Sejarah Sosial Budaya

Menguak Peran Gerakan Bawah Tanah dalam Kemerdekaan Korea

Written by Vania Andini

peran gerakan bawah tanah dalam kemerdekaan KoreaPernahkah Grameds membayangkan betapa beratnya berjuang mempertahankan identitas bangsa saat negara sendiri diduduki oleh kekuatan asing, di mana bahasa, nama, hingga kebudayaan lokal dilarang keras untuk digunakan? 

Itulah kenyataan pahit yang harus dihadapi rakyat Korea selama masa penjajahan Jepang dari tahun 1910 hingga 1945. Di tengah tekanan militer yang luar biasa ketat dan pengawasan spionase dari polisi rahasia Kempeitai, tidak semua pejuang kemerdekaan Korea bisa bertempur secara terbuka di garis depan. 

Sebagian besar dari mereka memilih jalur yang tidak kalah berbahaya: gerakan bawah tanah (underground movement). Mereka beroperasi secara senyap di balik bayang-bayang, mendirikan jaringan intelijen rahasia, mencetak surat kabar ilegal, menggalang dana perlawanan, hingga melancarkan aksi sabotase serta sabotase politik.

Tanpa adanya peran gerakan bawah tanah ini, fondasi diplomasi dan perlawanan bersenjata Korea di luar negeri mungkin tidak akan pernah berdiri kokoh. Yuk, Grameds, kita bedah tuntas sejarah mendalam mengenai bagaimana jaringan perlawanan rahasia ini bekerja dan mengubah arah sejarah kemerdekaan Korea!

Mengapa Perlawanan Harus Bergerak ke Bawah Tanah?

Untuk memahami mengapa gerakan bawah tanah menjadi strategi utama, Grameds perlu menengok kembali peristiwa Perjanjian Aneksasi Jepang-Korea pada tahun 1910. Setelah perjanjian sepihak tersebut ditandatangani, Kekaisaran Jepang secara resmi mencabut kedaulatan Korea dan mengintegrasikannya ke dalam wilayah jajahan.

Dilansir dari catatan sejarah National Museum of Korean Contemporary History, pemerintah kolonial Jepang (yang dipimpin oleh Kantor Gubernur Jenderal Korea / Chōsen Sotokufu) menerapkan kebijakan penekanan budaya dan politik secara ekstrem. Surat kabar berbahasa Korea ditutup, organisasi kemasyarakatan dibubarkan, dan pengawasan masyarakat dilakukan secara militeristik.

Ketika aksi puncaknya, Gerakan 1 Maret 1919 (March 1st Movement) ditekan secara berdarah oleh otoritas Jepang, para pejuang kemerdekaan menyadari satu hal penting: demonstrasi damai secara terbuka di tanah air tidak lagi memungkinkan. Opsi yang tersisa hanya dua: melarikan diri ke luar negeri untuk membangun markas basis perjuangan, atau tinggal di dalam negeri dengan menyamar dan membentuk gerakan bawah tanah.

Swiun Hangugeo 2 : Bahasa Korea Itu Mudah!

Struktur dan Strategi Gerakan Bawah Tanah Korea

Perlawanan bawah tanah di Korea tidak berdiri sebagai satu organisasi tunggal yang kaku, melainkan terdiri dari jaringan-jaringan sel rahasia yang saling terhubung secara terfragmentasi. Metode sel ini diterapkan agar jika satu anggota tertangkap dan diinterogasi oleh Kempeitai, ia tidak bisa membocorkan seluruh struktur organisasi.

Berikut adalah beberapa bentuk strategi dan kegiatan utama yang dijalankan oleh gerakan bawah tanah Korea:

1. Penggalangan Dana Rahasia untuk Pemerintah Sementara (KPG)

Salah satu peran paling vital dari perlawanan bawah tanah di dalam negeri adalah menjadi “jantung finansial” bagi Pemerintah Sementara Republik Korea (Korean Provisional Government / KPG) yang bermarkas di Shanghai, Tiongkok.

Dikutip dari penelitian Journal of Korean Studies, para aktivis lokal mengumpulkan dana dalam bentuk sumbangan emas, uang tunai, hingga hasil penjualan tanah dari tuan tanah patriotik di Korea. Juang tersebut kemudian diselundupkan melintasi perbatasan Tiongkok-Korea melalui jaringan kurir rahasia yang menyamar sebagai pedagang pasar, nelayan, atau buruh kereta api.

2. Propaganda dan Surat Kabar Gelap (Samizdat)

Di tengah sensor media yang amat ketat, gerakan bawah tanah bertanggung jawab menjaga api semangat nasionalisme rakyat agar tidak padam. Para pemuda dan intelektual mencetak surat kabar, pamflet, dan selebaran ilegal di ruang bawah tanah, gua, atau laboratorium sekolah pada malam hari.

Media perlawanan ini diselundupkan ke dalam lipatan baju, keranjang sayur di pasar tradisional, atau diselipkan di bawah pintu rumah-rumah penduduk pada dini hari.

3. Jaringan Intelijen dan Sabotase

Sebagian sel bawah tanah fokus pada pengumpulan data intelijen militer Jepang.

  • Mata-Mata Rahasia

Anggota gerakan bawah tanah yang menyamar sebagai pegawai pemerintah kolonial, penerjemah, atau pekerja stasiun kereta api mengumpulkan data pergerakan pasukan Jepang, jadwal pengiriman logistik perang, dan lokasi gudang amunisi.

  • Tindakan Sabotase

Informasi ini kemudian diteruskan ke kelompok gerilya bersenjata atau digunakan untuk merencanakan peledakan jembatan dan jalur kereta api guna mengganggu rantai pasok militer Jepang.

Tokoh dan Organisasi Bawah Tanah Kunci dalam Sejarah Korea

Ada beberapa organisasi rahasia dan tokoh heroik yang menjadi pilar utama dalam perlawanan bawah tanah Korea. Nama-nama mereka diabadikan sebagai pahlawan nasional hingga hari ini.

1. Yeon-tong-je dan Yook-pan-guk (Jaringan Komunikasi KPG)

Dikutip dari arsip National Institute of Korean History, Yeon-tong-je adalah jaringan administratif rahasia yang dibentuk oleh Pemerintah Sementara Korea pada tahun 1919 untuk menghubungkan markas Shanghai dengan rakyat di dalam negeri.

Jaringan ini berfungsi layaknya pemerintahan bayangan (shadow government). Mereka memiliki perwakilan rahasia di tingkat provinsi, kabupaten, hingga desa di seluruh Semenanjung Korea. Melalui Yeon-tong-je, perintah dari Shanghai disalurkan ke dalam negeri, dan laporan intelijen serta dana perjuangan dikirimkan kembali ke luar negeri.

2. Han-in-ae-guk-dan (Korps Patriotik Korea)

Didirikan oleh presiden KPG, Kim Koo, pada tahun 1931, organisasi ini beroperasi sebagai kelompok aksi rahasia khusus (special covert operation) untuk melancarkan pembunuhan berencana (assassination) terhadap pejabat tinggi militer dan politik Jepang.

Aksi Lee Bong-chang (1932): Lee Bong-chang menyusup ke Tokyo dan melempar bom ke arah iring-iringan Kaisar Hirohito di dekat Istana Kekaisaran. Meskipun Kaisar selamat, aksi ini mengguncang fondasi keamanan Jepang dan membuktikan bahwa perlawanan Korea masih sangat hidup.

Aksi Yun Bong-gil (1932): Hanya beberapa bulan kemudian, Yun Bong-gil melemparkan bom berbentuk botol air minum ke panggung perayaan ulang tahun Kaisar Jepang dan kemenangan militer di Taman Hongkou, Shanghai. Ledakan tersebut menewaskan dan melukai beberapa jenderal serta diplomat senior Jepang. Aksi Yun Bong-gil ini berhasil menarik perhatian dan dukungan penuh dari pemimpin Tiongkok, Chiang Kai-shek, terhadap perjuangan kemerdekaan Korea.

3. Geon-jun (Liga Restorasi Kemerdekaan Korea / Joseon Geon-guk Dong-maeng)

Dibentuk menjelang akhir Perang Dunia II pada tahun 1944 oleh tokoh nasionalis Lyuh Woon-hyung, organisasi bawah tanah ini mempersiapkan transisi kekuasaan jika Jepang kalah perang. Lyuh Woon-hyung secara rahasia menyatukan kelompok kiri dan kanan di dalam negeri untuk membentuk jaringan pemerintahan lokal. 

Ketika Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat pada 15 Agustus 1945, jaringan bawah tanah Geon-jun inilah yang secara cepat mengambil alih ketertiban umum, mengamankan pasokan makanan, dan mencegah kekacauan (chaos) sebelum pasukan Sekutu mendarat di Korea.

Belajar Bahasa Korea Bersama K-Pop Stars

Peran Gerakan Bawah Tanah dalam Pendidikan dan Bahasa: Perlawanan Kebudayaan

Perjuangan bawah tanah tidak hanya melupakan urusan senjata dan politik, tetapi juga penyelamatan jiwa kebudayaan Korea. Pada dekade 1930-an hingga 1940-an, Jepang menerapkan kebijakan Kōminka, yaitu pemaksaan asimilasi budaya di mana rakyat Korea diwajibkan menggunakan nama Jepang (Sōshi-kaimei) dan dilarang menggunakan bahasa Korea di sekolah maupun area publik.

Perjuangan Society Bahasa Korea (Joseon Eohakhoe)

Dilansir dari dokumentasi Koreana Magazine, sekelompok ilmuwan bahasa dan akademisi secara rahasia membentuk Joseon Eohakhoe (Masyarakat Bahasa Korea) pada tahun 1921. Penyusunan Kamus Bahasa Korea Pertama: Selama bertahun-tahun secara tersembunyi, para anggotanya mengumpulkan ribuan dialek lokal dan menyusun tata bahasa Korea baku untuk mencetak kamus bahasa Korea pertama (Mal-mo-e).

Insiden 1942: Pada tahun 1942, keberadaan proyek rahasia ini tercium oleh polisi Kempeitai. Puluhan ilmuwan ditangkap, dipenjara, dan disiksa secara kejam. Namun, manuskrip kamus tersebut berhasil diselamatkan secara tersembunyi di gudang Stasiun Seoul dan akhirnya diterbitkan setelah Korea merdeka. Aksi senyap ini berhasil menyelamatkan identitas dan bahasa nasional Korea dari kepunahan total.

Dampak dan Kontribusi Gerakan Bawah Tanah terhadap Kemerdekaan Korea

Meskipun kemerdekaan Korea pada 15 Agustus 1945 dipicu secara langsung oleh kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II dari pasukan Sekutu, peran gerakan bawah tanah tetap memegang posisi historis yang tidak tergantikan:

Legitimasi Internasional: Aksi-aksi rahasia seperti yang dilakukan oleh Korps Patriotik Korea (Han-in-ae-guk-dan) berhasil meyakinkan para pemimpin Sekutu (AS, Inggris, dan Tiongkok) pada Konferensi Kairo 1943 bahwa rakyat Korea secara aktif menolak penjajahan Jepang dan berhak atas kemerdekaan penuh.

Menjaga Kesadaran Nasional: Tanpa koran gelap, penggalangan dana, dan sekolah rahasia yang dioperasikan oleh sel bawah tanah, identitas nasional dan semangat nasionalisme rakyat Korea mungkin sudah terkikis oleh propaganda kolonial selama 35 tahun.

Penyedia Peralatan dan Pengambilalihan Pasca-Perang: Jaringan bawah tanah menyediakan basis data dan kesiapan administratif yang memungkinkan Korea segera membentuk pemerintahan transisi begitu penjajah angkat kaki.

Pembelajaran dari Sejarah Perjuangan Bawah Tanah Korea

Pelajaran dari perjuangan senyap di balik layar ini tidak berhenti pada kekalahan Jepang pada tahun 1945 semata. Dampaknya membentuk fondasi psikologis, budaya, hingga ekonomi Korea Selatan modern yang Grameds kenal hari ini:

1. Penyelamatan Identitas Nasional dari Risiko Kepunahan Total (Cultural Survival)

Dampak

Kebijakan asimilasi paksa Jepang (Kōminka) dirancang untuk menghapus identitas Korea secara perlahan, mulai dari larangan bahasa hingga pemaksaan nama Jepang. 

Kerja keras bawah tanah organisasi seperti Joseon Eohakhoe (Masyarakat Bahasa Korea) yang menyelamatkan tata bahasa dan kosakata lokal berhasil menjaga “roh” bangsa Korea tetap hidup.

Pembelajaran

Sebuah bangsa tidak hanya runtuh karena wilayahnya dikuasai, tetapi ketika bahasa dan kebudayaannya punah. Keberhasilan mempertahankan bahasa Korea (Hangul) di bawah tanah menjadi alasan utama mengapa Korea Selatan saat ini memiliki identitas nasional yang sangat solid dan mandiri.

2. Lahirnya Resiliensi Psikologis dan Mentalitas Bbali-Bbali (Serba Cepat)

Dampak

Bertahan hidup di bawah pengawasan polisi rahasia Kempeitai menuntut para pejuang bawah tanah untuk berpikir cepat, adaptif, tangkas, dan sangat disiplin. Ketegangan dan semangat pantang menyerah ini terpatri dalam memori kolektif masyarakat Korea pasca-perang.

Pembelajaran

Etos kerja keras (hard work) dan mentalitas bertahan hidup (survival instinct) yang terbentuk sejak era perlawanan bawah tanah menjadi bahan bakar utama yang mendorong fenomena Miracle on the Han River, transformasi kilat Korea dari negara miskin hancur akibat Perang Korea (1950–1953) menjadi raksasa ekonomi dunia hanya dalam beberapa dekade.

3. Fondasi Industri Kreatif dan Korean Wave (K-Culture)

Dampak

Kesadaran bahwa media, literatur, dan seni adalah senjata ampuh untuk melawan dominasi asing sudah dibuktikan oleh para pemuda bawah tanah yang mencetak surat kabar gelap (Samizdat) dan puisi perlawanan.

Pembelajaran

Keberanian mengekspresikan identitas lewat karya budaya menjadi akar dari kekuatan soft power Korea Selatan hari ini. Kebanggaan atas sejarah dan budaya mereka sendiri menjadi modal utama yang dikemas secara modern melalui musik (K-Pop), film, hingga drama (K-Drama) yang kini menguasai pasar global.

4. Nilai Penting Kepemimpinan Kolektif dan Kerja di Balik Layar

Dampak

Perlawanan bawah tanah mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu bergantung pada satu figur pemimpin karismatik di atas panggung. Kemenangan terbentuk dari jaringan sel-sel kecil yang saling percaya, seperti kurir, ilmuwan, pencetak koran, hingga donor dana rahasia.

Pembelajaran

Dalam dunia modern dan profesional, hal ini menegaskan pentingnya unsung heroes (pahlawan di balik layar) serta sistem kerja sama tim yang solid (solidarity network). Keberhasilan sebuah pergerakan atau organisasi besar sering kali ditentukan oleh eksekusi detail dari orang-orang yang tidak tersorot kamera.

Langsung Jago Ngomong Bahasa Korea

Kesamaan Peran Gerakan Kemerdekaan Indonesia dengan Korea

Berikut adalah beberapa kesamaan utama antara gerakan kemerdekaan Indonesia dan Korea:

1. Pemicu Pergerakan: Kebangkitan Pemuda dan Intelektual

Kedua negara mengalami titik balik pergerakan nasional yang dimotori oleh pemuda dan kaum terpelajar melalui aksi pengikrar kesatuan.

Indonesia: Momen Sumpah Pemuda (1928) menjadi fondasi utama menyatukan berbagai etnis dan daerah di bawah identitas tunggal bangsa Indonesia.

Korea: Momen Gerakan 1 Maret 1919 (March 1st Movement) diawali oleh deklarasi kemerdekaan yang dibacakan oleh para tokoh agama dan mahasiswa di Seoul, memicu gelombang demonstrasi damai di seluruh negeri.

2. Dualisme Strategi: Perjuangan Bawah Tanah vs Organisasi Resmi

Sama seperti di Korea, para pejuang di Indonesia juga membagi strategi perlawanan menjadi gerakan terbuka dan gerakan rahasia/bawah tanah. Di Korea: Selain adanya Pemerintah Sementara Republik Korea (KPG) di Shanghai yang bergerak di jalur diplomasi, terdapat jaringan bawah tanah seperti Yeon-tong-je dan aksi spionase/sabotase dari Han-in-ae-guk-dan (Korps Patriotik Korea).

Di Indonesia: Tokoh seperti Soekarno dan Hatta mengambil jalur kooperatif/terbuka untuk memanfaatkan fasilitas Jepang (seperti PUTERA dan BPUPKI), sementara kelompok pemuda seperti Sutan Sjahrir, Wikana, dan Chaerul Saleh menjalankan gerakan bawah tanah untuk menggalang informasi dan menyebarkan propaganda anti-fasis.

3. Perlawanan terhadap Penindasan Budaya (Cultural Resistance)

Kedua bangsa sama-sama berjuang mempertahankan bahasa dan identitas nasional dari upaya penghapusan budaya oleh Jepang (seperti kebijakan Kōminka di Korea yang melarang penggunaan bahasa Korea dan menuntut pergantian nama ke nama Jepang).

Di Korea: Lembaga seperti Joseon Eohakhoe berjuang secara rahasia menyusun kamus bahasa Korea pertama untuk menyelamatkan bahasa nasional dari kepunahan.

Di Indonesia: Sastra, pers nasional, dan penggunaan Bahasa Indonesia terus dijaga dan difungsikan sebagai alat perekat persatuan nasional serta media perlawanan propaganda.

4. Peran Pemerintah Sementara / Organisasi Persiapan Kemerdekaan

Kedua negara mendirikan badan khusus yang berfungsi menyusun struktur tata negara sebelum kemerdekaan resmi diakui secara internasional. Korea: Mendirikan Pemerintah Sementara Republik Korea (Korean Provisional Government) di Shanghai pada tahun 1919 sebagai simbol legitimasi kedaulatan Korea di mata dunia.

Indonesia: Mendirikan BPUPKI dan PPKI pada tahun 1945 untuk merumuskan Pancasila, UUD 1945, serta struktur pemerintahan sebelum detik-detik Proklamasi.

5. Memanfaatkan Momentum Kekalahan Jepang pada Perang Dunia II

Momen kemerdekaan kedua negara terakselerasi secara langsung oleh menyerahnya Kekaisaran Jepang tanpa syarat kepada Sekutu pada Agustus 1945 setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki.

Korea: Bebas dari pendudukan Jepang pada 15 Agustus 1945 (diperingati sebagai Hari Gwangbokjeol).

Indonesia: Memanfaatkan kekosongan kekuasaan (vacuum of power) pasca-menyerahnya Jepang pada 15 Agustus 1945, yang mendorong para pemuda mendesak Soekarno-Hatta hingga berujung pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Kesimpulan

Kesimpulannya, gerakan kemerdekaan Indonesia dan Korea memiliki benang merah yang sangat erat, di mana kedua bangsa sama-sama bertumpu pada peran vital gerakan bawah tanah, perjuangan pemuda, serta pertahanan identitas budaya untuk melawan penindasan Kekaisaran Jepang. 

Dualisme strategi antara perlawanan terbuka dan pergerakan rahasia ini tidak hanya berhasil menjaga api nasionalisme dan mematangkan persiapan tata negara di tengah kepungan kolonialisme, tetapi juga memanfaatkan momentum kekosongan kekuasaan pasca-kekalahan Jepang pada Agustus 1945 untuk mengantarkan kedua negara menuju pintu kemerdekaan penuh

Bagi Grameds yang menyukai sejarah dunia, perjalanan bangsa Korea dari masa-masa kelam penjajahan hingga mampu bangkit menjadi salah satu negara maju secara ekonomi dan budaya di dunia (Korean Wave) adalah topik yang sangat menarik untuk dipelajari lebih dalam.

Untuk memperluas pemahaman Grameds mengenai sejarah Asia, dinamika politik internasional, hingga koleksi novel-novel sejarah (historical fiction) bertema perjuangan yang menggugah jiwa, memiliki referensi buku terpercaya adalah hal yang mutlak.

Temukan ribuan koleksi buku sejarah, ilmu sosial, bahasa asing, hingga novel best-seller internasional berkualitas hanya di Gramedia.comNikmati promo diskon menarik setiap harinya, kemudahan opsi pembayaran, dan pengiriman yang tepercaya langsung ke rumah Grameds. Yuk, perkaya wawasanmu dan teruslah belajar bersama Gramedia!

About the author

Vania Andini

Gramedia Literasi