Music

10 Alat Musik Kendang: Asal-Usul, Jenis, dan Cara Memainkannya

Alat Musik Kendang
Written by Ananda

Alat musik kendang, atau dapat disebut juga sebagai Gendang, merupakan alat musik berkepala dua asal Indonesia. Dalam memainkannya, pemain melakukan bersama pemain lain dalam gamelan, menciptakan orkestra perkusi tradisional ala Tanah Air tercinta.

Musik gamelan sendiri punya karakteristik yang sering berubah kecepatannya dari satu bagian ke bagian lain, memberikan sinyal gaya, tempo, titik awal, dan titik akhir kepada penikmatnya.

Beberapa sekolah seringkali memiliki ekstrakurikuler gamelan. Jika mengenalnya, Grameds secara tak langsung juga telah mengenal salah satu alat musiknya, yakni kendang. Pasalnya, musik gamelan seringkali tak lengkap tanpa kendang.

Alat musik yang satu ini juga sering digunakan dalam acara-acara, bahkan sampai dangdutan. Penasaran, apa, sih, sebenarnya kendang itu? Mari simak penjelasannya bersama!

Alat Musik Kendang

Perhatikanlah profil singkat kendang di bawah ini:

  • Keluarga: Perkusi
  • Rentang nada: Tidak ada
  • Bahan: Kayu, dengan kepala gendang dari kulit kerbau
  • Ukuran: Variatif. Contohnya, panjang 26 in (66 cm), kepala kendang berdiameter 13 inci (33 cm) dan 14,5 inci (37 cm).
  • Asal-usul: Kendang berasal dari pulau Jawa dan Bali dan ada juga yang berasal dari India.
  • Klasifikasi: Membranofon (alat musik yang menghasilkan suara dengan getaran kulit yang diregangkan)
  • Lainnya: Kendang disetel dan dimainkan berpasangan, ada “kendang wanita” (kendang wadon) dan “kendang pria” (kendang lanang).
Alat Musik Kendang

Instruments of the World

Kendang atau gendang adalah alat musik tradisional Indonesia yang dibuat dari batang pohon yang bagian dalamnya dibuang. Untuk kepalanya, digunakan kulit hewan seperti sapi atau kambing. Tanpa penutup kulit, secara harfiah alat ini hanyalah silinder atau tong kosong. Orang awam dan asing seringkali menyebut kendang sebagai drum berkepala dua.

Saat memainkannya, seseorang atau pemain kendang harus memukul bagian kulit, baik dengan tongkat ataupun dengan tangan. Kendang sendiri punya banyak variasi nama di berbagai budaya. Misalnya, orang-orang ibu kota kerap menyebutnya sebagai “gendang”, tetapi orang-orang Sunda yang mayoritasnya tinggal di Jawa Barat menyebut alat ini sebagai “kendang”.

Alat musik kendang cukup jarang digunakan sebagai instrumen tunggal yang dimainkan sendirian. Umumnya, kendang menjadi bagian dari ansambel bersama beberapa jenis alat musik lainnya. Kendang, dalam budaya Jawa, ialah bagian dari ansambel Gamelan. Dalam budaya Sunda sendiri, alat ini termasuk dalam ansambel Degung.

Sebenarnya, Gamelan dan Degung memiliki banyak hal yang mirip, Degung pun disebut sebagai Gamelan Sunda.

Asal Kendang

Pertanyaan terkait asal kendang memang seringkali muncul. Pasalnya, tak hanya di Jawa, setiap daerah tampaknya memiliki kendangnya sendiri sebagai salah satu alat musik tradisional.

Meski begitu, alat musik yang satu ini sebenarnya mulai dikenal sejak abad pertengahan, yakni abad ke-9 Masehi. Pun, kendang awalnya dikenal di Pulau Jawa.

Menurut buku Inovasi Pembelajaran Musik karya Tim PGSD, penyebutan gendang (kendang) memang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh tiap nama yang menunjukkan perbedaan pada ukuran, bentuk, sampai bahan yang digunakan.

Seperti yang kita tahu, kendang adalah jenis alat musik membranofon yang terbuat dari kulit. Keberadaannya sendiri dipercaya sudah ada sejak zaman logam prasejarah di Indonesia, alias zaman perunggu.

Di peradaban awal, manusia punya kebiasaan memukul benda di sekitar sebagai bentuk ekspresi gembira. Misalnya, setelah mendapatkan buruan. Kendang pun hadir sejak zaman itu dan karena kebiasaan itu.

Kendang tertua yang ditemukan diyakini berasal dari masa neolitikum. Bentuknya sangat sederhana: sepotong batang kayu berongga yang ujungnya ditutup kulit ikan atau reptil. Alat tersebut pun dimainkan dengan ditepuk.

Pada peradaban setelahnya, datanglah drum kayu atau kendang yang dibuat dari kulit binatang. Bahkan, ditemukan pula stik pukul yang dipakai bersamanya.

Alat Musik Kendang

Sejarah Kendang

Dalam sejarahnya, alat musik kendang sudah dikenal sejak abad ke-9 Masehi di Jawa. Namanya pun beragam, seperti pataha, padahi, murawaatau muraba, marsala, mrdangga, muraja, kahala, panawa, damaru, sampai kendang.

Berbagai penyebutan ini menunjukkan adanya beragam macam bentuk, ukuran, hingga bahan yang dipakai untuk menciptakan kendang. Misalnya, kendang berukuran kecil ditemukan dalam arca yang dilukiskan tengah dipegang oleh dewa. Kendang ini pun dinamai Damaru.

Dalam relief candi pun dapat dilihat bukti keanekaragaman kendang. Contohnya, di Candi Borobudur, terlukis bermacam-macam kendang yang berbentuk silinder langsing, tong asimetris, sampai bentuk kerucut. Ditemukan pula candi-candi lain yang menunjukkan hal serupa seperti Candi Siwa di Prambanan, Candi Panataran, dan Candi Tegawangi.

Sejarah berlanjut, terdapat kesamaan antara sumber tertulis dari Jawa Kuno dan sumber tertulis India. Hal ini diungkap Jaap Kunst, seorang ahli musik Belanda. Ini membuktikan terjadinya kontak budaya dalam bidang seni antara keduanya.

Hanya saja, tak bisa disimpulkan bahwa kendang Jawa memiliki pengaruh dari India dalam sejarah alat musik kendang ini. Sebab, kendang yang bersifat membranofon diyakini telah ada sebelum terjadinya kontak dengan India. Misalnya, telah dikenal Moko dan Nekara sejak zaman perunggu sebagai genderang.

Selanjutnya, terdapat jenis alat musik lain yang berkaitan dengan selaput kulit, seperti trebang dan bedug. Dalam kitab yang lebih muda, Kidung Malat, istilah bedug dijumpai. Instrumen ini pun disebut dengan istilah tipakan dalam Kakawin Hariwangsa, Ghatotkacasraya, dan Kidung Harsawijaya.

Belum selesai sampai di sana, kendang juga dikenal dengan istilah tabang-tabang dalam kitab Ghatotkacasraya dan Sumanasantaka. Sebutan ini diyakini berkembang menjadi tribang di kemudian hari.

Ditilik dari ukuran kendang dalam sejarahnya, alat musik ini dikelompokkan menjadi beberapa jenis. Misalnya, kendang berukuran kecil disebut ketipung, ada pula kendang berukuran sedang yang dikenal dengan ciblon atau kebar. Kemudian, tak ketinggalan kendang berukuran besar yang menjadi pasangan ketipung yang disebut sebagai kendang gedhe atau kendang kalih.

Ada pula kendang yang digunakan khusus untuk pewayangan, yakni kendang kosek.

Bukti Gendang dalam Situs Sejarah Indonesia

Berikut ialah bukti-bukti yang menunjukkan hadirnya kendang dalam situs sejarah di Indonesia! Bentuk dan keanekaragaman gendang dalam dilihat pada relief candi berikut ini.

● Candi Borobudur (Awal abad ke-9 Masehi)

Terdapat berbagai macam bentuk kendang, seperti silindris langsing, tong asimetris, sampai kerucut.

● Candi Siwa di Prambanan (Pertengahan abad ke-9 Masehi)

Jenis kendang ini dibawa oleh warga zaman dulu, kemudian diletakkan di bawah perut dengan semacam pengait berupa tali.

● Candi Tegowangi, (Periode Jawa Timur), sekitar abad 14

Ada relief seseorang yang membawa kendang silindris dengan tali yang kemudian dikalungkan di kedua bahunya.

● Candi Panataran (Periode Jawa Timur), sekitar abad 14

Relief kendang di sana digambarkan dengan selaput satu sisi saja, dan ditabuh menggunakan pemukul berujung bulat. Jaap Kunst menyebutnya sebagai kendang dogdog.

Banyaknya nama yang berbeda dalam penyebutan kendang bukan berarti tak ada kesamaan penyebutan. Kesamaan ini hadir pada sumber tertulis Jawa Kuno dan India. Inilah yang membuktikan adanya keterlibatan budaya antara Hindu dalam asal-usul kendang dengan budaya India.

Jenis-Jenis Kendang

Berikut ialah jenis kendang yang perlu diketahui, asal, dan penjelasannya:

1. Kendang Sunda

Kendang Sunda atau Gendang Sunda umumnya ditemui dalam kesenian Jawa Barat yang juga dinamai Kendang atau Gendang Sunda. Untuk kualitas terbaik, biasanya ditemukan terbuat dari kayu nangka atau diganti dengan kayu pohon asem. Pasalnya, kepadatan dari kedua pohon tersebut sama.

Berdasarkan ukurannya, kendang Sunda pun dibagi menjadi dua, yakni kendang indung yang punya ukuran paling besar, serta kendang anak atau kendang kulanter yang punya ukuran paling kecil.

Sementara itu, kendang Sunda dibagi menjadi kendang jaipongan dan kendang kliningan menurut fungsinya. Kendang jaipongan dipakai untuk mengiringi tarian Jaipongan, sedangkan kendang kliningan digunakan dalam kesenian Kliningan. Ada pula kendang ketuk tilu yang mengiringi tarian Ketuk Tilu.

Tak hanya itu, terdapat pula jenis kendang Sunda yang dimainkan dalam pertunjukan Rampak Kendang dan Degung yang sama-sama merupakan kesenian tradisional Sunda, di mana para pemain memainkan alat musik kendang bersama-sama.

2. Gendang Jawa Timur

Tak cuma di Sunda atau daerah Jawa Barat, kendang juga dikenal di beberapa daerah di Jawa Timur. Contohnya, terdapat gendang sentul yang dinamakan sesuai daerah asalnya, Desa Sentul, di Blitar. Kendang ini dibuat dari kayu mahoni dan tutupnya menggunakan kulit sapi.

Di Banyuwangi, ada pula kendang khas Jawa Timur. Pembuatannya memakai glugu atau kayu kelapa tua, serta kayu pohon nangka. Kendang yang satu ini digunakan dalam kesenian Gandrung sehingga disebut pula sebagai gendang gandrung.

Ada pula kendang yang dimainkan dalam kesenian Janger, (yakni sejenis Ketoprak di Jawa Tengah), yang disebut gendang Janger.

Kendang juga digunakan dalam pertunjukkan Reog Kendang khas Tulungagung. Kendang tersebut punya dua ukuran, yakni kendang ukuran besar dan kendang ukuran kecil yang biasa disebut ketipung.

Di Jawa Timur, kendang lebih sering dipakai untuk mengiringi tarian, berbeda dengan di Jawa Tengah dan Jawa Barat yang biasa menggunakannya dalam ansambel Dengung atau Gamelan.

3. Gendang Jawa Tengah

Nah, di Jawa Tengah, kendang dipakai dalam permainan Gamelan dan punya peran penting dalam Karawitan Jawa. Alat musik ini berfungsi menjadi pemimpin irama atau pamurba, yakni bertugas mengatur cepat atau lambatnya irama gendhing, serta membuka atau menghentikan sajiannya.

Di Yogyakarta, Surakarta, atau Sola, dikenal pula ragam gendang dalam kesenian Jawa Tengah. Di antaranya, terdapat gendang ageng berukuran besar, gendang wayangan yang biasa dipakai dalam pertunjukkan wayang kulit, gendang ciblon yang menghasilkan nada tinggi, sampai gendang ketipung.

4. Gendang Panjang

Kendang yang satu ini adalah alat musik tradisional dari Kepulauan Riau. Instrumen gendang panjang umumnya dipakai bersama alat musik lain demi mengiringi lagu daerah atau menyambut tamu dalam pesta pernikahan.

Bentuknya serupa dengan kendang pada umumnya. Hanya saja, alat musik yang ukuran tiap sisinya berbeda ini dibuat dari kayu merbau. Pada gendang panjang, terdapat sisi induk dan sisi anak, Grameds.

Seperti namanya, diameter sisi indung lebih besar dari sisi anak. Bahan pembuatan sisi kendang ini pun berbeda, sisi induk dibuat dengan kulit kerbau sedangkan sisi anak dibuat dengan kulit kambing.

5. Gendang Beleq

Selanjutnya, ada gendang beleq yang merupakan alat musik tradisional asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kata beleq pada namanya pun diambil dari bahasa Sasak, yakni isuku yang menetap di Pulau Lombok. Beleq pun punya arti “besar” yang serupa dengan wujud kendangnya, besar.

Bersama gabungan alat musik lain, gendang beleq dimainkan secara berkelompok. Namun, alat musik inilah yang menjadi instrumen utamanya.

Dahulu, gendang beleq digunakan untuk menyemangati prajurit yang akan berjuang di medan perang. Hanya saja, sering berjalannya waktu, alat musik ini dipakai menjadi musik pengiring suatu acara adat, kesenian, perlombaan budaya, sampai hiburan rakyat.

6. Gendang Beriak

Beralih ke Kalimantan, terdapat gendang beriak yang menjadi alat musik tradisional suku Dayak. Alat musik ini dipakai dalam pertunjukan bernama sama, dan dimainkan oleh dua orang laki-laki yang memakai pakaian adat Dayak. Pementasan gendang beriak pun biasanya digelar untuk menyambut tamu agung atau saat panen raya.

Berbeda daripada bentuk kendang pada umumnya, bagian tengah dari kendang khas suku Dayak ini menyempit, dan melebar pada bagian ujungnya. Dengan bentuk tersebut, diyakini bisa menghasilkan suara yang lebih nyaring.

Adapun gendang beriak umumnya dibuat dengan kulit babi atau kerbau, dilengkapi tali penyangga yang terbuat dari rotan.

7. Marwas

Alat musik marwas merupakan gendang tepuk yang dimainkan bersama rebana dan gambus dalam pertunjukkan marawis. Berasal dari Gorontalo, alat musik yang satu ini mulai dikenal masyarakat sekitar setelah masuknya kepercayaan Islam dan menyebar di wilayah Sulawesi.

8. Gedombak

Gedombak adalah kendang lain yang berasal dari Riau. Seperti kendang lainnya, alat musik tersebut terbuat dari kayu, kulit hewan, dan rotan. Adapun, gedombak umumnya dipakai untuk mengiringi teater Mak Yong yang populer di Riau.

9. Gendang Nobat

Alat musik ini adalah salah satu yang tradisional asal Melayu. Berasal dari kata Persia nau yang berarti “sembilan” dan bat yang artinya alat musik, kendang ini dianggap sakral dan lagu-lagunya tak boleh dimainkan sembarangan. Tak cuma itu, pemain gendang nobat ini pun berasal dari keluarga khusus yang ditunjuk atau keluarga kerajaan.

10. Gendang Silat

Berasal dari Riau, gendang silat dipakai untuk mengatur irama dalam mengiringi suatu lagu. Kendang berkepala ganda ini pun terbuat dari kayu, rotan, dan kulit binatang.

Cara Memainkan

Alat Musik Kendang

travel.tempo.co

Setelah mengetahui jenis-jenis kendang, tentulah kita juga ingin tahu cara memainkannya lebih lengkap. Simak penjelasan di bawah ini, ya, Grameds!

Mengutip buku Teknik Permainan Kendang Tunggal pada Gamelan Bali yang ditulis oleh Pryatna dan Sudirga (2021). Memainkan kendang cukuplah dipukul atau ditabuh. Memukulnya pun bisa menggunakan alat pemukul khusus kendang atau tangan pemain.

Meski dimainkan dengan dipukul, bukan berarti dipukul secara sembarangan tanpa tempo, nada, atau instrumennya. Butuh latihan dan pengalaman agar dapat memainkan kendang dengan baik dan menghasilkan bunyi yang indah.

Alat Musik Kendang

Kesimpulan

Itulah penjelasan terkait kendang yang memiliki beragam nama, bentuk, ukuran, sampai kegunaan di setiap daerah di Indonesia. Dewasa ini, kita harus berupaya ekstra untuk menjaga dan melestarikan alat musik kendang sebagai salah satu warisan sejak zaman dahulu. Grameds, saat ini, masih banyak komunitas yang bisa membantu kita belajar tentang kendang dan akhirnya membantu melestarikannya.

Kamu bisa menambah pengetahuan terkait alat musik secara universal ataupun tradisional asal Indonesia saja dengan membaca buku. Bersama Gramedia sebagai toko buku online terbesar di Indonesia, kamu bisa menjelajah berbagai koleksi buku dan menemukan beragam hal menarik, ter-update, dan menjadi favorit. Kamu juga bisa menemukan buku-buku fiksi yang berkaitan dengan perkembangan musik! #LebihDenganMembaca.

Penulis: Sevilla Nouval Evanda

BACA JUGA:

  1. Asal, Contoh Alat Musik Gamelan & Cara Memainkannya 
  2. Pengertian Musik Tradisional Beserta Alat Musiknya 
  3. Ragam Alat Musik Maluku: Bentuk dan Cara Memainkannya 
  4. Macam-Macam Alat Musik Tradisional dan Modern 
  5. 17 Alat Musik Tradisional Indonesia yang Populer dan Terkenal! 
  6. Alat Musik Tradisional: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Macamnya 
  7. 8 Contoh Alat Musik Petik Beserta Sejarah dan Cara Memainkannya 
  8. Alat Musik Keyboard dan Rekomendasi Terbaik 


ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien