Desain

Warna Sekunder dan Kombinasinya dalam Desain

Written by Alisa

Warna menjadi salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Baik manusia yang hidupnya tidak berhubungan dengan penggunaan warna. Sampai manusia yang kesehariannya berkutat dengan warna.

Penggunaan warna dalam kehidupan sehari-hari memberikan dampak baik bagi manusia ketika digunakan dengan cara yang tepat. Misalnya menggunakan warna untuk strategi penjualan atau pemasaran. Latar dari sebuah sampul buku sampai website.

Secara umum, warna dikelompokkan menjadi tiga golongan, yakni warna primer, warna sekunder, dan warna tersier. Warna-warna tersebut digolongkan berdasarkan cara pemerolehannya. Warna primer menjadi warna dasar dari seluruh warna yang ada. Ia tidak didapatkan dari hasil percampuran.

Untuk lebih mengenali warna, Grameds dapat menyimak penjelasan berikut mengenai sejarah warna sampai mengenal warna sekunder.

Sejarah Warna

Pada 1660, percobaan warna dilakukan oleh Isaac Newton dengan prisma kaca. Ia berasumsi bahwa cahaya putih tersusun atas warna pelangi (warna spektrum). Kemudian, pada 1790, Hermann von Helmholzt dan James Clerk Maxwell mendasarkan warna pada cahaya matahari yang dihubungkan dengan hukum-hukum fisika.

Pada 1810, Juhan Wolfgang von Goethe menggolongkan warna menjadi dua kelompok warna utama, yakni kuning (berhubungan dengan kecerahan) dan biru (berhubungan dengan kegelapan). Riset mengenai warna terus berlanjut. Sampai pada 1824, Michel Eugene Cvevreul mencentuskan teori warna pada textile the law of simultaneous contrast of colour.

Pada 1831, Sir David Brewster merumuskan teori warna, yakni pengelompokkan warna di alam menjadi 4, yakni primer, sekunder, tersier, dan netral. Dalam lingkaran warna Brewster mampu menjelaskan teori kontras warna (komplementer), split komplementer, triad, dan tetrad.

Pada 1879, Ogden Rood mengembangkan teori lingkaran warna berdasarkan warna merah, hijau, biru, dan di tengahnya terdapat warna putih. Teori-teori warna terus muncul. Salah satunya dicetuskan oleh Albert H. Munsel pada 1898. Teori-teori warnanya diterbitkan dalam a colour notation 1965.

Albert H. Munsel juga menggunakan rintisan warna yang dikemukakan oleh ahli fisika berupa lingkaran warna tiga dimensi (hue, value, crhoma). Pada 1900, Herbet E. Ives mengemukakan mengenai percampuran warna, yakni merah dari magenta yang bercampur dengan cyan, biru dari percampuran warna magenta dan turquise. Hasilnya berupa lingkaran warna dengan warna primer magenta, cyan, dan yellow.

Pada 1934, Farber Biren membuat percobaan pembuatan bagan berdasarkan warna tradisional (merah, kuning, biru). Selanjutnya, ia membuat lingkaran warna yang pusatnya tidak di tengah. Karena, baginya warna panas lebih dominan daripada warna sejuk.

Teknik Meracik Warna Dan Koreksi Pixel+Cd

Pengetian Warna

Menurut Prawira, warna adalah salah satu unsur keindahan dalam seni dan desain selain unsur-unsur visual lainnya. Adapun, Sanyoto merumuskan warna secara objektif/fisik sebagai sifat cahaya yang dipancarkan atau secara subjektif/psikologis sebagai bagian dari pengalaman indera penglihatan.

Nugraha mendefinisikan warna sebagai kesan yang diperoleh mata dari cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda yang dikenalnya. Adapun, Laksono merumuskan warna sebagai bagian dari cahaya yang diteruskan atau dipantulkan.

Dari beberapa pendapat ahli dapat disimpulkan bahwa ada tiga unsur penting dari pengertian warna, yakni benda, unsur cahaya, dan mata. Sehingga, dapat ditarik kesimpulan mengenai definisi warna sebagai benda yang memantulkan unsur-unsur cahaya dan diinterpretasikan oleh mata berdasarkan cahaya yang mengenai benda tersebut.

Menurut Santoyo, warna dikelompokkan menjadi dua golongan, yakni warna additive dan subtractive. Warna additive sendiri merupakan warna yang asalnya dari cahaya, biasanya disebut dengan spektrum. Adapun warna subtractive merupakan warna yang asalnya dari bahan, biasanya disebut dengan pigmen.

Nugraha menjelaskan lebih lanjut mengenai warna yang dapat ditinjau dari dua sudut pandang, yakni dari kaidah ilmu fisika dan kaidah ilmu bahan. Pendapat tersebut diperkuat dengan temuan Newton yang mengungkapkan bahwa warna merupakan suatu fenomena alam beru[a cahaya yang mengandung warna spektrum atau pelangi dan pigmen.

Pada 1831, Brewster mengelompokkan warna yang ada di alam. Menurutnya, warna dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yakni warna primer, sekunder, tersier, dan warna netral. Warna-warna ini disusun dalam lingkaran warna “Brewster”.

Fungsi Warna

Warna memiliki banyak fungsi dalam setiap lini kehidupan terutama menyangkut arsitektual. Dalam bidang tersebut, komposisi warna lebih diperhatikan. Berikut beberapa fungsi warna dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Fungsi alamiah memiliki tujuan sebagai penjelas mengenai kondisi atau keadaan.
  2. Fungsi identitas, yang dapat memperkenalkan sesuatu berdasarkan ciri khas tertentu.
  3. Fungsi psikologis, yakni sebagai penafsir kesan dan makna.
  4. Fungsi keindahan sebagai penambah nilai kualitas suatu objek.
  5. Fungsi isyarat sebagai pemberi tanda ataupun sifat tertentu untuk menjelaskan suatu keadaan.
  6. Fungsi komunikasi sebagai pemberi informasi kepada pengamat objek tertentu.

Buku Aktivitas Mengenal Bentuk Dan Warna

Pengelompokkan Warna Berdasarkan Teori Brewster

Seorang ahli warna, Brewster merumuskan setidaknya ada empat penggolongan warna, yakni warna primer, sekunder, tersier, dan netral. Berikut penjelasan keempat penggolongan tersebut.

1. Warna Primer

Warna primer merupakan warna dasar yang tidak bercampur dengan warna-warna lainnya. warna-warna lain dibentuk dari kombinasi atau campuran dari warna-warna primer. Warna primer terdiri dari warna merah (seperti darah), kuning (seperti kuning telur), dan biru (seperti langit atau laut).

2. Warna Sekunder

Warna sekunder adalah hasil percampuran warna-warna primer dengan perbandingan satu banding satu. Misalnya warna ungu merupakan percampuran dari warna merah dan biru. Lebih lanjut Blon merumusskan bahwa warna-warna kedua atau sekunder dihasilkan dari campuran warna-warna utama.

Oleh sebab itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa warna sekunder dihasilkan dari campuran dua warna primer.

3. Warna Tersier

Warna tersier didapatkan dari percampuran tiga warna primer. Warna tersier juga merujuk pada warna-warna netral. Dalam sistem warna cahaya aditif akan menghasilkan warna putih atau kelabu. Sedangkan, dalam sistem warna subtraktif akan menghasilkan warna hitam, kelabu, atau coklat.

4. Warna Netral

Warna netrak merupakan campuran tiga warna dasar dengan perbandingan 1:1:1. Warna-warna yang dihasilkan menjadi penyeimbang warna-warna kontras di alam. Umumnya, ketepatam hasil campuran dapat dilihat dari warnanya yang menuju hitam. Hal ini sesuai dengan teori Brewster yang mengungkapkan warna netral sebagai berikut.

“Tiga warna utama sebagai dasar dan disebut warna primer, yaitu merah (M), kuning (K), dan biru (B). Apabila dua warna primer masing-masing di campur, maka akan menghasilkan warna kedua atau warna sekunder. Bila warna primer dicampur dengan warna sekunder akan menghasilkan warna ketiga atau warna tersier. Bila antara warna tersier dicampur lagi dengan warna primer dan sekunder akan dihasilkan warna netral.”

Pengertian dan Percampuran Warna Sekunder

Warna sekunder merupakan warna yang tercipta karena adanya percampuran dua warna primer. Letak warna sekunder dalam roda warna atau color wheel ada di antara warna-warna primer. Grameds dapat melihat percampuran dua warna primer dalam gambar berikut ini.

 

Misalnya, untuk mendapatkan warna hijau, Grameds dapat mencampurkan warna kuning dan biru. Adapun warna oranye dengan mencampurkan warna merah dan kuning. Untuk warna ungu dapat mencampurkan warna biru dan merah.

Tingkatan Warna

Warna dapat dikelompokkan berdasarkan tingkatan warnanya. Berikut penjabaran tingkatan warna.

  1. Warna hangat memilki kecenderungan warna berkarakter polos dan mencolok serta memberikan kesan tenang. Seperti warna oranye, merah, dan kuning.
  2. Warna sejuk memiliki kecenderungan warna yang berkarakter bening, netral, dan memberikan kesan nyaman dan aman. Seperti warna hijau, ungu, dan biru.
  3. Warna tegas cenderung memiliki warna yang berkarakter kuat, menonjol, dan memberikan kesan hidup dan bersinergi. Seperti warna hitam, putih, merah, kuning, dan biru.
  4. Warna tenggelam cenderung memiliki karakter warna pudar dan memberikan kesan santai. Seperti warna ungu, abu-abu, dan coklat.
  5. Warna gelap cenderung memberikan atau terlihat pesona yang sederhana. Misalnua warna hitam dan coklat.
  6. Warna terang biasanya memiliki pesona atau memberikan nuansa semangat. Misalnya warna merah muda, perak, dan emas.

Contoh Warna Sekunder

Warna sekunder terbentuk dari campuran dua warna primer. Menyadur dari laman ekrut.com, berikut tiga contoh warna primer dan maknanya dalam kehidupan.

1. Hijau

Untuk mendapatkan warna hijau, Grameds perlu mencampurkan warna primer biru dan kuning. Secara umum, warna hijau sering dihubungkan dengan alam, tanaman, pohon, dan rumput. Warna ini menjadi simbol pembaharuan dan pertumbuhan sekaligus menjadi warna musim semi dan kelahiran kembali.

Di Amerika Serikat, warna hijau (terutama hijau tua) juga dikaitkan dengan uang sehingga melambangkan stabilitas dan kemakmuran. Warna hijau dalam bisnis dapat membantu memberi kesan kepada konsumen bahwa produk atau jasa tersebut sedang digandrungi atau naik daun di masyarakat.

2. Ungu

Warna ungu terbentuk dari warna biru dan merah. Ungu menjadi salah satu warna sekunder yang menarik, sejuk, dan hangat. Ia menjadi perpaduan antara gairak dan energi dari warna merah dengan warna biru yang melambangkan ketenangan dan ketentraman.

Warna ungu sering kali digunakan oleh keluarga rasa sehingga memberikan kesan bergengsi dan mewah. Pada masa lalu, Ratu Elizabeth I melarang siapapun selain keluarga kerajaan untuk mengenakan baju atau atribut lainnya yang berwarna ungu.

Warna ungu menjadi warna yang mahal sehingga hanya orang-orang tertentu yang mampu membelinya. Warna ini juga dikaitkan dengan agama dan spiritualitas.

Dalam bisnis, warna ungu dapat digunakan untuk menambah kesan mewah, sedikit misterius, dan spiritualitas dalam produkmu. Untuk memberikan kontras dapat menambahkan sedikit warna hijau untuk memberikan kontras yang mencolok. Warna merah muda untuk memberikan kesan feminin.

3. Oranye

Warna oranye terbentuk dari merah dan kuning. Oranye menjadi penggabungan simbol kehangatan dari warna merah dan keceriaan serta kegembiraan dari warna kuning. Warna oranye mampu menarik perhatian tanpa terlihat terlalu mencolok seperti warna merah.

Oleh sebab itu, warna ini biasa digunakan untuk rambu-rambu peringatan, seperti rompi keselamatan dan kerucut lalu lintas. Warna ini juga menjadi simbol energik dan membantu memberikan kesenangan dan semangat.

Oranye dapat menjadi pilihan bagi produk-produk baru yang kreatif ketika ingin tampil berbeda. Layaknya warna merah, warna oranye juga dapat menggerakkan tindakan konsumen. Sekaligus memberikan kesan untuk menarik perhatian.

Skema Warna yang Dapat Diterapkan dalam Dunia Seni

Skema warna dikelompokkan menjadi beberapa kategori sebagai berikut.

1. Monokrom

Secara umum, skema monokromatik menggunakan variasi rona yang sama. Seka ini sangat sederhana dan mampu menghasilkan tampilan yang sangat elegan. Warna monokrom merupakan degradasi tone suatu warna dasar yang tidak bercampur dengan warna dasar lainnya.

Oleh sebab itu, warna monokrom tidak hanya warna hitam dan putih. Warna-warna lainnya juga terdiri dari satu tone warna monokrom.

2. Analog

Analog merupakan perbaduan antara warna primer dan sekunder. Skema warna ini sangat menenangkan dan nyaman untuk digunakan. Bisanya menggunakan warna-warna yang bersebelahan pada roda warna. Skema warna ini, banyak ditemukan di alam. Cirinya mereka harmonis dan enak dipandang.

Warna-warna yang termasuk dalam kelompok analog, yaitu hijau, hijau kekuningan, dan kuning; merah keunguan, ungu, dan indigo; dan oranye, oranye kemerahan, dan oranye.

Dalam dunia bisnis, skema analog tidak hanya enak dipandang, tetapi juga mampu menggaet konsumen untuk membeli produk atau menggunakan jasa layanan.

3. Complementary

Complementary warna merupakan warna yang berlawanan satu sama lain pada roda warna. Skema warna komplementer ini memiliki kontras warna yang sangat kuat. Warna-warna ini cocok digunakan untuk warna latar belakang dan teks. Misalnya warna ungu dan kuning, biru dan oranye, merah dah hijau, dan lain sebagainya.

4. Triadic

Skema warna triadic menggunakan tiga warna dari tiga spasi warna dari warna yang digunakan. tiga warna ini disebar secara merata di seluruh roda warna. Warna-warna yang digunakan cenderung tidak cerah, tetapi skema ini dapat mempertahankan kontras yang tinggi.

Skema ini populer di kalangan seniman dan designer karena memberikan warna dengan kontras visual yang kuat. Namun, tetap harmonis jika dipadupadankan.

Buku Aktivitas Paud Belajar Bentuk dan Warna

Kombinasi Warna yang Tepat pada Desain

Grameds dapat menerapkan dua cara di bawah ini untuk menyusun paduan warna dalam sebuah desain.

1. Paduan Warna Secara Analogus

Perpaduan warna secara analogus merupakan cara menyusun warna dengan melerakkan hasil pervaduan warna primer di antaranya. Metode ini juga dapat diartikan sebagai kombinasi warna yang berdekatan atau bersebelahan dalam lingkaran warna.

Kombinasi warna ini menghasilkan keselarasan. Hal ini dikarenakan adanya perpindahan antara satu warna dengan warna lain. Mereka bergantian secara halus atau tidak terlalu kontras. Berikut contoh warna-warna analogus.

  • Biru-ungu, ungu, dan merah-ungu;
  • Kuning, kuning-jingga, dan jingga;
  • Merah, merah-jingga, jingga.

2. Paduan Warna Secara Monokromatik

Perpaduan warna secara monokromatik merupakan cara penyusunan warna berdasarkan tingkat perpaduan dengan warna hitam dan putih. Warna-warna monokromatik terdiri dari kombinasi warna yang memiliki komposisi warna dengan intensitas yang berbeda dari satu warna dengan warna lainnya.

Hal ini akan memberikan kekhasan pada desain. Karena, menggunakan warna dasar yang sama pada suatu desain. Berikut contoh warna-warna monokromatik.

  • Merah, merah tua, dan merah muda;
  • Biru, biru muda, dan biru tua.


ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien