warisan budaya benda – Grameds, ketika membicarakan sejarah dan identitas bangsa, kita tidak bisa lepas dari keberadaan warisan budaya benda.
Benda-benda ini bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga jejak nyata perjalanan peradaban manusia yang membentuk kekayaan budaya yang ada di Indonesia hingga hari ini.
Artikel ini akan membahas secara mendalam apa itu warisan budaya benda hingga contoh-contohnya. Yuk, Grameds, simak untuk penjelasan lengkapnya!
Daftar Isi
Apa Itu Warisan Budaya Benda?
Grameds, Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan sejarah. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki peninggalan berharga yang menjadi saksi perjalanan bangsa. Salah satu kekayaan tersebut dikenal sebagai warisan budaya benda.
Secara sederhana, warisan budaya benda adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang berwujud fisik dan memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, serta kebudayaan. Warisan ini diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi identitas suatu bangsa.
Berbeda dengan warisan budaya tak benda seperti tarian atau tradisi lisan, warisan budaya benda dapat dilihat, disentuh, dan diukur secara nyata, misalnya bangunan, artefak, senjata tradisional, hingga naskah kuno.
Pengertian Warisan Budaya Benda Menurut Para Ahli
Untuk memahami warisan budaya benda lebih mendalam, Grameds perlu mengetahui definisi dari beberapa experts.
| Sumber | Pengertian Warisan Budaya Benda |
| UU No. 11 Tahun 2010 | Benda cagar budaya yang bersifat kebendaan, baik bergerak maupun tidak bergerak, yang memiliki nilai penting bagi sejarah dan kebudayaan |
| UNESCO | Peninggalan fisik dari masa lalu yang mewakili nilai budaya dan sejarah suatu komunitas |
| Koentjaraningrat | Hasil kebudayaan material yang diciptakan manusia dan mengandung makna simbolik |
Ciri-Ciri Warisan Budaya Benda
Agar tidak tertukar dengan benda biasa, kamu perlu mengetahui ciri khas warisan budaya benda sebagai berikut ini:
- Berwujud fisik dan dapat diamati secara langsung, artinya warisan ini memiliki bentuk nyata yang bisa dilihat, disentuh, dan dikaji secara langsung.
- Memiliki nilai sejarah tinggi, karena menjadi bukti peninggalan masa lalu yang penting bagi perkembangan peradaban.
- Berkaitan erat dengan kehidupan sosial, kepercayaan, atau politik pada masanya, sehingga mencerminkan sistem nilai dan cara hidup masyarakat terdahulu.
- Bersifat langka atau unik, karena jumlahnya terbatas atau memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh peninggalan lain.
- Dilindungi oleh hukum sebagai cagar budaya, sehingga keberadaannya dijaga dan dilestarikan melalui peraturan perundang-undangan.
Jenis-Jenis Warisan Budaya Benda
Warisan budaya benda dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk dan sifatnya. Berikut pembagian yang umum digunakan, Grameds.
1. Warisan Budaya Benda Tidak Bergerak
Jenis ini melekat pada suatu lokasi dan tidak dapat dipindahkan tanpa merusak keasliannya.
| Contoh | Lokasi |
| Candi Borobudur | Magelang, Jawa Tengah |
| Candi Prambanan | Sleman, Yogyakarta |
| Benteng Rotterdam | Makassar |
| Situs Sangiran | Sragen |
2. Warisan Budaya Benda Bergerak
Berbeda dengan sebelumnya, warisan budaya benda bergerak dapat dipindahkan dan biasanya disimpan di museum.
| Contoh | Asal |
| Keris | Jawa |
| Arca batu | Berbagai daerah |
| Naskah kuno | Aceh, Jawa, Bali |
| Perhiasan kerajaan | Nusantara |
Contoh Warisan Budaya Benda di Indonesia
Grameds tentu sudah tidak asing dengan berbagai peninggalan bersejarah Indonesia. Berikut adalah beberapa contoh warisan budaya benda yang perlu kamu ketahui.
1. Candi Borobudur (Jawa Tengah)
Candi Buddha terbesar di dunia yang dibangun pada abad ke-8. Reliefnya menggambarkan ajaran Buddha dan kehidupan masyarakat Jawa Kuno.
2. Candi Prambanan (DI Yogyakarta)
Kompleks candi Hindu yang didedikasikan untuk Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Siwa.
3. Keris
Senjata tradisional khas Nusantara yang memiliki nilai spiritual, simbol status sosial, dan filosofi kehidupan.
4. Rumah Gadang (Sumatra Barat)
Rumah adat Minangkabau dengan atap khas menyerupai tanduk kerbau, simbol sistem kekerabatan matrilineal.
5. Rumah Tongkonan (Toraja, Sulawesi Selatan)
Bangunan adat Toraja yang berfungsi sebagai pusat kehidupan adat dan simbol status sosial.
6. Benteng Rotterdam (Makassar)
Benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo dan kolonial Belanda yang menjadi saksi sejarah perdagangan dan penjajahan.
7. Istana Maimun (Medan)
Istana Kesultanan Deli dengan perpaduan arsitektur Melayu, Islam, dan Eropa.
8. Situs Sangiran (Jawa Tengah)
Situs arkeologi penting yang menyimpan fosil manusia purba dan ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.
9. Arca Batu
Patung batu peninggalan masa Hindu-Buddha yang banyak ditemukan di Jawa dan Bali.
10. Prasasti Yupa (Kalimantan Timur)
Prasasti tertua di Indonesia yang menjadi bukti awal keberadaan Kerajaan Kutai.
11. Prasasti Ciaruteun (Jawa Barat)
Peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang berisi jejak telapak kaki Raja Purnawarman.
12. Naskah Lontar
Media tulis tradisional berisi kitab keagamaan, hukum adat, dan sastra klasik.
13. Senjata Tradisional Mandau (Kalimantan)
Senjata khas suku Dayak yang memiliki nilai magis dan filosofi keberanian.
14. Masjid Agung Demak (Jawa Tengah)
Masjid bersejarah yang dibangun oleh Wali Songo dan menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa.
15. Museum Fatahillah (Jakarta)
Bangunan peninggalan VOC yang dulunya berfungsi sebagai Balai Kota Batavia.
16. Perhiasan Kerajaan Nusantara
Mahkota, gelang, dan kalung emas peninggalan kerajaan yang mencerminkan status dan kekuasaan.
17. Kapal Pinisi
Kapal tradisional Bugis-Makassar yang menjadi simbol kejayaan maritim Indonesia.
18. Patung Garuda Wisnu Kencana (Bali)
Patung monumental yang menggambarkan Dewa Wisnu sebagai simbol pelindung dan keseimbangan.
19. Rumah Bolon (Sumatra Utara)
Rumah adat Batak yang mencerminkan struktur sosial dan kearifan lokal.
20. Alat Musik Tradisional Angklung
Meski sering dikaitkan dengan budaya tak benda, angklung sebagai artefak juga termasuk warisan budaya benda.
Perbedaan Warisan Budaya Benda dan Tak Benda
Berikut adalah perbedaan warisan budaya benda dan yang tak benda untuk menambah pengetahuan kamu, Grameds.
| Aspek | Warisan Budaya Benda | Warisan Budaya Tak Benda |
| Wujud | Fisik | Non-fisik |
| Contoh | Candi, senjata | Tari, tradisi, bahasa |
| Cara pelestarian | Konservasi fisik | Pewarisan praktik |
| Risiko kerusakan | Fisik dan lingkungan | Hilang jika tak dipraktikkan |
Mengapa Warisan Budaya Benda Penting?
Grameds, warisan budaya benda memiliki peran besar dalam kehidupan bangsa, di antaranya:
- Sebagai identitas nasional
- Sumber pembelajaran sejarah
- Daya tarik wisata budaya
- Media penguat nilai dan karakter bangsa
Tanpa warisan budaya benda, generasi masa depan akan kehilangan jejak sejarahnya.
Ancaman Terhadap Warisan Budaya Benda
Sayangnya, banyak warisan budaya benda menghadapi berbagai ancaman serius.
| Ancaman | Dampak |
| Perusakan alam | Keretakan dan kerusakan struktur |
| Vandalisme | Hilangnya nilai keaslian |
| Pencurian artefak | Kehilangan identitas budaya |
| Urbanisasi | Penggusuran situs bersejarah |
Upaya Pelestarian Warisan Budaya Benda
Berikut adalah upaya pelestarian warisan budaya benda yang perlu kamu ketahui, Grameds.
- Perlindungan dan perawatan fisik
Warisan budaya benda perlu dijaga kondisinya melalui perawatan rutin, restorasi, dan pengamanan agar tidak rusak atau hilang.
- Pelestarian melalui regulasi hukum
Penetapan sebagai cagar budaya memastikan warisan budaya benda dilindungi oleh undang-undang dan tidak disalahgunakan.
- Pendokumentasian dan penelitian
Pencatatan sejarah, fungsi, serta bentuk warisan budaya membantu menjaga pengetahuan tentang nilai dan maknanya.
- Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat
Peningkatan kesadaran publik mendorong masyarakat ikut menjaga dan menghargai peninggalan budaya.
- Pemanfaatan secara berkelanjutan
Warisan budaya benda dapat dimanfaatkan untuk pendidikan dan pariwisata dengan tetap menjaga keaslian dan kelestariannya.
Regulasi Terkait Warisan Budaya Benda
Indonesia memiliki payung hukum kuat untuk melindungi warisan budaya benda.
| Regulasi | Isi Pokok |
| UU No. 11 Tahun 2010 | Perlindungan Cagar Budaya |
| PP No. 66 Tahun 2015 | Museum |
| Konvensi UNESCO 1972 | Perlindungan warisan dunia |
Peran Museum dalam Menjaga Warisan Budaya Benda
1. Tempat penyimpanan dan perawatan
Berfungsi sebagai lokasi untuk menyimpan, merawat, dan melestarikan benda-benda budaya agar tetap terjaga keasliannya.
2. Sarana edukasi publik
Menjadi media pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenal sejarah, nilai budaya, dan warisan peradaban bangsa.
3. Pusat penelitian budaya
Digunakan sebagai tempat kajian dan penelitian bagi akademisi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan dokumentasi budaya.
Kesimpulan
Grameds, warisan budaya benda merupakan bentuk nyata dari perjalanan sejarah dan peradaban bangsa Indonesia. Benda-benda ini tidak hanya menyimpan nilai estetika, tetapi juga sarat makna sosial, filosofis, dan identitas budaya yang terbentuk selama ratusan bahkan ribuan tahun.
Mulai dari candi, rumah adat, senjata tradisional, hingga naskah kuno, semuanya menjadi bukti bahwa kebudayaan Indonesia tumbuh dari keberagaman yang kaya.
Rekomendasi Buku Terkait
1. Jelajah Wisata Nusantara
Indonesia disebut sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan 17.000 pulau-pulau yang terhampar lebih dari 5.000 km (sekitar 3.200 mil) ke arah timur dari Sabang di utara Sumatra sampai Merauke di Papua. Tak salah kiranya, jika negeri ini sering diistilahkan sebagai untaian zamrud dari khatulistiwa. Mulai dari Bali yang eksotis dengan wisata alam dan religinya sampai Wakatobi sebagai unggulan baru dari Sulawesi Tenggara dengan wisata pantai dan dunia bawah lautnya. Atau, keindahan mahakarya Candi Borobudur, Prambanan, Ratu Boko sebagai salah satu warisan budaya dunia. Puncak Jaya, Rinjani, Semeru, Bromo, dan lain lain akan memanjakan Anda yang menyukai wisata petualangan penuh tantangan. Bagi yang gila belanja, khususnya fashion dan kuliner, Bandung adalah tempatnya. Sementara itu, Jogja dan Solo siap menyuguhkan aneka kearifan budayanya yang sangat khas. Dan, masih banyak lagi tempat-tempat eksotis yang mesti Anda kunjungi untuk semakin mengenal Indonesia.
2. Pergilah yang Jauh Nanti Ceritakan di Sini
Tema dan tulisan tentang perjalanan tidak (pernah) ada matinya. Selama orang-orang masih menikmati asyik dan serunya ngelencer, cerita tentang ngukur jalan selalu ada di setiap babak kehidupan kita. Ke mana pun kita melangkah, di bumi Nusantara ataupun di negara orang lain, pasti terselip kesan yang selalu damai bernaung di hati. Ini jugalah yang menjadi bara api semangat dari semua kontributor yang terlibat dalam lahirnya sebuah antologi yang berjudul “Pergilah yang Jauh Nanti Ceritakan di Sini”. Buku bancakan ke-5 dari dapur Pondok Antologi Penulis Indonesia yang mengurai kisah tentang beribu langkah kaki yang telah dibuat dalam menjelajah dunia.
3. Catatan Perjalanan Ke Benua Putih Yang Terlupakan
Pada tahun 2014, penulis menerima penghargaan dari Kementerian Pendidikan sebagai salah satu guru berprestasi tingkat nasional tahun 2013. Penghargaan tersebut memberinya kesempatan untuk mengikuti program benchmarking selama sepuluh hari ke Benua Putih. Dalam perjalanan tersebut, penulis dapat menyaksikan secara langsung peradaban dan perkembangan dunia pendidikan di negara-negara yang dikunjungi. Buku ini menjadi catatan perjalanan yang disajikan dengan ringan, cocok dibaca sambil menikmati secangkir kopi. Dilengkapi dokumentasi foto, buku ini memberikan gambaran menarik bagi siapa saja yang ingin berwisata ke Benua Putih. Selain sebagai panduan, buku ini juga bisa menjadi afirmasi bagi pembaca yang bercita-cita bepergian ke luar negeri, baik dengan biaya pribadi maupun dukungan sponsor. Melalui catatan ini, pembaca akan memperoleh pengetahuan tentang kehidupan dan peradaban masyarakat di Jerman, Prancis, Belgia, dan Belanda.
4. Negara Maju dan Negara Berkembang
Dalam konteks ekonomi internasional dikenal istilah negara maju dan negara berkembang. Keduanya merupakan istilah yang menggambarkan penggolongan negara-negara di dunia berdasarkan kesejahteraan dan kualitas hidup rakyatnya. Negara maju adalah negara yang masyarakatnya memiliki kesejahteraan dan kualitas hidup yang tinggi. Sementara itu, negara berkembang adalah negara yang masyarakatnya memiliki tingkat kesejahteraan atau kualitas taraf hidup sedang atau dalam perkembangan. Salah satu variabel yang sering digunakan dalam penentuan kriteria suatu negara adalah pendapatan per kapita. Negara maju pada umumnya memiliki pendapatan per kapita tinggi. Sementara negara berkembang memiliki pendapatan perkapita rendah.
5. Korupsi Subur, Negara Hancur
Masih lemahnya karakter bangsa, pemahaman terhadap ajaran agama yang tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dan belum berkembangnya nasionalisme kemanusiaan serta demokrasi politik dan ekonomi merupakan beberapa hal yang memicu munculnya korupsi di Indonesia. Hal ini pula didukung oleh kurangnya transparansi oleh pejabat pemerintahan dan pengambilan keputusan yang tidak bertanggung jawab langsung kepada rakyat sehingga dapat menyengsarakan rakyat. Berbagai praktek korupsi dikhawatirkan dapat membahayakan generasi masa depan bangsa Indonesia. Melihat kondisi seperti itu perlu adanya suatu pendidikan sejak dini terhadap anak, baik di lingkungan keluarga, sekolah, ataupun masyarakat, seperti menanamkan kejujuran, kesederhanaan, teguh pendirian, kasih sayang, hemat dan amanah.
- 6 Negara yang Pernah Menjajah Indonesia
- Biografi Moh Hatta
- Bukti Peninggalan Kerajaan Pajang
- Dewi Sartika
- Fatmawati
- Contoh Historiografi Kolonial
- Kehidupan Politik Kerajaan Demak
- Kelebihan dan Kekurangan Orde Lama
- Kelebihan Masa Orde Lama
- Kolonialisme dan Imperialisme: Dampaknya yang Masih Terasa Hingga Kini
- Kongres Pemuda Pertama
- Mengenal Kapak Perimbas
- Pahlawan dari Sumatera Barat
- Pahlawan dari Sumatera Utara
- Pendudukan Jepang di Indonesia
- Peninggalan Hindu Budha
- Peninggalan Kerajaan Majapahit
- Penyimpangan pada Masa Orde Lama
- Perbedaan BPUPKI dan PPKI
- Peninggalan Kerajaan Banten
- Peninggalan Kerajaan Kutai
- Perbedaan Kolonialisme dan Imperialisme
- Sejarah Kepramukaan
- Sejarah Kerajaan Aceh
- Sejarah Pendudukan Jepang di Hindia Belanda 1942–1945
- Warisan Budaya Benda






