pikirannya disibukan dengan menghitung apakah ada cukup makanan di kulkas untuk membuat makan malam untuk dua orang.

Sebab, hanya dalam tujuh atau delapan tahun, harga telah meningkat secara mengkhawatirkan sementara upah tetap sama.

Nga-Yee bisa mengingat satu pon daging babi seharga dua puluh dolar, tetapi sekarang dengan harga yang sama, ia hanya bisa mendapat setengah pon saja. Mungkin terdapat beberapa ons daging babi dan bayam di dalam kulkanya.

Ini cukup untuk dimasak dengan jahe. Sepiring telur kukus juga akan melengkapi makan malam yang sederhana dan bergizi. Saudari perempuannya, Siu-Man, yang berusia delapan tahun lebih muda darinya sangat menyukai telur kukus.

Maka itu, Nga-Yee sering menyajikan hidangan yang lembut dan halus ini. Ia mampu membuat makanan enak ini dengan daun bawang cincang dan sejumput kecap. Hal yang tidak kalah penting, hidangan ini sangat murah.

Bahkan ketika kondisi keuangan mereka sedang lebih sulit, telur kukus mampu membuat mereka melewati banyak momen yang sulit.

Walaupun ada cukup bahan makanan untuk malam itu, Nga-Yee bertanya-tanya apakah dia harus mencoba peruntungannya di pasar. Dia tak suka meninggalkan lemari es sepenuhnya kosong. Pola pikirnya telah membuatnya selalu memiliki rencana cadangan setiap saat.

Selain itu, beberapa toko akan menurunkan harga mereka tepat sebelum toko tutup, dan dia mungkin akan mengambil beberapa penawaran untuk hari berikutnya.

Sebuah mobil polisi melaju kencang, sirine menembus pikiran Nga-Yee yang sedang memikirkan sembako yang diskon. Baru sekarang dia melihat kerumunan di kaki gedungnya, Rumah Wun Wah. Apa yang bisa terjadi?

Nga-Yee melanjutkan berjalan dengan kecepatan yang sama. Dia bukan tipe orang yang suka bergabung dalam keramaian, itulah sebabnya banyak dari sekolah menengahnya teman-teman sekelasnya mencapnya sebagai seorang penyendiri, seorang introvert, dan seorang kutu buku.

Menurutnya, setiap orang berhak memilih caranya menjalani hidup mereka. Mencoba menyesuaikan diri dengan ide orang lain adalah murni kebodohan. Seorang wanita gemuk, berambut keriting, berumur lima puluh melambai dengan panik sambil memanggil Nga-Yee dari antara selusin penonton. Dia adalah Bibi Chan, tetangga Nga-Yee di lantai dua puluh dua.

Bibi Chan kemudian berlari untuk menghampiri Nga-Yee, mencengkram lengannya, dan menyeretnya ke arah gedung. Nga-Yee tidak bisa mendengar sepatah kata pun yang dia katakan selain teror namanya sendiri membuat suaranya terdengar seperti orang asing.

Nga-Yee akhirnya mulai mengerti ketika ada yang mengeluarkan kata “kakak.” Dalam cahaya matahari yang terbenam, Nga-Yee pun berjalan melalui kerumunan dan akhirnya bisa melihat pemandangan yang mengerikan.

Orang-orang berkerumun di sekitar sepetak beton sekitar selusin meter dari pintu masuk utama. Seorang gadis remaja kulit putih yang masih mengenakan seragam sekolah tergeletak di sana. Rambutnya kusut menutupi wajahnya, cairan merah tua menggenang di sekitar kepalanya.

Pikiran pertama Nga-Yee adalah, bukankah itu seseorang dari sekolah Siu-Man? Dua detik kemudian dia mulai menyadari sosok yang tergeletak di tanah adalah Siu-Man.

Adik perempuannya tergeletak di atas beton yang dingin. Satu-satunya keluarga yang masih dia miliki di dunia ini. Seketika, segala sesuatu di sekitarnya menjadi terbalik. Apakah ini mimpi buruk? Andai saja dia sedang bermimpi. Nga-Yee menatap wajah-wajah di sekitarnya. Dia mengenali mereka sebagai dia tetangga, tetapi mereka merasa seperti orang asing.

Bibi Chan terus memanggil nama Nga-Yee sambil mencengkeram lengannya, dan menggetarkan tubuhnya dengan kasar. Nga-Yee bahkan tak bisa menyebut nama adiknya dengan keras, Nga-Yee tidak bisa menerima bahwa orang yang tergeletak di tanah itu adalah adik perempuannya. Siu-Man seharusnya ada di rumah sekarang, menunggunya untuk memasak makan malam.

Seorang petugas polisi berseragam rapi menyuruh kerumunan orang itu untuk mundur. Petugas mendorong mundur supaya dua paramedis dapat memeriksa tubuh Siu-Man. Paramedis yang lebih tua menempatkan tangannya di bawah hidungnya, ia menekan beberapa jari ke pergelangan tangan kirinya, lalu mengangkat kelopak mata dan bersinar senter ke pupilnya. Ini hanya butuh beberapa detik, tetapi Nga-Yee mengalami setiap detik ini sebagai serangkaian waktu beku.

Dia tak bisa lagi merasakan berlalunya waktu. Alam bawah sadarnya mencoba menyelamatkannya dari apa yang akan terjadi selanjutnya. Paramedis menegakkan tubuh dan menggelengkan kepalanya. Sekali lagi, polisi menyuruh kerumunan untuk mundur dan membersihkan area itu. Paramedis kemudian berjalan menjauh dari Siu-Man dengan tampak muram.

Nga-Yee kemudian berteriak menyerukan nama Siu-Man, ia mendorong Bibi Chan ke samping dan berlari mendekat ke arah adiknya. Seorang petugas polisi yang tinggi segera bergerak cepat untuk menangkap Nga-Yee dan menghentikannya. Nga-Yee kemudian berbalik untuk memohon ke petugas, ia mengatakan bahwa gadis itu adalah adik perempuannya dan ia harus menyelamatkannya.

Polisi itu menyuruh Nga-Yee untuk tetap tenang dengan nada yang menyarankan, walaupun dia juga pasti tahu bahwa kata-katanya tidak akan berpengaruh. Nga-Yee berteriak menyuruh petugas medis untuk menyelamatkan adiknya. Semua emosi terkuras dari ekspresi wajahnya. Ia juga berbalik untuk memohon kru ambulans segera berangkat untuk menyelamatkan adiknya.

Nga-Yee terus memohon kepada petugas untuk menyelamatkan adik perempuan satu-satunya. Namun, petugas langsung menutup tubuhnya dengan kain, menandakan bahwa gadis itu sudah tak bisa diselamatkan lagi. Jadi, pada Selasa malam biasa ini, di tanah kosong di depan Rumah Wun Wah, Lok Wah Estate, Distrik Kwun Tong, tetangga yang biasanya ribut terdiam. Satu-satunya suara di antara bangunan apartemen yang dingin ini adalah tangisan patah hati dari seorang kakak perempuan. Isak tangisnya mengalir seperti angin ke telinga setiap orang, mengisi keheningan mereka dengan kesedihan yang tidak akan pernah bisa dihapus.

Kelebihan 

Review Novel Second Sister ini memiliki sejumlah kelebihan. Kelebihan pertama, yakni dari premis kisah ini yang sangat menarik, yakni mengenai kasus bunuh diri yang diakibatkan oleh aktivitas di dunia maya. Konflik yang diangkat dalam novel ini cukup kompleks dan berat, tetapi Chan Ho-Kei mampu menyampaikannya dengan jelas. Gaya bercerita penulis dinilai sangat baik, cukup detail, sehingga pembaca dapat dengan mudah memahami kasus yang rumit ini.

Dalam novel ini, penulis memaparkan tentang kecanggihan teknologi, dunia internet, dan alat-alat cyber melalui kisah ini. Chan Ho-Kei juga memaparkan tentang kelebihan dan kekurangan dari internet. Hal ini menjadi sebuah kelebihan, karena kisah ini menjadi edukatif. Pembaca dapat belajar melalui kisah ini.

Selain membahas tentang kecanggihan teknologi dan internet, Chan Ho-Kei juga membahas tentang Isu-isu sosial dan psikologi, terutama isu yang marak terjadi di kalangan remaja. Isu ini menyampaikan pesan moral yang sangat baik kepada para pembaca tanpa kesan menggurui. Maka dari itu, pesan ini dapat diterima dengan jelas dan baik oleh pembaca.

Chan Ho-Kei juga dinilai mampu membangun karakter yang kuat dan bisa menjadi teladan. Seperti karakter Nga-Yee yang pengasih, strategis, dan berani menjadi apa adanya. Kemudian, karakter N yang eksentrik, tetapi pandai dan memiliki kemampuan yang mumpuni. Karakter para tokoh ini dapat mencuri perhatian pembaca.

Kelebihan selanjutnya, format novel bergenre thriller ini dinilai cukup unik, karena tidak seperti novel misteri biasa yang pelakunya pasti diungkap di akhir cerita, novel ini mengungkap sosok pelaku dari pertengahan cerita. Pengungkapan ini dieksekusi dengan sangat baik, karena pembaca bisa terus penasaran akan latar belakang kasus ini.

Kemudian, Chan Ho-Kei juga menyelipkan beberapa adegan komedi yang membuat kisah ini tidak melulu menegangkan. Selingan adegan komedi seperti dalam interaksi Nga-Yee dan N memberikan sesuatu yang segar. Selingan komedi ini menambah warna dan kesan baik kisah ini.

Selain itu, kisah Second Sister ini juga memberikan plot twist yang tidak diduga oleh pembaca. Bagi pembaca yang fokus akan cerita ini dapat menemukan dirinya terkecoh dan akhirnya terkejut dengan twist yang diberikan. Kemudian, novel versi terjemahan dalam Bahasa Indonesia juga dinilai mudah untuk dimengerti, bahkan memberikan edukasi akan kosa kata baru yang digunakan penerjemah.

Kekurangan 

Kekurangan review novel Second Sister ini terletak pada sifat cerita ini yang dapat memicu trauma sebagian orang. Sebab, kisah ini berfokus pada kasus bunuh diri, terutama pada kalangan remaja, juga membahas tentang pelecehan seksual. Maka dari itu, novel ini baiknya dibaca oleh mereka yang sudah dewasa.

Pesan Moral

Melalui kisah ini, kita dapat belajar bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk tidak akan mengakui bahwa mereka bersifat egois. Banyak orang yang berbicara tentang moral dan keadilan, tetapi ketika kita terancam akan kehilangan apa yang kita miliki, kita kembali pada sifat egois. Hal itu manusiawi, tetapi tidak sepenuhnya baik. Apalagi jika seseorang tak bisa menyadari dan mengakui bahwa dirinya egois, bahkan menyalahkan sesuatu atau orang lain.

Melalui kisah ini, kita juga dapat belajar untuk bersikap lebih bijak dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi, terutama internet. Internet memang membawa banyak perubahan pesat, perubahan yang baik dalam kehidupan manusia. Namun, internet juga bisa memberikan dampak buruk yang sangat fatal. Banyak orang yang lupa bahwa dunia maya dibentuk oleh manusia yang nyata. Banyak orang yang lupa bagaimana harus bertindak sebagai seorang manusia.

Nah, itu dia Grameds review novel Second Sister (Putri Kedua) karya Chan Ho-Kei. Bagi kalian yang penasaran akan pelaku yang menyebabkan Siu-Man menyerah pada kehidupannya, yuk langsung dapatkan novel ini hanya di Gramedia.com.

Rating: 4,4

https://www.gramedia.com/products/analisis-semiotika-film-dan-komunikasi?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Written by Gabriel