peninggalan kerajaan banten – Kerajaan Banten merupakan salah satu kerajaan Islam besar di Nusantara yang meninggalkan jejak sejarah kuat hingga masa kini.
Tidak hanya tercatat dalam naskah, sejarah kerajaan ini juga tercermin melalui berbagai bangunan, situs, dan peninggalan fisik yang masih dapat dijumpai.
Melalui peninggalan tersebut, kamu dapat menelusuri bagaimana Banten tumbuh sebagai pusat perdagangan, keagamaan, dan kebudayaan di wilayah barat Pulau Jawa!
Daftar Isi
Sejarah Singkat Kerajaan Banten
Sebelum membahas peninggalannya, kam perlu memahami gambaran umum perjalanan Kerajaan Banten.
1. Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Banten
Sebelum menjadi kerajaan Islam, wilayah Banten merupakan bagian dari Kerajaan Pajajaran yang bercorak Hindu-Buddha.
Letaknya yang strategis di pesisir barat Jawa membuat wilayah ini ramai oleh aktivitas perdagangan. Kondisi tersebut juga membuka jalan masuknya pengaruh Islam melalui jalur dagang dan dakwah.
2. Berdirinya Kerajaan Banten
Kerajaan Banten berdiri pada sekitar tahun 1526–1527 setelah wilayah Banten direbut dari Pajajaran.
Penaklukan ini dipimpin oleh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bersama putranya, Maulana Hasanuddin yang dinobatkan menjadi sultan pertama.
3. Berkembang sebagai Kerajaan Maritim
Banten berkembang pesat berkat letaknya di jalur perdagangan internasional Selat Sunda. Pelabuhan Banten menjadi pusat perdagangan lada yang diminati pedagang dari Asia, Timur Tengah, hingga Eropa.
4. Masa Kejayaan Kerajaan Banten
Puncak kejayaan Kerajaan Banten terjadi pada abad ke-17, terutama pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.
Pada periode ini, Banten berhasil menjaga kedaulatan dari campur tangan VOC dan menjalin hubungan dagang dengan berbagai bangsa.
5. Awal Kemunduran Kerajaan Banten
Kemunduran Banten bermula dari konflik internal keluarga kerajaan. Perselisihan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan putranya, Sultan Haji, melemahkan kekuatan politik kerajaan. Situasi ini dimanfaatkan VOC untuk ikut campur dalam urusan pemerintahan Banten.
6. Keruntuhan Kerajaan Banten
Campur tangan VOC semakin kuat setelah Sultan Haji bekerja sama dengan Belanda. Akibatnya, kedaulatan Kerajaan Banten perlahan hilang dan kekuasaan politiknya runtuh.
Meskipun demikian, warisan sejarah dan budaya Kerajaan Banten tetap lestari melalui berbagai peninggalan yang masih dapat kamu temui hingga kini.
Daftar Peninggalan Kerajaan Banten yang Masih Ada
Berbagai peninggalan Kerajaan Banten menjadi bukti nyata kejayaan politik, ekonomi, dan keagamaan masa lalu. Hingga kini, peninggalan tersebut masih bisa kamu temui, khususnya di kawasan Banten Lama.
1. Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten merupakan peninggalan paling ikonik dari Kerajaan Banten. Masjid ini dibangun pada tahun 1566 pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin.
Keunikan masjid ini terlihat dari arsitekturnya yang memadukan unsur Islam, Jawa, Tiongkok, dan Eropa. Menara masjid yang menyerupai mercusuar menunjukkan fungsi strategis Banten sebagai kerajaan maritim.
Hingga kini, Masjid Agung Banten masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah dan menjadi tujuan wisata religi dari berbagai daerah.
2. Keraton Surosowan
Keraton Surosowan adalah pusat pemerintahan Kerajaan Banten pada masa kejayaannya. Keraton ini menjadi tempat tinggal sultan sekaligus pusat pengambilan keputusan politik dan administrasi kerajaan.
Meskipun kini hanya tersisa reruntuhan, struktur bangunan, pondasi, dan tata ruangnya masih memperlihatkan kemegahan kerajaan di masa lalu. Situs ini juga menjadi bukti nyata sistem pemerintahan Banten yang terorganisasi.

Sumber: Traveloka
3. Keraton Kaibon
Keraton Kaibon dibangun sebagai kediaman Ratu Aisyah, ibu Sultan Syaifudin. Berbeda dengan Keraton Surosowan yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan, Keraton Kaibon lebih berperan sebagai lingkungan istana keluarga kerajaan.
Reruntuhan keraton ini menampilkan sisa-sisa dinding, gerbang, dan tata ruang yang mencerminkan kemewahan arsitektur istana pada masanya.

Sumber: Kompas
4. Benteng Speelwijk
Benteng Speelwijk merupakan peninggalan yang berkaitan erat dengan masa interaksi dan konflik antara Kerajaan Banten dan VOC Belanda.
Benteng ini dibangun oleh Belanda pada abad ke-17 untuk mengontrol aktivitas perdagangan dan kekuasaan di Banten.
Meskipun bukan dibangun langsung oleh Kerajaan Banten, keberadaan benteng ini menjadi saksi penting dinamika politik dan ekonomi Banten pada masa kolonial awal.

Sumber: Kompas
5. Vihara Avalokitesvara
Vihara Avalokitesvara menjadi bukti bahwa Kerajaan Banten adalah wilayah yang multikultural dan terbuka terhadap berbagai kelompok masyarakat.
Vihara ini diyakini telah ada sejak masa awal perkembangan Banten sebagai pusat perdagangan internasional.
Keberadaan vihara ini menunjukkan toleransi beragama yang cukup tinggi di lingkungan Kerajaan Banten. Hingga sekarang, vihara masih aktif digunakan umat Buddha.

Sumber: Kompas
6. Makam Sultan Maulana Hasanuddin
Makam Sultan Maulana Hasanuddin merupakan tempat peristirahatan sultan pertama Kerajaan Banten.
Lokasinya berada di kompleks Masjid Agung Banten dan hingga kini ramai dikunjungi peziarah. Makam ini tidak hanya bernilai sejarah, tetapi juga memiliki nilai religius yang kuat bagi masyarakat.
Ringkasan Peninggalan Kerajaan Banten
| Peninggalan | Lokasi | Fungsi Saat Ini | Status |
| Masjid Agung Banten | Banten Lama | Ibadah & wisata religi | Dilestarikan |
| Keraton Surosowan | Banten Lama | Situs edukasi sejarah | Reruntuhan |
| Keraton Kaibon | Kasemen | Wisata sejarah | Dilindungi |
| Benteng Speelwijk | Pelabuhan Banten | Cagar budaya | Terawat |
| Vihara Avalokitesvara | Banten Lama | Tempat ibadah | Aktif |
| Makam Sultan Hasanuddin | Banten Lama | Ziarah religi | Dilestarikan |
Nilai Sejarah dan Budaya dari Peninggalan Kerajaan Banten
Peninggalan Kerajaan Banten tidak hanya bernilai fisik, tetapi juga menyimpan makna sejarah dan budaya yang penting bagi pembentukan identitas masyarakat.
- Bukti Perkembangan Kerajaan Islam: Masjid dan makam sultan menunjukkan bahwa sistem pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakatnya memiliki nilai islam yang kuat.
- Cerminan Kejayaan Maritim dan Perdagangan: Peninggalan pelabuhan dan menara masjid menegaskan peran Banten sebagai pusat perdagangan internasional.
- Wujud Akulturasi Budaya: Arsitektur peninggalan Banten menunjukkan perpaduan budaya lokal, Islam, dan asing. Akulturasi ini melahirkan identitas budaya yang khas.
- Identitas dan Edukasi Sejarah: Peninggalan Kerajaan Banten menjadi simbol kebanggaan masyarakat lokal sekaligus sebagai media pembelajaran sejarah untuk generasi mendatang.
Peran Peninggalan Kerajaan Banten dalam Sejarah Indonesia
Peninggalan Kerajaan Banten memiliki kontribusi besar dalam sejarah nasional Indonesia, yaitu:
- Penanda Awal Kuatnya Kerajaan Islam di Wilayah Barat Nusantara: Peninggalan Kerajaan Banten menunjukkan bahwa wilayah barat Pulau Jawa menjadi salah satu pusat penting perkembangan kerajaan Islam.
- Bukti Peran Banten dalam Jaringan Perdagangan Internasional: Peninggalan fisik seperti kawasan pelabuhan, menara, dan benteng menunjukkan peran strategis Banten dalam jaringan perdagangan internasional.
- Saksi Dinamika Politik dan Perlawanan terhadap Kolonialisme: Benteng, keraton, dan reruntuhan bangunan pemerintahan mencerminkan ketegangan antara kekuasaan lokal dan intervensi VOC Belanda.
- Media Pemahaman Akulturasi Budaya Nusantara: Arsitektur dan tata ruang kota Banten memperlihatkan percampuran budaya lokal, Islam, dan pengaruh asing. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi budaya sudah terjadi jauh sebelum Indonesia menjadi negara modern.
- Sumber Sejarah Lokal yang Memperkaya Sejarah Nasional: Peninggalan Kerajaan Banten memiliki peran penting sebagai sumber sejarah lokal yang melengkapi sejarah nasional Indonesia.
Mari Lestarikan Berbagai Peninggalan Kerajaan Banten!
Peninggalan Kerajaan Banten merupakan bukti nyata kejayaan sejarah dan kekayaan budaya Nusantara. Dari masjid, keraton, hingga situs multikultural, seluruh peninggalan tersebut merekam peran penting Banten dalam perkembangan Islam, perdagangan, dan budaya Indonesia.
Dengan memahami peninggalan ini, kamu bisa belajar sejarah sekaligus berpartisipasi dalam menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa!
Rekomendasi Buku tentang Islam di Nusantara
1. Sejarah Islam di Nusantara: Proses Penyiaran, Pemikiran, dan Keberagamaan dalam Pembangunan
Pada akhir abad 18 dan awal abad 19, berkembang wacana pemikiran keislaman di Nusantara yang mengacu kepada dua corak, yaitu pemikiran yang berkembang dari Tanah Hijaz; sejalan dengan munculnya gerakan Wahabisme dan gerakan yang muncul dari Mesir, yaitu pembaruan pemikiran keislaman.
Corak keberagamaan dari Hijaz berangkat dari gagasan konsep puritanisme terhadap pemahaman dan pengamalan akidah dan ibadah yang bertujuan untuk menghindarkan umat Islam dari terjerumus dalam praktik syirk.
Ditulis oleh Prof. Dr. H. M. Ridwan Lubis, buku Sejarah Islam di Nusantara: Proses Penyiaran, Pemikiran, dan Keberagamaan dalam Pembangunan berupaya mengupas berbagai perdebatan teori mengenai penyiaran Islam ke Nusantara, pembaruan-pembaruan dalam pemikiran Islam, perkembangan keberagamaan di Indonesia, hingga relasi agama dan pembangunan.
2. Sejarah Peradaban Islam di Indonesia
Sejarah peradaban Islam merupakan salah satu bidang kajian studi Islam yang banyak menarik perhatian para peneliti, baik dari kalangan muslim maupun non-muslim.
Buku ini menguraikan tentang sejarah peradaban Islam secara umum; sejarah masuk dan kerajaan Islam di Indonesia: peradaban Islam di Indonesia.
Buku ini berfungsi sebagai sumber belajar bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan membaca literatur sejarah peradaban Islam dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris. Akan tetapi, kekuatan yang ada pada buku ini adalah pembahasan yang menonjol pada aspek peradaban Islam yang sejalan dengan perkembangan Islam (penganut dan wilayah kekuasaan).
3. Jejak Islam di Nusantara
Pada umumnya, hal yang menjadi bahan perdebatan para ahli antara lain berkaitan dengan waktu kedatangan Islam, siapa yang membawanya, media apa yang digunakan, dan bagaimana perkembangannya. Begitu banyak hal yang diperdebatkan, begitu banyak pula ahli yang mengemukakan teori tentang masalah-masalah tersebut.
Dalam batasan-batasan tertentu, buku ini berusaha untuk mengakomodasi seluruh teori yang berkembang tentang kedatangan Islam ke Nusantara dan perkembangannya hingga pada saat ini.Informasi yang disajikan dalam buku ini juga memuat perkembangan Islam di berbagai daerah, serta peninggalan kebudayaan Islam yang berkembang didaerah tersebut.
4. Sejarah Umat Islam: Pra Kenabian Hingga Islam Di Nusantara
Buku ini merupakan suatu karya emas dari tangan seorang ulama fenomenal Indonesia, beliau adalah Buya Hamka, yang sebelumnya pernah diterbitkan di Singapura. Buku ini merupakan edisi terbaru dari buku sebelumnya yang pernah diterbitkan pertama kali pada tahun 1950 an.
Buku ini membahas tentang penyebaran Islam di wilayah jazirah Arab dan Eropa, serta penyebaran Islam di wilayah India dan Afganistan. Penjelasan lainnya di buku ini juga membahas secara spesifik tentang sejarah awal perkembangan Islam di Indonesia dan banyak lagi penjelasan lainnya.
- 6 Negara yang Pernah Menjajah Indonesia
- Biografi Moh Hatta
- Bukti Peninggalan Kerajaan Pajang
- Dewi Sartika
- Fatmawati
- Contoh Historiografi Kolonial
- Kehidupan Politik Kerajaan Demak
- Kelebihan dan Kekurangan Orde Lama
- Kelebihan Masa Orde Lama
- Kolonialisme dan Imperialisme: Dampaknya yang Masih Terasa Hingga Kini
- Kongres Pemuda Pertama
- Mengenal Kapak Perimbas
- Pahlawan dari Sumatera Barat
- Pahlawan dari Sumatera Utara
- Pendudukan Jepang di Indonesia
- Peninggalan Hindu Budha
- Peninggalan Kerajaan Majapahit
- Penyimpangan pada Masa Orde Lama
- Perbedaan BPUPKI dan PPKI
- Peninggalan Kerajaan Banten
- Peninggalan Kerajaan Kutai
- Perbedaan Kolonialisme dan Imperialisme
- Sejarah Kepramukaan
- Sejarah Kerajaan Aceh
- Sejarah Pendudukan Jepang di Hindia Belanda 1942–1945





