Sosiologi

Tunawisma: Pengertian, Penyebab, dan Tiga Upaya Penanggulangannya

Tunawisma adalah
Written by Ananda

Tunawisma adalah – Sudah menjadi hal umum bahwa kota merupakan salah satu wilayah yang menjadi pusat bisnis dan pusat dari lapangan pekerjaan. Anggapan banyak orang bahwa di kota akan ada banyak sekali lapangan kerja yang terbuka. Namun, hal ini ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan yang terjadi.

Pada kenyataannya beberapa kota terutama di Indonesia masih ada banyak gelandangan yang ada di pinggir jalan. Gelandangan itu sering juga disebut sebagai tunawisma. Berdasarkan PP No. 31 Tahun 1980 gelandangan sendiri didefinisikan sebagai orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam satu lapisan masyarakat.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas lebih lanjut tentang tunawisma, mulai dari pengertian hingga penyebabnya. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak penjelasannya.

Pengertian Tunawisma

Tunawisma adalah

pixabay.com

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tunawisma adalah seseorang yang tak memiliki tempat tinggal (rumah). Selain itu, tunawisma bisa dikatakan sebagai orang yang tidak memiliki tempat tinggal karena berbagai alasan, sehingga mereka akan tinggal di tempat umum (yang kurang layak), seperti di bawah kolong jembatan, stasiun kereta api, taman umum, pinggir jalan, pinggir sungai, dan sebagainya. Tempat yang ditinggali oleh tunawisma biasanya untuk bertahan hidup sehari-hari, mulai dari makan hingga tidur.

Jika dilihat secara sekilas, tunawisma mempunyai pengertian yang sama dengan gelandangan. Menurut Arrasjid, gelandangan sendiri dibagi menjadi 4 golongan, yaitu:

  1. Tuna-karya dan tuna-wisma Tuna-karya dan tunawisma merupakan orang yang sama sekali tidak mempunyai pekerjaan serta tidak bertempat tinggal yang tetap.
  2. Tuna-karya dan berwisma tak layak – Tuna-karya dan berwisma tak layak merupakan orang yang sama sekali tidak memiliki pekerjaan, tetapi mempunyai tempat tinggal tetap yang tak layak.
  3. Berkarya-tak layak dan tuna-wisma Berkarya-tak layak dan tunawisma merupakan orang yang mempunyai pekerjaan yang tak layak serta tak bertempat tinggal tetap.
  4. Berkarya-tak layak dan berwisma-tak layak – Berkarya tak layak dan berwisma tak layak merupakan orang yang mempunyai pekerjaan yang tak layak, serta bertempat tinggal tetap yang tak layak (Arrasjid, 1980:3).

Terkadang ada beberapa orang yang merasa bingung perbedaan tunawisma dengan pengemis. Tunawisma merupakan seseorang yang tidak memiliki tempat tinggal dan juga pekerjaan yang kemudian bertahan hidup di tempat umum. Sementara itu, pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan cara meminta-minta di tempat umum dan berharap adanya belas kasihan dari orang lain.

Penyebab Tunawisma

Tunawisma adalah

pixabay.com

Tunawisma merupakan suatu masalah global yang terus dihadapi hingga saat ini. Ada sekitar 3 juta tunawisma di Indonesia. Indonesia juga rentan terhadap letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, serta berbagai bencana alam lainnya. Ditambah lagi dengan urbanisasi yang cepat, sehingga membuat jutaan orang rentan kehilangan rumah.

Pada tahun 2018, terdapat 857.500 pengungsi baru yang akibat bencana alam dan kekerasan. Sekitar 25 juta keluarga tinggal di daerah kumuh perkotaan, di sepanjang rel kereta api, tepi sungai, dan jalan raya menurut Homeless World Cup Foundation.

Adanya tunawisma ini disebabkan oleh beberapa hal. Berikut di bawah ini akar penyebab adanya tunawisma secara umum:

1. Gaji stagnan

Gaya hidup semakin hari semakin meningkat, tetapi di sisi lain gaji atau upah dari pekerjaan masih stagnan atau tidak ada kenaikan. Di Amerika Serikat, upah minimum telah naik sekitar 350% sejak tahun 1970. Indeks Harga Konsumen juga telah meningkat lebih dari 480%.

Oleh karena itu, hal tersebut membuat sulit untuk menutupi biaya hidup sehari-hari, apalagi menghemat uang untuk kepemilikan rumah ataupun keadaan darurat. Tanpa kemampuan untuk menabung, pengeluaran yang tak terduga dapat menghabiskan penghasilan seseorang. Di seluruh dunia, upah rendah kemudian membuat orang terjebak dalam kemiskinan dan lebih rentan menjadi tunawisma.

2. Pengangguran

Bukan hanya upah yang stagnan saja yang menyebabkan tunawisma, tetapi pengangguran juga menjadi salah satu penyebab dari adanya tunawisma. Alasan pengangguran sendiri bervariasi dan beberapa negara mempunyai tingkat pengangguran yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan negara lain. Ketika seseorang menganggur selama beberapa waktu, maka tak menutup kemungkinan kalau mereka akan menjadi tunawisma. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kebanyakan orang yang tidak memiliki rumah ingin bekerja, tetapi menghadapi kendala, seperti tidak memiliki alamat tetap.

3. Kurangnya perumahan yang terjangkau

Biaya perumahan yang tinggi adalah masalah global. Sebuah survei global dari Lincoln Institute of Land Policy menunjukkan bahwa dari 200 kota yang disurvei, 90% kota dianggap tidak terjangkau terhadap harga rumah. Hal ini didasarkan kepada harga rumah rata-rata yang lebih dari tiga kali lipat pendapatan para pekerja pada umumnya.

Tanpa perumahan yang terjangkau, maka seseorang akan sulit untuk memilih rumah yang dapat dibeli dan menjadi tempat tinggal. Bahkan, akan menjadi lebih sulit dalam menemukan perumahan di dekat tempat kerja atau di daerah yang aman.

4. Kurangnya perawatan kesehatan yang terjangkau

Tunawisma adalah

pixabay.com

Perawatan kesehatan juga menjadi sangat mahal, tetapi banyak orang tidak diasuransikan atau kurang diasuransikan. Hal ini berarti akan menghabiskan banyak uang untuk melakukan perawatan kesehatan sambil berjuang untuk membayar sewa, makanan, serta utilitas. Selain itu, hal ini juga bisa berarti mengabaikan pemeriksaan serta prosedur rutin, yang kemudian menyebabkan biaya medis yang lebih tinggi di masa mendatang. Satu cedera ataupun kecelakaan serius dapat mendorong seseorang atau keluarga menjadi tunawisma.

5. Kemiskinan

Dalam skala global, kemiskinan sudah menjadi salah satu akar penyebab paling signifikan dari tunawisma. Upah yang stagnan, serta pengangguran, dan biaya perumahan serta perawatan kesehatan yang tinggi semuanya menyebabkan kemiskinan.

Ketidakmampuan dalam membeli kebutuhan pokok seperti diantaranya perumahan, makanan, pendidikan, dan lebih banyak lagi akan meningkatkan risiko seseorang atau suatu keluarga. Untuk mengatasi tunawisma secara efektif, pemerintah serta suatu organisasi perlu mengatasi kemiskinan.

6. Kurangnya pelayanan perawatan kesehatan mental serta kecanduan

Tunawisma adalah

pixabay.com

Hubungan dua arah antara kesehatan mental, kecanduan, serta tunawisma sangat jelas. Di AS, kurang lebih 30% orang “tunawisma kronis” memiliki kondisi masalah dalam hal kesehatan mental.

Pada 2017, Koalisi Nasional untuk Tunawisma kemudian menemukan fakta bahwa 38% tunawisma bergantung pada alkohol dan 26%-nya bergantung pada zat lain. Memiliki penyakit mental ataupun mengalami kecanduan membuat seseorang lebih rentan menjadi tunawisma serta membuatnya lebih sulit untuk mendapatkan tempat tinggal permanen.

Kurangnya tempat tinggal yang stabil bisa memperburuk masalah kesehatan mental serta kecanduan. Tanpa layanan pengobatan, sangat sulit bagi seseorang untuk dapat memutus siklus tersebut.

7. Ketimpangan ras

Tunawisma adalah

pixabay.com

Di Amerika Serikat, ras minoritas kemudian mengalami tunawisma pada tingkat yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan populasi kulit putih. Menurut penelitian dari National Alliance to End Homelessness dan US Department of Housing and Urban Development, orang kulit hitam yang ada di Amerika Serikat, 3 kali lebih mungkin mengalami kehilangan tempat tinggal.

Penduduk asli Hawaii, pada Kepulauan Pasifik, serta Penduduk asli Amerika bisa dikatakan sebagai minoritas yang terpengaruh secara tidak proporsional. Hal ini dapat terjadi karena adanya diskriminasi terhadap ras minoritas.

8. Kekerasan dalam rumah tangga

Tunawisma adalah

dw.com

Wanita serta anak-anak sangat rentan terhadap tunawisma yang dipicu oleh kekerasan. Oleh sebab itu, untuk menghindari kekerasan dalam rumah tangga, seseorang bisa saja akan meninggalkan rumah mereka tanpa rencana.

Jika mereka tak punya tempat tinggal, mereka dapat berakhir di mobil, tempat penampungan, ataupun jalanan. Bahkan, bagi mereka yang tinggal, dampak kekerasan dalam rumah tangga juga akan membuat mereka lebih rentan menjadi tunawisma di masa depan. Hal ini dapat terjadi karena trauma seringkali mengarah kepada masalah kesehatan mental dan penyalahgunaan berbagai zat.

9. Kegagalan sistemik

Meskipun tunawisma juga dapat terjadi karena keadaan individu atau keluarga, kita tidak dapat mengabaikan kalau tunawisma bisa muncul juga karena kegagalan sistemik. Tunawisma sesungguhnya terjadi ketika masyarakat gagal mengidentifikasi serta mendukung orang yang berisiko tak memiliki rumah.

Kegagalan di berbagai bidang, seperti layanan pemasyarakatan, layanan kesehatan, serta kesejahteraan anak sangat umum terjadi. Kegagalan masyarakat dalam mengatasi ketidaksetaraan ras, menaikkan upah, dan menyediakan perumahan yang terjangkau, sehingga sangat berperan dalam kemunculan tunawisma.

Upaya Atasi Tunawisma

Tunawisma adalah

pixabay.com

1. Usaha Preventif

Usaha preventif merupakan suatu usaha secara terorganisir yang meliputi penyuluhan, bimbingan, latihan, serta pendidikan, pemberian bantuan, pengawasan juga pembinaan lanjut kepada berbagai pihak yang ada hubungannya dengan pergelandangan dan pengemisan, sehingga kemudian akan tercegah terjadinya. Berikut ini beberapa usaha preventif untuk mengatasi tunawisma:

  1. Pergelandangan dan pengemisan oleh individu atau pada keluarga-keluarga terutama yang sedang berada dalam keadaan sulit penghidupannya;
  2. Meluasnya pengaruh serta akibat adanya pergelandangan dan pengemisan di dalam masyarakat kemudian akan mengganggu ketertiban dan kesejahteraan pada umumnya;
  3. Pergelandangan serta pengemasan kembali oleh para gelandangan dan pengemis yang telah direhabilitasi dan telah ditransmigrasikan ke daerah-daerah pemukiman baru ataupun telah dikembalikan ke tengah masyarakat.

2. Usaha Represif

Usaha represif merupakan usaha-usaha yang terorganisir, baik melalui lembaga atau bukan dengan maksud menghilangkan pergelandangan serta pengemisan, serta mencegah meluasnya di dalam masyarakat. Usaha represif yang dilakukan diantaranya:

a. Razia

Razia yang dapat dilakukan sewaktu-waktu baik oleh pejabat yang berwenang untuk itu atau oleh pejabat yang atas perintah Menteri dan diberi wewenang untuk itu secara terbatas. Dalam hal ini, razia biasanya dilakukan oleh Satpol PP bersama-sama dengan Kepolisian. Gelandangan dan pengemis yang terkena razia akan ditampung dalam penampungan sementara untuk diseleksi.

b. Penampungan sementara untuk diseleksi

Seleksi dimaksudkan untuk menetapkan kualifikasi bagi para gelandangan dan pengemis. Selain itu, sebagai dasar dalam menetapkan tindakan selanjutnya yang terdiri dari:

Dilepaskan dengan syarat yang berarti dimasukkan ke dalam Panti Sosial untuk dikembalikan kepada orang tua atau wali atau keluarga atau kampung halamannya atau diserahkan ke Pengadilan atau diberikan pelayanan kesehatan (masuk rehabilitasi).

Penutup

Mengatasi tunawisma memang tidak mudah apabila tidak didukung dengan kondisi ekonomi pemerintah dan daerah yang memadai. Maka dari itu, sudah menjadi tugas semua pihak terutama pemerintah dalam menjaga kestabilan ekonomi negara. Selain itu, kita juga harus menghindari beberapa hal yang dapat meningkatkan tunawisma.

Buku-Buku Terkait

1. Kemiskinan di Indonesia: Antara Kajian Empiris dan Teologis

Kemiskinan menjadi fenomena yang menyertai perjalanan peradaban manusia. Oleh karena itu, para sarjana, pemegang kebijakan pemerintahan, hingga agamawan telah lama mencoba menjelaskan fenomena kemiskinan tersebut melalui sudut pandang dan perspektif yang beragam. Beberapa perspektif yang sering terdengar sebagai respons terhadap diskursus kemiskinan adalah agama dan ilmu-ilmu sosial.

Di sinilah buku ini menemukan relevansinya dengan membahas kemiskinan melalui kajian teologis dan empiris. Melalui kajian teologis, terdapat sepuluh istilah yang digunakan Al-Qur’an yang berkenaan dengan kemiskinan. Dari sepuluh kosakata itu, ada yang secara eksplisit menunjuk kepada arti kemiskinan, dan ada yang secara implisit menunjuk kepada karakteristik atau ciri-ciri yang melekat pada penyandang kemiskinan.

Banyaknya pemakluman yang bernuansa teologis tentang respons terhadap fenomena kemiskinan ini patut dicurigai dalam menumbuhsuburkan “kemiskinan” sebagai suatu takdir. Akhirnya, kemiskinan dianggap suatu pemberian yang tidak dapat diubah. Selain pandangan teologis, buku ini berupaya menampilkan satu corak pemikiran teologi yang dapat meningkatkan produktivitas, keaktifan serta mampu menatap masa depan dengan optimis, sehingga kecenderungan pembahasan buku ini mengarah pada pengalaman empiris yang rasional, atau falsafah hidup yang luhur, dan berusaha memberikan alternatif lain dari pandangan teologis yang cenderung statis dan fatalis.

2. Peta Kemiskinan

Sambutan Menteri Sosial Republik Indonesia Kemiskinan merupakan salah satu masalah laten yang dihadapi oleh Indonesia dan negara berkembang lainnya. Tiap kali kepemimpinan negara ini berganti, program pengentasan kemiskinan selalu menjadi sorotan dan prioritas untuk diselesaikan. Di Indonesia, angka penduduk yang masih hidup dengan penghasilan dibawah USD 2 setiap harinya (ukuran Bank Dunia) masih sangat tinggi.

Data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2009 terdapat 32,5 juta orang miskin atau 14,15 persen dari total penduduk Indonesia. Sensus terbaru menyatakan, angka kemiskinan tahun 2010 menurun menjadi 31,02 juta orang atau sekira 13,33 persen dari total penduduk Indonesia yang bertambah sekira 228 juta orang.

Kalau melihat angka yang masih cukup besar ini, bukan berarti pemerintah tidak melakukan apa-apa. Masalah kemiskinan dan kesenjangan pembangunan akan tetap menjadi agenda utama pemerintah. Dari tahun ke tahun, pemerintah selalu mencanangkan upaya penanggulangan kemiskinan antara lain, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dan Program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Tahun ini, dana yang dialokasikan untuk PNPM mencapai Rp 13 triliun yang akan disalurkan ke 6000 kecamatan lebih.

3. Agar Terhindar dari Kemiskinan

Kemiskinan sangat tidak diharapkan kehadirannya oleh siapa pun. Keberadaannya dianggap sebagai suatu penyakit, musibah, bahkan aib. Tidak heran jika banyak orang berlomba-lomba agar bisa hidup bergelimang harta, terbebas dari kemiskinan. Di antara mereka, ada yang menghalalkan segala cara untuk bisa kaya, tapi ada juga yang menempuh jalan lurus untuk mendapatkannya. Nah, sebagai orang yang beriman, Anda tidak perlu khawatir akan hidup miskin. Islam mengajarkan beberapa ibadah yang apabila dilakukan dengan istiqamah akan menghindarkan Anda dari kemiskinan. Apa saja ibadah-ibadah harian yang bisa membuat Anda terhindar dari kemiskinan? Jawabannya ada di dalam buku ini. Ibadah-ibadah tersebut dikupas secara tuntas dan jelas, dari awal hingga tata cara mengamalkannya dengan benar, sehingga benar-benar berdampak menjauhkan Anda dari jeratan kemiskinan. Ambit dan baca bukunya, kemudian amalkan ibadah-ibadahnya, niscaya Anda akan hidup berkecukupan.

4. Cahaya di Jantung Kemiskinan

Herman Yoseph Susmanto telah melanglang buana, mengunjungi kota-kota besar dunia seperti Jakarta, Manila, hingga London. Saat kembali ke kampung halamannya yang telah ia tinggalkan selama lebih dari 50 tahun, Susmanto justru menemukan kemunduran dan kemiskinan. Susmanto pun tertantang menemukan cahaya pengharapan bagi kampung halaman yang dicintainya. Buku ini tak semata mengupas kemiskinan, melainkan juga mengulik relasi horizontal dengan sesama dan relasi vertikal dengan the oneness. Buku ini menyelami seluruh dimensi fisik dan rohani untuk menyatu, mengalami, dan mengatasi kemiskinan.

Kamu bisa menemukan berbagai macam buku tentang sosial di gramedia.com. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Sofyan

Sumber: dari berbagai sumber

BACA JUGA:

  1. Pengertian Kemiskinan: Jenis, Penyebab, dan Dampaknya 
  2. Faktor Penyebab Kemiskinan dan Dampaknya 
  3. Dampak Kemiskinan: Pengertian, Faktor Internal Eksternal, dan Cara Mengatasi 
  4. Pengertian Kesenjangan Sosial: Faktor, Dampak, dan Solusinya 
  5. 13 Contoh Masalah Sosial di Indonesia 
  6. Teori Konsentris untuk Tata Ruang Kota 


ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien