Music

Lagu Gugur Bunga: Lirik, Chord, Makna dan Penciptanya

lirik lagu gugur bunga
Written by Ahmad

Lagu Gugur Bunga: Lirik Lagu, Makna dan Profil Penciptanya  – Setiap kali menyambut peringatan hari nasional tertentu, pasti bukan hal yang asing jika beberapa stasiun TV nasional atau radio bahkan di media sosial diputar lagu-lagu kebangsaan.

Seperti lagu ‘Indonesia Raya’ yang populer tiap kali memasuki bulan Agustus karena berbarengan dengan momentum hari kemerdekaan, atau lagu ‘Ibu Kita Kartini’ yang banyak direkomendasikan setiap perayaan Hari Kartini di penghujung bulan April. Serta ada banyak lagi tembang bernuansa nasionalisme lainnya yang memiliki kaitan erat dengan momen bersejarah Indonesia.

Tapi tahukah kamu kalau banyak orang yang masih tidak awam dengan lagu wajib dan lagu lagu nasional. Bahkan beberapa orang masih ada yang tidak bisa membedakan kedua jenis lagu tersebut. Lagu wajib merupakan lagu yang makna dalam liriknya syarat akan nilai-nilai kebangsaan dan lagu ini menjadi salah satu dari simbol bangsa dan negara Indonesia.

Lagu ‘Indonesia Raya’ merupakan lagu wajib yang diatur dalam Undang-Undang nomor 24 Tahun 2009 mengenai Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Karena itu, dalam setiap acara resmi atau upacara tertentu lagu ini wajib dinyanyikan sebagai rangkaian acaranya.

Sementara itu, lagu nasional merupakan lagu yang liriknya mengandung nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme. Jenis lagu ini memang diciptakan untuk membangkitkan semangat kebangsaan dan menanamkan kecintaan terhadap negara. Lagu ini juga biasanya berisi lirik yang mengajak untuk mengenang perjuangan para pahlawan dengan harapan bisa memberi dorongan untuk semangat bangsa di masa depan.

Terdapat banyak sekali contoh lagu nasional. Seperti lagu ‘Berkibarlah Benderaku’ ciptaan Ibu Sud menceritakan tentang kebanggaan atas bendera merah putih sebagai lambang negara. Beberapa lagu nasional juga erat kaitannya dengan peristiwa bersejarah, seperti lagu karya Ismail Marzuki ‘Halo-Halo Bandung’ berisi perjuangan masyarakat melawan penjajah pada peristiwa Bandung Lautan Api.

Umumnya lagu nasional juga mengajak setiap orang untuk mengenang perjuangan para pahlawan, salah satunya karya Ismail Marzuki lainnya berjudul ‘Gugur Bunga’. Lagu ini memiliki lirik yang sangat mendalam tentang perjuangan para pahlawan dan peran pentingnya atas kemerdekaan bangsa. Karenanya, perasaan kehilangan dan apresiasi terhadap perjuangan mereka adalah hal yang patut dilakukan oleh setiap orang yang menikmati hasil perjuangan mereka dulu.

Lirik dan Chord Lagu Gugur Bunga 

[Verse]

Am       F        Am

Betapa hatiku tak ‘kan pilu

E     Dm  F   E

Telah gugur.. pahlawanku

Dm      G      C

Betapa hatiku tak ‘kan sedih

G       F#m   G  E

gramedia obf

Hamba ditinggal sendiri

Am      F          Am

Siapakah kini pelipur lara

E   Dm   F  E

Nan setia.. dan perwira

Dm       G          C

Siapakah kini pahlawan hati

G          C

Pembela bangsa sejati

 

[Chorus]

G               C

Telah gugur pahlawanku

G     E         Am

Tunai sudah janji bakti

G                 C

Gugur satu tumbuh seribu

G           C     E

Tanah air jaya sakti..

Am        F        Am

gramedia obf

Gugur bungaku di taman bakti

E  Dm     F   E

di hari ba..ngun pertiwi

Dm         G           C

Harum semerbak mendambakan sari

G            C  E

Tanah air jaya sakti

 

[Interlude]

Am G C A Dm A Dm

Dm Em F Em Am

 

[Chorus]

G             C



Telah gugur pahlawanku

G     E         Am

Tunai sudah janji bakti

G                C

Gugur satu tumbuh seribu

G          C

Tanah air jaya sakti..

G                C

Telah gugur pahlawan ku

G     E           Am

Tunai sudah janji bakti

G                C

Gugur satu tumbuh seribu

G              C  E

Tanah air jaya sakti..

Am      F         Am

Betapa hatiku tak ‘kan pilu

E    Dm   F   E

Telah gugur.. pahlawanku

Dm      G     C

Betapa hatiku tak ‘kan sedih

G      G    C

Hamba ditinggal sendiri

 

Makna Lagu Gugur Bunga

Lagu ‘Gugur Bunga’ syarat akan makna yang mendalam tentang nasionalisme dan penghormatan terhadap jasa para pahlawan. Lagu ini dibuat untuk mengenang setiap pahlawan yang tumbang di medan perang selama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sebagaimana lagu ini dirilis tepat setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, setiap lirik lagu di dalamnya berisi kesedihan akan kehilangan para pahlawan yang telah bertaruh nyawa untuk masa depan bangsa.

Bagian lagu ini dibuka dengan penggalan lirik ‘Betapa hatiku takkan pilu, telah gugur pahlawanku‘. Menggambarkan perasaan seseorang yang dihadapkan pada kenyataan seseorang yang dikasihi sekaligus disayangi menghadap ke pangkuan ilahi.

Kata ‘gugur‘ dalam lirik tersebut identik dengan kisah para pejuang perang yang meninggal di medan perjuangan. Mereka menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia karena telah memperjuangkan kemerdekaan hingga berani mempertaruhkan nyawanya.

Pada lirik selanjutnya, “Betapa hatiku takkan sedih, hamba ditinggal sendiri“. Pada bagian ini dan dua bari lirik sebelumnya lebih menggambarkan kesedihan atas kepergian orang terdekat.

Kepergian seseorang yang disayangi, terlebih jika dia adalah suami atau istri tercinta, tentu kejadian tersebut akan menyisakan perasaan  pilu akan kesepian. Seperti pada kebanyakan pasangan di masa perjuangan kemerdekaan, banyak perempuan yang ditinggalkan oleh suaminya demi berjuang melawan penjajah.

Hingga akhirnya tidak sedikit di antara mereka yang gugur dan para istri dan keluarganya dirundung kesepian setelah pasangan atau anggota keluarganya telah pergi untuk selamanya.

Makna dari penggalan tersebut masih bersambung pada lirik berikutnya. ‘Siapakah kini plipur lara, nan setia dan perwira, siapakah kini pahlawan hati, Pembela bangsa‘. Empat baris lirik ini menekankan pada arti dari pentingnya kehadiran orang-orang yang gugur di medan perang tersebut, dan bukan hal mudah untuk menemukan penggantinya.

Dampak dari kepergian orang-orang terkasih menyentuh aspek personal maupun dalam konteks yang lebih luas sebagai sebuah bangsa. Secara personal, saat orang terkasih pergi maka tidak ada lagi orang-orang yang dengan setia dan berani (perwira) menjaga pasangannya, tidak ada lagi yang bisa menghibur saat dilanda kesedihan.

Seorang istri ditinggal suami yang menyayanginya, juga anak-anak yang ditinggal orang tuanya sebagai pelindung. Dan begitupun dalam konteks masyarakat bangsa, meninggalnya para pejuang perang berarti bangsa Indonesia telah kehilangan orang-orang yang telah berjuang dengan hatinya yang tulus.

Sosok pahlawan yang sejati melawan penjajah dan menggadaikan hidupnya demi kepentingan bangsa. Dedikasi dan loyalitas para pejuang kemerdekaan adalah aset yang berharga di masa itu, sehingga kepergian merek adalah kesedihan mendalam semua orang.

Pada bagian empat baris lirik berikutnya ‘Telah gugur pahlawanku, Tunai sudah janji bakti, Gugur satu tumbuh seribu,Tanah air jaya sakti‘ menekankan, semua hal yang sudah dilakukan para pejuang kemerdekaan ialah untuk kepentingan masa depan bangsa.

Penggalan dalam lirik ‘Gugur Satu Tumbuh Seribu’ menyiratkan makna mendalam tentang perjuangan akan membuahkan hasil yang setimpal. Saat ribuan bahkan jutaan nyawa dikorbankan, ada harapan baru tentang kemerdekaan Indonesia.

Begitulah realitanya, kehilangan atas sesuatu mungkin akan menjadi awal bagi munculnya sesuatu yang lain. Pesan ini menjadi pengingat bukan hanya bagi bangsa Indonesia yang saat itu sedang menata ulang kehidupan pasca kolonialisme, namun juga pesan yang masih cocok diaplikasikan dalam kehidupan saat ini. Keadaan buruk yang menimpa bukanlah akhir dari segalanya, semuanya harus bangkit untuk mempersiapkan harapan yang baru.

Pada bagian empat baris terakhir, “Gugur bungaku di taman bakti, Di haribaan pertiwi, Harum semerbak menambahkan sari, Tanah air jaya sakti“, bermakna tentang keikhlasan dan kebesaran hati dari orang-orang yang ditinggalkan.

Ribuan orang yang harus meregang nyawa demi kemerdekaan tidak mati sia-sia, melainkan pergi dengan menyisakan dampak di masa depan yang sangat berarti. Perjuangan para pahlawan telah menyisakan semangat nasionalisme bagi bangsa, tentang perjuangan atas identitas Indonesia.

Lagu ini memiliki makna yang sangat mendalam tentang penghormatan terhadap jasa-jasa para pahlawan. Karenanya, lagu ‘Gugur Bunga’ sering diperdengarkan setiap peringatan hari pahlawan yang jatuh setiap tanggal 10 November. Salah satunya lagu ‘Gugur Bunga’ juga sempat dinyanyikan sebagai pengiring atas kepergian presiden ketiga Indonesia, B.J Habibie yang meninggal pada bulan September 2019 lalu.

Beberapa hari setelah meninggalnya, lagu ini dinyanyikan setiap apel pagi bersama dengan pengibaran bendera setengah tiang sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa Beliau.

Nuansa kesedihan bukan hanya terungkap lewat setiap lirik lagunya, namun juga melodi lemah lembut yang akan membuat orang yang mendengarkannya langsung terhipnotis untuk ikut mengenang kesedihan. Ditambah pesan dari lagunya yang mendalam, membuat siapapun yang mendengarnya sontak akan terbawa pada suasana dalam lagu. Suasana hati yang sedih, diselimuti awan kelabu karena kepergian orang-orang yang berjasa besar. Sekaligus membawa pada suasana hati penuh rasa hormat dan syukur, berkat perjuangan para pahlawan Indonesia bisa mencapai Kemerdekaan yang sebentar lagi genap merayakan usianya 76 tahun.

Dalam sejarahnya, lagu ini dirilis bersamaan dengan terjadinya peristiwa pertempuran Surabaya. Pertempuran pertama yang terjadi pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Peristiwa tersebut melibatkan para pejuang kemerdekaan yang kerap disebut sebagai ‘arek-arek suroboyo’ melawan tentara Sekutu yang terjadi selama beberapa hari di awal bulan November.

Terdapat ribuan pejuang kemerdekaan yang gugur dalam pertempuran tersebut, dan dari kejadian inilah cikal bakal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan bermula. Dan lagu ‘Gugur Bunga’ sering dipakai untuk mengenang kepergian para pejuang tersebut.

Meski begitu, lagu ini tidak secara spesifik hanya menjadi pengiring atas wafatnya ribuan pahlawan di peristiwa pertempuran 10 November. Melainkan juga penghormatan terhadap ribuan nyawa yang hilang selama periode tahun-tahun awal pasca proklamasi yang masih diwarnai banyak kekacauan.

Setelah presiden Soekarno membacakan teks proklamasi pada tanggal 17 Agustus, bukan berarti Belanda langsung pergi begitu saja dari Indonesia. Perjuangan atas kemerdekaan Indonesia masih berlanjut, pasalnya kerajaan Belanda bersama sekutunya, Inggris masih berada di Indonesia dan belum mengakui kemerdekaan Indonesia. Bahkan setelah kekalahan Jepang, Belanda rupanya berniat untuk kembali menduduki Indonesia.

Hal tersebut menimbulkan sejumlah ketidakstabilan baik dari aspek politik maupun sosial, serta memicu terjadinya sejumlah peristiwa berdarah seperti yang terjadi di Surabaya juga pertempuran lainnya di daerah-daerah. Empat tahun berselang pasca proklamasi, akhirnya pemerintah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1949.

Namun, empat tahun tersebut bukanlah waktu yang singkat bagi masyarakat Indonesia untuk mempertahankan kedaulatannya. Sejumlah kesepakatan penting bahkan dilakukan selama periode ini demi meredam gencatan militer, seperti perjanjian Renville dan perjanjian Linggarjati.

Sikap Belanda dan sekutunya yang tidak mematuhi dua kesepakatan tersebut yang kemudian turut menyulut berbagai peristiwa berdarah di tahun-tahun tersebut. Dan meski hanya berlangsung beberapa tahun, namun kekacauan yang terjadi di awal-awal periode kemerdekaan Indonesia telah merenggut ratusan ribu nyawa khususnya dari warga sipil. Bukan hanya para prajurit tentara, perjuangan masyarakat merupakan perjuangan para pahlawan yang juga patut mendapat penghormatan yang setinggi-tingginya.

Seiring bertambahnya tahun, lagu ini bisa bermakna lebih luas lagi. Bersamaan dengan pemaknaan kata ‘pahlawan’ yang bukan hanya didefinisikan sebagai orang-orang yang terlibat dalam kemerdekaan, namun juga setiap orang yang memperjuangkan kemajuan bangsa. Karena itu, lagu ‘Gugur Bunga’ ini bisa menjadi pilihan yang tepat untuk memberikan penghormatan kepada siapa saja yang berjasa bagi masyarakat saat ini.

Profil Ismail Marzuki Pencipta Lagu Gugur Bunga

Lagu ‘Gugur Bunga’ diciptakan oleh Ismail Marzuki pada tahun 1945, tidak lama setelah Indonesia resmi merdeka. Ia terkenal sebagai seorang seniman yang banyak menciptakan lagu-lagu nasional, serta seorang penyiar radio di Radio Rakyat Indonesia (RRI). Namanya kemudian dinobatkan sebagai pahlawan nasional sejak tahun 2004 silam.

Pria kelahiran 11 Mei 1914 di Jakarta ini sedari kecil memang sudah menggeluti dunia seni. Ismail Marzuki lahi dari seorang ayah seniman, yaitu seorang pemain rebana dan gambus dalam sebuah kelompok pemain instrumen musik keroncong. Lambat laun, memasuki usia remaja ia mulai makin banyak berinteraksi dengan seniman musik di lingkungannya.

Pada tahun 1931, saat usianya menginjak 17 tahun, Ismail bergabung dengan sebuah band musik Keroncong yang terkenal saat itu, Lief Java sebagai pemain saksofon dan gitar. Grup musik orkestra ini eksis saat masih dalam era penjajahan Belanda, markasnya berada di wilayah Kemayoran, Jakarta.

Ismail bersama anggota grup lainnya sering diundang tampil membawakan musik keroncong di stasiun radio besutan Belanda saat itu, NIROM yang kelak menjadi cikal bakal dari RRI. Lewat penampilannya di NIROM inilah band Ismail Marzuki mulai banyak menarik penggemar.

Karya pertama yang Ismail buat ialah lagu berjudul ‘O Sarinah‘. Lagu ini dibuat saat usianya masih 17 tahun dan liriknya berbahasa Belanda. Ia bersama grupnya juga sempat muncul dalam sebuah film berjudul ‘Terang Bulan‘, yang ia juga bertugas membuat beberapa lagu sebagai musik pengiring film.

Sementara itu, beberapa karya lainnya yang juga terkenal sebagai lagu nasional ialah ‘Rayuan Pulau Kelapa’,  ‘Indonesia Pusaka’, ‘Halo-Halo Bandung’ serta sebuah musik keroncong ‘Sepasang Mata Bola‘.  Diperkirakan terdapat lebih dari 250 karya musik yang sudah ia ciptakan. Sebagian besar lagu-lagu tersebut berisi lirik yang bernuansa pesan nasionalisme, bersamaan dengan nada yang syahdu dan sendu.

Kehidupan keluarganya memang tidak jauh-jauh dari seni musik. Ia menikah dengan istrinya, Eulis Zuraidah pada tahun 1940. Eulis merupakan seorang penyanyi yang terkenal dari sebuah grup musik keroncong di Bandung.

Rupanya Ismail yang juga tergabung dalam grup tersebut kepincut dengan Eulis dan mereka memutuskan berumah tangga. Dari hasil pernikahannya itu, keduanya memiliki seorang putri semata wayang bernama Rachmi Aziyah.

Seniman sekaligus pahlawan nasional ini kemudian meninggal di usianya 44 tahun. Ia rupanya berjuang menghadapi penyakit paru-paru yang sudah lama diidapnya. Setelah kepergiannya, pemerintah Jakarta di bawah Gubernur Ali Sadikin kemudian membuat Taman Ismail Marzuki pada tahun 1968.

Taman seluas 9 hektar ini awalnya merupakan area kebun binatang sebelum dipindahkan ke Ragunan. Pembangunannya dimaksudkan untuk mengenang jasa sang Pahlawan yang telah menciptakan banyak karya monumental.

Baca juga artikel lain terkait “Lagu Gugur Bunga” :

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Leave a Comment