Environment • Geografi • Trivia

Penyebab Tanah Longsor: Faktor Alam dan Aktivitas Manusia yang Perlu Diketahui!

penyebab tanah longsor
Written by Laura Saraswati

penyebab tanah longsor – Halo, Grameds! Setiap kali musim hujan tiba, ancaman tanah longsor seolah menjadi bayang-bayang menakutkan bagi masyarakat di wilayah perbukitan dan lereng. Pergerakan material tanah yang begitu cepat sering kali membawa dampak fatal.

Namun, apa yang sebenarnya terjadi di bawah permukaan tanah hingga lereng yang tadinya stabil bisa tiba-tiba runtuh? Sebelum terlambat, yuk pahami berbagai faktor penyebab tanah longsor yang wajib kita waspadai berikut ini!

Apa Itu Tanah Longsor?

Tanah longsor adalah pergerakan massa tanah, batuan, atau material lain menuruni lereng akibat gaya gravitasi. Pergerakan ini dapat berlangsung secara perlahan maupun tiba-tiba.

Longsor biasanya terjadi ketika gaya yang mendorong material untuk bergerak lebih besar daripada kekuatan tanah atau batuan yang menahannya. Air menjadi salah satu faktor penting karena dapat mengubah kondisi dan kekuatan material di dalam lereng.

Penyebab Tanah Longsor

1. Curah Hujan yang Tinggi

Hujan deras dan berlangsung dalam waktu lama menjadi salah satu penyebab tanah longsor yang paling umum.

Air hujan dapat meresap ke dalam tanah dan membuat tanah menjadi lebih jenuh. Jika air terus bertambah sementara drainase kurang baik, kestabilan lereng dapat terganggu dan material lebih mudah bergerak.

2. Kemiringan Lereng

Lereng yang curam memiliki risiko pergerakan tanah yang lebih besar dibandingkan permukaan yang relatif datar.

Semakin curam suatu lereng, semakin besar pengaruh gravitasi terhadap material yang berada di atasnya. Kondisi tanah, batuan, dan air di dalam lereng kemudian turut menentukan apakah lereng tersebut tetap stabil atau mengalami longsor.

3. Jenis Tanah yang Mudah Menyerap Air

Karakteristik tanah juga dapat memengaruhi kestabilan lereng.

Tanah dengan kondisi tertentu dapat menjadi lebih lemah ketika jenuh air. Jika berada di lereng dan menerima air dalam jumlah besar, kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya pergerakan tanah.

4. Kurangnya Vegetasi

Vegetasi memiliki peran dalam membantu menjaga kestabilan tanah.

Akar tanaman dapat membantu mengikat material tanah, sementara tutupan vegetasi juga dapat mengurangi dampak langsung air hujan terhadap permukaan tanah. Ketika vegetasi di lereng berkurang secara signifikan, kondisi tanah dapat menjadi lebih rentan terhadap erosi dan gangguan lainnya.

5. Penebangan Pohon Secara Berlebihan

Penebangan pohon dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko longsor, terutama jika dilakukan pada daerah dengan lereng curam.

Hilangnya pohon berarti berkurangnya sistem perakaran yang sebelumnya membantu memperkuat tanah. Perubahan tutupan lahan juga dapat memengaruhi bagaimana air hujan mengalir dan meresap ke dalam tanah.

6. Drainase yang Buruk

Air yang nggak dapat mengalir dengan baik dapat terkumpul di sekitar lereng.

Saluran air yang tersumbat, nggak tersedia, atau nggak sesuai dengan kondisi medan dapat menyebabkan air lebih banyak masuk dan tertahan di dalam tanah. Pada kondisi tertentu, hal ini dapat mengurangi kestabilan lereng.

7. Erosi pada Lereng

Erosi merupakan proses terkikisnya tanah oleh air atau faktor lainnya. Jika terjadi terus-menerus pada bagian tertentu dari lereng, bentuk dan kestabilan lereng dapat berubah.

Erosi yang mengikis bagian bawah lereng juga dapat mengurangi penahan material di atasnya. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan terhadap longsor.

8. Pembangunan di Daerah Lereng

Pembangunan rumah, jalan, atau fasilitas lainnya dapat mengubah kondisi alami suatu lereng.

Pemotongan lereng, penambahan beban bangunan, serta perubahan aliran air perlu diperhitungkan dengan baik. Jika dilakukan tanpa memperhatikan kondisi geologi dan kestabilan lereng, aktivitas pembangunan dapat meningkatkan risiko pergerakan tanah.

9. Getaran

Getaran dapat berasal dari aktivitas tertentu, seperti kendaraan berat, pekerjaan konstruksi, atau kejadian alam seperti gempa bumi. Dampaknya terhadap lereng bergantung pada kondisi tanah, batuan, kemiringan, dan faktor lainnya.

10. Kondisi Geologi

Kondisi geologi suatu wilayah turut menentukan tingkat kestabilan lereng.

Lapisan batuan yang memiliki tingkat kekuatan berbeda, adanya bidang lemah, serta struktur geologi tertentu dapat membuat suatu lereng lebih rentan mengalami pergerakan.

Faktor Alam dan Faktor Manusia dalam Tanah Longsor

Penyebab tanah longsor dapat berasal dari kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Keduanya sering kali saling berkaitan.

Faktor Alam Aktivitas Manusia
Curah hujan tinggi Penebangan pohon
Kemiringan lereng Pembangunan di lereng
Jenis tanah Pemotongan lereng
Kondisi geologi Perubahan drainase
Gempa bumi Beban bangunan
Erosi alami Perubahan penggunaan lahan

Mengapa Hujan Bisa Memicu Tanah Longsor?

Air hujan dapat masuk ke dalam pori-pori tanah dan meningkatkan kandungan air di dalam lereng, Grameds. Ketika tanah menjadi jenuh, kondisi tekanan air di dalam tanah dapat berubah dan kekuatan material terhadap pergerakan dapat berkurang.

Karena itu, hujan deras yang berlangsung lama perlu lebih diperhatikan pada daerah dengan lereng curam atau kondisi tanah yang sudah rentan.

Tanda-Tanda Tanah yang Berpotensi Longsor

Mengenali perubahan pada lingkungan sekitar dapat membantu meningkatkan kewaspadaan.

  • Muncul retakan baru di permukaan tanah

Retakan yang semakin melebar atau memanjang dapat menunjukkan adanya perubahan pada kondisi lereng.

  • Tanah mengalami penurunan

Permukaan tanah yang tiba-tiba turun atau berubah bentuk dapat menjadi salah satu tanda adanya pergerakan material.

  • Pohon atau tiang mulai miring

Pohon, tiang listrik, pagar, atau struktur lain yang berubah kemiringannya dapat menunjukkan adanya pergeseran tanah di sekitar lokasi.

  • Muncul rembesan air baru

Rembesan yang muncul di lokasi yang sebelumnya kering dapat menunjukkan adanya perubahan aliran air di dalam atau sekitar lereng.

  • Dinding atau bangunan mengalami retakan

Retakan pada bangunan, jalan, atau struktur di sekitar lereng dapat menjadi tanda bahwa tanah di bawahnya mengalami perubahan.

Cara Mengurangi Risiko Tanah Longsor

Risiko longsor dapat dikurangi dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan kestabilan lereng.

  • Menjaga vegetasi di daerah lereng

Tanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan dapat membantu menjaga tutupan tanah dan mengurangi dampak aliran air permukaan.

  • Memastikan drainase berfungsi dengan baik

Saluran air perlu dijaga agar nggak tersumbat sehingga air dapat mengalir dengan baik dan nggak terkumpul secara berlebihan di sekitar lereng.

  • Menghindari pembangunan sembarangan di lereng

Pembangunan di daerah rawan perlu mempertimbangkan kondisi tanah, kemiringan lereng, drainase, dan aspek teknis lainnya.

  • Memantau perubahan pada lereng

Retakan, penurunan tanah, rembesan, dan perubahan bentuk lereng sebaiknya nggak diabaikan, terutama setelah hujan deras.

  • Mengikuti informasi dan arahan dari pihak berwenang

Jika tinggal di daerah rawan longsor, masyarakat perlu memperhatikan informasi kebencanaan dan mengikuti arahan evakuasi ketika kondisi dinilai berbahaya.

Pengaruh Beban Bangunan terhadap Lereng

  • Bangunan yang berada di atas lereng dapat menambah beban tanah

Rumah, gedung, jalan, atau struktur lainnya dapat memberikan beban tambahan pada lereng. Jika kondisi lereng sudah kurang stabil, tambahan beban tersebut dapat meningkatkan tekanan pada material tanah.

  • Penambahan beban perlu disesuaikan dengan kondisi tanah

Pembangunan di daerah miring perlu mempertimbangkan daya dukung tanah dan kestabilan lereng. Karena itu, pembangunan sebaiknya dilakukan berdasarkan kajian kondisi lahan.

  • Bangunan di dekat tepi lereng perlu diperhatikan

Lokasi bangunan yang terlalu dekat dengan tepi lereng dapat meningkatkan risiko jika terjadi perubahan pada struktur tanah. Perencanaan jarak dan konstruksi menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko.

Pengaruh Gempa Bumi terhadap Tanah Longsor

  • Gempa dapat memicu pergerakan material di lereng

Guncangan akibat gempa dapat mengganggu kestabilan lereng yang sebelumnya sudah berada dalam kondisi rentan.

  • Lereng curam lebih perlu diwaspadai setelah gempa

Daerah dengan lereng curam dan kondisi tanah tertentu dapat mengalami perubahan setelah menerima getaran kuat. Material yang sebelumnya stabil dapat menjadi lebih mudah bergerak.

  • Longsor dapat terjadi setelah gempa berlalu

Pergerakan tanah nggak selalu terjadi tepat ketika gempa berlangsung. Kondisi lereng dapat berubah setelahnya dan kemudian mengalami longsor ketika mendapat pemicu lain, seperti hujan.

Perubahan Penggunaan Lahan sebagai Penyebab Tanah Longsor

  • Perubahan lahan dapat mengubah kondisi alami lereng

Lahan yang sebelumnya berupa hutan atau area dengan tutupan vegetasi dapat berubah menjadi permukiman, perkebunan, atau area lainnya. Perubahan tersebut dapat memengaruhi kondisi tanah dan aliran air.

  • Pembukaan lahan perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan

Penggunaan lahan di daerah perbukitan sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Pembukaan lahan tanpa perencanaan dapat membuat kondisi lereng lebih rentan.

  • Perubahan lahan dapat meningkatkan tekanan pada lereng

Selain mengubah tutupan permukaan, aktivitas di lahan baru dapat menambah beban dan mengubah pola aliran air. Kombinasi perubahan tersebut dapat meningkatkan risiko pergerakan tanah.

Pengaruh Aktivitas Pertambangan terhadap Kestabilan Lereng

  • Penggalian dapat mengubah bentuk lereng

Aktivitas pertambangan yang melibatkan penggalian atau pemotongan material dapat mengubah kondisi alami suatu lereng.

  • Lereng hasil penggalian perlu dirancang dengan aman

Kemiringan dan struktur lereng pada area pertambangan perlu disesuaikan dengan karakteristik material di lokasi. Pengelolaan yang tepat penting untuk menjaga kestabilannya.

  • Perubahan kondisi bawah permukaan perlu diperhatikan

Aktivitas pertambangan dapat mengubah kondisi material dan aliran air di sekitar area penggalian. Jika nggak dikelola dengan baik, perubahan tersebut dapat meningkatkan potensi pergerakan tanah.

Apa yang Terjadi pada Tanah Sebelum Longsor?

  • Tanah dapat mengalami perubahan kekuatan

Kondisi tanah bisa berubah akibat air, perubahan struktur, atau faktor lainnya. Ketika kemampuan tanah untuk menahan material berkurang, lereng menjadi lebih rentan bergerak.

  • Muncul perubahan pada permukaan tanah

Retakan, penurunan, atau perubahan bentuk permukaan dapat menjadi tanda bahwa kondisi lereng mulai berubah.

  • Material dapat bergerak secara perlahan

Nggak semua longsor terjadi secara tiba-tiba. Pada kondisi tertentu, pergerakan tanah dapat berlangsung perlahan sebelum akhirnya terjadi longsoran yang lebih besar.

  • Kondisi lereng dapat berubah dari waktu ke waktu

Lereng yang sebelumnya terlihat stabil belum tentu selalu berada dalam kondisi yang sama. Perubahan cuaca, penggunaan lahan, kondisi tanah, dan aktivitas manusia dapat memengaruhi kestabilannya.

Kesimpulan

Penyebab tanah longsor dapat berasal dari berbagai faktor, mulai dari curah hujan tinggi, kemiringan lereng, karakteristik tanah, kondisi geologi, hingga aktivitas manusia, Grameds. 

Penebangan pohon, pembangunan di lereng, perubahan drainase, dan pemotongan lereng juga dapat meningkatkan risiko jika dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi lingkungan.

Memahami penyebab tanah longsor penting agar masyarakat dapat mengenali kondisi yang berisiko dan mengambil langkah pencegahan. 

Rekomendasi Buku Terkait

Ensiklopedia Alam dan Kehidupan untuk Anak Cerdas

Ensiklopedia Alam dan Kehidupan untuk Anak Cerdas

 

Jelajahi rahasia dunia kehidupan yang ajaib bersama buku berilustrasi Ensiklopedia Alam dan Kehidupan untuk Anak Cerdas, yang membahas berbagai hal menarik mulai dari cara tubuh manusia bekerja, alasan hewan bertingkah aneh, tumbuhan di sekitar kita, hingga dunia mikroskopik sel-sel, ekologi, dan biodiversitas. Dari cendawan, burung flamingo, dan bakteri hingga paus biru, buku ini mengajak anak mengenal keajaiban kehidupan dalam berbagai bentuknya dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Selain menambah pengetahuan tentang alam dan kehidupan, buku ini juga dapat mendorong rasa ingin tahu, meningkatkan kemampuan membaca dan memahami teks, memperluas kosakata, serta membantu anak memperoleh pengetahuan yang dapat mendukung proses belajar di sekolah.

Why? Life Science – Ilmu Pengetahuan Alam (Edisi Baru)

Why? Life Science - Ilmu Pengetahuan Alam (Edisi Baru)

Apa kamu pernah membayangkan ada manusia yang persis sama denganmu? Pasti mengejutkan, ya! Buku ini mengajak pembaca mengikuti petualangan Omji dan Komji menjelajahi dunia ilmu pengetahuan alam, mulai dari kloning, bioteknologi, pertanian, kedokteran, hingga ilmu lingkungan hidup. Kehidupan manusia saat ini menjadi lebih nyaman berkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi masih banyak masalah yang belum terpecahkan, seperti pencemaran udara, kekurangan pangan, dan berbagai penyakit. Karena itu, ilmu pengetahuan alam terus dikembangkan melalui berbagai penelitian untuk memahami rahasia alam dan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi manusia. Buku ini membantu pembaca mengenal ilmu pengetahuan alam dengan cara yang mudah dan menyenangkan sekaligus mendorong rasa ingin tahu terhadap perkembangan sains dan perannya dalam kehidupan.

Alam Semesta Rahasia, Fakta, dan Keajaibannya! 

Alam Semesta Rahasia, Fakta, dan Keajaibannya!

Buku ini mengajak anak-anak mengenal alam semesta melalui berbagai fakta menarik tentang tata surya, planet-planet, teknologi untuk menjelajahi luar angkasa, serta astronaut dan hewan yang pernah menjelajahinya. Dilengkapi foto, informasi sains, stiker, dan poster jumbo tata surya yang membuat belajar menjadi lebih seru dan menyenangkan.

About the author

Laura Saraswati

Gramedia Literasi