Sejarah Sosial Budaya

7 Peninggalan Kerajaan Kutai yang Paling Penting dan Penjelasannya

Written by Vania Andini

peninggalan kerajaan kutai – Kalau kamu ingin mengenal jejak awal peradaban Hindu di Nusantara, peninggalan Kerajaan Kutai adalah salah satu sumber terbaik yang bisa kamu pelajari. Kerajaan yang berdiri pada abad ke-4 M ini meninggalkan berbagai artefak penting yang bukan hanya menunjukkan kemajuan masyarakatnya, tetapi juga menggambarkan bagaimana budaya, kepercayaan, dan sistem kekuasaan berkembang pada masa itu.

Dalam artikel ini, kamu akan diajak memahami tujuh peninggalan paling signifikan yang membantu para sejarawan membuka tabir sejarah Kutai secara lebih lengkap. Dengan mengetahui warisan ini, kamu bisa melihat betapa kayanya perjalanan sejarah Indonesia sejak masa-masa awalnya.

Sejarah Singkat Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang keberadaannya dibuktikan melalui prasasti Yupa di Muara Kaman, Kalimantan Timur. Berdiri sekitar abad ke-4 Masehi, kerajaan ini menunjukkan awal masuknya pengaruh budaya India ke Nusantara.

Prasasti Yupa mencatat silsilah raja, termasuk Aswawarman sebagai pendiri dinasti dan Mulawarman sebagai raja paling tersohor. Mulawarman dikenal dermawan dan membawa masa kejayaan bagi Kutai, salah satunya melalui persembahan 20.000 ekor sapi untuk ritual keagamaan.

Letak kerajaan di sepanjang Sungai Mahakam membuatnya berkembang sebagai pusat perdagangan dan penyebaran budaya Hindu.

Mengapa Peninggalan Kerajaan Kutai Penting?

Peninggalan Kutai menjadi sumber utama untuk memahami periode awal sejarah Indonesia dan proses masuknya budaya Hindu ke Nusantara.

1. Menjadi Bukti Nyata Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

Prasasti Yupa menjadi bukti kuat bahwa Kutai adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta menunjukkan pengaruh budaya India yang masuk melalui perdagangan dan interaksi budaya.

2. Mengungkap Silsilah Raja dan Sistem Kekuasaan Kutai

Informasi mengenai raja seperti Aswawarman dan Mulawarman hanya ditemukan melalui prasasti. Data ini membantu menjelaskan pola pewarisan kekuasaan, struktur monarki, serta hubungan raja dengan kaum brahmana pada masa itu.

3. Menjelaskan Perkembangan Agama Hindu di Nusantara

Artefak seperti arca dan Yupa memperlihatkan bahwa agama Hindu aliran Siwa berkembang pesat di Kutai. Temuan tersebut memberi gambaran tentang bentuk ritual, struktur pendeta, dan persembahan keagamaan masyarakat.

4. Menjadi Dasar Penelitian Arkeologi untuk Memahami Peradaban Awal

Beragam artefak Kutai membantu peneliti memahami pola permukiman, perdagangan, dan teknologi masyarakat. Temuan seperti manik-manik hingga perhiasan emas menunjukkan hubungan Kutai dengan budaya luar.

5. Mendukung Identitas dan Pemahaman Sejarah Nasional

Peninggalan Kutai memperkuat pemahaman masyarakat bahwa Indonesia memiliki peradaban maju sejak masa awal. Artefak tersebut menjadi bagian penting dari identitas sejarah dan kebanggaan budaya bangsa.

Lokasi dan Penemuan Situs Peninggalan Kutai

Daerah penyebaran peninggalan Kerajaan Kutai berpusat di Muara Kaman dan sepanjang Sungai Mahakam. Berbagai temuan arkeologi dari masa ke masa memperjelas keberadaan serta kehidupan masyarakat Kutai.

1. Muara Kaman sebagai Pusat Temuan Peninggalan

Muara Kaman adalah lokasi utama ditemukannya prasasti Yupa, menjadikannya pusat keagamaan dan politik Kerajaan Kutai. Letaknya yang strategis di jalur Sungai Mahakam membuat wilayah ini berkembang sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas ritual.

2. Temuan Arkeologi Lain di Sepanjang Sungai Mahakam

Selain Yupa, ditemukan pula manik-manik kaca, arca batu, dan perhiasan emas yang menunjukkan aktivitas perdagangan. Artefak ini mengindikasikan interaksi masyarakat Kutai dengan pedagang luar, terutama dari India dan Asia Selatan.

3. Penemuan Yupa oleh Peneliti Belanda pada Abad ke-19

Penemuan Yupa pertama kali dicatat oleh peneliti Belanda pada abad ke-19, seperti C. M. Pleyte, J. Brandes, dan F. D. K. Bosch. Studi mereka terhadap aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta membantu mengidentifikasi keberadaan Kerajaan Kutai.

4. Eksplorasi Modern yang Mengungkap Kompleks Situs Lebih Luas

Penelitian arkeologi modern mengungkap bahwa situs peninggalan Kutai tersebar hingga ke Muara Kembang dan kawasan perbukitan sekitar. Temuan seperti struktur pemakaman, fragmen arca, dan keramik asing memperkaya gambaran kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Kutai.

Daftar Peninggalan Kerajaan Kutai yang Paling Penting

Peninggalan Kerajaan Kutai sangat penting karena menjadi bukti konkret tentang perkembangan budaya, kehidupan spiritual, hingga kekuasaan politik pada masa kerajaan Hindu tertua di Indonesia.

Untuk memahami warisan historis itu, berikut tujuh peninggalan yang paling dikenal beserta penjelasannya.

1. Prasasti Yupa

Prasasti Yupa merupakan peninggalan paling monumental dari Kerajaan Kutai. Yupa adalah tugu batu tempat mengikat hewan kurban, tetapi beberapa di antaranya juga dipahat dengan tulisan Sanskerta menggunakan aksara Pallawa.

Prasasti-prasasti ini ditemukan di wilayah Muara Kaman dari masa ke masa, menandakan bahwa lokasi tersebut merupakan pusat kerajaan.

Selain berfungsi sebagai prasasti penghormatan, Yupa menghadirkan gambaran tentang tradisi Veda, pengaruh kebudayaan India, dan struktur sosial masyarakat Kutai.

2. Arca-Arca Keagamaan

Peninggalan berupa arca menunjukkan kuatnya nuansa religius pada masa Kutai. Beberapa arca menggambarkan tokoh Hindu seperti Ganesha, Trimurti, hingga arca bergaya Buddha yang menandakan adanya keberagaman kepercayaan di wilayah kerajaan.

Arca Bulus yang ditemukan di dekat Goa Gunung Kombeng menjadi salah satu yang paling unik karena bentuknya menyerupai kura-kura, simbol penting dalam mitologi Hindu.

Keberadaan arca Buddha perunggu menunjukkan adanya interaksi budaya lintas wilayah, terutama pengaruh dari India bagian selatan.

3. Kalung Uncal

Kalung Uncal adalah perhiasan emas berbentuk melingkar dengan berat yang cukup signifikan.

Perhiasan ini mencerminkan status sosial para bangsawan Kutai karena hanya dipakai oleh kelompok elit. Setiap ukirannya dibuat dengan keterampilan tinggi, menandakan tingkat kemajuan teknik perhiasan pada masa itu.

Selain bernilai estetis, Kalung Uncal juga berfungsi sebagai simbol kekuasaan dan kekayaan keluarga kerajaan. Penemuan perhiasan emas seperti ini memperkuat gambaran bahwa masyarakat Kutai memiliki kemampuan metalurgi yang baik.

4. Kura-Kura Mas

Kura-kura emas merupakan peninggalan yang memiliki kisah historis menarik. Berbentuk hewan kura-kura dari logam emas murni, benda ini diyakini sebagai hadiah diplomatik dari pihak Tiongkok kepada salah satu putri raja Kutai pada masa lalu.

Penemuan kura-kura ini menjadi bukti kontak antarwilayah, bahkan antarnegara, yang melibatkan diplomasi dan hubungan budaya. Kini, artefak tersebut tersimpan sebagai koleksi penting di Museum Mulawarman.

5. Ketopong Sultan Kutai

Ketopong Sultan atau mahkota kerajaan adalah simbol kekuasaan tertinggi. Mahkota ini dibuat dari emas dengan berat hampir dua kilogram, dihiasi ukiran rumit serta batu mulia. Desain bagian depannya menyerupai atap bertingkat yang kerap dijumpai dalam arsitektur Nusantara.

Ketopong ini menunjukkan bagaimana masyarakat Kutai memberikan makna besar pada simbol-simbol kebangsawanan. Mahkota tersebut kini disimpan di Museum Nasional, namun replika resminya dapat dilihat di Museum Mulawarman.

6. Keris Bukit

Keris Bukit atau Keris Bukit Kang merupakan senjata tradisional yang sarat nilai spiritual. Bilahnya panjang dan berlekuk, menandakan keris ini tidak hanya digunakan dalam kegiatan praktis tetapi juga dalam ritual.

Cerita rakyat Kutai menyebut bahwa keris ini dikaitkan dengan permaisuri raja pertama Kutai Kartanegara. Ada pula kisah yang menyatakan bahwa keris ini telah dibawa sejak masa awal kerajaan oleh tokoh Kudungga. Terlepas dari versinya, keris ini menunjukkan kuatnya nilai magis dalam kebudayaan Kutai.

7. Pedang Sultan Kutai

Pedang Sultan Kutai adalah senjata kerajaan yang dikenal karena keunikannya. Terbuat dari emas dengan ukiran harimau pada gagangnya, pedang ini memancarkan wibawa sekaligus menunjukkan tingkat seni ukir yang maju. Sarung pedangnya dihiasi ornamentasi yang menggambarkan buaya, salah satu fauna simbolik di Kalimantan.

Pedang ini bukan hanya alat defensif, tetapi juga representasi status politik dan simbol supremasi seorang sultan dalam memimpin kerajaan.

Mari Lestarikan Bukti Masuknya Ajaran Hindu Buddha di Indonesia!

Setelah mengenal berbagai peninggalan Kerajaan Kutai, kamu bisa melihat betapa kayanya sejarah awal Nusantara dan bagaimana jejak-jejak itu membantu kita memahami perkembangan peradaban di Indonesia.

Semua peninggalan tersebut bukan hanya benda bersejarah, tetapi juga cermin kehidupan politik, budaya, dan keagamaan masyarakat masa lampau yang membentuk identitas kita hari ini. Dengan mempelajarinya, kamu ikut menjaga warisan penting yang sudah bertahan berabad-abad lamanya.

Semoga artikel ini membuat kamu semakin tertarik menjelajahi sejarah Indonesia dan memahami bahwa setiap artefak selalu punya cerita berharga di baliknya. Terus gali rasa ingin tahu kamu, ya!

Rekomendasi Buku tentang Sejarah Hindu-Buddha

1. Sejarah Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha Di Era Klasik

Sejarah Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha Di Era Klasik

Zaman klasik adalah zaman di mana banyak kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindhu-Buddha bermunculan di Nusantara ini, mulai dari Kerajaan Kutai atau yang sebelumnya, hingga puncaknya pada masa Kerajaan Majapahit di sekitar tahun 1400 Masehi. Surya Majapahit pun berangsur redup seiring dengan pengaruh kerajaan-kerajaan Islam dari arah pesisir.

Kerajaan bercorak Islam pertama yang muncul di Nusantara bukanlah Kesultanan Samudera Pasai, melainkan Kerajaan Perlak. Melalui buku ini, Anda akan mengungkap sisi sejarah dari kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama perihal penyebab keruntuhan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha dan munculnya kerajaan-kerajaan Islam.

Buku sejarah ini tidak hanya menyajikan faktor-faktor penyebab keruntuhan kerajaan Hindu-Buddha dan munculnya berbagai kerajaan Islam saja. Akan tetapi, buku ini juga dilengkapi dengan penyajian sejarah yang detail dan komprehensif; mulai dari sejarah masuknya Hindu-Buddha dan Islam ke Nusantara, sejarah lahir hingga kejayaan setiap kerajaan-kerajaan termasuk daftar raja-raja yang pernah memerintah, dan sisa-sisa peninggalan kerajaan-kerajaan tersebut.

2. Seri Pengayaan Pembelajaran Sejarah Indonesia: Masa Hindu-Buddha

Seri Pengayaan Pembelajaran Sejarah Indonesia: Masa Hindu-Buddha

Buku ini secara khusus membahas tentang sejarah Indonesia pada masa Hindu Buddha. Pembahasan mengenai masyarakat Indonesia tidak hanya ditinjau dari aspek politik, tetapi juga aspek sosial, ekonomi, dan kebudayaan. 

Pada bab pertama, buku ini menjelaskan tentang masuknya pengaruh Hindu Buddha ke Indonesia. Bab kedua menguraikan tentang perkembangan kerajaan-kerajaan bercorak Hindu Buddha. Pada bab terakhir dibahas mengenai pengaruh Hindu Buddha dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. 

Hadirnya buku ini diharapkan akan membuka pintu cakrawala bagi pembaca yang menaruh minat pada sejarah Indonesia, khususnya masa Hindu Buddha. Selain menambah wawasan, buku ini dapat menjadi jembatan bagi pembaca yang ingin meneliti tentang masa Hindu Buddha. 

3. Survei Prasasti Zaman Hindu-Buddha di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2023

Survei Prasasti Zaman Hindu-Buddha di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2023

Peninggalan-peninggalan arkeologis berupa prasasti zaman Hindu-Buddha tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Dalam rangka kerja sama penelitian antara BRIN dan EFEO, pada tahun 2023 peninggalan prasasti dalam dua daerah tersebut dijelajahi, mencakup beberapa yang masih in situ maupun yang tersimpan di museum dan lembaga pelestarian kebudayaan.

Hasil dari survei tersebut hadir dalam laporan ini. Dua tujuan utama ialah pengumpulan data untuk Inventaris Daring Epigrafi Nusantara Kuno (idenk.net) serta pembuatan reproduksi visual dengan metode fotogrametri. Turut tersaji dalam laporan ini beberapa bacaan baru dari prasasti yang belum pernah dibaca oleh para ahli sebelumnya atau yang layak dibaca ulang, selalu dilengkapi terjemahan ke dalam bahasa Indonesia.

Hasil penelitian tim BRIN-EFEO dapat memperkaya pengetahuan tentang beberapa aspek sejarah Jawa dari abad VIII sampai dengan awal abad X, terutama prasasti yang dikeluarkan pada zaman pemerintahan Raja Lokapala (rakai Kayu Wangi) dan Raja Balitung (rakai Watu Kura). Laporan ini masih jauh dari sempurna, tetapi diharap dapat memberi sumbangsih dan perspektif baru terhadap penelitian prasasti zaman Hindu-Buddha di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah.

4. Survei Prasasti Zaman Hindu-Buddha di Provinsi Jawa Timur Kota dan Kabupaten Pasuruan, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, dan Nganjuk Tahun 2023

Survei Prasasti Zaman Hindu-Buddha di Provinsi Jawa Timur

Potensialnya tinggalan arkeologis berupa prasasti dari Zaman Hindu-Buddha di wilayah Provinsi Jawa Timur merupakan tantangan untuk menelusuri keberadaan prasasti di wilayah tersebut. Oleh karena itu, dalam rangka kerja sama penelitian antara BRIN dan EFEO, pada tahun 2023 tim peneliti dari kedua lembaga tersebut mengadakan survei prasasti yang ditemukan di Provinsi Jawa Timur, khususnya di Kabupaten dan/atau Kota Pasuruan, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, dan Nganjuk. Survei ini mencakup prasasti-prasasti yang masih in situ dan prasasti-prasasti yang disimpan di museum maupun di lembaga pelestarian kebudayaan. Ada dua tujuan utama penelitian ini, yaitu pengumpulan data untuk Inventaris Daring Epigrafi Nusantara Kuno (idenk.net) dan pembuatan reproduksi visual dengan metode fotogrametri.

Selain deskripsi, dalam buku ini disajikan pula transkripsi dari prasasti yang belum pernah dibaca oleh para ahli epigrafi sebelumnya atau prasasti yang dirasakan perlu untuk dibaca ulang, dilengkapi dengan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian tim BRIN-EFEO dapat memperkaya pengetahuan tentang beberapa aspek sejarah Jawa dari abad VIII sampai dengan awal abad XIV, terutama prasasti abad IX yang dikeluarkan sebelum pemerintahan Balitung (awal abad X), pada zaman Raja Sindok (pertengahan abad X), atau pada zaman kerajaan Kadiri (abad XII–XIII). Diterbitkannya hasil penelitian epigrafi ini, diharapkan dapat memberi sumbangsih dan perspektif baru terhadap penelitian prasasti Zaman Hindu-Buddha di wilayah Provinsi Jawa Timur.

About the author

Vania Andini

Gramedia Literasi