Teori

Teori Konstruktivisme dan Tujuannya di Dalam Proses Belajar

teori konstruktivisme
Written by Laeli Nur Azizah

Di dalam teori konstruktivisme, pembelajaran bukanlah sebuah proses mentransfer ilmu, tapi perlu dibangun atau constructed sendiri oleh peserta didiknya. Dengan begitu, pusat pembelajaran harus bisa dilakukan secara mandiri oleh para peserta didik. Guru ataupun pendidik yang ada di dalam teori konstruktivisme hanya berperan sebagai fasilitator saja. Hal inilah yang menyebabkan teori belajar ini melahirkan banyak sekali pendekatan, model, dan juga metode pembelajaran yang berbasis student-centered atau berpusat pada peserta didik.

Teori konstruktivisme sendiri adalah salah satu aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah hasil dari konstruksi atau bentukan. Dalam sudut pandang konstruktivisme, pengetahuan adalah akibat dari suatu konstruksi kognitif dari sebuah kenyataan yang terjadi melalui aktivitas atau kegiatan seseorang. Dimana konstruktivisme ini ingin memberikan kebebasan kepada para peserta didik untuk belajar menemukan sendiri tentang kompetensi dan juga pengetahuannya untuk mengembangkan kemampuan yang telah ada di dalam dirinya. Di dalam proses belajar mengajar, guru atau pendidik tak hanya memindahkan pengetahuan kepada para peserta didik dalam bentuk yang sempurna.

Dengan kata lain, para peserta didik harus membangun sebuah pengetahuan tersebut berdasarkan dengan pengalaman mereka masing-masing. Kemudian, bagaimana aplikasinya di dalam dunia pendidikan? Seperti apakah prinsip yang dibawa dan bagaimana kita bisa membedakan teori konstruktivisme dengan teori belajar lainnya? Di bawah ini kita akan menjelaskan secara lengkap mengenai jawaban dari pertanyaan tersebut.

Pengertian Teori Konstruktivisme

Pengertian teori konstruktivisme jika dilihat secara umum memandang ilmu pengetahuan tidak hanya sebatas mengungkap mengenai fakta, kaidah, dan juga konsep yang harus diingat secara baku. Dimana konstruktivisme ini justru lebih menekankan bahwa manusialah yang harus mengkonstruksikan pengetahuan itu sendiri. Sehingga, manusialah yang nantinya akan memberikan nilai sentimentil dan juga menggali ilmu pengetahuan, baik itu melalui kajian, penelitian, atau melalui pengalaman. Terdapat banyak sekali cara yang bisa dicoba untuk melakukan konstruksi dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Intinya, konstruktivisme merupakan teori belajar yang mengusung pembangunan kompetensi, keterampilan, atau pengetahuan secara mandiri oleh peserta didik yang difasilitasi oleh pendidik melalui berbagai macam rancangan pembelajaran serta tindakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan oleh peserta didik.

Pengertian Teori Konstruktivisme Menurut Para Ahli

Berikut ini adalah beberapa pengertian teori konstruktivisme menurut para ahli, antara lain:

a. Abimanyu

Menurut Abimanyu, teori konstruktivisme adalah pendekatan belajar yang menilai bahwa jika seseorang bisa membangun pengetahuan sendiri berdasarkan pengalaman orang.

b. Muslich

Menurut Muslich, teori konstruktivisme merupakan proses membangun pemahaman, kreativitas secara aktif yang didasarkan pada pengalaman belajar orang lain atau berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki oleh orang tersebut.

c. Thobroni

Menurutnya, teori konstruktivisme adalah teori yang memberikan kebebasan kepada semua orang untuk menemukan apa yang mereka inginkan dan memberikan kesempatan terkait apa yang mereka butuhkan. Sebab, melalui ruang dan kesempatan itulah, kebebasan untuk manusia belajar dan menemukan kompetensi bisa diperoleh sesuai dengan potensi yang ada di dalam diri masing-masing.

d. Sagala

Tak jauh berbeda dengan pendapat para ahli lainnya. Menurut Sagala, teori konstruktivisme merupakan landasan seseorang berpikir mengenai banyak hal, sesuai dengan pendekatan kontekstual. Sehingga pengetahuan yang didapatkan sedikit demi sedikit hasilkan akan diperluas melalui konteks yang terbatas.

Berdasarkan keterangan di atas, bisa kita ambil kesimpulan bahwa konstruktivisme adalah teori belajar yang bisa memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk lebih aktif belajar menemukan sendiri kompetensi dan juga pengetahuannya untuk mengembangkan kemampuan yang telah ada di dalam dirinya untuk kemudian diubah atau dimodifikasi oleh pendidik yang memfasilitasi, dengan cara merancang berbagai macam tugas, pertanyaan, ataupun tindakan lain yang memancing rasa penasaran peserta didik untuk menyelesaikannya.

Pembelajaran Konstruktivistik- Scientific - teori konstruktivisme

Proses Mengkonstruksi

Menurut Piaget (Dahar, 2011: 159) secara umum, penekanan teori konstruktivisme ada pada proses untuk menemukan sebuah teori ataupun pengetahuan yang ditemukan dan dibangun dengan realita yang ada di lapangan. Intinya, proses mengkonstruksi merupakan yang utama. Sementara itu, proses mengkonstruksi sendiri, sebagaimana dijelaskan oleh Jean Piaget, yakni sebagai berikut:

1. Skemata: ini adalah sekumpulan konsep yang dipakai untuk berinteraksi dengan lingkungan.
2. Asimilasi: merupakan sebuah proses dimana seseorang menginterpretasikan dan juga mengintegrasikan persepsi.
3. Akomodasi: ini adalah proses seseorang tidak bisa mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang mereka miliki.
4. Keseimbangan: dimana terjadinya proses Ekuilibrasi atau keseimbangan antara asimilasi dan juga akomodasi serta disekuilibrasi atau tidak seimbangnya antara asimilasi dan akomodasi.

Tujuan Adanya Teori Konstruktivisme

Perubahan adalah salah satu hal yang harus ada di dalam proses belajar, terlebih dalam hal konsep. Dimana perubahan tersebut berupa asimilasi untuk tahap pertama dan juga tahap kedua yang disebut dengan akomodasi. Dengan asimilasi, peserta didik akan menggunakan konsep=konsep yang sudah mereka punya untuk berhadapan dengan fenomena baru. Sedangkan dengan akomodasi peserta didik merubah konsepnya yang sudah tidak cocok dengan fenomena baru yang muncul. Sehingga, perubahan tetap menjadi tujuan utama bahkan dalam ranah teori konstruktivisme sekalipun.

Sementara itu, jika ditinjau dari tujuan teori konstruktivisme, terdapat beberapa tujuan lain yang perlu dipahami, antara lain:

1. Merangsang Berpikir Inovatif

Tujuan dari teori konstruktivisme secara tidak langsung yakni sebagai bentuk upaya untuk merangsang kita untuk berpikir inovatif dan kreatif. Berpikir inovatif ini memang tidak mudah, kita butuh waktu dan juga proses yang cukup panjang. Dimana kita membutuhkan waktu yang lama untuk mengumpulkan kepingan ilmu pengetahuan dari waktu ke waktu. Inovasi sendiri akan lahir karena didukung oleh adanya ilmu pengetahuan yang sudah dimilikinya. Pastinya, ilmu yang dimiliki oleh setiap orang akan berbeda-beda. Ada orang yang mempunyai ilmu akademis dan ada juga yang mempunyai ilmu non akademis. Orang-orang yang bisa menyatukan antara ilmu akademis dan non akademis yang bisa mendorong dalam melahirkan pemikiran yang inovatif dan menarik.

2. Bisa Meningkatkan Pengetahuan

Saat berbicara mengenai ilmu pengetahuan, tidak selalu kita harus mendapatkannya di bangku formal. Namun, kita juga bisa mendapatkannya di bangku non formal. Bahkan ketika kita bermain, piknik, ataupun sedang berkebun di halaman rumah sekalipun, kita juga dapat menemukan ilmu pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan sendiri bisa kita dapatkan berdasarkan kepekaan kita terhadap lingkungan sekitar. Misalnya saja, ketika si A bisa menemukan ilmu baru ketika keluar dari rumah, sedangkan si B tidak memperoleh ilmu baru ketika keluar rumah. Jadi, bisa tidaknya ilmu pengetahuan didapatkan bergantung dari kemampuan, keinginan, dan juga sensitivitas kita terhadap lingkungan.

3. Menemukan Berbagai Hal Baru

Teori konstruktivisme ini bertujuan untuk membantu kita dalam menemukan berbagai hal baru. Dalam bentuk apapun itu, misalnya saja banyak orang yang mencari sebuah kebahagiaan dengan berbagai macam cara. Mulai dari ada yang mentraktir temannya, jalan-jalan bersama teman, dan masih banyak lagi. Ada pula yang mengartikan kebahagiaan dengan mempunyai barang-barang mewah. Tidak peduli walaupun kita sedang tidak punya uang, hutang kesana-kemari atau banting tulang demi memperoleh barang mewah tersebut.

Sementara itu, ada juga yang mendefinisikan kebahagiaan dengan cara mengikuti pergaulan teman-temannya. Walaupun gayanya tergolong mahal, hal itu tidak menjadi masalah selagi masih bisa bergaul dengan mereka.

Dari penjelasan di atas membuktikan bahwa teori konstruktivisme tidak selalu menyuruh kita untuk mengikuti cara orang lain supaya bisa menemukan hal-hal baru. Namun hal baru tersebut dapat dilakukan dengan cara kita masing-masing tanpa perlu terpengaruh pada definisi orang yang ada di luar sana.

4. Membentuk Keahlian Sesuai dengan Kemampuan

Sadar atau tidak, teori konstruktivisme akan mengarahkan kita untuk bisa menemukan keahlian sesuai dengan kemampuan yang kita punya. Seseorang yang pada awalnya tidak mempunyai ketertarikan di dunia menulis, setelah belajar mengenai kelebihan tulis menulis, maka hal itu bisa jadi akan mendorong orang tersebut menjadi penulis. Atau mungkin saja orang tersebut sebelumnya sudah mempunyai bakat terpendam. Tapi karena ketidaktahuan bahwa ada bakat terpendam, maka diperlukan upgrade dan membutuhkan stimulus untuk mengaktifkan bakat. Jadi, bakat yang mereka miliki akan terasah dan bisa melahirkan kemampuan serta keterampilan yang sesuai dengan potensi yang ada di dalam dirinya.

5. Mendorong Untuk Berpikir Mandiri

Adapun tujuan dari teori konstruktivisme berikutnya yaitu mendorong kita untuk berpikir lebih mandiri dan out of the box. Setidaknya, orang yang paham betul mengenai esensi ilmu pengetahuan, mereka akan menjadi lebih terbuka hatinya dan bisa berpikir lebih dewasa. Untuk yang mempunyai kemampuan berpikir secara matang, maka pemikiran mandiri mereka tidak sekadar dalam bentuk pikiran saja. Namun juga bisa dilihat dari perilaku dan juga sikap dalam kehidupan sehari-hari. Karena kemandirian itulah yang kemudian akan mendorong kualitas orang tersebut.

Pengantar Analisis Politik Luar Negeri : Dari Realisme Sampai Konstruktivisme - teori kontruktivisme

Manfaat Belajar Konstruktivisme

Saat berbicara mengenai manfaat belajar teori konstruktivisme, terdapat banyak sekali yang akan kita peroleh. Bahkan, hampir setiap orang akan merasakan manfaat yang berbeda-beda. Diantaranya yaitu:

1. Dapat Mengungkapkan Gagasan Secara Eksplisit

Manfaat dari belajar teori konstruktivisme yang pertama yaitu membantu kita dalam mengungkapkan gagasan secara eksplisit. Tidak bisa dipungkiri bahwa selama kita belajar, tentu akan ada kesulitan. Kesulitan itulah yang nantinya akan kita coba pecahkan.

2. Memberikan Pengalaman Baru

Manfaat yang tergolong cukup bagus yakni kita akan mendapatkan hal-hal baru, pengalaman baru, dan juga suasana baru terkait gagasan yang kita temui. Karena seperti yang kita tahu bahwa setiap orang pasti mempunyai gagasan. Sifat dari gagasan itu sendiri dinamis, yakni bisa berubah-ubah seiring dengan berjalannya waktu dan seiring dengan pengalaman serta pengaruh kemampuan berpikir kita kepada semua hal.

3. Mengajak Seseorang Untuk Berpikir Tentang Pengalamannya

Teori konstruktivisme ini secara tidak langsung akan mengarahkan kita pada sesuatu yang baru. Hal baru dan juga menarik itulah yang nantinya akan mengantarkan kita untuk menemukan pengalaman baru dan menemukan perasaan yang baru. Setidaknya, teori konstruktivisme tersebut akan mengajak kita untuk berpikir mengenai pengalaman yang telah dialami menjadi sesuatu hal yang lebih bermakna dan sentimentil.

4. Memberi Kesempatan Untuk Mengidentifikasi Perubahan Gagasan

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, sifat dari gagasan tiap orang bersifat dinamis. Teori konstruktivisme ini akan memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi perubahan gagasan yang lama ke gagasan yang baru berdasarkan alasan logis. Sedangkan logis atau tidaknya gagasan tersebut, bergantung pada sensitivitas dan juga kepekaan otak serta perasaan kita terhadap sesuatu yang ada di sekitar kita.

Cara Belajar Konstruktivisme

Berikut ini adalah beberapa tahapan atau cara untuk belajar teori konstruktivisme, antara lain:

a. Orientasi

Fase orientasi ini merupakan fase yang paling pertama yang akan memberikan ruang ataupun kesempatan untuk individu dalam mengembangkan motivasi sesuai dengan topik yang diusung. Apabila itu mengenai pembelajaran, maka konteksnya dapat diarahkan dalam pembelajaran.

b. Elisitasi

Tahapan yang satu ini lebih menekankan pada cara seseorang dalam menggali ide dan juga mendiskusikan pengetahuan dasar melalui berbagai macam bentuk. Baik itu melalui tulisan, presentasi, atau bentuk yang lain.

c. Rekonstruksi Ide

Di tahap ini, individu cukup melakukan klarifikasi ide yang didapatkan dari berbagai macam perspektif. Apabila diperlukan, dapat dilakukan dengan cara berdiskusi atau dengan melakukan kajian literatur untuk merangsang gagasan yang tepat dan sesuai.

d. Aplikasi Ide

Dari ide dan juga data yang sudah didapatkan, dapat langsung diaplikasikan. Sehingga ide yang abstrak akan menjadi lebih terlihat dan bisa dirasakan oleh orang lain.

e. Review

Apabila ada bentuk yang bisa ditampilkan, maka masuk ke tahap review atau tahap evaluasi dan juga revisi. Tahapan ini sebenarnya tahap yang cukup penting, karena kita dapat mengetahui apa yang salah dan apa yang sudah benar. Di tahap review ini juga bisa merangsang kita untuk menciptakan gagasan dan ide baru lagi yang bisa dikembangkan.

Kompetensi Guru Ips Sebuah Kajian Pendekatan Konstruktivism - teori konstruktivisme

Itulah beberapa penjelasan mengenai teori konstruktivisme dan beberapa manfaat serta tujuannya. Semoga bermanfaat.



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien