in

Perjalanan Sejarah Mata Uang Indonesia

Hai, Grameds! Mata uang Indonesia punya cerita panjang yang seru dan penuh warna, mulai dari zaman kerajaan sampai sekarang. Dulu, orang-orang di Nusantara memakai koin-koin dari logam mulia untuk bertransaksi, kemudian datang Belanda membawa guldennya, dan semuanya berubah. Setelah merdeka, Indonesia akhirnya punya mata uang sendiri, yaitu Rupiah, yang menjadi simbol kedaulatan dan identitas bangsa. Dalam artikel ini, kita akan melihat perjalanan mata uang Indonesia dan memahami tiap perubahan yang terjadi. Yuk, simak cerita lengkapnya!

Sejarah Panjang Mata Uang Indonesia

 

Mata uang Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan penuh dengan perubahan. Sepanjang perjalanan sejarahnya, mata uang di Nusantara telah mengalami berbagai transformasi, mencerminkan dinamika politik, ekonomi, dan sosial yang terjadi di setiap era. Pada masa kerajaan, berbagai bentuk mata uang logam seperti koin emas dan perak digunakan oleh kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit dan Sriwijaya.

Saat era kolonial, Belanda memperkenalkan gulden sebagai mata uang resmi, menggantikan berbagai bentuk mata uang lokal yang ada. Setelah kemerdekaan, Indonesia menghadapi tantangan besar untuk menciptakan mata uang nasional yang independen, dan lahirlah Rupiah pada tahun 1946. Sejak saat itu, Rupiah terus berkembang dan mengalami berbagai perubahan desain serta kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas dan nilai tukarnya.

Perjalanan panjang ini mencerminkan upaya Indonesia dalam membangun kedaulatan ekonomi dan memperkuat identitas nasional melalui mata uangnya. Melalui berbagai perubahan ini, Rupiah tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar dan penyimpan nilai, tetapi juga sebagai simbol perjuangan dan pencapaian bangsa Indonesia.

Mari kita telusuri lebih dalam tentang Rupiah melalui sejarah mata uang Indonesia, mulai dari masa kemerdekaan hingga kini.

 

Uang Indonesia Sejarah & Perkembangannya

Uang Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya mengisahkan perkembangan uang kertas dan logam yang pernah digunakan oleh masyarakat Nusantara pada abad lampau hingga kemudian menjadi Indonesia pada masa sekarang. Secara kronologis, dikisahkan bagaimana nama Rupiah pertama kali digunakan hingga menjadi nama resmi mata uang Indonesia yang pertama kali ditetapkan sebagai alat pembayaran yang sah pada 30 Oktober 1946. Beberapa kisah menarik tentang uang dari masa pra-Indonesia, masa ORI, hingga masa kini disampaikan secara ringan dan ringkas dalam buku ini.

 

  • Masa Pra-Kemerdekaan

Pada masa pra-kemerdekaan di Indonesia terdapat beberapa jenis mata uang yang digunakan, yaitu:

a. Penggunaan Gulden Belanda 

Pada masa kolonial, pengaruh Belanda membawa perubahan signifikan dalam sistem mata uang di Nusantara. Ketika VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) menguasai sebagian besar wilayah perdagangan di Indonesia, mereka memperkenalkan Gulden Belanda sebagai mata uang resmi.

Gulden menjadi mata uang yang dominan selama masa kolonial Belanda. Mata uang ini digunakan dalam transaksi sehari-hari, perdagangan, dan administrasi pemerintah kolonial.

Pengaruh Belanda terhadap sistem keuangan dan mata uang di Indonesia bertahan hingga masa-masa awal kemerdekaan.

 

b. De Japansche Regeering Pemerintahan Jepang

Pada tahun 1942, Jepang menginvasi Hindia Belanda dan mengambil alih seluruh wilayahnya. Jepang memperkenalkan mata uang mereka sendiri, termasuk uang lokal dan gulden, serta melikuidasi bank-bank, termasuk De Javasche Bank.

Filosofi: Bentuk Refleksi diri Natasha Rizky melalui buku “Kamu Tidak Istimewa”

Setelah itu, uang kertas yang diterbitkan oleh De Japansche Regeering menjadi alat pembayaran yang sah sejak Maret 1942. Meskipun uang Jepang ini seharusnya bernilai sama dengan uang Belanda, hiperinflasi terjadi akibat pencetakan uang yang berlebihan.

Pada tahun 1944, Jepang mulai mencetak uang dalam bahasa Indonesia. Stok uang kertas ini terus digunakan oleh pemerintah Indonesia hingga tahun 1946 ketika mereka mulai mencetak uang sendiri.

 

c. Penggunaan Gulden NICA

Pada akhir perang, sekutu NICA mulai mengambil alih kendali atas Indonesia dan mencetak gulden NICA pada tahun 1943. Uang ini didistribusikan di Papua, Maluku, dan Kalimantan. Ketika uang NICA pertama kali muncul di Pulau Jawa, Soekarno segera mengeluarkan dekrit pada tanggal 2 Oktober 1945 yang menyatakan bahwa uang kertas NICA ilegal.

Karena tidak memiliki kendali penuh, Belanda akhirnya memutuskan untuk tidak mengedarkan uang NICA di kota-kota di Pulau Jawa dan Sumatra. Kesulitan dalam mendistribusikan uang tersebut menyebabkan uang NICA perlahan-lahan tidak lagi berlaku dan tidak digunakan.

Pada saat itu, Indonesia memiliki empat mata uang yang sah, yaitu De Javasche Bank, De Japansche Regeering, Dai Nippon, dan Dai Nippon Teikoku Seibu. Berikut adalah tampilan visual dari keempat mata uang tersebut:

1. De Javasche Bank

(Sumber foto: visual.kemenkeu.go.id)

2. De Japansche Regeering

(Sumber foto: visual.kemenkeu.go.id)

3. Dai Nippon

(Sumber foto: visual.kemenkeu.go.id)

4. Dai Nippon Teikoku Seibu

(Sumber foto: visual.kemenkeu.go.id)

 

 

  • Masa Pasca Kemerdekaan 

Pada tahun 1945, setelah proklamasi kemerdekaan, pemerintah Indonesia memutuskan bahwa sudah saatnya membuat mata uang sendiri. Sejarah mata uang Indonesia dimulai pada tahun 1946 dengan diterbitkannya Oeang Republik Indonesia (ORI) sebagai mata uang pertama yang dikeluarkan oleh pemerintah. ORI pertama kali diedarkan pada tanggal 30 Oktober 1946.

a. Oeang Republik Indonesia (ORI)

Pada tahun 1946, pemerintah Indonesia menerbitkan mata uang pertamanya yang dikenal sebagai Oeang Republik Indonesia (ORI). Tanggal emisi yang tercantum pada penerbitan pertama ORI adalah 17 Oktober 1945, sementara peredarannya baru dimulai pada 30 Oktober 1946. Ini menunjukkan betapa panjang proses penerbitan mata uang Indonesia ini.

Pada masa itu, ORI emisi pertama diterbitkan dalam delapan seri uang kertas, yaitu satu sen, lima sen, sepuluh sen, setengah rupiah, satu rupiah, lima rupiah, sepuluh rupiah, dan seratus rupiah. Uang ORI ini memiliki sisi depan dan belakang yang menampilkan gambar khas Indonesia, seperti keris terhunus dan teks Undang-Undang Dasar 1945.

Sebelum diedarkan, ORI dicetak setiap hari dari pukul 7 pagi hingga 10 malam sejak Januari 1946. Awalnya, pencetakan dilakukan di Jakarta, namun kemudian dipindahkan ke Yogyakarta, Surakarta, Malang, dan Ponorogo.

Setelah itu, ORI dicetak dan didistribusikan ke seluruh Jawa dan Madura menggunakan gerbong kereta api. Meskipun demikian, persaingan antara uang NICA dan ORI masih berlangsung hingga tahun 1947.

 

Apakah Bitcoin Standar Uang Masa Depan?

button cek gramedia com

Sejak dahulu hingga saat ini, uang merupakan komoditas yang diterima dengan persetujuan umum sebagai alat tukar ekonomi. Ada berbagai kegiatan dan kebutuhan hidup yang tidak dapat dilepaskan dari uang, sehingga benda ini menjadi kebutuhan penting bagi setiap individu.

Seiring berkembangnya zaman, mata uang terus mengalami perkembangan, termasuk munculnya mata uang kripto.

Dewasa ini, investasi mata uang kripto cukup diminati, baik secara global maupun oleh publik tanah air. Jenis aset kripto ini pun beragam, salah satu yang sering digunakan adalah bitcoin. Bitcoin merupakan mata uang digital terdesentralisasi yang dapat ditransfer di jaringan Bitcoin peer-to-peer.

Buku “Apakah Bitcoin Standar Uang Masa Depan?” yang ditulis oleh Oscar Darmawan dan Sintha Rosse Kamlet ini mengungkap tentang sejarah dan hakikat uang. Buku setebal 136 halaman ini juga mengupas tentang sistem desentralisasi bitcoin.

 

b. Oeang Repulik Indonesia Daerah (ORIDA)

ORI mengalami kesulitan dalam distribusi ke wilayah Jawa Barat dan Sumatera karena beberapa daerah masih diduduki Belanda. Kesulitan pemerintah Indonesia untuk menyatukan seluruh wilayah sebagai satu kesatuan moneter menyebabkan para tokoh daerah mengusulkan agar tiap daerah diizinkan mengeluarkan mata uang sendiri.

Pemerintah menyetujui usulan ini, sehingga muncul ORI daerah (ORIDA). Akibatnya, pada masa itu terdapat 21 jenis mata uang dan 27 jenis ORIDA di Indonesia. Jenis-jenis ORIDA ini meliputi surat-surat seperti bon, surat tanda penerimaan uang, tanda pembayaran yang sah, dan ORIDA berbentuk mandat.

Penggunaan ORI dan berbagai macam ORIDA hanya berlaku sampai 1 Januari 1950 dan kemudian dilanjutkan dengan penerbitan uang Republik Indonesia Serikat.

 

c. Uang Republik Indonesia Serikat

Hasil dari salah satu kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung dari 23 Agustus hingga 2 November 1949 adalah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada 27 Desember 1949. Setelah itu, negara federal Republik Indonesia Serikat (RIS) dibentuk.

Belanda mengajukan untuk menjadikan uang NICA sebagai satu-satunya alat pembayaran, namun Sri Sultan Hamengkubuwono menolak. Sebagai alternatif, atas usulan pihak Belanda, dilakukan survei untuk menilai preferensi masyarakat Indonesia terhadap kedua mata uang tersebut.

Hasil survei menunjukkan bahwa masyarakat lebih memilih menggunakan ORI sebagai alat pembayaran yang sah. Berdasarkan hasil survei tersebut, pemerintah menetapkan bahwa berlakunya mata uang Indonesia bersama, yaitu uang federal atau uang Republik Indonesia Serikat (RIS).

Pada tanggal 27 Maret 1950, proses penukaran ORI dan ORIDA dengan uang baru yang dikeluarkan dan disebarkan oleh De Javasche Bank dimulai. Bersamaan dengan berlangsung singkat masa pemerintahan RIS, masa berlaku uang kertas RIS juga tidak panjang, hanya sampai tanggal 17 Agustus 1950 ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kembali terbentuk.

 

d. Pemberlakuan Rupiah

Pada bulan Desember 1951, De Javasche Bank dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia (BI) sebagai lembaga bank sentral. Sesuai dengan tanggal berlakunya Undang-Undang Pokok Bank Indonesia tahun 1953, maka tanggal 1 Juli 1953 dijadikan sebagai hari peringatan lahirnya Bank Indonesia, di mana Bank Indonesia mengambil alih fungsi De Javasche Bank dan menjadi bank sentral.

Pada saat yang bersamaan, Bank Indonesia juga mengeluarkan uang Rupiah sebagai alat pembayaran. Terdapat dua jenis uang Rupiah yang sah digunakan di wilayah Republik Indonesia, yaitu uang yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia (melalui Kementerian Keuangan) dan uang yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.

Pemerintah RI menerbitkan uang kertas dan logam dengan nilai kurang dari Rp 5, sementara Bank Indonesia menerbitkan uang kertas dengan nilai Rp 5 ke atas. Antara tahun 1952 dan 1953, Bank Indonesia mulai mengeluarkan serangkaian uang kertas baru, mulai dari pecahan 1 Rupiah hingga 100 Rupiah.

Kesimpulan

Nah, Grameds, sekarang sudah tahu kan bagaimana perjalanan sejarah yang panjang dan penuh tantangan dalam pembentukan mata uang nasional Indonesia. Dari masa pra-kemerdekaan hingga pembentukan Rupiah sebagai mata uang resmi, berbagai transisi dan konflik yang terjadi sepanjang perjalanan tersebut. Melalui evolusi mata uangnya, Indonesia tidak hanya mencerminkan dinamika politik dan ekonomi, tetapi juga menunjukkan tekad untuk memperkuat kedaulatan ekonomi dan membangun identitas nasional melalui Rupiah. Grameds, kamu bisa mempelajari fakta menarik Indonesia dan jenis mata uang melalui buku-buku yang tersedia di Gramedia.com.

 

 

Why? Cryptocurrency & Blockchain

Akhir-akhir ini kamu pasti sering mendengar kata Bitcoin. Lalu, apa sih sebenarnya Bitcoin itu? Nah, Bitcoin adalah mata uang kripto yang beberapa tahun belakangan ini melonjak drastis dan mulai dikenal secara luas di seluruh dunia. Tapi, apakah kamu tahu secara jelas apa itu mata uang kripto?

Belakangan ini, orang-orang naik kereta atau membayar parkir dengan mata uang elektronik yang terhubung dengan kartu transportasi atau smartphone. Cryptocurrency atau mata uang kripto adalah sejenis mata uang elektronik yang diperdagangkan secara online dan tidak memiliki bentuk nyata.

Mata uang kripto menggunakan teknologi yang disebut blockchain atau rantai-blok. Rantai-blok adalah sistem konseptual baru yang mendistribusikan dan menyimpan data di banyak komputer. Setiap blok yang berisi riwayat transaksi dihubungkan dalam bentuk rantai, disalin, dan disimpan di banyak komputer. Teknologi ini sulit untuk diubah atau dipalsukan karena semua orang yang terlibat dalam transaksi tersebut memverifikasinya sehingga keamanannya sangat bagus.

Komik Pendidikan “Why? Cryptocurrency & Blockchain – Mata Uang Kripto dan Rantai-Blok” yang diterbitkan oleh penerbit Elex Media Komputindo, membahas segala sesuatu yang perlu diketahui tentang mata uang kripto, mulai dari sejarah, jenis, perkembangan, teknologi yang digunakan, dan lain-lain.

Saat membaca penjelasan yang ada di internet atau surat kabar, istilah-istilah yang berhubungan dengan mata uang kripto terdengar sulit dan asing di telinga kita, khususnya bagi anak-anak. Buku ini menyajikan penjelasan yang sulit itu melalui komik dan menyesuaikan kontennya dengan anak-anak agar mudah dipahami dan lebih menarik untuk dibaca.

Di dalam buku ini, Komji dan Omji kali ini terjebak di dalam labirin dan mereka harus memahami sepenuhnya mata uang kripto serta teknologi yang digunakannya agar dapat keluar dari labirin tersebut. Kedepannya, teknologi rantai–blok yang digunakan pada mata uang kripto diprediksi akan terus berkembang. Teknologi ini memiliki keamanan tingkat tinggi sehingga dapat dimanfaatkan tidak hanya pada mata uang kripto, tetapi juga di bidang lain seperti logistik, medis, dan lain-lain.

Jika perkembangan berbagai teknologi yang memimpin era revolusi industri keempat, misalnya internet of things, digabungkan dengan teknologi rantai–blok yang keamanannya lebih ditingkatkan lagi dibandingkan saat ini, akan ada perubahan spektakuler yang menanti kita di masa depan.



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Laila Wu