Agama Islam

Bacaan Adzan Subuh, Arab, Latin beserta Artinya, Lengkap dengan Cara Menentukan Jamnya

bacaan adzan shubuh
Written by Rafi Wijaya

Bacaan Adzan Subuh – Para sahabat Rasulullah di masanya sering kali berkumpul di dalam masjid untuk menunggu datangnya waktu sholat. Namun karena jarak serta kesibukan, penanda akan waktu sholat diusulkan oleh para sahabatnya. Ada yang menyarankan dengan menggunakan sebuah lonceng, suara terompet, atau menyalakan sebuah api.

Untuk hal tersebut, Nabi Muhammad memberitahukan wahyunya mengenai adzan. Atas perintah Nabi, Bilal bin Rabbah menjadi seorang muadzin. Bilal dipilih karena memiliki suara yang lantang serta merdu. Maka sejak itulah, adzan menjadi sebuah penanda sholat bagi umat muslim.

Pengertian Adzan

Secara bahasa, adzan merupakan yang berarti pemberitahuan maupun seruan. Sebagaimana Allah telah berfirman pada surat At Taubah Ayat 3:

 وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ

Artinya: “dan ini adalah seruan dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia”

Terdapat makna adzan secara istilah adalah sebuah seruan atau ajakan yang menandai pada sebuah masuknya jam shalat lima waktu serta dilafazkan dengan lafazh serta bacaan tertentu.

 

Kamu bisa mempelajari tentang Keajaiban Antioksidan Belimbing
karya Redaksi Health Secret

The Power Of Azan: USTADZ TEGUH SUNARYO

The Power Of Azan: USTADZ TEGUH SUNARYO

beli sekarang

Hukum Adzan

Ulama banyak berselisih pendapat tentang hukum Adzan. Sebagian ulama banyak yang mengatakan bahwa hukum pada adzan adalah sunnah muakkad, namun pendapat lain yang lebih kuat pada masalah ini yaitu pendapat yang mengatakan bahwa hukum adzan yaitu fardu kifayah. Namun yang perlu diingat, pada hukum ini hanya berlaku untuk para laki-laki. Wanita tidak diwajibkan maupun disunnahkan untuk menjalankan adzan.

 

Syarat Adzan

Berikut adalah syarat syarat untuk melakukan adzan, syaratnya yaitu:

1. Telah Masuk Waktu Shalat

Syarat sah pada adzan yaitu ketika masuknya waktu shalat, sehingga pada adzan yang dilakukan untuk sebelum waktu solat masuk maka tidak sah. Namun, ada terdapat pengecualian untuk adzan subuh. Adzan subuh hanya diperbolehkan untuk dilaksanakan dua kali, yaitu pada sebelum waktu subuh itu tiba serta ketika waktu subuh tiba yang mana ketika terbitnya fajar shadiq

2. Berniat adzan

Hendaknya untuk seseorang yang akan adzan perlu berniat dahulu di dalam hatinya (tidak dengan lafazh tertentu), bahwa ia akan menjalankan adzan dengan perasaan ikhlas untuk Allah semata.

3. Dikumandangkan dengan menggunakan bahasa arab

Menurut beberapa ulama, tidak sah pada sebuah adzan bila menggunakan bahasa selain dengan menggunakan bahasa arab. Diantara ulama ada yang berpendapat demikian yaitu ulama dari Hambali, Madzhab Hanafiah, dan Syafi’i.

4. Tidak ada sebutan dalam pengucapan lafadz adzan yang merubah makna

Maksudnya yaitu hendaknya pada adzan terbebas dari kesalahan-kesalahan pengucapan yang pada hal tersebut bisa merubah makna serta arti pada adzan. Lafadz-lafadz adzan diharuska diucapkan dengan jelas serta benar.

5. Lafadz-lafadznya diucapkan sesuai urutan

Hendaknya untuk lafadz-lafadz adzan diucapkan dengan sesuai runtunan sebagaimana yang  dijelaskan dalam hadits-hadits shahih. Adapun pula bagaimana urutannya yang akan dibahas di bawah.

6. Lafadz-lafadznya diucapkan bersambung

Maksudnya yaitu hendaknya dengan lafazh adzan yang ada satu dengan yang lain dapat diucapkan secara bersambung dan tidak dipisah oleh sebuah perkataan maupun sebuah perbuatan diluar urutan pelaksanaan adzan. Namun tetap diperbolehkan berkata maupun berbuat sesuatu yang sifatnya ringan seperti bersin.

7. Adzan diperdengarkan kepada orang yang tidak berada di tempat muadzin

Adzan yang dikumandangkan oleh muadzin diharuskan terdengar oleh orang yang tidak berada di tempat muadzin saat melakukan adzan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara mengeraskan suaranya atau dengan alat pengeras suara.

Cara Menentukan Waktu Adzan Subuh

Lantas bagaimanakah cara yang pas untuk menentukan waktu adzan subuh?

Berdasarkan penjelasan dari pihak Kementrian Agama Republik Indonesia, penentuan waktu adzan subuh dilakukan berdasarkan paradigma fajar sidik terjadi. Lebih jelasnya, fajar sidik terjadi manakala matahari berada pada ketinggian -20° atau sekitar pukul 3.52 dini hari. Sementara itu pihak Majelis Tarjih menilai pada titik -18° atau pukul 4.00.

Pihak Kementrian Agama mengklaim bahwa waktu penentuan adzan subuh yang mereka terangkan sudah jelas adanya. Dalam menentukan waktu adzan subuh pihak Kementrian Agama Republik Indonesia didukung oleh para pakar dari BMKG, LAPAN, PBNU, PERSIS, BIG, universitas Islam seluruh  Indonesia, PUI, dan Al-Irsyad.

Meski begitu, penentuan waktu adzan subuh ini bisa saja kurang ataupun lebih, hal ini dikarenakan pergerakan bumi dan juga matahari.

Sementara penentuan waktu adzan subuh masih menyisakan sedikit ruang perdebatan, penentuan batas akhir waktu subuh relatif lebih sederhana, yakni pada saat terbitnya matahari. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis berikut.

وَقْتُ صَلاةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعْ الشَّمْسُ

Artinya: Dari Abdullah bin Umar radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Dan waktu shalat shubuh dari terbitnya fajar (shadiq) sampai sebelum terbitnya matahari.” (HR. Muslim)

Sifat seorang Muadzin

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menjadi seorang Muadzin, yaitu seperti berikut:

1. Muslim

Disyaratkan bahwa untuk menjadi seorang muadzin diwajibkan seorang muslim. Tidak sah adzan apa bila dari seorang yang kafir.

2. Ikhlas hanya mengharap wajah Allah

Sepatutnya untuk seorang muadzin dengan melakukan adzan dengan niat ikhlas dengan mengharap atas wajah Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tetapkanlah seorang muadzin untuk tidak mengambil upah dari adzannya tersebut.”

3. Adil dan amanah

Maksudnya adalah dengan hendaklah seorang muadzin adil serta amanah dalam waktu-waktu shalat.

4. Memiliki suara yang bagus

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada sahabatnya, Abdullah bin Zaid: “pergilah serta ajarkanlah apa yang kamu lihat (dalam mimpi) kepada Bilal, karena ia memiliki suara lebih bagus daripada suaramu”

5. Mengetahui kapan waktu solat masuk

Hendaknya untuk seorang muadzin mengetahui akan kapan waktu solat masuk sehingga ia dapat mengumandangkan adzan tepat pada awal waktu serta terhindar dari sebuah kesalahan.

 

Kamu bisa mempelajari tentang Kupas Tuntas Adzan dan Iqamat
karya Yusni A Ghazali, Yusni A. Ghazali

Kupas Tuntas Adzan dan Iqamat: Yusni A Ghazali, Yusni A. Ghazali

Kupas Tuntas Adzan dan Iqamat: Yusni A Ghazali, Yusni A. Ghazali

beli sekarang

Lafadz Bacaan Adzan Subuh

Azan menjadi sebuah panggilan bagi umat Islam untuk memberitahu kapan masuknya shalat fardhu yang dikumandangkan seorang muadzin setiap shalat lima waktu. Apabila terdengar akan suara adzan, disunahkan untuk menjawab adzan itu. Sesuai dengan yang telah diucapkan oleh muadzin, kecuali muadzin mengucapkan: “Hayya alash-sholah”, “Hayya alal-falah”, serta “Assalatu khairum minan-naum” (dalam azan Subuh).

Ketika muadzin mengucapkan “Hayya alash-shalah” atau “Hayya alal-falah”, disunnahkan untuk kita menjawabnya dengan lafal “La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim” yang pada artinya “Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”.

Apabila seorang muadzin mengucapkan “Assalatu khairum minan-naum” dalam bacaan adzan Subuh, disunahkan dengan menjawab dengan lafal “Shadaqta wa bararta wa ana ‘ala dzalika minasy syahidin” yang pada artinya adalah “Benarlah engkau serta baguslah ucapanmu dan saya termasuk orang-orang yang telah menyaksikan kebenaran itu”.

Dan dibawah ini merupakan lafadz bacaan adzan subuh lengkap dalam tulisan arab,latin serta arti bahasa indonesianya.

Lafadz bacaan adzan subuh

 

َللهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahuakbar

Artinya: Allah Maha Besar , Allah Maha Besar

 

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّاللهُ ، أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّاللهُ

Ashhadu La Ilaha Illallah, Ashhadu La Ilaha Illallah

Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah

 

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Ashaduannamuhammadarosuulullah, Ashaduannamuhammadarosuulullah

Artinya: Aku bersaksi Muhammad adalah Utusan Allah, Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah

 

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

Hayya ngalassolah, Hayya ngalassolah

Artinya: Marilah sholat, Marilah sholat

 

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

Hayya alfalah, Hayya alfalah

Artinya: Marilah menuju kemenangan, Marilah menuju kemenangan

 

ااَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ ، اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Assolatuhoiruminannaum, Assolatuhoiruminannaum

Artinya: Sholat itu lebih baik dari pada tidur, Sholat itu lebih baik dari pada tidur

 

اَللهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر لاَ إِلَهَ إِلاَّالله

Allahu Akbar, Allahu Akbar la ilaha illallah

Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan selain Allah

 

Untuk cara menjawab adzan adalah dengan menjawab lafadz yang sama seperti apa yang telah disebutkan dalam kalimat bacaan adzan kecuali untuk bacaan adzan yang berbunyi “Hayya ‘alash shalaah” serta “Hayya ‘alal falah”, maka cara menjawabnya adalah dengan bacaan:

 

لاحول ولاقوّة الاّ بالله

 

“Laa haula walaa quwwata illa billahi.”

Artinya: Tidak ada daya upaya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah”

 

Namun, ketika kita telah mendengar suara pada adzan subuh, maka dengan cara menjawab adzan subuh pada saat muadzin mengucapkan bacaan kalimat:

 

الصّلاة خير من النّو

“As shalaatu khairum minan naum.” 2x

 

Maka, kita telah yang mendengarnya, menjawab dengan bacaan seperti berikut:

 

صدقت وبررت وانا على ذلك من الشّاهدين

 

“Shadaqta wabararta wa anaa ‘alaa dzaalika minasy syaahidiina.”

Artinya: benar juga baguslah ucapanmu itu serta akupun atas yang demikian termasuk orang-orang yang menyaksikan.

 

Ketika dikumandangkan suara iqamah oleh seorang muadzin, maka sunnah untuk kita menjawab iqamah dengan kalimat-kalimat yang telah terdengar dijawab sama persis seperti yang telah diucapkan oleh seorang muadzin, kecuali pada kalimat:

 

“Qad Qamatis Salah”, maka dijawab dengan bacaan atau lafadz sebagai berikut :

 

أقامها الله وأدامها وجعلني من صالحي أهلها

 

“Aqaamahallahu wa adamaha ja’alna min shaalihi ahliha.”

Artinya: “Semoga Allah akan mendirikan shalat itu dengan kekalnya, serta semoga Allah menjadikan aku ini golongan orang yang sebaik-baiknya untuk ahli shalat.”

 

Kemudian, sesudah terdengar lantunan suara iqamah, kita menjawabnya dengan membaca doa setelah iqamah yaitu sebagai berikut:

الّلهمّ ربّ هذه الدّعوة التّامّة والصّلاة القائمة صلّ وسلّم على سيّدنا محمّد وآته سؤله يوم القيامة

Allaahumma rabba hadzihid da’watit taammati wash-shalaatil qaa-imati, shalli wasallim ‘alaa sayyidinaa muhammadin, wa aatihi su’lahu yaumal qiyaamati.

Artinya: “Ya allah yang memiliki panggilan yang maha sempurna, dan memiliki shalat yang ditegakkan, curahkan seluruh rahmat salam atas junjungan kita Nabi Muhammad, serta kabulkanlah seluruh permohonannya di hari akhir.”

BACA JUGA:

 

Kamu bisa mempelajari tentang Misteri Shalat Shubuh
karya Badrul Munir

Misteri Shalat Shubuh: Badrul Munir

Misteri Shalat Shubuh: Badrul Munir

beli sekarang



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien