Sejarah Sosial Budaya

6 Bukti Peninggalan Kerajaan Pajang beserta Gambarnya

Written by Vania Andini

peninggalan kerajaan pajang – Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa peninggalan kerajaan Pajang begitu menarik untuk dipelajari, meski kerajaan ini hanya berdiri singkat?

Saat sedang membahas sejarah kerajaan Islam di Jawa, Kerajaan Pajang seringkali luput dari perhatian karena masa pemerintahannya yang relatif singkat.

Maka dari itu, mari telusuri sejarah singkat, raja-raja di dalamnya, hingga bukti peninggalan kerajaan pajang untuk memahami bagaimana kisah masa lalu yang membentuk budaya dan kehidupan masyarakat Jawa saat ini!

Pengertian Kerajaan Pajang

Kerjaan Pajang adalah salah satu kerajaan Islam di Jawa yang berperan sebagai kelanjutan kekuasaan Islam setelah runtuhnya Kesultanan Demak. Kerajaan Pajang terletak di wilayah Jawa Tengah, tepatnya di wilayah perbatasan Sukarta dan Sukohargo.

Meskipun begitu, kerajaan yang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya ini juga pernah menjadi pusat peralihan budaya, sosial, dan keagamaan di Jawa Tengah.

Keberadaan Pajang menandai perubahan penting dari kekuasaan pesisir menuju pedalaman Jawa, yang kemudian memengaruhi arah perkembangan kerajaan-kerajaan Islam selanjutnya.

Sejarah Kerajaan Pajang

Kerajaan Pajang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya–seorang tokoh penting di Demak dan dikenal dengan nama Jaka Tingkir–pada tahun 1568 M setelah runtuhnya Kerajaan Demak.

Masa kejayaan Kerajaan Pajang berlangsung pada akhir abad ke-16, ketika Pajang menjadi pusat pemerintahan dan penyebaran Islam di Jawa Tengah.

Pada periode ini, Pajang berperan strategis dalam transisi kekuasaan menuju berdirinya Kerajaan Mataram Islam.

Raja-raja Kerajaan Pajang

Kerajaan Pajang dipimpin oleh beberapa tokoh penting yang memiliki peran besar dalam perjalanan sejarahnya. Para raja inilah yang menentukan arah politik, sosial, dan keagamaan kerajaan.

Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir)

Sultan Hadiwijaya berasal dari latar belakang bangsawan dan memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Demak. Ia mendirikan Kerajaan Pajang setelah berhasil mengkonsolidasikan kekuasaan di Jawa Tengah. Di bawah kepemimpinannya, Pajang berkembang sebagai pusat pemerintahan Islam yang kuat.

Pangeran Benawa

Pangeran Benawa merupakan putra Sultan Hadiwijaya yang memerintah Pajang dalam waktu singkat. Masa pemerintahannya diwarnai konflik internal dan tekanan politik dari daerah lain. Situasi ini melemahkan posisi Pajang sebagai kerajaan pusat.

Bukti Peninggalan Kerajaan Pajang beserta Gambarnya

Meskipun tidak banyak meninggalkan bangunan megah, Pajang tetap memiliki bukti sejarah yang penting. Jejak fisik ini menjadi saksi keberadaan kerajaan Islam di Jawa Tengah pada abad ke-16.

1. Masjid Laweyan

Sumber: Kompas

Masjid Laweyan memiliki peran penting sebagai pusat dakwah Islam pada masa Pajang. Masjid ini sering dijadikan tempat berlangsungnya aktivitas keagamaan para saudagar dan ulama di wilayah Laweyan. Hingga kini, masjid ini masih digunakan oleh masyarakat sekitar.

2. Kampung Batik Laweyan

Sumber: Solopos

Laweyan dikenal sebagai kawasan ekonomi penting pada masa Kerajaan Pajang. Para saudagar batik di wilayah ini berperan untuk menopang perekonomian kerajaan.

Aktivitas perdagangan batik membuat Laweyan berkembang pesat dan berpengaruh. Tradisi membatik di kawasan ini terus berlanjut hingga sekarang sehingga daerah ini dinamai sebagai Kampung Batik Laweyan.

3. Pasar Laweyan (Bandar Kabanaran)

Pasar Laweyan berfungsi sebagai pusat perdagangan utama pada masa Pajang. Pasar ini menjadi tempat bertemunya pedagang lokal dan antarwilayah. Aktivitas perdagangan tersebut memperkuat posisi Pajang sebagai pusat ekonomi regional. Oleh karena itu, pasar ini sering disebut sebagai pasar laweyan peninggalan kerajaan pajang.

4. Situs atau Petilasan Keraton Pajang

Situs ini diyakini sebagai lokasi bekas pusat pemerintahan Kerajaan Pajang. Saat ini, kondisi situs tidak sepenuhnya utuh karena perkembangan permukiman modern.

Meski demikian, nilai historisnya tetap tinggi bagi penelitian sejarah Jawa. Situs ini menjadi petunjuk penting untuk memahami tata ruang kerajaan.

5. Kompleks Makam Kesultanan Pajang

Kompleks makam ini menjadi tempat peristirahatan Sultan Hadiwijaya beserta keluarga Kesultanan Pajang. Keberadaan makam menunjukkan bahwa Pajang pernah menjadi pusat pemerintahan Islam yang sah di Jawa Tengah.

Struktur makam mencerminkan perpaduan budaya Islam dan Jawa. Tradisi ziarah yang berkembang memperlihatkan penghormatan masyarakat terhadap sejarah. Hingga sekarang, kompleks ini dirawat sebagai situs penting.

Berikut adalah tabel yang menunjukkan nama peninggalan, lokasi, hingga kaitannya dengan kerajaan Pajang:

Nama Peninggalan Lokasi Kaitan dengan Sejarah Pajang
Masjid Laweyan Laweyan, Surakarta Pusat dakwah dan kegiatan Islam
Kampung Batik Laweyan Laweyan, Surakarta Kawasan ekonomi dan perdagangan
Pasar Laweyan Laweyan, Surakarta Pusat perdagangan kerajaan
Situs Keraton Pajang Sekitar Surakarta Bekas pusat pemerintahan
Kompleks Makam Kesultanan Pajang Jawa Tengah Pemakaman keluarga kerajaan

Mengapa Peninggalan Kerajaan Pajang Terbatas?

Pernahkah bertanya-tanya kenapa Pajang tidak memiliki bukti fisik sebanyak kerajaan lain? Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor historis dan lingkungannya:

  • Masa Pemerintahan yang Relatif Singkat: Kerajaan Pajang tidak berkuasa dalam waktu lama sehingga pembangunan besar-besaran terbatas. Fokus kerajaan lebih pada konsolidasi kekuasaan.
  • Minimnya Bangunan Berbahan Batu: Sebagian besar bangunan Pajang menggunakan bahan kayu yang mudah rusak. Akibatnya, sedikit peninggalan yang bertahan hingga kini.
  • Perpindahan Kekuasaan ke Kerajaan Mataram Islam: Peralihan pusat kekuasaan membuat banyak struktur Pajang ditinggalkan. Fokus pembangunan beralih ke wilayah Mataram.
  • Perubahan Wilayah Menjadi Pemukiman Modern: Perkembangan kota menyebabkan banyak situs tertutup atau berubah fungsi. Hal ini menyulitkan pelestarian peninggalan lama.

Pengaruh Kerajaan Pajang terhadap Sejarah Islam di Nusantara

Meskipun singkat, pengaruh Pajang dalam sejarah Islam di Jawa sangat besar. Kerajaan ini menjadi mata rantai penting dalam perkembangan politik dan keagamaan.

1. Pajang sebagai Penghubung Demak dan Mataram

Kerajaan Pajang berperan sebagai jembatan sejarah antara Kerajaan Demak dan Kerajaan Mataram Islam.

Pajang meneruskan tradisi politik dan keislaman yang telah dibangun Demak sebelumnya. Melalui Pajang, nilai-nilai Islam tetap terjaga dan kemudian diwariskan kepada Mataram Islam sebagai kerajaan penerus.

2. Kontribusi dalam Penyebaran Islam di Jawa Tengah

Pada masa Kerajaan Pajang, Islam berkembang pesat di wilayah pedalaman Jawa Tengah. Masjid, pasar, dan jaringan saudagar menjadi sarana utama penyebaran ajaran Islam kepada masyarakat.

Pajang berfungsi sebagai pusat dakwah yang menghubungkan kegiatan keagamaan dengan aktivitas sosial dan ekonomi.

3. Warisan Sistem Pemerintahan dan Sosial

Kerajaan Pajang mewariskan pola pemerintahan Islam yang berpadu dengan budaya Jawa. Sistem ini kemudian memengaruhi struktur pemerintahan Mataram Islam.

Nilai-nilai tersebut terus berkembang dan membentuk tradisi sosial masyarakat Jawa hingga generasi berikutnya.

Jejak Pajang dalam Sejarah Nusantara

Kerajaan Pajang mungkin tidak meninggalkan banyak bangunan megah, tetapi perannya dalam sejarah Nusantara tidak dapat diabaikan.

Dengan memahami sejarah Pajang, kita bisa melihat bahwa sejarah tidak selalu ditandai oleh kemegahan bangunan, tetapi juga oleh pengaruh dan warisan nilai yang bertahan lama.

Yuk, mulai lebih peka terhadap situs sejarah di sekitar kita. Dengan mengenal dan menghargai peninggalan masa lalu, kita ikut berperan dalam menjaga identitas dan sejarah bangsa agar tidak hilang ditelan zaman.

Rekomendasi Buku tentang Islam di Nusantara

1. Sejarah Islam di Nusantara: Proses Penyiaran, Pemikiran, dan Keberagamaan dalam Pembangunan

Sejarah Islam di Nusantara: Proses Penyiaran, Pemikiran, dan Keberagamaan dalam Pembangunan

Pada akhir abad 18 dan awal abad 19, berkembang wacana pemikiran keislaman di Nusantara yang mengacu kepada dua corak, yaitu pemikiran yang berkembang dari Tanah Hijaz; sejalan dengan munculnya gerakan Wahabisme dan gerakan yang muncul dari Mesir, yaitu pembaruan pemikiran keislaman.

Corak keberagamaan dari Hijaz berangkat dari gagasan konsep puritanisme terhadap pemahaman dan pengamalan akidah dan ibadah yang bertujuan untuk menghindarkan umat Islam dari terjerumus dalam praktik syirk.

Ditulis oleh Prof. Dr. H. M. Ridwan Lubis, buku Sejarah Islam di Nusantara: Proses Penyiaran, Pemikiran, dan Keberagamaan dalam Pembangunan berupaya mengupas berbagai perdebatan teori mengenai penyiaran Islam ke Nusantara, pembaruan-pembaruan dalam pemikiran Islam, perkembangan keberagamaan di Indonesia, hingga relasi agama dan pembangunan.

2. Sejarah Peradaban Islam di Indonesia

Sejarah Peradaban Islam di Indonesia

Sejarah peradaban Islam merupakan salah satu bidang kajian studi Islam yang banyak menarik perhatian para peneliti, baik dari kalangan muslim maupun non-muslim.

Buku ini menguraikan tentang sejarah peradaban Islam secara umum; sejarah masuk dan kerajaan Islam di Indonesia: peradaban Islam di Indonesia.

Buku ini berfungsi sebagai sumber belajar bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan membaca literatur sejarah peradaban Islam dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris. Akan tetapi, kekuatan yang ada pada buku ini adalah pembahasan yang menonjol pada aspek peradaban Islam yang sejalan dengan perkembangan Islam (penganut dan wilayah kekuasaan).

3. Jejak Islam di Nusantara

Jejak Islam di Nusantara

Pada umumnya, hal yang menjadi bahan perdebatan para ahli antara lain berkaitan dengan waktu kedatangan Islam, siapa yang membawanya, media apa yang digunakan, dan bagaimana perkembangannya. Begitu banyak hal yang diperdebatkan, begitu banyak pula ahli yang mengemukakan teori tentang masalah-masalah tersebut.

Dalam batasan-batasan tertentu, buku ini berusaha untuk mengakomodasi seluruh teori yang berkembang tentang kedatangan Islam ke Nusantara dan perkembangannya hingga pada saat ini.Informasi yang disajikan dalam buku ini juga memuat perkembangan Islam di berbagai daerah, serta peninggalan kebudayaan Islam yang berkembang didaerah tersebut.

4. Sejarah Umat Islam: Pra Kenabian Hingga Islam Di Nusantara

Sejarah Umat Islam: Pra Kenabian Hingga Islam Di Nusantara

Buku ini merupakan suatu karya emas dari tangan seorang ulama fenomenal Indonesia, beliau adalah Buya Hamka, yang sebelumnya pernah diterbitkan di Singapura. Buku ini merupakan edisi terbaru dari buku sebelumnya yang pernah diterbitkan pertama kali pada tahun 1950 an.

Buku ini membahas tentang penyebaran Islam di wilayah jazirah Arab dan Eropa, serta penyebaran Islam di wilayah India dan Afganistan. Penjelasan lainnya di buku ini juga membahas secara spesifik tentang sejarah awal perkembangan Islam di Indonesia dan banyak lagi penjelasan lainnya.

About the author

Vania Andini

Gramedia Literasi