Sejarah Sosial Budaya

Peninggalan Kerajaan Singasari: Jejak Sejarah, Candi, dan Warisan Budaya Nusantara

Written by Vania Andini

peninggalan kerajaan singasari – Halo, Grameds! Kalau membahas sejarah Nusantara, nama Kerajaan Singasari pasti tidak bisa dilewatkan.

Meski masa pemerintahannya relatif singkat, kerajaan yang berdiri di Jawa Timur ini meninggalkan jejak sejarah yang sangat kuat.

Artikel ini akan membahas peninggalan Kerajaan Singasari, baik yang masih bisa kita lihat secara fisik maupun yang diwariskan dalam bentuk budaya, sistem pemerintahan, dan nilai-nilai sejarah. Yuk, Grameds, simak untuk penjelasan lengkapnya!

Sekilas Tentang Kerajaan Singasari

Kerajaan Singasari, atau sering juga disebut Tumapel, berdiri pada abad ke-13 Masehi di wilayah Malang, Jawa Timur. Kerajaan ini didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222 M setelah mengalahkan Kerajaan Kediri dalam peristiwa Perang Ganter.

Singasari dikenal sebagai kerajaan bercorak Hindu-Buddha, dengan pengaruh keagamaan yang sangat kuat dalam seni, arsitektur, dan sistem pemerintahannya. Raja-raja Singasari, seperti Ken Arok, Anusapati, Wisnuwardhana, dan Kertanegara, memiliki peran penting dalam membentuk arah politik dan budaya Jawa Timur kala itu.

Meskipun runtuh pada tahun 1292 M akibat pemberontakan Jayakatwang, peninggalan Kerajaan Singasari tetap hidup hingga sekarang.

Mengapa Peninggalan Kerajaan Singasari Penting Dipelajari?

Grameds, mempelajari peninggalan Kerajaan Singasari bukan sekadar menghafal nama candi atau arca. Ada beberapa alasan mengapa peninggalan ini sangat penting:

  1. Menjadi bukti kejayaan peradaban Nusantara sebelum datangnya kolonialisme
  2. Menunjukkan perkembangan seni dan arsitektur Hindu-Buddha di Jawa
  3. Menjadi fondasi berdirinya Kerajaan Majapahit, kerajaan besar di Asia Tenggara
  4. Mengandung nilai filosofis, religius, dan politik yang relevan hingga kini

Peninggalan Kerajaan Singasari Berupa Candi

1. Candi Singosari

Candi Singosari merupakan peninggalan paling terkenal dari Kerajaan Singasari. Candi ini terletak di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Candi ini diyakini sebagai candi pendharmaan Raja Kertanegara, raja terakhir Singasari. Arsitekturnya bercorak Hindu-Buddha dengan relief yang tidak terlalu banyak, namun memiliki bentuk yang kokoh dan megah.

Candi Singosari juga menjadi simbol kejayaan sekaligus akhir dari Kerajaan Singasari.

2. Candi Kidal

Candi Kidal terletak di Desa Rejo Kidal, Tumpang, Malang. Candi ini dibangun sebagai tempat pendharmaan Raja Anusapati, putra Ken Arok.

Keunikan Candi Kidal terletak pada relief Garudeya, yang menggambarkan kisah Garuda membebaskan ibunya dari perbudakan. Relief ini sering dimaknai sebagai simbol pembebasan, kesetiaan, dan pengabdian.

3. Candi Jago (Candi Jajaghu)

Candi Jago merupakan peninggalan dari masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana. Berbeda dengan candi lainnya, Candi Jago memiliki struktur bertingkat dan penuh relief cerita.

Relief-relief di Candi Jago menggambarkan kisah:

  • Kunjarakarna
  • Parthayajna
  • Arjunawiwaha
  • Cerita Tantri

Candi ini mencerminkan kuatnya unsur pendidikan moral dan keagamaan dalam budaya Singasari.

4. Candi Sumberawan

Candi Sumberawan bercorak Buddha dan berbentuk stupa. Letaknya berada di kawasan pegunungan dengan suasana yang tenang dan sakral.

Candi ini diyakini sebagai tempat pemujaan dan meditasi, sekaligus menunjukkan bahwa Kerajaan Singasari sangat toleran terhadap perbedaan aliran keagamaan.

Peninggalan Kerajaan Singasari Berupa Arca

Selain candi, Singasari juga meninggalkan banyak arca (patung) bernilai seni tinggi.

1. Arca Dwarapala

Arca Dwarapala adalah patung raksasa penjaga yang kini berada di sekitar kawasan Singosari. Arca ini berfungsi sebagai penjaga pintu masuk kawasan suci atau istana.

Ukuran arca yang besar melambangkan kekuatan dan kewibawaan kerajaan.

2. Arca Prajnaparamita

Arca Prajnaparamita sering disebut sebagai salah satu arca terindah di Indonesia. Arca ini melambangkan Dewi Kebijaksanaan dalam ajaran Buddha.

Banyak sejarawan meyakini arca ini merupakan perwujudan Ken Dedes, sosok perempuan penting dalam sejarah Singasari.

3. Arca Ganesha

Arca Ganesha banyak ditemukan di wilayah Singasari. Ganesha dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, menandakan pentingnya pendidikan dan spiritualitas pada masa itu.

Peninggalan Kerajaan Singasari

Jenis Peninggalan Nama Fungsi Lokasi
Candi Candi Singosari Pendharmaan Kertanegara Malang
Candi Candi Kidal Pendharmaan Anusapati Tumpang
Candi Candi Jago Pendharmaan Wisnuwardhana Malang
Candi Candi Sumberawan Tempat ibadah Buddha Malang
Arca Dwarapala Penjaga kawasan suci Singosari
Arca Prajnaparamita Simbol kebijaksanaan Jawa Timur
Arca Ganesha Dewa ilmu pengetahuan Jawa Timur

Peninggalan Kerajaan Singasari Berupa Prasasti

Selain candi dan arca, Kerajaan Singasari juga meninggalkan prasasti sebagai sumber sejarah tertulis yang sangat penting. Prasasti-prasasti ini membantu sejarawan memahami silsilah raja, sistem pemerintahan, hingga legitimasi kekuasaan Singasari.

1. Prasasti Mula Malurung

Prasasti Mula Malurung merupakan salah satu prasasti terpenting dari masa Singasari. Prasasti ini memuat silsilah raja-raja Singasari, mulai dari Ken Arok hingga Kertanegara.

Melalui prasasti ini, kita bisa mengetahui bagaimana kekuasaan berpindah tangan di Singasari serta bagaimana raja-raja memperkuat legitimasi politik mereka. Prasasti ini juga menjadi bukti bahwa Singasari memiliki sistem administrasi dan pencatatan sejarah yang cukup maju.

2. Prasasti Wurare

Prasasti Wurare berkaitan dengan penobatan Raja Wisnuwardhana. Prasasti ini menegaskan konsep raja sebagai pemimpin yang memiliki legitimasi religius dan politik.

Keberadaan prasasti ini menunjukkan bahwa kekuasaan raja Singasari tidak hanya didasarkan pada kekuatan militer, tetapi juga pada pengakuan spiritual dan simbolik.

Peninggalan Non-Fisik Kerajaan Singasari

Grameds, peninggalan Kerajaan Singasari tidak hanya berupa benda. Ada juga peninggalan non-fisik yang sangat berpengaruh.

1. Sistem Pemerintahan

Singasari memperkenalkan sistem pemerintahan yang terstruktur, dengan pembagian wilayah dan pejabat kerajaan yang jelas. Sistem ini kemudian diwarisi dan dikembangkan oleh Majapahit.

2. Konsep Dewa-Raja

Raja Singasari dipandang sebagai titisan dewa. Konsep ini tercermin dari pendharmaan raja dalam bentuk candi dan arca setelah wafat.

3. Toleransi Hindu-Buddha

Kerajaan Singasari menunjukkan toleransi tinggi antara agama Hindu dan Buddha. Hal ini terlihat dari peninggalan candi dan arca yang berasal dari dua ajaran tersebut.

Wilayah Kekuasaan dan Pengaruh Kerajaan Singasari

Grameds, Kerajaan Singasari bukanlah kerajaan kecil yang hanya berpengaruh di Jawa Timur. Pada masa kejayaannya, terutama di bawah pemerintahan Raja Kertanegara, Singasari mulai memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah Nusantara.

Salah satu bukti nyata adalah Ekspedisi Pamalayu, sebuah misi politik dan militer ke wilayah Sumatra. Ekspedisi ini bertujuan untuk memperluas pengaruh Singasari sekaligus memperkuat hubungan politik dengan kerajaan-kerajaan lain.

Langkah ini sering dianggap sebagai cikal bakal gagasan penyatuan Nusantara yang kelak diwujudkan lebih besar oleh Kerajaan Majapahit. Dengan demikian, Singasari memiliki peran strategis dalam sejarah geopolitik Asia Tenggara.

Pengaruh Kerajaan Singasari terhadap Majapahit

Kerajaan Singasari menjadi fondasi penting berdirinya Kerajaan Majapahit. Banyak tokoh Majapahit merupakan keturunan atau memiliki hubungan langsung dengan elit Singasari.

Bahkan, gagasan penyatuan Nusantara yang terkenal di masa Majapahit sudah mulai dirintis sejak masa Raja Kertanegara melalui ekspedisi Pamalayu.

Fakta Unik tentang Kerajaan Singasari

Untuk menambah wawasan, Grameds, berikut beberapa fakta menarik tentang Singasari:

  • Candi Singosari diyakini tidak pernah selesai dibangun sepenuhnya
  • Arca Prajnaparamita disebut-sebut sebagai salah satu arca terindah di Asia Tenggara
  • Ken Arok dikenal sebagai tokoh dengan kisah hidup penuh intrik dan kontroversi
  • Masa kejayaan Singasari relatif singkat, tetapi pengaruhnya sangat besar

Kondisi Peninggalan Kerajaan Singasari Saat Ini

Hingga kini, peninggalan Kerajaan Singasari masih bisa ditemukan dan dikunjungi, terutama di wilayah Malang dan sekitarnya. Sebagian besar telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan dilindungi oleh pemerintah.

Namun, tantangan tetap ada, seperti kerusakan akibat cuaca, usia bangunan, hingga kurangnya kesadaran masyarakat. Oleh karena itu, peran generasi muda sangat penting dalam menjaga dan melestarikan peninggalan bersejarah ini.

Mengapa Peninggalan Singasari Harus Dijaga?

Grameds, peninggalan Kerajaan Singasari adalah bagian dari identitas bangsa Indonesia. Menjaga dan mempelajarinya berarti:

  • Menghargai sejarah leluhur
  • Memperkuat jati diri bangsa
  • Menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran

Kesimpulan

Peninggalan Kerajaan Singasari mencerminkan kejayaan, kebijaksanaan, dan kompleksitas peradaban Nusantara pada abad ke-13.

Dari candi seperti Singosari, Kidal, dan Jago, hingga arca seperti Prajnaparamita, semua menunjukkan tingginya nilai seni dan spiritual masyarakat Singasari.

Rekomendasi Buku Terkait

1. Kumpulan Legenda Nusantara

Kumpulan Legenda Nusantara

Buku ini merangkum kekayaan budaya dan keindahan alam Indonesia melalui cerita-cerita rakyat tentang asal-usul berbagai tempat dari Sabang hingga Merauke. Disampaikan secara turun-temurun dan kini dikemas dengan ilustrasi menarik, kisah-kisah seperti Danau Toba, Candi Prambanan, Gunung Merapi, Raja Ampat, hingga Burung Cendrawasih mudah dipahami anak-anak. Setiap cerita sarat hikmah yang menumbuhkan rasa ingin tahu, cinta tanah air, serta membangun karakter positif bagi generasi muda.

2. Wawasan Nusantara

Wawasan Nusantara

Buku ini mengajak pembaca memahami luasnya kekayaan alam dan strategisnya wilayah Indonesia sebagai bangsa kepulauan. Melalui pemahaman Wawasan Nusantara, pembaca diharapkan tumbuh rasa bangga, kepedulian, serta tanggung jawab bersama untuk menjaga dan memelihara Nusantara agar tetap lestari dan terhindar dari berbagai ancaman terhadap stabilitas nasional.

3. Nusantara Sejarah Indonesia

Nusantara: Sejarah Indonesia

Buku Nusantara karya Vlekke menyajikan sejarah Indonesia secara mendalam namun populer dan tetap relevan hingga abad ke-21. Berbeda dari buku sejarah pada umumnya, Vlekke tidak berfokus pada kolonialisme, melainkan pada dinamika sosial, budaya, dan karakter masyarakat Nusantara. Kisah-kisah unik seperti langkanya perang agama di Jawa, kegagalan Sultan Agung menyatukan Nusantara, hingga perubahan tabiat orang Belanda di Batavia disampaikan dengan gaya ringan dan naratif. Diterjemahkan dari edisi revisi 1963, buku ini mudah dipahami dan terasa seperti dongeng sejarah yang menarik bagi pembaca muda Indonesia.

5. Kearifan Lokal Nusantara

Kearifan Lokal Nusantara

Buku Kumpulan Tulisan Kearifan Lokal Nusantara menghadirkan berbagai kisah dan nilai luhur bangsa Indonesia yang relevan untuk dijadikan motivasi dalam menghadapi era globalisasi. Berisi karya tulisan Della Eka Rizkia, dkk., buku ini lahir dari tugas menulis tentang kearifan lokal yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah karya bersama. Rasa kebersamaan, kekompakan, serta kemampuan literasi informasi dan teknologi para siswa menjadi kunci terwujudnya buku ini, sehingga menghadirkan inspirasi sekaligus pengingat akan kekayaan budaya Nusantara.

About the author

Vania Andini

Gramedia Literasi