Fisika Sains dan Teknologi

Multiverse Adalah: Pengertian, Level, Teori, dan Pembentukan Alam Semesta

Written by Rifda Arum

Multiverse Adalah – Grameds sudah menonton film Doctor Strange in The Multiverse of Madness belum? Film keluaran Marvel tersebut masih masuk dalam bagian Marvel Cinematic Universe lho…  Atau pernahkah Grameds menonton serial drama Korea berjudul The King: Eternal Monarch atau W? Yap, film dan serial drama Korea tersebut sama-sama mengambil konsep alur cerita tentang Multiverse.

Ketika tengah menonton film Doctor Strange in The Multiverse of Madness apakah Grameds penasaran mengenai apa itu Multiverse? Apakah Multiverse itu benar adanya di dunia nyata ini atau hanya Sci-Fi (Science Fiction) saja?

Apabila membahas mengenai Multiverse ini, sebenarnya ada berbagai macam teori lho yang mendukung kebenaran dari hal tersebut. Singkatnya, Multiverse ini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bahwa di luar alam semesta tempat kita tinggal ini, masih terdapat alam semesta lain. Sehingga ada kemungkinan bahwa diri kita ini mempunyai kembaran yang hidup di alam semesta lain tersebut. 

Lalu, apa sih sejatinya dari Multiverse itu? Apa saja teori yang mendukung keberadaan dari Multiverse tersebut? Bagaimana konsep alam semesta menurut para ahli?  Nah, supaya Grameds tidak bingung akan hal tersebut, yuk simak uraian berikut ini!

https://www.pexels.com/

Apa Itu Multiverse?

Pada dasarnya, alam semesta itu sangatlah luas dan bahkan tidak diketahui apakah ada ujung atau batasnya tidak, sebab memang keberadaannya benar-benar seluas itu! Dilansir dari Zenius.net, konsep Multiverse ini diperkenalkan ke publik oleh seorang ahli fisika asal Amerika bernama Hugh Everett III.

Pada tahun 1954, Hugh tengah bercengkrama bersama teman-temannya di aula Princeton University sekaligus memikirkan tema untuk tugas akhirnya yang berupa tesis. Ketika tengah mengobrol itu, Hugh tiba-tiba berpikir bagaimana jika efek kuantum yang ada ternyata dapat menyebabkan alam semesta ini menjadi terbelah. Kemudian, muncullah alam semesta lain. Nah, ide yang tiba-tiba terbesit tersebut kemudian dikembangkannya menjadi tesis dan bahkan teorinya masih bertahan hingga sekarang.

Berdasarkan tesis milik Hugh Everett yang berjudul Theory of The Universal Wave Function ini, terdapat teori yang mengatakan bahwa kita semua yang di bumi dari alam semesta ini ternyata memiliki salinannya yang tinggal di alam semesta lain. Singkatnya adalah, terdapat diri kita dalam versi lain di alam semesta lain tersebut dan mungkin saja diri kita ini bukan satu-satunya yang ada. 

Beli Buku di Gramedia

Tingkatan Dalam Multiverse

Berhubung keberadaan alam semesta itu sangat luas yang bahkan tidak dapat diukur batas dan ujungnya, maka teori tersebut masih belum terpecahkan atau disanggah. Hal itu juga didukung oleh seorang ahli fisika bernama Max Tegmark dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengungkapkan adanya Multiverse ini. Pada tahun 2014, Beliau mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul Our Mathematical Universe bahwa seluruh alam semesta kita ini mungkin hanya terdiri atas elemen, atom, atau kepulauan kosmik yang tidak ada ujungnya.

Dilansir pada ikons.id, Max Tegmark juga menulis sebuah artikel ilmiah yang berjudul “Parallel Universe” dengan hasil adanya 4 tingkatan dalam Multiverse tersebut.

https://www.pexels.com/

Level 1: Beyond Our Cosmic Horizon

Dalam level ini, menggambarkan bahwa alam semesta tempat tinggal kita ini memiliki wujud berupa gelembung udara yang saling berdesak-desakan dalam ruang-waktu yang disebut dengan jagad raya. Tegmark menggunakan analogi seperti kita tengah melihat kapal di tengah laut. Ketika kapal di luar horizon atau pandangan mata, maka kita tidak bisa melihatnya. Namun, ketika kapal itu masuk ke dalam horizon dan mendekati kita, maka tentu saja kita dapat melihat kapal tersebut sedikit demi sedikit.

Level II: Other Postiflation Bubbles

Dalam level ini, didasarkan pada Teori Chaotic Eternal Inflation, yang menyatakan bahwa alam semesta ini terus berkembang yang semakin ‘membesar’ sejak ternyata Big Bang, dan itu terjadi hingga sekarang ini. Dalam Level II: Other Postiflation Bubbles ini menyatakan bahwa alam semesta yang ada pada level I nantinya dapat dikelompokkan menjadi satu Multiverse, maka itu berarti jagad raya ini akan terdapat banyak Multiverse.

Nah, berdasarkan teori tersebut, kita selamanya tidak akan bisa melihat Multiverse lainnya, sebab perkembangan alam semesta tersebut berjalan secara cepat.

Level III: Quantum Many World

Dalam teori berdasarkan pada Teori Mekanika Kuantum, yang menyatakan bahwa proses kuantum yang terjadi secara acak dapat menyebabkan alam semesta menjadi bercabang dan jumlahnya tidak terbatas.

Terdapat perbedaan pada level I dan III ini, yakni letak alam semestanya. Pada level I, menyatakan bahwa alam semesta kita dengan alam semesta ‘lain’ tersebut berada di luar horizon. Sementara itu pada level III, menyatakan bahwa alam semesta kita dengan alam semesta ‘lain’ itu berada pada cabang kuantum yang berbeda.

Level III ini, yang mana didasarkan pada Teori Mekanika Kuantum tersebut menjadi konsep paling kontroversial.

Level IV: Other Mathematical Structures

Dalam level IV ini, telah dibuktikan oleh dua orang fisikawan bernama Dr. Robert Foot dan Dr. Saibal Mitra asal Australia. Mereka berhasil menemukan penelitian asteroid Eros yang berupa adanya Mirror Matter. Dalam Mirror Matter ini, terdapat bayangan cermin dari sesuatu yang ada di alam semesta, berfungsi sebagai penyetabil alam semesta. Keberadaan Mirror Matter ini memiliki dua sisi, yakni bagian sisi kiri adalah alam semesta, sementara bagian sisi kanan adalah Mirror Matter itu sendiri. Saat ini, kita belum dapat melihat keberadaan Mirror Matter tersebut karena sesuatu tersebut berinteraksi dengan alam semesta kita ini hanya melalui gravitasi saja.

Tingkatan dunia paralel dalam level IV ini justru menyatakan bahwa alam semesta ‘lain’ itu tidak hanya berada di luar horizon alam semesta kita, tetapi juga berbeda atas berbagai aspek, mulai dari waktu, hukum, dan fisika dengan alam semesta kita ini. Maka dari itu, tingkatan pada level IV ini sulit untuk divisualisasikan.

Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa Multiverse atau dunia paralel ini adalah hipotesis yang menyatakan bahwa di luar alam semesta tempat kita tinggal ini, masih terdapat alam semesta lain. Sehingga ada kemungkinan bahwa diri kita ini mempunyai kembaran yang mempunyai kehidupan hampir sama dan tinggal di alam semesta lain tersebut. 

Beli Buku di Gramedia

Teori yang Mendukung Konsep Multiverse

Pembahasan Multiverse ini tidak serta-merta ada begitu saja, sebab ternyata ada beragam teori yang mendukung konsep dunia paralel ini, yang kebanyakan dari bidang fisika dan filsafat. Nah, berikut adalah beberapa teori yang mendukung adanya konsep Multiverse!

1. Infinite Universe

Pada teori ini, para ilmuwan memang tidak dapat memastikan secara pasti mengenai seperti apa bentuk ruang-waktu di alam semesta ini, tetapi mereka memiliki hipotesis bahwa bentuk ruang-waktu di alam semesta ini berbentuk datar dan bentangannya sangat luas tak terbatas. Namun, jika ruang-waktu tersebut dapat berlangsung dalam waktu selamanya, maka itu berarti dapat berulang pada suatu waktu, sebab terdapat partikel yang terbatas dan dapat diatur pada ruang-waktu tersebut.

Singkatnya, kamu dapat menemukan adanya dirimu dalam versi lain di ruang-waktu lainnya. Beberapa dari ‘kembaran’ tersebut mungkin saja tengah melakukan hal yang sama dengan yang kamu lakukan saat ini, sementara ‘kembaran’ yang lain tengah melakukan sesuatu yang berbeda. Bahkan, pada teori ini ada kemungkinan bahwa ‘kembaran’-mu tersebut justru membuat keputusan berbeda (misal jurusan kuliah) dengan dirimu yang ada di alam semesta ini.

2. Daughter Universe

Teori akan adanya konsep Multiverse ini sebenarnya mengikuti Teori Mekanika Kuantum. Daughter Universe atau Many Worlds Theory ini dikemukakan oleh Hugh Everett, yang menyatakan bahwa alam semesta ini telah menciptakan ‘salinan’ untuk setiap kemungkinan hasil dari situasi yang tengah terjadi.

Contohnya, di alam semesta ini, kamu tengah membaca komik Detective Conan, kemudian di alam semesta lain bisa jadi kamu tengah menulis esai tugas Bahasa Indonesia-mu atau bahkan tengah berkebun. Hal itu sesuai dengan adanya “setiap kemungkinan hasil dari situasi yang tengah terjadi.”

3. Bubble Universe

Teori ini dicetuskan oleh seorang kosmolog bernama Alexander Vilenkin dari Tufts University. Beliau menyatakan bahwa kita ini dapat melihat ruang-waktu secara keseluruhan, dengan beberapa area ruangnya menggembung dan bertambah besar. Teori ini hampir sama dengan tingkatan Mutiverse pada level II ya!

Pada teori ini, alam semesta ‘lain’ tersebut justru memiliki hukum fisika yang sangat berbeda dengan apa yang ada di alam semesta ini, karena keduanya tidak berkaitan.

4. Mathematical Universe

Teori ini dicetuskan oleh Max Tegmark dari Massachusetts Institute of Technology pada tahun 2012, yang menyatakan bahwa terdapat struktur matematika yang dapat berubah bergantung pada lokasimu saat ini berada.

5. Parallel Universe

Teori ini menjadi teori akan konsep Multiverse yang paling banyak dibicarakan, Hal tersebut karena dalam teori ini menyatakan bahwa kehidupan manusia baik di alam semesta ini maupun di alam semesta lain dapat terjadi secara bersamaan. Tidak hanya itu saja, para ahli kuantum percaya bahwa setiap detik dari alam semesta ini, akan tercipta alam semesta atau dunia paralel lain. Meskipun begitu, masing-masing alam semesta ini tidak menyadari akan kehadiran alam semesta lainnya dan tidak dapat memastikan mana alam semesta yang “nyata”.

Beli Buku di Gramedia

Pembentukan Alam Semesta Berdasarkan Teori Big Bang

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “alam” berarti “segala sesuatu yang ada di langit dan bumi (termasuk pada bumi itu sendiri, bintang, kekuatan)”; sedangkan “semesta” berarti “seluruh”, “segenap”, “semuanya”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa alam semesta atau jagad raya adalah segala sesuatu yang berada di ruang-waktu tempat kita berada ini, termasuk dengan energi dan materi yang ada di dalamnya.

Dalam alam semesta ini mencakup adanya mikrokosmos dan makrokosmos. Mikrokosmos adalah benda-benda yang memiliki ukuran sangat kecil yang bahkan tidak dapat dilihat dengan mata secara telanjang, misalnya atom, sel, elektron, amoeba, dan lainnya. Kemudian, makrokosmos adalah benda-benda yang memiliki ukuran sangat besar, bahkan planet bumi ini juga termasuk dalam makrokosmos. Contohnya adalah bintang, planet, galaksi, dan lain-lain. Perlu diketahui bahwa berbagai peristiwa yang terjadi di alam semesta ini ada banyak yang belum dapat diungkapkan atau dijelaskan melalui teori ilmiah oleh manusia, termasuk konsep Multiverse.

Sebelumnya, telah beberapa kali dituliskan mengenai Teori Big Bang, yang mana merupakan teori yang hingga saat ini masih dipercaya akan terbentuknya alam semesta. Nah, berikut adalah penjelasan mengenai Teori Big Bang yang menjadi cikal bakal dari berbagai teori mengenai alam semesta ini, termasuk dengan konsep Multiverse!

Teori Big Bang

Teori ini dicetuskan pertama kali oleh Edwin Hubble, yang kemudian mendapatkan dukungan juga dari fisikawan terkemuka, yakni Albert Einstein. Dalam teori Big Bang ini menyatakan bahwa alam semesta ini terbentuk karena adanya ledakan besar dari atom raksasa yang terjadi sekitar 13,7 milyar tahun lalu. Tidak hanya itu saja, teori ini juga mendapatkan dukungan oleh ilmuwan muslim bernama Prof. Baiquni, yang menurut Beliau, teori ini sesuai dengan apa yang tercantum di dalam Al-Quran.

Pada dasarnya, Teori Big Bang ini menyatakan bahwa kala itu alam semesta masih berupa primeval atom yang berisi materi dalam keadaan sangat padat. Kemudian suatu ketika, atom tersebut meledak dan mengakibatkan seluruh materinya terlempar ke ruang alam semesta. Dari hal tersebut, timbullah dua gaya saling bertentang dengan satu sama lain, lalu disebut dengan gaya gravitasi dan gaya kosmis. Atas adanya dua gaya tersebut, gaya kosmis menjadi lebih dominan sehingga alam semesta ini akan terus-menerus mengalami ekspansi.

Beli Buku di Gramedia

Perkembangan Teori Big Bang

Sebelum Edwin Hubble mencetuskan teori ini, sudah ada Vesto Slipher kala itu (1942) berhasil mengukur pergeseran Doppler “nebula spiral” untuk pertama kalinya. “Nebula Spiral” ini adalah istilah lama untuk galaksi spiral. Slipher kala itu menemukan bahwa hampir semua nebula-nebula itu justru menjauhi planet Bumi. Lalu, muncullah kontroversi mengenai apakah nebula-nebula tersebut adalah “Pulau Semesta” yang berada di luar galaksi Bima Sakti ini.

Kemudian, seorang kosmologis dan matematikawan berasal dari Rusia, Alexander Friedmann juga menurunkan persamaan relativitas umum. Dalam persamaan tersebut, menunjukkan bahwa dalam alam semesta ini ada kemungkinan untuk mengembang dan berlawanan dengan model alam semesta yang statis, hampir sama dengan apa yang dicetuskan oleh Albert Einstein. 

Pada tahun 1924, Edwin Hubble berhasil melakukan pengukuran akan jarak nebula spiral terdekat dengan planet Bumi. Hasilnya adalah nebula spiral tersebut adalah galaksi lain. Selanjutnya, pada tahun 1927, George Lematre juga menurunkan persamaan milik Friedmann yang menyatakan bahwa resesi nebula tersebut diakibatkan oleh alam semesta yang mengembang.

Kemudian, barulah pada tahun 1948 hingga 1949, Fred Hoyle mencetuskan istilah Big Bang pada sebuah siaran radio. Meskipun sebelumnya, Hoyle sudah terlebih dahulu mengemukakan adanya Teori Steady State yang justru berseberangan dengan Teori Big Bang ini. Dalam Teori Steady State ini menyatakan bahwa alam semesta itu memiliki ukuran tak terhingga dan akan kekal sepanjang masa.

Pada tahun 1964, terdapat penemuan CMB yang memperkuat adanya teori Big Bang sebagai teori penciptaan alam semesta yang berupa ledakan maha dahsyat dari titik nol dengan kerapatan serta suhu tak terhingga tingginya.

Beli Buku di Gramedia

Teori Big Bang dalam Al-Quran

Percaya atau tidak, ternyata teori akan pembentukan alam semesta ini ternyata telah termuat di dalam kitab suci Al-Quran. Bahkan teori ini juga mendapatkan dukungan oleh ilmuwan muslim bernama Prof. Baiquni, yang meyakini bahwa hal tersebut telah dituliskan oleh Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Anbiya ayat 30.

أَوَلَمْ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَٰهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Artinya:

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (Q.S. Al-Anbiya: 30)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa awal kejadian langit dan bumi (alam semesta) ini hampir identik dengan teori Big Bang, yakni mulanya merupakan adalah sesuatu yang padu, kemudian terjadi pemisahan hingga menjadi langit dan bumi.

Beli Buku di Gramedia

Nah, itulah penjelasan mengenai apa itu multiverse beserta teori yang mendukung adanya dunia paralel tersebut. Apakah Grameds percaya akan konsep dunia paralel ini? Jika iya, kira-kira diri Grameds di semesta lain, sedang melakukan aktivitas apa ya…

Baca Juga!

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien