in

5 Film Nyeleneh tentang Kemerdekaan Indonesia

Sumber foto header: Unsplash

Kisah kemerdekaan Indonesia beserta upaya panjang untuk mewujudkannya kerap diangkat dalam film layar lebar. Pada setiap era, film-film seperti ini tak pernah luput hadir di bioskop.

Namun, latar sosial-politik-budaya (dan bahkan ekonomi) ketika film-film tersebut diproduksi pada akhirnya turut mengkonstruksi muatan cerita dan sudut pandang yang diambil oleh sang pembuat film.

Ambil contoh pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dengan Orde Baru-nya. Lewat sensor dan kontrol yang amat ketat, bisa dibilang kebanyakan film-film tentang kemerdekaan kala itu mengusung isu nasionalisme dan patriotisme untuk mempromosikan ideologi negara.

Itu pun dalam koridor narasi sejarah versi Orde Baru yang mengagung-agungkan peran Soeharto dan militerisme, terutama sejak 1965. Tengok saja film Serangan Fajar (1981) dan Pengkhianatan G-30-S PKI (1982).

Walau begitu, sekalipun tak banyak, tetap muncul film-film tentang kemerdekaan Indonesia yang mengambil perspektif berbeda.

Film-film ini bukan hanya memperlihatkan isu nasionalisme, patriotisme, dan antikolonialisme, tapi juga seakan mendiskusikannya, bahkan mengkritisinya, sekalipun dengan cara berkomedi. Lima film berikut ini adalah contohnya.

1. Lewat Djam Malam (1954)

Film
sumber: themoviedb.org

Perang kemerdekaan dan revolusi tidak selalu berbuah manis. Dampaknya bukan hanya suka cita dan optimisme tentang masa depan negara.

Pada masa awal pasca kemerdekaan, muncul pula pesimisme, perasaan terbuang, alienasi, kriminalitas, hingga bibit-bibit korupsi. Segala persoalan ini sulit kita temui dalam film-film bertema kemerdekaan semasa Orde Baru berkuasa.

Dengan muatan seperti itu, film Lewat Djam Malam yang digarap sutradara Usmar Ismail dengan skrip yang ditulis Asrul Sani ini dinilai berhasil menyampaikan kritik sosial yang keras dan relevan sampai sekarang.

Kisahnya tentang Iskandar, bekas tentara, yang kembali dari medan perang dan hidup di masyarakat yang menyepelekan dirinya. Iskandar sendiri menyimpan trauma dan perasaan bersalah akibat pembunuhan yang dilakukannya saat perang.

2. Pagar Kawat Berduri (1961)

Film
sumber: Imdb

Disutradarai dan ditulis skenarionya oleh Asrul Sani, maestro perfilman Indonesia, Pagar Kawat Berduri juga mengetengahkan cerita perjuangan kemerdekaan yang berbeda.

Seperti halnya Lewat Djam Malam, narasi Pagar Kawat Berduri juga sarat dengan kritik sosial dan kegelisahan mengenai masa depan negara dan makna nasionalisme itu sendiri.

Alih-alih menampilkan baku tembak ala film perang, film ini menghadirkan rentetan percakapan cerdas dan bernas mengenai kolonialisme antara tentara Indonesia dan perwira Belanda.

Saat beredar pada 1961, publik mengkritiknya lantaran film ini tidak menampilkan karakter orang kulit putih penjajah yang antagonis—gambaran yang mudah kita temui dalam film-film bertema kemerdekaan di era Orde Baru.

Film ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama karya Trisnojuwono.

3. Naga Bonar (1986)

Film
sumber: Imdb

Ketika pengaruh Orde Baru sedang kuat-kuatnya, film yang disutradarai MT Risyaf ini muncul dan mengocok perut penonton lewat komedinya.

Dengan amunisi skenario yang ditulis Asrul Sani, penonton disuguhi cerita soal patriotisme yang berbeda dan nyeleneh dengan latar zaman perang kemerdekaan.

Bagaimana tidak. Sebab, Jenderal Naga Bonar (Deddy Mizwar) yang memimpin para tentara pejuang di sini bukanlah seorang perwira asli yang kharismatik, cerdas dan lihai dalam berperang.

Namun, ia adalah bekas pencopet yang tak berpendidikan, nekat, sangat patuh kepada ibunya, dan punya penyakit malaria yang sering kambuhan.

Film ini seperti mengolok-olok patriotisme dan nasionalisme, meskipun sebenarnya Asrul Sani menulis skenario ini lantaran terinspirasi dari kejadian nyata.

4. Laskar Pemimpi (2010)

Film
sumber: Imdb

Berlangganan Gramedia Digital

Baca majalah, buku, dan koran dengan mudah di perangkat Anda di mana saja dan kapan saja. Unduh sekarang di platform iOS dan Android

  • Tersedia 10000++ buku & majalah
  • Koran terbaru
  • Buku Best Seller
  • Berbagai macam kategori buku  seperti buku anak, novel,religi, memasak, dan lainnya
  • Baca tanpa koneksi internet

Rp. 89.000 / Bulan

Berlangganan Gramedia Digital

Baca majalah, buku, dan koran dengan mudah di perangkat Anda di mana saja dan kapan saja. Unduh sekarang di platform iOS dan Android

  • Tersedia 10000++ buku & majalah
  • Koran terbaru
  • Buku Best Seller
  • Berbagai macam kategori buku  seperti buku anak, novel,religi, memasak, dan lainnya
  • Baca tanpa koneksi internet

Rp. 89.000 / Bulan

Film garapan Monty Tiwa yang juga menulis skenarionya bersama Eric Tiwa ini juga menyoal nasionalisme dan patriotisme dengan penuh canda tawa.

Bahkan, ada kesan meledek narasi sejarah Orde Baru dalam beberapa adegannya. Ditambah lagi, para pemerannya adalah para personil Project Pop yang memang kocak.

Berlatar peristiwa Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, film ini mengetengahkan tentang laskar tentara yang tidak sempurna dan minim pengalaman sehingga lebih pas disebut pecundang.

Mereka lalu tidak dilibatkan dalan serangan umum 1 Maret 1949 ke Yogyakarta. Namun, laskar tentara ini melakukan aksi nekat nan konyol, sehingga tanpa terduga malah membantu dalam meraih kemenangan.

5. Pantja-Sila: Cita-cita & Realita (2016)

Film
sumber: Imdb

Dasar negara kita, Pancasila, lahir pada 1 Juni 1945 saat sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Di sinilah Soekarno, yang kelak menjadi proklamator dan Presiden Indonesia pertama, berpidato panjang lebar tanpa teks yang isinya menjelaskan gagasan Pancasila.

Film Pantja-Sila: Cita-cita & Realita merekonstruksi pidato itu sesuai peristiwa aslinya dengan Tyo Pakusadewo sebagai Soekarno.

Selama nyaris 80 menit, film yang disutradarai Tino Saroengallo dan Tyo Pakusadewo ini hanya menampilkan satu shot Soekarno yang sedang berpidato dengan berapi-api dan dramatis.

Namun, film ini juga menyelipkan beberapa gambar dan foto untuk menguatkan isi pidato Soekarno. Hasilnya, film ini jauh dari kesan membosankan.


 

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

  • Custom logo gratis
  • Akses gratis ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien
  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Angga Rulianto